writer's block

Solusi Saat Stres karena Writer’s Block

Hati gundah, kepala pusing, merasa karya nggak kelar-kelar, dan tangan yang bingung mau mengetik apa. Itu tandanya kamu terkena writer’s block. Pada kondisi seperti itulah, seorang penulis baik penulis pemula maupun yang sudah profesional, akan mengalami gangguan yang mendekati kondisi stres.

Saya terkadang terkena masalah ini, disebabkan dalam berkarya kekurangan referensi, sehingga saya kebingungan mengembangkan konten ke arah yang lebih jauh. Walau terkadang, sebagaimana pengalaman, saya juga pernah stres karena justru terlalu banyak referensi.

Terlalu banyak referensi kok bisa stres?

Bisa. Hal ini disebabkan saya khawatir untuk terlalu menjejali pembaca dengan banyak data, ramai teori, dan sebaliknya justru minimnya pencerahan dan teknik yang langsung bisa diaplikasikan.

Hal itu tentu menyebalkan.

Nah, biasanya apa yang saya lakukan ketika terkena writer’s block?

Satu hal yang pasti, ketika writer’s block menyerang, hal tersebut wajar saja, bahkan bisa menyerang siapa saja yang bekerja di industri kreatif. Solusi terbaik agar kita bisa memecah kebuntuan tersebut menurut saya adalah dengan meninggalkan sejenak proses penulisan tersebut, dan mengalihkannya kepada kegiatan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan menulis.

Pertama, dengan menonton film, bermain game, futsal, bermain rubik, atau melakukan perjalanan. Hal-hal seperti itu akan terasa bermanfaat karena memberimu energi dan kesegaran baru.

Kedua, mungkin kamu kurang tidur akibat bergadang terlalu lama dalam mengerjakan naskah. Efeknya tentu membuat kepalamu terasa sangat penat dan berat. Tidurlah. Orang sukses adalah orang yang tidurnya nyenyak. Bukan orang yang punya banyak harta, namun tidurnya tak nyenyak karena banyak utang di sana-sini. Yoris Sebastian, pakar dunia kreatif di Indonesia bahkan pernah mewejangi bahwa kasur yang empuk dan nyaman untuk tidur adalah investasi terbaik bagi seorang pekerja kreatif. Hal ini tentu menyiratkan bahwa tidur adalah investasi yang kita perlukan agar energi baru kreativitas terus tumbuh untuk melahirkan karya terbaik.

Ketiga, cobalah berkomunikasi dengan orang sungguhan, bukan teman-teman di dunia maya. Dengan berinteraksi secara nyata dengan orang yang nyata, akan membuat kita lebih segar. Bisa juga kalau kamu sudah punya anak kecil, bermainlah dengan anakmu. Bergembiralah seperti anak kecil. Main hujan-hujanan pun tak apa, atau renang bersama anakmu. Hal-hal seperti itu akan memantik lagi energi kreativitasmu untuk kembali.

Keempat, cobalah memakan makanan yang enak. Bisa juga memasak atau bahkan merawat tanaman. Atau menggambar, melukis, dan hal-hal yang menyulut otak kreatifmu bangkit dengan cara yang menyenangkan.

Intinya, lakukan hal-hal lain di luar aktivitas menulis. Bagi yang suka lari pagi, bisa dengan lari pagi. Bagi yang suka dengan main layang-layang, bisa keluar untuk bermain layang-layang. Dengan begitu, otak akan terasa lebih segar dan kamu siap untuk menulis lagi.

Sebuah kebuntuan harus kita dobrak dengan cara yang unik dan berbeda. Kalau kamu buntu menulis ya harus didobrak dengan hal-hal yang tidak berhubungan dengan menulis. Dengan begitu, kamu terhindar dari kemonotonan, dan mendapatkan suntikan energi baru yang lebih segar. Jangan lupa juga untuk bersejenak menjeda diri dari kegiatan rutin menulis.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment