Ide-Ide Bodoh dalam Startup yang Berubah Menjadi Bisnis Triliunan Rupiah

Banyak yang melihat startup seperti Instagram atau Facebook, kemudian mengatakan, “Gue juga pengen bikin perusahaan seperti itu. Gue cuman butuh ide bagus aja yang kayak gitu.”

Perlu kita tahu, tak semua ide bagus berakhir menjadi sebuah bisnis bagus. Dan tak semua ide jelek, berakhir menjadi bisnis yang jelek. Buktinya adalah beberapa ide startup ‘tak bagus’ ini yang berubah menjadi bisnis bernilai triliunan.

Snapcat. Evan Spiegel, pendirinya, ketika mempresentasikan produk ini kepada calon investor, “Ini adalah sebuah aplikasi mobile di mana teman-teman bisa berbagi foto yang akan hilang selamanya dalam hitungan detik.” Kontan saja para calon investor ini mengatakan, “Ini adalah sebuah ide yang mengerikan!”

Dan sisa ceritanya, kita tahu bahwa Snapcat justru begitu booming.

Airbnb. Menyewakan kamar untuk orang asing, dan bahkan menyediakan sarapannya juga? Terdengar ide yang buruk bukan? Tapi siapa sangka, ide sewagu ini berubah menjadi bisnis triliunan rupiah. Brian Chesky, pendirinya, mengatakan ide ini kepada semua orang yang ditemuinya, dan semuanya mengatakan bahwa idenya memang terdengar sangat bodoh dan aneh.

Satu-satunya yang percaya dengan ide ini adalah Paul Graham, itu pun komentarnya sangat mencengangkan, “Saya pikir Airbnb adalah ide yang sangat buruk. Saya mendanainya hanya karena saya sangat menyukai para founders-nya.”

SpaceX. Didirikan oleh Elon Musk, dengan satu premis yang menggetarkan, “Kalau NASA bisa mengirimkan roket ke luar angkasa dengan dana 100 juta dolar, maka SpaceX bisa melakukan hal yang sama dengan dana hanya 50 juta dolar.” Kelihatan sebagai sebuah ide yang berantakan memang. Bahkan, Elon Musk sebagai pendirinya pun mengakuinya.

Akan tetapi, siapa menyangka hal itu benar-benar terwujud, dan SpaceX menjadi bisnis yang bernilai triliunan rupiah.

Google. Yah, kamu tidak salah baca. Saat Google didirikan, saat itu sudah ada 20 search engine yang tersedia di pasaran. Bahkan, Rusia pun memiliki search engine-nya sendiri. Yang membedakan Google dengan search engine lain adalah pada pengelolaan homepage-nya. Google menghapus semua konten dan hanya menampilkan dalam bentuk list saja.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

5 Cara Bermain Bisnis Agar Selalu Menang

Setelah mendapatkan pendanaan Seri C dari Peter Thiel pada tahun 2012, Brian Chesky, founder dari Airbnb, mengundang Peter Thiel ke markas Airbnb. Usai meeting beberapa waktu untuk menganalisis laporan keuangan dan pertumbuhan perusahaan, Brian Chesky bertanya kepada Peter.

“Satu hal penting apa yang akan kamu nasihatkan kepada kami?”

Jawab Peter sungguh menakjubkan.

“Jangan rusak kultur perusahaan AirBnB ini.”

Sebuah jawaban tidak disangka, yang keluar dari mulut seorang Peter yang telah menggelontorkan investasi sebesar $150 miliar kepada Airbnb.

Ternyata, salah satu alasan terbesar Peter mau berinvestasi pada Airbnb adalah karena kultur perusahaan tersebut. Kultur perusahaan, yang didefinisikan oleh Brian Chesky sebagai, “Culture is simply a shared way of doing something with passion.”

Membangun kultur perusahaan dan membuatnya perusahaan tersebut memiliki fondasi yang kuat untuk melesat, bagi saya adalah menempatkan 5 PLAY pada posisinya.

Product Play. Ketahui dengan baik siapa saja kompetitormu, dan buatlah produkmu cukup superior di antara produk lain, sehingga “kelihatan”.

Production Play. Memahami proses atau model bisnismu dengan sangat jelas mendefinisikan hendak ke mana bisnis ini akan kamu bawa nantinya.

Delivery Play. Pelayanan terhadap pelanggan adalah kunci untuk membuat mereka tetap bahagia, maka buatlah koneksi yang tepat.  

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Strategi Mengubah Usaha Kecil Mengenaskan Menjadi Usaha Kaya Miliaran

Transformasi selalu dibutuhkan. Agar tetap relevan dengan zaman. Agar tetap bisa terus berlari di depan para pesaing yang lebih gesit dan lebih lapar kesuksesan. Agar perubahan-perubahan di era yang ‘semuanya bergerak sangat cepat’ ini tak menggilas habis namun mengukuhkan eksistensi. Inti dari transoformasi adalah bagaimana perusahaan membuat langkah-langkah brilian untuk membuat perusahaan tetap relevan dengan zaman dan berlari di depan pesaing. Sebagus apa pun sebuah perusahaan, apalagi perusahaan kecil, transformasi tetaplah harus menjadi bagian penting bila tidak ingin drastis ke bawah, atau pun stagnan dan terus berada di kenyamanan yang sama dari tahun ke tahun. “If you don’t transform your company, you’re stuck,” kata Ursula Burns.

Kodak misalnya, sebagai ikon bisnis kamera, ia tak mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman. Transformasi tak menjadi prioritasnya. Akibatnya, kegesitan pesaing menumbangkannya. Saat kebangkrutan melandanya, Kodak pun mengalihkan fokus bisnisnya pada digital imaging, peralatan printing, dan jasa untuk bisnis. Transformasi yang terlambat. Jangan sampai, setelah bertahun-tahun dibuai kesuksesan, lupa untuk bertransformasi. Lupa berbenah diri. Lupa naik kelas.

Perlu diketahui, mentalitas yang “sudah cukup“ bila punya rumah, mobil, tabungan serta naik haji dan ketiadaan keterampilan manajemen (managerial deficiencies) yang memadai, menjadikan hanya sekitar 5% dari Usaha Kecil dan Menengah yang benar-benar naik kelas menjadi industri atau usaha besar.

Lingkungan usaha yang senantiasa terus berubah, menuntut UKM memiliki manajemen yang andal. Namun hal tersebut tidak dapat tercipta begitu saja tanpa melalui serangkaian proses yang terpimpin.

Dalam memilih langkah yang sesuai demi memajukan UKM di Indonesia, terdapat beberapa pilihan antara lain:

#1: Membiarkan UKM tumbuh secara mandiri tanpa pendukung katalis.

Katalisator itu dapat berupa kebijakan, program dan bentuk keberpihakan lainnya, atau apapun. Jika hal tersebut dilakukan maka risiko yang terjadi adalah waktu yang dibutuhkan oleh UKM untuk tumbuh akan sangat lama, serta kemungkinan akan terjadi penurunan performa usaha bahkan kehancuran usaha UKM akibat persaingan yang tidak sehat.

#2: Membantu UKM dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Jika pilihan ini diambil, risiko yang akan dihadapi adalah UKM akan menjadi tidak mandiri dan UKM akan selalu mencari dukungan eksternal dalam menghadapi permasalahannya.

Agar terbentuk iklim usaha yang mendukung UKM untuk selalu tumbuh dan berkembang dengan menekan risiko yang berdampak bagi UKM sendiri, maka ada beberapa strategi yang dapat dilakukan:

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Mindset Membangun Aset

Saya akan menuliskan ulang kisah yang disajikan oleh Roger Hamilton dalam bukunya Wink and Grow Rich. Ini adalah sebuah ilustrasi yang bagus sekali untuk memberikan suntikan inspirasi kepada mindset kita agar mulai berpikir besar; mulai berpikir membangun aset; mulai berpikir menyiapkan ‘wadah’, daripada mengejar hasil cepat yang melelahkan.

Begini kisahnya.


Ada dua orang teman, yang satu adalah tukang kebun dan yang satu berprofesi sebagai penjaring kupu-kupu.

Penjaring kupu-kupu berangkat setiap hari ke hutan dengan jaringnya untuk menangkap kupu-kupu. Ia mengejar ke sana ke mari untuk mendapatkan kupu-kupu.

Di akhir hari ia duduk beristirahat dan menghitung kupu-kupu hasil tangkapannya untuk dijual kepada kolektor.

Meskipun melelahkan, ia cukup senang dengan hasilnya itu yang bisa digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari.

Sekali-sekali ia mampir ke kebun temannya si tukang kebun. Ia prihatin dengan kehidupan temannya itu. Tak seekor pun kupu-kupu ia peroleh dari pekerjaannya itu.

Tukang kebun ini begitu rajin dan telaten merawat kebunnya. Ia tanami dan rawat setiap jengkal tanah dengan yang penuh dengan aneka tanaman dan bunga.

Ia belum mendapat apa-apa dari hasil usahanya itu. Berbeda dengan temannya penjaring kupu-kupu itu. Ia seorang yang sabar. Ia tetap melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kebunnya telah berubah menjadi taman bunga yang indah sekali. Satu per satu kupu-kupu hinggap di tanamannya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!
  • 2
    Shares

Memanfaatkan Snapchat untuk Bisnis, Bagaimana Caranya?

Sukses menjadi salah satu media sosial yang digemari, Snapchat mencatatkan bahwa paling tidak, 10 miliar kali per hari videonya ditonton. Maka tak heran, bila makin banyak pebisnis atau creativepreneur yang memanfaatkannya sebagai saluran berpromosi, baik hard selling maupun soft selling.

Lalu, bagaimana cara membuat kampanye yang kreatif di media sosial Snapchat?

1 – Yang pasti, tentukan dulu, siapa target market-mu. Yang pasti juga, akan sangat berbeda untuk membuat konten bagi generasi Z dan generasi immigrant digital. Hal ini penting, agar sejak awal konten yang akan dibuat memiliki kekhasan dan tujuan yang jelas. Dan yang pasti, dari tujuan yang jelas, akan lebih mudah diterima oleh target market-mu.

2 – Setelah membuat konten yang dirasa tepat untuk terget market, pastikan untuk mempostingnya di jam-jam tertentu, agar lebih banyak audiens yang terjangkau. Konten baik tapi tidak di-deliver-kan ke audiens, tentu sangat disayangkan, bukan? Publikasi ini juga sebaiknya dilakukan terutama di momen-momen penting seperti live event atau peluncuran produk teranyar.

3 – Jangan lupa untuk memantau performa akun Snapchat-mu, antara lain unique view, berapa banyak yang sudah melihat story sampai selesai, berapa banyak yang melakukan screenshot, dan tentu saja paling penting adalah pertumbuhan follower. Olah data tersebut sesuai kebutuhan, kemudian jadikan pegangan untuk melakukan kampanye-kampnye kreatif selanjutnya.

Itulah tiga strategi bagi kamu yang ingin memanfaatkan Snapchat sebagai media untuk bisnis.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!