Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

Ternyata, penelitian modern bahkan memutuskan satu perkara penting: layaknya barang, kebahagiaan bisa kita dapatkan dengan uang.

Pada tahun 2016, Universitas Cambridge mengadakan penelitian untuk mencari relevansi antara kebahagiaan dan uang. Dan hasilnya memang mengejutkan: uang ternyata dapat dikorelasikan dengan kebahagiaan. Akan tetapi, dengan satu syarat, sebagaimana hasil penelitian itu mereka tuangkan dalam artikel bertajuk Spending for Smiles: Money Can Buy Happiness After All, bahwa membelanjakan uang sesuai dengan kepribadiannya akan mendapatkan kebahagiaan lebih.

Contoh paling konkret dan mudah kita pahami adalah, seseorang yang memiliki kencenderungan introvert misalnya, akan lebih memiliki kebahagiaan manakala menggunakan uangnya untuk membeli barang yang sesuai dengan kepribadiannya, misalkan untuk membeli buku.

Hal ini senada dengan apa yang dilangsir oleh Erita Narhetali, seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, bahwa kepemilikan yang akan mendorong seseorang untuk memiliki emosi positif. Emosi tersebut kemudian mengekspresikan keterbukaan, keinginan untuk mempelajari lebih banyak sudut pandang, lebih berinteraksi dengan orang lain, dan menikmati proses memberbaiki berbagai hal agar menjadi lebih baik.

Intinya, uang kemudian menjadi alat untuk membeli hal-hal yang mengundang emosi positif sehingga kita kemudian merasa bahagia. Emosi positif yang dimaksud oleh Erita Narhetali adalah rasa senang, kebahagiaan, cinta, serta harga diri.

Kalau dipikir-pikir, benar juga, sih. Saat kita memiliki uang, kita dapat melakukan apa saja hal-hal yang kita suka, yang membutuhkan ketersediaan uang. Sebaliknya, saat kita tak memiliki uang, hati cenderung gelisah, gusar, mudah panik, dan itu menarik emosi negatif untuk hadir. Misalkan, mudah marah, mudah tersinggung, dan lain sebagainya.

Iya, kan?

Nah, akan lebih bahagia lagi, kalau uang dijadikan alat untuk membeli pengalaman. Karena tingkat kebahagiaan akan berbeda, manakala uang kemudian digunakan untuk membeli pengalaman, daripada untuk membeli barang.

Beli laptop Xiaomi terbaru, kebahagiaan paling banter dua minggu. Saat masih baru, disentuh-sentuh dan disayang-sayang dengan riang. Saat dua minggu berlalu, perasaan sih masih bahagia, tapi ya biasa aja.

Beda, kalau punya duit yang setara untuk beli Laptop tersebut kita gunakan untuk backpacker-an ke Singapura. Tiga bulan kemudian, saat kita melihat koleksi foto-fotonya, perasaan bahagia kita akan membuncah lagi, bahkan cenderung ingin mengulangi pengalaman seru itu.

Nah, kebahagiaan itu akan lebih langgeng lagi, kalau kita berani untuk membeli kebahagiaan level abadi. Apa itu? Menyedekahkannya kepada yang membutuhkan. Atau dalam bahasa umumnya, menggunakannya bukan untuk konsumsi pribadi, namun untuk orang lain.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!