Perlukah Bakat dan Kerja Keras?

Jangan terlalu memuja bakat, hingga terlalu memandang rendah kerja keras. Kita tidak melihat segala usaha di balik suatu kesuksesan. Yang kita lihat adalah kelihaian seorang penari balet selama 15 menit ketika pentas, bukan latihannya bertahun-tahun. Kita hanya melihat 200 lembarnya, bukan 20.000 jam yang digunakan oleh seorang penulis untuk menyusunnya dengan simbahan rasa dan hati untuk memberikan yang terbaik. Pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat. Tetapi, kerja keraslah senjata sesungguhnya dalam hidup ini.

Kadangkala, ketika kita mencurahkan segala usaha dan waktu untuk mencapai sesuatu, pasti terbersit dalam pikiran bahwa: Apakah semua usaha ini akan terbayar? Apakah semua usaha ini akan berhasil? Apakah ada gunanya? Jika tidak berguna, mengapa harus bersusah-payah seperti ini? Singkirkanlah keraguan tersebut. Teruslah melangkah. Setiap sungguh-sungguh pasti terbayarkan. Takkan pernah ada yang tenggelam dalam keringat. Hasil itu mungkin tidak nampak sekarang atau dalam waktu dekat. Tapi, ia akan selalu mendatangi kita, sebanding dengan sejauh mana dan sekeras apa kita dalam berusaha.

Bekerja besarlah. Bekerja hebatlah. Dan jangan lupa, berjiwa besarlah. “Raja yang akan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar,” kata Meng Tze, “pasti tak punya menteri yang sedia tiap saat dipanggil menghadap. Justru dia yang akan mengunjungi mereka untuk meminta nasihat. Sebab tugas besar hanya bisa dituntas oleh mereka yang berjiwa besar.”

Kita menghadapi dunia yang sangat kompetitif. Apapun bidang yang kita geluti, bekerjalah lebih keras dari orang lain. Itu akan memberikan hasil yang berbeda. Selalulah ingin menjadi yang pertama. Kerja keras akan memberikan perbedaan dan menampakkan keunggulan. Namun, perlu juga diingat bekerja keraslah pada bidang yang engkau sukai.

“Aku bekerja keras,” kata Sheldon Wiseman, “tetapi aku selalu menikmati apa yang aku kerjakan dan hingga sekarang pun masih demikian. Aku pergi bekerja setiap hari dan bersenang-senang seperti anak-anak dan mendapatkan bayaran untuk melakukannya.”

Ya, mereka yang memiliki jiwa kreatif tandanya selalu sama: mereka sama-sama tidak bisa membedakan lagi apakah yang dilakukannya itu bekerja ataukah bermain-main. Terkadang, saat kita sedang bekerja dengan keras, terbersit, “Andai aku punya bakat yang hebat, tentu aku tidak akan bekerja sekeras ini.” Percayalah, yang membuat seseorang hebat bukanlah bakatnya, tapi kerja kerasnya. Profesor Michael Howe dan rekan-rekan kerjanya di Universitas Exeter meneliti prestasi-prestasi terbaik di berbagai area dan tidak bisa menemukan seorang pun yang bisa mencapai level tertinggi tanpa ratusan jam kerja dan latihan.

Mozart, misalnya, orang-orang selalu menganggap ia memiliki bakat hebat. Akan tetapi, ia tetap harus bekerja 12 jam sehari selama lebih dari satu dekade sampai akhirnya masterpiece-nya lahir. Michaelangelo pun sama. Bahkan, ia sampai berkata, “Jika orang-orang tahu betapa keras aku bekerja untuk mendapatkan kemampuan ini, semuanya tidak akan tampak menakjubkan lagi.” Mereka yang berjiwa kreatif bekerja keras dengan penuh kedisiplinan. Mereka tidak menunggu inspirasi. Mereka menciptakannya.

Sudah sering kita dapati, beberapa orang yang tampaknya berbakat di usia muda, tapi justru kemudian tidak tumbuh menjadi orang-orang hebat. Masalah yang terjadi pada mereka adalah: mereka pikir bakat akan membawa mereka masuk jajaran sebagai orang hebat, sehingga mereka tidak mengutamakan kerja keras dalam usaha untuk meraih kesuksesan dan terus mengembangkan bakatnya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment