Hasan Al-Banna

Sebuah Kisah Tentang Ayahanda Hasan Al-Banna

“Imam Syahid,” cerita Ahmad Jamaluddin tentang adiknya: Hasan Al-Banna, “adalah sesosok yang ridha dengan segala ketetapan Allah. Ia menjalani hidup penuh ketenangan. Ada harmonisasi hubungan antara pekerjaan yang dicintainya dengan cinta yang menjadi motivasi kerjanya; suatu kecintaan yang membuatnya bersinar seperti halnya semua orang yang memiliki kecintaan tersebut. Itulah kecintaan terhadap dakwah, yang benihnya sudah tersemai ketika beliau masih kanak-kanak. Lalu benih itu tumbuh dan bersemi di sanubarinya, lalu menjadi sempurna. Seperti janin yang menjadi manusia sempurna dalam perut ibunya. Semua berawal dari cinta yang dalamnya tak terkira.”

Hasan Al-Banna, berayahanda sosok yang sangat istimewa. Beliaulah Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna. Penulis kitab Al-Fath Ar-Rabbânî, sebuah kitab syarah dari Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Dan tahukah berapa lama ayahanda dari Hasan Al-Banna tersebut memerlukan waktu untuk merampungkan karya agungnya itu?

40 tahun!

Maka, seperti tulis Ahmad Jamaluddin, sang anak sekaligus kakak dari Hasan Al-Banna, ketika menuliskan sebuah buku untuk mengenang sepak terjang ayahandanya tersebut bertutur penuh hormat, “Dialah lelaki agung yang menjauhkan tangannya dari harta dunia. Ia mempersembahkan dirinya dalam kesendirian untuk menyelesaikan karya ilmiahnya yang besar itu. Beliau tak pernah luput membaca, menulis, menggores pena, menyampul, mentahqiq, mencari referensi sana-sini, bahkan hingga ke penerbit di India. Siang malam beliau mengurung diri di kamar sempitnya di salah satu lorong Kairo. Tak ada kunjungan ke luar maupun dikunjungi, kecuali dalam acara-acara tertentu saja. Tidak ada koran dan radio. Beliau tidak ikut-ikutan terjun ke dunia yang menjadi buruan syahwat dan ambisi saat itu. Lelaki itu memang berhak untuk dikenang. Berhak untuk dimuliakan namanya. Dan kaum muslimin rasanya juga berhak untuk tahu tentang kehidupan beliau, tahu perjuangan beliau. Tentu bukan sekadar mengenang dan memuliakan begitu saja, tetapi agar bisa menjadi teladan bagi mereka. Agar semua orang tahu, bahwa tak ada yang dapat menghalangi tegarnya sebuah cita, dan kukuhnya sebuah niat.”

Syaikh Ahmad Abdurrahman sangat unik pandangan hidupnya. Enggan sekali untuk menjadi pegawai negeri, dan lebih memilih berwiraswasta. Sebuah jalan kemerdekaan yang penuh kedinamikaan, dan tak mau terkungkung dalam alur hidup dan rasa yang monoton. “Beliau lebih memilih menapaki jalan yang telah diretasi oleh ulama-ulama terdahulu,” kisah Ahmad Jamaluddin lagi, “mereka menguasai suatu bidang secara profesional untuk mencari nafkah hidup, tetapi tetap memiliki banyak waktu dan kebebasan untuk menjalankan misi dakwah mereka.” Artinya, keahlian itu tetap harus dipunyai, untuk sarana menjemput rezeki. Tapi, misi utama untuk terus menapaki jalan dakwah, adalah prioritas, dan gangguan-gangguan yang menggugat tak bolehlah lewat.

Izinkan saat ini, kuajak engkau berdegup kencang sebentar atas rerasa yang kau punya. Kita arungi bersama jalan hidup ayah dari sosok yang mujaddid abad ini. Yang pernah dikata banyak orang, tidak tiap seratus tahun, zaman mau berbaik hati melahirkan sosok seperti Hasan Al-Banna ini. Ah, sudahlah banyak tentu kita mendekapi biografi beliau. Tapi mari kita berkelana sebentar di arena hidup ayah beliau, bagaimana berlelah payahnya Syaikh Ahmad Abdurrahman dalam menyelesaikan karyanya.

“Sejak Imam Ahmad menulis Musnad-nya,” tutur Ahmad Jamaluddin mengisahkan bagaimana karya ayahnya, “pada abad ke-3 Hijriyah hingga tiba pula abad ke-13 Hijriyah, amat sedikit ulama yang mampu membuat karya seperti ini. Artinya, selama 10 abad lebih, tak seorang pun mampu melahirkan karya serupa. Bahkan, Imam Ibnu Katsir pernah mencoba membuat Tartib Al-Musnad ini, tetapi beliau belum berhasil. Dalam bukunya, Ibnu Katsir sempat menggambarkan bagaimana seseorang harus berjuang jika ia berani mengarungi karya ini (Al-Musnad).”

“Lantas,” kata Ahmad Jamaluddin mulai menanyai titik terdalam nurani kita, “bagaimana bisa seorang lelaki dari Syamisyrah yang bekerja sebagai tukang jam mampu menghadapi tantangan ini? Sebuah karya yang tak mampu dibuat oleh Ibnu Katsir dan para imam lainnya? Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, kami ingin mengatakan bahwa ayahanda syaikh tentu sudah tahu apa ujung dari perjuangannya ini. Lalu, ada satu pertanyaan yang ingin penulis bersitkan: kalau ayahanda telah menghabiskan waktu puluhan tahun dari usianya untuk mewujudkan karya ini, lalu apa sebenarnya yang beliau inginkan dari karya tersebut? Kita tahu, seorang penulis tentulah menginginkan agar karangannya dicetak dan disebarluaskan di tengah-tengah khalayak. Sebab kalau tidak, lantas apa gunanya ia menghabiskan umurnya untuk menulis?”

Sesampainya pada kalimat tersebut, Ahmad Jamaluddin kemudian meneruskan alur pertanyaannya, “Mungkin kita bertanya-tanya, apakah ayahanda tidak memikirkan bagaimana nanti karya beliau ini dicetak dan diterbitkan? Lantas percetakan atau penerbit mana yang mau menerima dan mencetak buku yang tidak memiliki nilai jual yang bersaing kecuali bila semua juznya sudah selesai dengan sempurna? Sebab, buku beliau ini ditulis juz demi juz dalam waktu yang lama. Bisa jadi, nantinya buku ini mencapai 20 juz. Lantas, bagaimana misalnya bila terhenti di tengah jalan dan tidak dapat dilanjutkan, apa ada penerbit yang mau mencetak kitab yang belum sempurna itu? Kalaupun selesai, berapa banyak waktu, harta, dan umur yang harus dikorbankan ayahanda syaikh untuk mewujudkannya?”

Selesai membaca paragraf itu, saya sendiri merasa miris. Duhai, keteguhan hati lelaki ini, benar-benar bikin saya iri. Pada titik kisah itu saja, sudah membuat saya sedemikian terpesona. Akan tetapi, ketika Ahmad Jamaluddin melanjutkan kisahnya, seluruh sendi inderaku serasa mati rasa, “Ternyata, keraguan ini tidak cukup untuk mematahkan semangat ayahanda syaikh. Bahkan, beliau ternyata tidak hanya menulis dan merancang ulang susunan Musnad seperti rencana awal beliau, tetapi juga mensyarahkan haditsnya satu persatu serta mengistinbath hukum-hukum yang ada di dalamnya. Hal ini, tentu saja menambah besar dan berat pekerjaan yang harus dilakukan ayahanda syaikh, tetapi sekaligus juga akan menambah keindahannya. Tambahan lagi, takhrij dan istinbath yang diberikan tersimpul dan disarikan dari hadits, bukan dari madzhab tertentu. Metode inilah yang di kemudian hari dikembangkan dengan lebih sempurna oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam buku beliau: Fiqh As-Sunnah. Sisi-sisi ini menggambarkan kepada kita bagaimana karya yang ingin dihasilkan oleh ayahanda syaikh begitu sulit. Bahkan memulainya saja sudah dapat menciutkan nyali dan melemahkan mental. Bisa kita katakan bahwa mungkin beliaulah orang terakhir yang membayangkan akan mencoba-coba membuat karya seperti ini.”

Pada akhirnya, ternyata Syaikh Ahmad memutuskan untuk menerbitkan sendiri kitabnya tersebut. Benar-benar luar biasa. Penaka kesendirian yang mengkawani pengerjaan naskahnya, keputusan swacetak juga mengkawani perwujudannya menjadi sebuah buku. Ah, tetapi, belum sempat juz terakhir terterbitkan, ada banyak lara yang tiba-tiba menyapa. Pemerintah yang sangat tidak menyukai gerak indah dakwah Al-Ikhwan Al-Muslimun, mencari gara-gara dan mengada-adakan masalah. Hingga pada puncak kekelaman, menghadirkan konspirasi untuk membunuh Mursyid ‘Am mereka: Hasan Al-Banna. Sejak itulah, Syaikh Ahmad terkawani lara dalam kesendiriannya. Apalagi, saat pemerintah tak mengizinkan penguburan Hasan, kecuali olehnya sendiri itu. Dengan kedua tangannya, dibopongnya sang putra. Sebagai lelaki sendiri. Tetapi beliau tegar. Cita-citanya mulia. Syaikh Ahmad, tentulah hamba pilihan-Nya, karena lewat beliaulah terlahir sosok pembaharu dunia yang berpusat di Kairo lewat gerakan Al-Ikhwan. Maka lewat sosok ini, kita bisa belajar memegang erat genggaman cinta untuk berkarya, tabah dalam pengorbanan, dan terus menjaga keteguhan cita.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment