Seharian Memungut Kenangan di Kota Kretek, Kudus

Saya menghabiskan enam tahun tinggal di kota kecil namun menyenangkan ini. Kudus. Enam tahun itu adalah masa di mana saya menghabiskan umur SMP-SMA di pesantren. Ya. Ini adalah kota santri. Banyak sekali pesantren berdiri di kota ini. Paling menyenangkan, tentu dengan banyaknya santri yang bisa kita jumpai di sepanjang jalan. Memakai sarung, peci, dan Al-Qur’an kecil di saku. Sepeda pun masih menjadi moda transportasi yang masih bisa sering dijumpai di sini. Sebuah paduan yang indah. Kederhanaan dan keriuhan santriwan-santriwati dalam kota kecil yang ramah.

Kudus adalah kota kecil yang penuh kenangan. Maka, bila beberapa waktu lalu saya menghabiskan seharian di kota ini, memang dalam rangka memungut lagi kenangan-kenangan. Saya tidak sempat mampir ke pesantren dulu saya belajar, karena memang tidak saya agendakan ke situ. Namun hanya berjalan-jalan di pusat kotanya saja.

kudus1

Agenda pertama adalah sarapan sekaligus makan siang di Mall Kudus, karena sampai sana sudah hampir jum’atan. Mall yang terletak di alun-alun dan dekat dengan Masjid Agung ini, tentu adalah pilihan yang paling efisien untuk memberikan energi tubuh karena sejak pagi sudah lapar mendera. Sembari makan, saya menunggu hingga waktu jum’atan tiba, kemudian meluncur ke masjid Agung.

kudus12

kudus4

Selesai jum’atan, saya langsung meluncur ke Museum Kretek.Sebagai kota kretek, tentu harusnya Kudus menawarkan destinasi museum yang menarik dan sarat sejarah kretek. Saya penasaran bagaimana pemerintah kota menata destinasi wisata tersebut.

kudus13

Area ini sebenarnya cukup luas. Sangat cukup menurut saya. Tetapi, delivery marketing product-nya nggak banged. Kebersihan, kenyamanan, pelayanan, pengemasan, penonjolan cool factor tempat ini tidak mendapatkan porsi yang seharusnya.

kudus14

kudus15

kudus17

Itu beberapa penampilan luar museum. Tak terawat. Bahkan tidak terkonsep sama sekali. Apa sebaiknya pihak terkait menghubungi saya untuk saya bantu mengemas tempat ini agar lebih memiliki wow factor sehingga menghasilkan pengunjung yang sesuai harapan. Heuheuheu.

kudus22

kudus21

Selesai blusukan di Museum Kretek yang mendatangkan perasaan bingung, ini museum apa tempat pacaran, karena isinya malah anak-anak sekolahan yang masih berseragam dan pada gandengan tangan, saya kemudian meluncur ke Menara Kudus. Waktu sudah beranjak sore. Menuju masjid Al-Aqsha sekaligus untuk shalat ashar.

menara kudus

kudus29

kudus31

Menara kudus selalu memiliki kenangan. Dulu, sering saya mengunjungi tempat ini bersama teman-teman, karena memang tempat ini tak jauh dari sekolahan dan pesantren tempat saya belajar. Hanya sekitar satu kilo. Dan bisa kembali lagi ke sini memang menghadirkan perasaan yang ‘agak gimana gitu’. Perasaan yang selalu hadir di setiap kali kita bertemu dengan sesuatu yang pernah mengisi ruang-ruang kehidupan kita di masa lalu.

kudus35

kudus34

Waktu sudah beranjak maghrib. Saya segera pulang dan dadah-dadah-kecup-kecup dengan kota kretek eksotis ini. Ah, traveling memang selalu memperkaya ruang batin dan menghadirkan perasaan yang tak terbeli dengan uang berapa pun. Apalagi traveling ke tempat yang pernah mengisi ruang-ruang kehidupan kita di masa lampau.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment