Satu Hal Penting yang Harus Dilakukan Editor

Saya berkesempatan memiliki networking yang baik dengan Pak Husin (@HusinBakery), jajaran eksekutif PT Tripangan Mas Sejahtera. Pertemuannya pun terbilang unik. Kala itu, saya menjadi pembicara menemani Wahyu Liz (@WahyuLiz) di forum Selasa Malam atau yang biasa disingkat Salam di TDA Soloraya.

Mas @WahyuLiz adalah salah satu penulis di penerbit tempat saya bekerja. Personal branding-nya yang unik dan diferensiasi produknya yang kuat membuat saya tertarik untuk mengangkatnya menjadi buku. Lahirlah kemudian Emperpreneur: From Emperan to Empire Pengusaha Kaos Plesetan. Di forum itu, saya juga menyampaikan kemungkinan salah satu hadirin untuk memiliki kemungkinan menerbitkan buku, asalkan memiliki diferensiasi yang cukup kuat seperti @WahyuLiz tadi.

Di akhir acara, saya didekati oleh @HusinBakery, salah satu yang hadir di forum tersebut. Latar belakang beliau dalam urusan per-bakery-an menarik perhatian saya. Pembicaraan menjadi nyambung, karena kakak nomor dua saya adalah pengusaha katering. Sedikit banyak, saya tentu tahu istilah-istilah yang biasa digunakan dalam urusan pembuatan roti. Pembicaraan pun mengalir tanpa hambatan, hingga berakhir janjian ketemuan di @kopieoy Solo, tempat favorit nongkrong saya, sebelum sekarang akhirnya pindah ke Tune Hotels. Sangat sayang memang, karena sebelum pindah, tempatnya sangat cozy dan asyik untuk meeting.

Secara lebih mendalam, @HusinBakery kemudian menyampaikan keinginannya menulis buku, target market-nya, dan lain sebagainya. Beliau adalah konsultan bakery dan jajaran eksekutif perusahaan yang bergerak di bidang bakery ingredients. Ilmunya yang mumpuni serta pengalamannya tinggal selama beberapa tahun di Belgia untu mengasah kemampuannya juga makin meyakinkan saya bahwa sosok ini bisa diangkat. Lahirlah kemudian konsep A-Z Bakery, yang membincang tak hanya soal pengenalan bakery, namun juga bagaimana membuka usaha di bidang tersebut.

Beliau deg-degan luar biasa ketika buku ini hendak lahir. Pertama, karena ini adalah salah satu impiannya untuk memiliki buku sendiri. “Saya memang memiliki banyak impian dalam hidup. Namun, bagaimana buku ini bisa hadir secepat ini, tetaplah mengagetkan saya,” curhat beliau suatu kali. Beliau bahkan rela resign dari PT Sriboga Flourmill demi pindah kuadran menjadi entrepreneur dan bersama beberapa rekannya mendirikan perusahaan sendiri. Sebelum buku ini lahir, saya juga sempat memberikan usulan agar buku ini menjadi salah satu bukti keilmuan dan tools dari personal branding-nya sebagai konsultan.

Kedua, proses penulisan buku yang memakan waktu tiga bulan. Dalam rentang waktu tersebut, mengasistensi tulisan beliau hingga layak baca dan layak terbit dalam format buku sangatlah tidak mudah. Datang dari dunia akademisi dan korporat membuat tulisan beliau belum luwes sebagaimana buku populer pada umumnya. Maklum, karena ini adalah buku pertama. Tetapi, saya terus meyakinkan beliau bahwa ini adalah proses “10.000 jam” yang harus beliau mulai dari sekarang. Bakda naskah rampung, masih harus melakukan photo session yang memakan waktu dua hari penuh di Sriboga Customer Center, yang begitu baik hati meminjamkan dapurnya. Awalnya, beliau menyarankan gambar datang dari internet saja. Akan tetapi, saya ngotot, bahwa bila memang ingin serius membangun personal branding dan bagaimana buku ini terlihat keren, ya harus totalitas. Setiap foto di dalam buku tersebut harus hasil bidikan asli tim kreatif. Setelah terjadi perdebatan panjang dan berdarah-darah, akhirnya totalitas pun dilakukan. Kover, gambar pendukung alat, gambar pendukung roti, hingga foto yang berada di halaman tentang penulis semua rela dilakukan. Alhamdulillah, buku tersebut sekarang nangkring di 18 buku best seller untuk tahun 2013 di penerbit.

Apa-apa yang saya diskusikan dengan @HusinBakery mengingatkan saya tentang pelajaran dari teori Blue Ocean: create your own niche, and dominate it. Kala itu, setiap buku bertema makanan yang hadir selalu resep. Padahal, kebutuhan para pelajar dan mahasiswa pariwisata justru pada ilmu dasarnya yang dikemas lebih populer. Begitu juga dengan pelaku industri kuliner yang tentu saja akan menjadikan buku itu sebagai rujukan utama. Sekarang, lahir juga konsep kedua: A-Z Bakery: Cake. Makin menyenangkan, karena cake tentu lebih berwarna-warni daripada roti yang warnanya adalah warna-warna ‘mentah’ seperti itu. Dengan begitu, nantinya visual buku ini pun makin menarik dan didukung konten naskah yang tetap berbobot.

Ketika buku itu akhirnya rilis ke pasar, beliau berujar penuh bangga, “Benar ya, Mas. There is no accident. Siapa juga yang menyangka dari obrolan ringan kita di Salam TDA bisa menjadi sebab pewujud impian saya memiliki buku.”

“Padahal, malam itu saya hampir tidak datang memenuhi ajakan Mas Wahyu Liz, loh, hehehe.” Jawaban saya ternyata cukup mengagetkan beliau.

“Nah, itu malah makin menguatkan bahwa memang there is no accident kan? Semau sudah diatur sama gusti Allah.”

Yah, tentu saja saya sepakat.

Don’t network to build business. The network of your network is far more important! Sebelum nanti seri kedua dari A-Z Bakery: Cake hadir di tahun 2014, rentang waktu dua bulan ini sudah mulai digarap buku kedua beliau berjudul UKM Naik Kelas. Kronologinya pun menarik. Beberapa pekan sebelumnya, beliau memperkenalkan saya dengan Pak Joko Priyono, seorang konsultan keuangan yang tinggal di Semarang. Kukira konsultan keuangan skala lokal biasa. Alhasil, ketika beliau mengajak saya bertemu dengan Pak Joko di kantor Cokelat Monggo, Jogja, karena bertepatan dengan Pak Joko ada meeting dengan direksi Cokelat Monggo, saya terhenyak. Kerennya lagi, setelah Pak Joko mengirim resume-nya ke e-mail saya, klien Pak Joko tak hanya nasional, namun juga sampai USA.

Berdiskusi dengan Pak Joko juga sedemikian menarik. Kegelisahan beliau dengan 56 juta UKM di Indonesia yang tak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah membutuhkan bantuan para profesional untuk mengembangkan mereka, dari yang beromzet jutaan menuju miliaran. Di sinilah keinginan Pak Joko menghadirkan buku UKM Naik Kelas, sebagai panduan bagi UKM untuk bertransformasi. Bukan, bukan berisi motivasi bukunya, namun lebih ke panduan teknikal mengenai pengaturan keuangan, branding, dan terpenting pengelolaan aspek hukum perusahaannya. Pak Joko kemudian mengajak @HusinBakery untuk menulis buku ini. Setelah saya sempurnakan konsepnya dan saya presentasikan ke teman redaksi dan marketing di kantor, konsepnya lolos. Alhasil, sepanjang November-Desember pun saya harus terus mengawal konsep buku yang sangat brilian dan amazing ini. Bahkan, lembaga untuk mewadahi UKM yang ingin menaikkelaskan perusahaannya pun akan didirikan dalam bulan November ini. Launching-nya akan dilakukan di awal tahun depan. Sedang digodog matang, dan saya pun terlibat dalam pendirian lembaga tersebut. Luar biasa memeras daya kreativitas, namun bila melihat big picture dari konsep buku dan lembaga yang berdiri nantinya, akan sangat sebanding dengan kerja keras yang dilakukan sekarang ini.

You can not outsource passion. There’s only one difference between an amateur and a professional. The professional is an amateur that did not give up. Inilah perbedaannya. Mereka yang masuk ke dalam industri ini hanya sekadar ‘kecemplung’, tentu berbeda dengan yang masuk berdasar passion. Mengkreasi teks yang bermutu dan visual yang bagus, menciptakan tren, mengkonsep personal branding penulis, mengurusi konten marketingnya, hanyalah fase terdasarnya. Namun, membangun hubungan personal yang apik dan trusted dengan penulisnya hingga membawa ke jejaring yang lebih jauh lagi, tak semua bisa melakukannya. Jangan membatasi diri dengan kubikel yang besarnya tak sebarapa itu. Dunia ini jauh lebih luas dari itu. Dan kita harus menyempatkan diri untuk menjelajahinya, sejengkal demi sejengkal setiap harinya. Chicken stays, eagle flies, my friends. Even the biggest diamond has to be cut, push yourself.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment