tips lengkap menulis buku

Panduan Menulis Buku

Panduan menulis buku – Banyak yang bertanya kepada saya seperti ini. “Bagaimana sih caranya bisa menulis dengan produktif seperti Mas Fachmy?” Biasanya saya akan menjawab, “Ketampanan wajah memengaruhi, sih…” Tentu saja saya bercanda.

Akan tetapi, pertanyaan itu saya perhatikan dengan serius. Yah, ternyata tak semua orang bisa menulis. Akan tetapi, kalau saya perhatikan lebih seksama, bukan tak bisa menulis sebenarnya, hanya lemah keinginan dan miskin strategi.

Secara garis besarnya, tak ada persiapan yang mumpuni untuk menjadi penulis.

Dalam artikel yang panjang ini, saya paparkan pengetahuan sekaligus wawasan saya dalam mengatur strategi menulis buku. Panduan ini sangat penting untuk penulis pemula yang masih menganggap menulis buku adalah suatu hal yang mustahil. Setelah menuntaskan membacanya, semoga kamu nanti tidak beranggapan seperti itu lagi.

Selamat menyimak, ya ….

 

Mengapa Kamu Menulis?

Ada hubungan erat antara menulis dan membaca. Erat banget, sudah kayak hubungan suami-istri gitu, deh.

Sudah menjadi kesepakatan jamak, siapa yang tak rakus membaca, ia tak akan bagus dalam menulis. Bahkan, ibaratnya ketika kita membaca satu buku, kita sedang membaca rangkuman ilmu atas bacaan-bacaan yang sudah dikunyah oleh penulis.

… dan hal tersebut merupakan sebuah efektifivitas waktu bagi kita dalam berburu ilmu.

Itulah mengapa banyak orang yang begitu rakus membaca, karena semakin greget dalam membaca akan semakin ketagihan untuk lebih tahu mengenai suatu subjek yang sedang dia pelajari.

Nah, itu salah satu kebaikan yang dialirkan lewat sebuah buku.

Kalau kamu sebagai penulisnya, apa yang membuatmu tertarik untuk menulis buku?

Apa yang membuatmu memutuskan untuk menulis buku?

Jawabanmu mungkin beragam seperti ini.

1 – Meningkatkan prestise diri dan mengemas personal branding dalam karier.

2 – Menambah penghasilan, karena mendapatkan royalti ataupun bayaran dari klien memang cukup besar dari menulis.

3 – Mewujudkan impian menjadi penulis, karena rasanya sangat keren ketika berhasil menulis buku.

4 – Merasa sangat senang bila ide, gagasan, dan penelaahan berhasil tersebar ke ribuan orang lewat sebuah buku.

5 – Pengakuan atas intelektualitas dan kreativitas dari masyarakat.

6 – Mewariskan pengetahuan kepada generasi penerus.

7 – Terkenal. Yah, alasan seperti ini pun ada, dan sah-sah saja, kok.

8 – Membangun reputasi dan kredibilitas sebagai pakar.

9 – Menantang diri sendiri.

10 – Media pelepasan isi pikiran dan curhat.

Nah, apa pun alasanmu untuk menulis buku, satu hal yang pasti, bahwa gagasanmu jangan sampai menguap begitu saja. Bila gagasan untuk menulis buku tidak segera kita tidak lanjuti, ia akan menghilang, diterpa dengan gagasan-gagasan baru, yang akan terus tumbuh seiring dengan wawasan dan pengalaman kita yang terus bertambah setiap harinya.

Oleh karena itu, bila suatu gagasan sudah sedemikian baik, segera atur waktu untuk mengeksekusinya menjadi sebuah karya.

bersiap menulis buku

 

Bersiap Menjadi Penulis Buku

Menurut saya, paling tidak ada tiga syarat dalam  menulis buku. Jika ketiga syarat ini berhasil kamu penuhi, langkah-langkah lainnya cenderung gampang untuk ditaklukkan.

Pertama, memahami tema yang akan ditulis. Katakanlah dalam pikiran kamu sudah ada tema yang ingin kamu tulis. Itu saja tidak cukup. Itu baru sebatas ide. Masih ada satu hal yang perlu kamu perhatikan dengan sangat serius dan menjadi urutan pertama dalam hal perhatian kamu dari semua syarat menulis, yakni kamu cukup menguasai tema yang kamu tulis tidak? Jika dalam hati kecilmu menjawab tidak, segera tinggalkan ide itu. Namun, bila kamu merasa yakin bisa menyelesaikan tema, maka persiapkanlah dirimu untuk menyelesaikan karyamu.

Kedua, waktu yang tersedia dan stamina yang cukup. Ide sudah ada, pemahaman mengenai tema yang ditulis pun sudah cukup. Sekarang coba cek lagi, punya waktu untuk mengeksekusinya tidak? Persiapan kita akan waktu ini begitu penting. Bila masih mengeluh tentang tidak punya waktu untuk menulis, kita harus sadar, bahwa di dunia ini, kita semua memiliki jatah waktu yang sama, yakni 24 jam. Klise memang. Akan tetapi, kenyataannya memang seperti itu.

Tak pernah ada waktu yang cukup ideal untuk memulai. Bulatkan tekad, persiapkan diri, dan terobos segala ketidakmungkinan. Bila kita selalu menunggu waktu yang ideal, maka kita takkan pernah mendapatkan kesempatan itu.

Menulis adalah sebuah perjalanan panjang. Perlu waktu yang lama untuk menuntaskan sebuah buku.

Tak seperti artikel yang mungkin hanya butuh dua atau tiga hari saja. Malah, mungkin hanya beberapa jam saja. Akan tetapi, menulis buku membutuhkan waktu yang tak sedikit. Pastikan waktu dan energimu cukup untuk mengerjakannya.

Ketiga, pastikan referensimu sudah tersedia. Nah, inilah bagian menarik dalam pembuatan buku. Tak hanya ide, waktu dan energi yang cukup saja harus ada, namun juga referensi yang sudah tersedia dengan baik. Fungsi referensi ini beragam, misalkan untuk semakin memperkaya naskah kamu, dan di saat yang lain, saat kamu stuck, referensi inilah yang akan memberikan ide baru untuk melanjutkan naskah.

Tak harus semua referensi tersedia, namun sebagian besar memang harus sudah tersedia.

Dalam perjalanan penggarapan naskah, kamu akan bertemu dengan referensi-referensi baru lagi yang akan memperkaya naskahmu. Nikmati proses kreatif itu dengan sebaik-baiknya.

 

 

Merancang Naskah Buku

Dari mana mendapatkan ide penulisan buku? Mengapa ada seseorang yang memiliki ide yang begitu banyak, sehingga seolah tak kehabisan energi dalam menulis buku?

Penulis adalah pekerja kreatif. Dengan adanya ide yang berlimpah, akan membantu penulis untuk mengembangkan karyanya lebih jauh. Nah, itulah mengapa kita harus pandai-pandai berburu dan mengikat ide.

Dalam mengikat ide, saya biasa melakukan beberapa hal ini.

Pertama, mengamati permasalahan orang-orang. Misalkan, kita memperhatikan orang-orang memiliki masalah dalam membuat konten yang bagus di blog dan bagaimana mengoptimasikannya menjadi medium personal branding yang bagus, bahkan bisa menghasilkan uang lewat blog. Maka, lahirlah sebuah ide seperti ini:

Masalah: Punya blog tapi tidak bisa memonetisasi.

Ide buku: Optimasi blog menjadi pabrik duit.

Isi buku: Tip dan trik mengoptimalkan blog menjadi medium personal branding dan menghasilkan uang halal lewat ngeblog.

Atau, kamu juga bisa melakukan hal seperti ini untuk menghasilkan ide menulis buku, yakni dengan menentukan TEMA, kemudian TOPIK, setelah itu JUDUL TENTATIF-nya.

Misalkan nih kamu mengambil tema tentang kesuksesan.

Setelah menentukan tema, baru tentukan topik yang ingin dibahas. Dengan tema kesuksesan, kamu bisa menentukan topik: sukses bukan melulu soal uang melimpah atau topik yang lain, yakni sukses adalah keluarga yang bahagia.

Nah, dari situ, kamu bisa menentukan judulnya, kira-kira seperti apa judul yang “nendang” dan mencuri perhatian. Bila dibuat tabel untuk memperjelas maksud saya ini, akan seperti ini.

TEMA TOPIK JUDUL
Kesuksesan Sukses bukan melulus soal uang Uang Melimpah Bukan Ukuran Suksesmu
Sukses adalah keluarga yang bahagia Keluarga Bahagia adalah Makna Sukses Sesungguhnya

Nah, tahu kan perbedaannya? Untuk menentukan tema dan topiknya, pastikan kamu sudah mengukur seberapa jauh tingkat pengalamanmu, setinggi apa pengetahuanmu, serta semahir apa tingkat keterampilanmu dalam menulisnya.

Pastikan pula kamu sudah mempersiapkan value tambahan agar penyajian idemu tersebut menarik, layak jual, kekinian, dan tentu saja dibutuhkan oleh pembaca. Untuk apa juga kan menulis sesuatu yang tidak menarik, tidak layak jual, tidak kekinian dan tidak dibutuhkan oleh pembaca.

Saat memiliki ide, langsung ikat idenya dan bikinlah pola seperti itu. Sangat sederhana memang, karena tugasnya hanya mengikat ide yang berseliweran yang kita rasa cocok untuk menjadi sebuah buku. Cara mengikatnya bisa dengan menulis di notebook, atau lewat aplikasi note di smartphone. Intinya, kita mengikat ide yang berseliweran, dengan menuliskan apa ide tema bukunya dan apa isi bukunya.

Di dunia ini banyak sekali orang yang memiliki masalah dan membutuhkan solusi. Nah, bila karya kita bisa hadir sebagai solusi, maka karya kita akan dibutuhkan oleh banyak orang. Hal tersebut tentu kabar baik, karena selain manfaatnya semakin tersebar banyak, income kita sebagai penulis juga semakin tebal lewat royalti.

… perlu diingat juga …

Level sebuah masalah juga bertingkat-tingkat. Ada masalah yang perlu solusi sederhana, namun ada juga masalah yang perlu solusi tingkat kepakaran. Begitu pun ketika menyajikan solusi lewat barisan kata-kata. Sesolutif apa kita dalam mengurai masalah, kehadiran karya kita akan semakin menjadi primadona.

Kedua, sering bermain ke toko buku dan pameran buku. Saat melihat sebuah buku dengan tema yang bisa kita tulis, dan buku yang sudah ada tersebut ditulis dengan kualitas yang lebih rendah dari apa yang kita bisa, maka saatnya kita mengambil peran.

Bila kita merasa bisa menulis yang lebih baik dari buku tersebut, mengapa tidak?

Inilah semangat seorang penulis yang ingin menghasilkan karya yang lebih baik dari penulis lain. Apakah semangat seperti ini salah? Tidak. Karena dengan begitu, setiap pekarya akan selalu berlomba-lomba untuk terus menambahkan value di dalam karyanya.

Ketiga, mengoleksi katalog buku luar negeri. Buku-buku yang terbit di luar negeri biasanya saya perhatikan lewat katalog. Beruntung, saya rutin mendapatkan katalog dari beberapa penerbit di luar negeri. Bila tak bisa mendapatkan katalog versi cetaknya, bisa kita melakukan browsing ke website-nya. Banyak ide menarik dari buku-buku itu yang bisa kita kemas versi lokal.

Dalam membuat konsep naskah, hal paling sering saya lakukan adalah cara ketiga ini, karena hemat waktu, sudah terbukti ada buku yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan ada bukti nyata buku yang bisa kita benchmark dalam pengerjaannya. Tinggal menambahkan value yang terasa lebih lokal dan sedikit kreativitas kita sebagai pengembang konten dan penulis.

Ingat, kita tidak menjiplaknya, ya. Hanya mengambil inspirasinya.

Selain dari ketiga hal di atas, sisanya adalah ide-ide yang lahir secara random, misalkan dari seminar, reuni, pelatihan, lokakarya, tafakur, saat sedang beribadah, dan hal-hal lainnya, di mana kita sering melakukan tiga aktivitas utama yang akan memantik ide, yakni banyak membaca, banyak menjelajah sudut-sudut semesta, dan banyak bergaul dengan orang-orang kreatif.

 

mencari ide menulis

Ada macam-macam cara untuk membuat sebuah tulisan bagus: mengindahkan gaya bahasa, meluarbiasakan alur cerita, atau meliukkan diksinya. Tapi, semua bermuara pada satu hal penting: IDE.

Yah, IDE.

Ide yang baik, akan tetap menghasilkan gugahan. Ide yang keren, akan tetap melahirkan gerakan. Ide yang baik, walau disajikan dengan bahasa yang susunannya kacau, masih bisa menghasilkan sesuatu. Tapi, ide yang buruk, walau disajikan dengan bahasa semeliuk apapun, akan tetap kosong.Itu yang membuat sebuah tulisan bagus.

And remember, you can’t win with yesterday’s ideas.

Jadi, sering-seringlah mengail-ngail ide sebanyak dan sekeren mungkin.

Kita sering terkapar karena tak mampu mewujud-nyatakan ide berbentuk tulisan, bersebab satu hal: ketakmampuan berbahasa. Makanya, kemampuan menulis ini memang tak mudah. Sehebat apa pun ide kita, namun saat kita tak memiliki kemampuan untuk mengaitkan antarkata dengan apik, kita akan mengalami kebuntuan.

“Banyak penulis lupa akan misteri dan kekuatan bahasa,” kata Sindhunata, “Mereka lebih percaya pada pengetahuan dan pengalamannya. Padahal, semua itu masih mentah dan belum nyata apabila tidak dinyatakan dengan bahasa. Jangan mengira bahwa menyatakan dengan bahasa itu mudah. Sebelum menyatakan dengan bahasa, kita harus menggulati pengetahuan kita dengan bahasa. Sering terjadi dalam pergulatan itu kita kalah. kita merasa tahu dan mengerti, merasa mengalami dan sadar, tetapi semuanya itu tidak dapat kita kalimatkan—artinya, bahasa tak membantu kita untuk menyatakan semuanya tadi. Akhirnya, semua tinggal sebagai kegelapan dan kebawahsadaran, padahal kita merasa terang dan sadar tentangnya. Dalam hal ini, bahasa adalah sarana pencerahan bagi kegelapan kita.”

Jadi, jangan anggap remeh kekuatan bahasa, ya. Tanpa kemampuan itu, ide kita tak akan tersampaikan kepada pembaca dengan baik. Menulis adalah mengomunikasikan gagasan. Maka, sejauh mana kamu berani dan mampu menyampaikan ide dan pemikiranmu itulah yang akan berpengaruh pada kemampuanmu menulis. Kekayaan ide dan pemikiran yang ada pada otak dan hati manusia juga akan sangat berpengaruh pada kemampuan dalam menulis.

Tentu saja, bagaimana kamu bisa menulis dengan bagus jika dalam tubuhmu sendiri miskin gagasan?

Oleh karena itu, proses memperkaya diri dengan gagasan harus terus kita lakukan.

Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti membaca, bersilaturahim, merenung, dan juga melakukan jelajah alam. Hal-hal mendasar seperti itu akan menjadikan hati dan pikiran kita terbiasa dengan gagasan-gagasan.

Lebih baik banyak gagasan daripada tidak sama sekali.

 

perpustakaan tempat asyik menulis buku

 

Cara Mengikat Ide Menjadi Konsep Buku

Setelah ide kita dapat, apa yang selanjutnya harus kita lakukan? Caranya adalah dengan membuat outline seperti ini.

ITEM KETERANGAN DEADLINE
Judul Buku
Anak Judul
Ringkasan Naskah
Isi Naskah Kata Pengantar

Prakata

Daftar Isi

BAB 1

Subbab pertama dari bab 1

Subbab kedua dari bab 1

Subbab ketiga dari bab 1

BAB 2

Subbab pertama dari bab 2

Subbab kedua dari bab 2

Subbab ketiga dari bab 2

BAB 3

Subbab pertama dari bab 3

Subbab kedua dari bab 3

Subbab ketiga dari bab 3

Penutup

Tentang Penulis

Daftar Pustaka

Tulis tanggal dan bulan targetmu untuk menyelesaikan naskahmu.
Kategori
Pembaca Sasaran
Keunggulan Naskah
Buku Pembanding
Referensi
Endorsement

 

Pada JUDUL BUKU, buatlah judul buku sementara yang menjadi idamanmu. Judul buku rancanganmu mungkin nantinya akan diganti oleh editor. Tak masalah. Yang penting, dengan judul buku buatanmu, kamu bersemangat untuk menyelesaikan naskahmu, dan ketika ditanya oleh temanmu, “Kamu sedang menulis buku apa?” Kamu bisa menjawabnya dengan menyebutkan judul buku yang sedang kamu kerjakan. Membuat judul ini penting, karena lewat judul inilah naskahmu nanti akan mendapatkan perhatian lebih dari editor saat kamu mengirimkan naskah.

Pada ANAK JUDUL, kamu memberikan judul kecil yang menjadi penjelas dari judul utamamu. Tujuannya memberikan keterangan dari judul utama, agar pembaca makin mendapatkan gambaran dari isi buku.

Pada RINGKASAN NASKAH, kamu memaparkan secara sederhana namun berisi gambaran keseluruhan dari isi bukumu itu tentang apa. Ibaratnya, kamu membuat teks untuk back cover bukumu nanti. Jadi, posisikan seolah-olah ada calon pembeli yang sedang menimang bukumu. Nah, keluarkan jurus mautmu dengan memberikan gambaran isi bukumu itu tentang apa, dan pastikan orang itu nantinya akan memutuskan untuk membeli bukumu, bukan buku yang lain.

Nah, paling penting ada pada ISI NASKAH. Buatlah urutannya sebagaimana dalam contoh di atas. Tuliskan juga pada bab 1, naskahmu berisi apa. Pada subbab 1, naskahmu berisi apa. Dengan melakukan ini, kamu akan lebih mudah dalam menulis buku dan lebih fokus untuk membahas topik tertentu pada subbab tertentu. Lagipula, ketika di tengah perjalanan menulis buku tersebut kamu menemukan referensi tambahan, baik berupa buku maupun artikel, langsung bisa kamu arahkan ke subbab mana harus dimasukkan. Mudah, bukan?

Pada KATEGORI, kamu tentukan bukumu nantinya masuk kategori apa. Apakah inspirasi, motivasi, religi, panduan, bisnis, atau yang lainnya, kamu lebih tahu.

Pada PEMBACA SASARAN, kamu menentukan siapakah kiranya nanti yang akan membaca bukumu ini. Tentukan umurnya, pekerjaannya, berapa pendapatan bulanannya, apa saja komunitasnya, dan seperti apa karakternya. Dengan memetakan pembaca sasaran sedetail mungkin, akan lebih memudahkan kita untuk menulis naskah disesuaikan dengan keadaan pembaca sasaran. Hal ini juga bisa membantu tim pemasaran ketika bukumu nanti diterbitkan.

Sebuah buku yang terbit idealnya memanglah harus buku yang laku. Dengan pembaca sasaran yang terdefinisi dengan baik, buku dengan cetakan 3.500 ataupun 5.000 eksemplar optimis bisa ludes dalam waktu setahun. Bila tidak habis, kemungkinan memang tak mampunya penulis dan pihak penerbit memetakan sasaran pembaca.

Hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa tulisan yang kita buat adalah tulisan yang kita tuturkan untuk orang lain. Oleh karena itu, buatlah sesederhana mungkin, agar orang lain memahaminya dengan mudah.

Memahami siapa yang menjadi target pembaca menjadi hal yang sangat penting untuk diketahui oleh penulis. Sehingga, kadang seorang penulis memang harus mengesampingkan bahkan terkadang membuang ego dirinya sendiri agar bisa melakukan penyejajaran dengan target pembaca tersebut.

Tujuannya, dengan memahami target pembaca tersebut, hal-hal yang tidak kita inginkan sebagai penulis seperti ini tidak akan terjadi.

  • Tema yang kita anggap sebagai tema yang menarik akhirnya menjadi hal yang biasa saja bagi orang lain.
  • Susunan kalimat yang sudah kita susun sedemikian rupa menjadi begitu sulit dipahami oleh pembaca.
  • Pembaca menjadi begitu sangat bosan karena kalimat-kalimat yang kita gulirkan tidak sesuai dengan gaya hidup dan keadaan mereka.

 

cara menulis buku

Tentu sebagai penulis kita tidak ingin hal-hal tersebut terjadi. Makanya, persoalan yang kamu angkat sebagai penulis harus benar-benar sudah kamu petakan siapan target pembacamu, baik secara kapasitas intelektual maupun kondisi kejiwaan dan pergaulannya.

Bagaimanapun kita harus mengakui, bahwa ada semacam strata penggunaan bahasa antara satu kelompok orang dengan kelompok orang yang lain.

Makanya, kita mendapati dalam kehidupan nyata, tingkat bahasa yang biasa digunakan oleh ekonomi bawah berbeda dengan kalimat-kalimat yang biasa digunakan oleh kelompok atas. Atau, kalimat-kalimat yang biasa dipakai oleh aktivis muslim berbeda dengan yang biasa diapakai oleh anak-anak muda alay.

Ngerti bedanya, kan, sekarang?

Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk ikut memposisikan dirimu sebagai pembaca saat kamu sedang menulis.

Mengapa?

Jelas, karena kamu menulis untuk target pembacamu, bukan untuk dirimu sendiri. Dengan menjadi pembaca saat kamu menulis, setidaknya kamu bisa memilih kalimat-kalimat yang lebih sesuai dan mempertimbangkan untuk menggunakan kata-kata yang lebih mudah dicerna oleh target pembacamu.

Pada KEUNGGULAN NASKAH, kamu menentukan apa yang membuat naskahmu ini berbeda dengan kebanyakan buku yang lain. Apa yang membuat pembaca memutuskan untuk memilih bukumu daripada yang lain. Semakin spesifik dan banyak keunggulan yang kamu paparkan, semakin baik kualitas karyamu nantinya.

Selain kedalaman pembahasan, ada beberapa cara agar naskahmu makin menarik dan unggul daripada naskah buku penulis lain. Misalkan, tambahkan infografis, tabel, gambar pendukung, ilustrasi pelengkap, quote-quote yang berkaitan yang dikemas lebih bagus, dan juga smart box yang berisi kiat atau saran-saran singkat.

Dengan mengubah naskahmu menjadi lebih dinamis, seru, dan menarik seperti itu tentu membuat editor penerbit tak sungkan untuk menganggapmu kreatif, sehingga kamu dan naskahmu akan mendapatkan perlakuan lebih khusus nantinya.

Pada BUKU PEMBANDING, kamu menulis buku apa saja yang sejenis dengan buku yang kamu tulis. Hal ini penting, agar kamu bisa memetakan, apa saja kekurangan buku-buku tersebut dan kamu bisa meningkatkan nilai tambah dalam karyamu, sehingga naskah bukumu nantinya menjadi yang terbaik di antara semua jenis buku bertema sama dengan naskahmu.

Pada REFERENSI, tuliskan buku, artikel, atau apa pun yang menjadi referensimu. Tuliskan baik referensi yang sudah kamu miliki, maupun yang masih menjadi angan-angan dan belum sempat kamu miliki.

Semakin siap referensinya, akan semakin siap kamu dalam menulis naskah ini lebih lanjut.

Biasanya, dalam perjalanan penulisan naskah, kamu akan menemukan referensi tambahan. Itu tak mengapa, justru akan makin memperkuat kualitas naskahmu. Hanya saja, yang harus menjadi perhatian kamu adalah harus tahu kapan menyudahi penulisan dan mencukupkan referensi.

Bila tidak, karyamu tidak akan pernah selesai, hanya gara-gara kamu tidak pernah merasa puas dengan karyamu sendiri karena kamu menuntut kesempurnaan. Padahal, tidak ada karya yang sempurna, karena semua dari kita berproses dan berkembang.

Pada ENDORSEMENT, tuliskan target siapa saja yang akan bersedia memberikan testimoni pada karyamu ini. Buatlah daftar orang-orang atau tokoh-tokoh penting yang sekiranya bisa makin meningkatkan harga diri dan harga jual bukumu. Semakin terkenal tokoh itu, akan semakin baik. Tentu saja, tokoh itu harus relevan dengan karya yang sedang kamu susun tersebut.

Kalau sosok pemberi endorsement itu sangat tidak berhubungan dengan tema naskahmu, saran saya tidak usah, karena akan terlihat sangat aneh dan terkesan memaksa. Lebih baik satu atau dua endorsement saja, namun dari sosok yang memang sesuai dengan tema buku yang kamu kerjakan.

Nah, dengan membuat klasifikasi seperti di atas, akan makin memudahkanmu dalam pengerjaan naskah.

Sekarang, cobalah membuatnya versimu sendiri.

 

cara menulis buku lengkap dan terbaik

 

Bagaimana Membuat Tulisan yang Bagus dan Menarik?

Menulis itu mudah. Akan tetapi, membuat tulisan yang bagus dan menarik, tidak mudah. Lalu, bagaimana caranya agar tulisan kita bagus dan menarik?

Beberapa trik ini akan berguna bagimu.

1 – Paragraf Pertama yang Memikat

Saat kita gagal menghadirkan paragraf pertama yang memikat, berarti kita gagal menyajikan tulisan yang bagus dan menarik perhatian pembaca. Kelihaian kita untuk membuat paragraf pertama yang memikat akan membuat pembaca tergelitik, penasaran, bersemangat, dan bergegas untuk membaca larik-larik paragraf berikutnya. Nah, tugas kita setelah itu hanyalah membuat kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf selanjutnya sebaik paragraf pertama tersebut.

Sebuah naskah yang baik dan menarik harus memiliki daya gedor yang tinggi, agar pembaca tetap betah untuk membaca. Maka, pastikan di setiap menulis, tanyakan pada diri sendiri: pembaca akan membaca tulisan ini sampai habis nggak, ya.

Kalau jawabannya cenderung tidak, segera perbaiki. Kalau cenderung iya, tingkatkan kualitasnya lagi. Percaya deh, kata hatimu nggak pernah berbohong, kok.

“Tapi saya merasa stuck ketika menulis, Mas. Rasanya susah sekali menaklukkan paragraf pertama. Jangankan bikin yang bagus dan menarik, bikin yang biasa saja aku bingung harus mulai dari mana, Mas.”

Yah, saya tahu perasaan itu.

Saya tahu bagaimana rasanya tangan sudah di keyboard tetapi bingung harus menulis apa, seolah sangat berat untuk menaklukkan paragraf pertama sebuah tulisan.

Ada beberapa trik yang bisa kita gunakan untuk mengakali hal ini.

Pertama, dengan mulai menuliskan pengalaman. Misalkan, kita menulis tema tentang Menjadi Pengusaha Sukses. Bila bingung bagaimana menulis paragraf pertama, mulailah dengan menulis kisahmu sendiri dalam jatuh-bangun menjadi pengusaha.

Seorang pembaca akan lebih tertarik untuk membaca tulisan kita kalau kita menggunakan konsep story telling seperti itu, karena mereka akan hanyut dalam cerita yang kamu susun. Selain kisah sendiri, bisa juga kok memulainya dengan kisah orang lain.

Kedua, gunakan kutipan dari seorang tokoh. Kutipan seperti ini sangat efektif, karena setelah kutipan tersebut kita cantumkan, kemudian kita bisa sedikit menafsirkannya ala tafsiran pribadi kita, sehingga kata-kata kita cenderung luwes dan mengalir.

Ketiga, menggunakan pertanyaan. Membuka kalimat pertama dengan sebuah pertanyaan juga merupakan trik menarik perhatian, karena kita mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan dia akan bertanya-tanya juga apa jawabannya.

Misalkan.

Apakah menjadi pengusaha sukses adalah suatu hal yang susah? Menurut saya, gampang, asal tahu caranya. Saya yakin kamu juga ingin tahu caranya. Tetapi sebelumnya, sebaiknya kita menjawab pertanyaan paling sederhana dan paling penting: apa sih tujuan kita menjadi pengusaha?

Membuat pembaca berpikir dan ingin menelisik lebih jauh adalah pancingan terbaik untuk memulai paragraf pertama.

2 – Hadirkan Kalimat Efektif

Gunakan kalimat yang efektif, demi menghadirkan tulisan yang baik dan menarik. “90% of first drafts is shit,” kata Rober McKee. Artinya, tulisan yang pertama kita buat, memang tidak bermutu. Dia hanya berstatus draf, dan setiap draf selalu khas: strukturnya tidak rapi, masih tidak renyah dibaca, susunannya kacau, tingkat kebenarannya pun masih berantakan, dan sebagainya.

Mengapa bisa begitu?

Karena ketika kita menulis pertama kali, kita hanya mengeluarkan apa saja yang ada dalam otak. Makanya, cenderung kurang tersusun dan komposisinya masih buruk. Itulah kemudian tugas selanjutnya untuk melakukan self-editing dan penulisan yang sebenarnya.

Tugas kita selanjutnya adalah untuk membenahinya lagi. Mengecek jangan sampai salah tik, salah ejaan, dan memiliki kata-katanya memiliki keefektifan serta kerenyahan yang memadai.

Intinya, hadirkanlah tulisan yang membuat pembaca merasa nyaman dengan setiap pilihan kata dan panjangnya paragraf yang kita buat.

Tulisan yang bagus memiliki nyawa. Dan nyawa itu tercipta dari cara kita menghadirkan kata, menyusun kalimat, mengatur temponya, sehingga pembaca bisa mengambil jeda untuk bernapas, berpikir, dan bergeliat dengan otak kreatifnya.

Bayangkan seperti seorang dirigen orkestra mengatur tempo musiknya. Itulah peran dari kalimat yang efektif dalam membuat tulisan yang bagus dan menarik. Gunakan lebih sedikit kata, untuk menghadirkan dengan tujuan yang sama.

Saya tidak mengerti bagaimana saya bisa menulis artikel yang bagus dan menarik di blog yang saya kelola ini.

Cobalah menggunakan kalimat ini:

Saya tidak mengerti cara menulis artikel yang bagus dan menarik di blog ini.

Tujuannya sama, tetapi menggunakan kata yang lebih sedikit. Dengan penggunaan kata yang lebih sedikit, membuat tulisan kita tidak kacangan, wagu, dan terasa lebih berkelas. Selain itu, lebih efektif dan tidak terlalu kelihatan “ramai”.

Hindari juga kata-kata yang terlalu berat dan terlalu asing. Tujuan kita menulis bukan untuk pamer kepintaran karena kita menguasai kosakata asing dan aneh yang banyak, namun untuk mengomunikasikan apa yang ada di benak kita kepada pembaca secara efektif, bagus, dan menarik.

3 – Hadirkan Gaya Khasmu

Orang membaca tulisanmu karena ingin melihat gaya khasmu, bukan yang lain. Jadi, tak ada alasan untuk meniru-niru.

Jangan menulis seperti Raditya Dika.

Tak usah menulis seperti Dewi Lestari.

Tak perlu menulis seperti Andrea Hirata.

Jadilah dirimu sendiri, dengan gaya khasmu. Hal seperti itu bisa didapat dari sebuah latihan yang konsisten, banyak membaca, dan banyak melakukan eksperimen.

Gaya khasmu itulah yang nantinya akan memberikan sentuhan personal antara dirimu dengan pembacamu, sehingga tercipta ikatan antara penulis dan pembaca yang unik.

4 – Beri Jeda

Sudah selesai menulis? Saatnya memberi jeda. Tinggalkan sebentar. Boleh minum kopi. Boleh lihat pemandangan luar ruangan terlebih dahulu.

Berikan istirahat untuk otak.

Hadirkan kesegaran bagi energi kreatif kamu.

Nonton film pun boleh.

Setelah itu, lihat lagi tulisanmu. Baca lagi keseluruhan. Temukan sudut-sudut kecil yang luput dari sentuhan khasmu.

Pasti ada yang luput. Cobalah telisik lagi.

Kita harus peduli pada detail. Peduli pada huruf. Peduli pada kata. Peduli pada logika. Peduli pada kenikmatan pembaca dalam mengunyah karya kita.

Kita harus peduli, peduli, dan peduli.

5 – Gunakan Kalimat Aktif dan Narasi yang Memikat

Dengan lebih banyak menggunakan kalimat aktif, kita akan seperti mengajak pembaca untuk turut serta pada tulisan yang sedang kita bangun narasinya.

Misalkan begini.

Bola itu diambil Tommy.

Akan lebih baik menjadi begini.

Tommy mengambil bola itu. Dengan hamparan bonus guyuran hujan lebat. Dan becek yang siap mengotori kakinya. Tetapi dia tetap bertekad mengambilnya.

Menggunakan kalimat aktif. Berpadu dengan kalimat yang efektif. Padat. Berisi. Plus deskripsi yang cukup, sehingga suasana menjadi lebih visual.

Menulis memang tidak mudah. Apalagi menulis yang bagus dan menarik. Tidak semua penulis mampu melakukannya. Apalagi penulis pemula. Makanya, konsistenlah dalam berlatih. Dan karena tak gampangnya menjadi penulis, kita mendapati hanya beberapa penulis saja yang sukses. Sisanya mundur teratur karena tidak kuat dan lelah serta menyerah dengan keadaan.

Jangan pernah risau karena merasa tak pernah bisa menulis bagus dan menarik. Semua penulis sebenarnya merasakan hal yang sama, karena semua penulis memiliki keterbatasan dalam teknik menulis. Akan tetapi, di ruang keterbatasan itulah kita sama-sama terus belajar dan memperbaiki kualitas untuk menyajikan tulisan yang bagus dan menarik. Satu hal yang pasti, semua penulis profesional awalnya adalah penulis amatiran.

 

membuat judul buku

 

Memenangkan Pertarungan Lewat Judul

Investasi besar yang harus kita lakukan dalam menulis buku adalah membuat judul yang menarik. Walaupun, ketika dalam praktiknya nanti editor akan memberikan judul baru, akan tetapi tak ada salahnya kita memberikan judul yang killer. Bahkan, dalam tahap pertarungan naskah pun kita harus sudah memberikan judul yang menjual.

Bayangkan, setiap hari sebuah penerbit menerima banyak naskah. Tentu tim editorial akan lebih tertarik untuk melakukan review terhadap naskah yang memiliki judul lebih “nendang” daripada yang biasa-biasa saja. Iya, kan?

Tak ada aturan resmi bagaimana membuat judul buku yang menarik. Pastinya, judul yang menarik adalah judul yang mudah diingat, mewakili isi buku, dan memiliki daya jual—karena bagaimanapun penerbitan adalah industri—selain memiliki konten yang menarik tentu buku tersebut harus mampu terjual. Namun begitu, ada beberapa pedoman yang layak diperhatikan untuk membuat judul yang menarik.

Pertama, menggunakan rima. Dengan judul yang memiliki rima, tentu akan membuat judul tersebut lebih menarik dan membuat penasaran. Contoh: The True Power of Water.

Kedua, menggunakan angka. Menggunakan angka sebagai judul akan memudahkan calon pembeli buku untuk mengetahui seberapa banyak benefit yang ditawarkan dalam buku. Memangnya orang membeli buku kamu untuk mencari apa? Tentu benefitnya, kan? Semakin banyak benefit yang kamu tawarkan, akan semakin membuat pembaca kesengsem dengan bukumu. Contoh: 7 Keajaiban Menikah; 100 Ide Paling Berpengaruh dalam Bisnis.

Ketiga, menggunakan Hot Words. Adapun yang masuk dalam kategori hot words adalah: Luar Biasa!, Misteri, Rahasia, Keajaiban. Keempat kata tersebut akan menyedot perhatian lebih banyak daripada kata lainnya, karena mengandung unsur yang membuat kita takjub, ingin membaca lebih lanjut, dan penasaran dengan konten buku.

Keempat, kontroversi. Penggunaan judul yang berbau kontroversi tentu hanyalah strategi pemasaran belaka. Isinya tetap harus bertanggung jawab dan menyajikan kebenaran. Misalkan: Makin Sehat dengan Merokok.

Kelima, pertanyaan. Dengan menggunakan model pertanyaan, tentu calon pembaca juga akan merasa, “Oh, iya ya ….” Atau, “Apa benar ya ….?” Bahkan bisa jadi, “Wah, bagaimana ya .…?” Dengan begitu, akan memudahkan calon pembeli untuk berkata dalam hati bahwa buku tersebut wajib beli. Misalkan: Menjadi Jutawan dalam Tiga Bulan? Bisa!

Keenam, KISS. Yaitu singkatan dari keep it simple, stupid! Judul tentu harus padat, ringkas, dan jelas. Sebaiknya satu hingga enam kata saja. Selain agar mudah diingat, judul yang panjang akan menyusahkan dalam hal desain kover. Buku-buku yang sukses di pasaran sering kali memiliki judul yang simpel. Misalnya: The Outliers, Enchantment, Rich Dad Poor Dad, The Secret, Quantum Ikhlas, dan Oh My Goodness!

Ketujuh, pique curiousity. Memberikan efek kepenasaran yang tinggi pada pembaca bahkan cenderung berlawanan dengan pandangan umum yang sudah beredar, tentu akan menimbulkan ketertarikan yang tinggi untuk membeli buku. Misal: Untuk Sukses Kerja Cukup Empat Jam Seminggu.

Kedelapan, promise a benefit. Orang Barat biasa menyebutnya dengan What’s In It for Me? Dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan Ambak atau Apa Manfaatnya Bagiku. Semakin jelas judul menawarkan sebuah benefit tertentu, semakin mudah untuk menarik perhatian dan pembelian. Misal: Bebas Stroke dengan Bekam.

Bagaimana, sudah dipikirkan akan diberi judul apa bukumu?

Kunci membuat judul adalah pemilihan kata. Pastikan kita memilih kata yang bertenaga dan sesuai dengan kontennya.

Selama lebih dari delapan tahun saya menjadi editor dan telah membidani lahirnya puluhan buku best seller, hukum itu masih saja berlaku: membuat judul buku bukan perkara yang mudah. Sering kali saya terpercik judulnya terlebih dahulu, baru saya buat konsep bukunya secara keseluruhan, kemudian baru saya cari penulis yang cocok untuk mengeksekusinya.

Yah, saya memang terlalu sering bersedekah ide buku, untuk kemudian dieksekusi penulisannya oleh penulis lain, padahal sebenarnya saya juga bisa menulisnya sendiri. Akan tetapi, ada kenikmatan sendiri ketika membantu para penulis—terlebih lagi para penulis yang baru membuat buku pertamanya—untuk kemudian menjadi rekan diskusi dan membantunya membuat buku yang keren.

Beberapa buku best seller yang lahir dari rahim ide saya, yang judulnya terlahir lebih dahulu daripada isinya beberapa di antaranya adalah: 101 Young CEO, Emperpreneur: From Emperan to Empire, Sejenak Hening, 101 Strategi Sukses Berbisnis Kuliner, Spritual Creativepreneur, dan masih banyak lagi. Bisa dicek di Gramedia. Ada nama saya sebagai editor, dan silakan dicek juga berapa kali buku-buku itu sudah cetak ulang.

Akan tetapi, sering pula naskah-naskah yang sudah jadi, saya rombak habis-habisan judul bukunya. Maka, sebisa mungkin, buatlah judul yang menarik, unik, dan membuat pembaca geregetan untuk segera membelinya adalah tantangan tersendiri.

Teknik membuat judul yang menyedot perhatian pembaca terus berkembang. Kedelapan hal yang saya sampaikan ini hanyalah dasarnya saja. Akan tetapi, ini bisa menjadi dasar yang kuat untuk membuatmu memiliki judul yang menarik.

 

tips menulis buku

 

Saya Bagusnya Menulis Buku Jenis Apa?

Saya sering mendapatkan pertanyaan seperti itu. “Mas Fachmy, saya bagusnya menulis buku apa, ya?”

Pertanyaan yang sebenarnya sangat gampang dijawab.

Kita sering kali melontarkan pertanyaan seperti itu karena kita masih kebingungan dengan jenis-jenis buku yang bisa kita garap. Hal paling utama yang perlu kita lakukan adalah menggali potensi diri, sehingga kita bisa menulis buku berjenis apa.

Berikut ini saya paparkan—selain novel, karena tidak perlu penjelasan lebih lanjut—jenis-jenis buku yang biasa beredar di Indonesia, sehingga kamu nanti bisa memetakan sebaiknya kamu menulis buku dengan jenis apa.

Buku Anak dan Remaja

Buku anak dan remaja adalah pasar yang sangat besar di Indonesia. Sebagai perbandingan nih, di penerbit tempat saya bekerja, setiap tahunnya target buku anak yang harus diterbitkan berjumlah 150, sedangkan di buku dewasa—divisi tempat saya berada—hanya sekitar 35 buku.

Bayangkan saja, siapa sih orang tua yang tak ingin memberikan bacaan bermutu untuk anaknya. Kebanyakan, juga langsung membeli dalam jumlah yang banyak demi anaknya. Makanya, buku anak memiliki ukuran pasar yang besar.

Sebagai gambaran, buku anak dan remaja dibagi menjadi empat kategori umur dalam pengerjaannya.

Satu, buku prasekolah, yakni berumur antara 3-6 tahun. Biasanya produknya adalah buku bergambar tanpa kata (wordless picture book).

Dua, buku kelas rendah, yakni untuk umur 7-9 tahun. Biasanya produknya adalah buku bergambar (picture book).

Tiga, buku kelas tinggi, yakni untuk umur 10-12 tahun. Produknya adalah buku fiksi dan nonfiksi standar.

Empat, buku remaja, yakni untuk umur 13-17 tahun. Produknya adalah buku fiksi dan nonfiksi, dengan ragam tema yang lebih variatif, seperti humor, petualangan, dan sebagainya.

Buku Kiat

Buku kiat atau yang biasa disebut dengan How To Books, adalah solusi bagi setiap permasalahan manusia yang membutuhkan panduan dan cara dalam melakukan sesuatu. Misalkan, buku tentang cara merakit komputer, buku tentang cara memotret dengan smartphone, dan lain sebagainya.

Bila kamu memiliki keahlian khusus, kamu bisa menulis buku jenis buku kiat, karena di luar sana juga pasti banyak orang yang membutuhkan kemampuan khususmu tersebut untuk mereka pelajari.

Buku Pengembangan Diri

Tentu saja, jenis buku ini mengharapkan pembaca mengalami perubahan hidup yang lebih baik, karena konten buku ini memang fokus dalam hal tersebut. Buku pengembangan diri bagi sebagian penulis dianggap memiliki tingkat kemudahan penulisan, karena hanya berbagi kata-kata motivasi dan cerita-cerita inspiratif yang menggugah. Walau dalam praktiknya, menulis buku pengembangan diri tak semudah yang dibayangkan, karena memang bukan sekadar berbagi kata motivatif dan cerita inspiratif saja. Namun, perlu banyak gagasan baru, ide kreatif baru, dan pengemasan konten yang menarik sehingga ada kebaruan dan value yang diambil oleh pembaca.

Buku Hobi

Atau biasa disebut dengan Hobby Books, adalah jenis buku yang berisi tentang hobi tertentu, seperti hobi pemeliharaan burung, bermain rubik, dan sebagainya. Karena pasarnya yang sangat spesifik, jenis buku ini juga menjadi incaran penerbit. Apalagi, bila buku ini memiliki komunitas yang besar. Cetakan pertama dari penerbit yang biasanya hanya 3.500 eksemplar tentu akan langsung ludes terserap pasar bila jenis buku berbasis hobi ini diterbitkan. Maka, bila kamu memiliki hobi tertentu dan memiliki komunitas yang sangat besar, kamu bisa memanfaatkannya dengan membuat buku mengenai hobi tersebut. Penerbit pasti akan menyambut baik, apalagi bila kamu bersedia untuk ikut merancang strategi pemasarannya ke komunitasmu tersebut.

Buku Biografi dan Autobiografi

Biografi adalah buku tentang kisah hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain, bukan oleh yang mengalami kisah hidup tersebut. Sedangkan autobiografi adalah buku tentang kisah hidup yang ditulis oleh orang yang mengalami kisah hidup tersebut.

Menulis buku kisah hidup seperti ini, memakan waktu yang sangat panjang dan butuh napas panjang. Kamu bisa membaca materi tentang panduan menulis biografi ini di postingan ini.

Menulis buku kisah hidup memerlukan kemampuan menggali data dan mendongeng yang baik. Karena tanpa dua hal utama itu, kita tak akan bisa optimal mengerjakan buku kisah hidup. Makanya, ceruk ini hanya diisi oleh beberapa penulis saja. Paling masyhur adalah Mbak Alberthiene Endah, Bambang Trim, dan Fachmy Casofa. Bila kamu mau untuk mempelajari lebih lanjut tentang menjadi penulis biografi, tentu akan menjadi kesempatan yang bagus untuk karier menulismu ke depannya.

Buku Agama

Atau disebut dengan Religious Books, adalah kategori buku yang membahas agama tertentu. Di Indonesia, karena mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam, maka yang menjadi sangat laris juga buku-buku bertema islami.

Untuk seseorang yang memiliki basis pendidikan pesantren atau pengetahuan agama yang mumpuni, menulis buku Islam adalah sebuah pekerjaan yang mengasikkan, karena selain pasarnya yang besar, juga didukung oleh banyaknya penerbit Islam di Indonesia sehingga kita bisa menyalurkan naskah dengan alternatif yang sangat banyak.

Namun yang perlu diperhatikan adalah saat pengiriman naskahnya. Pastikan tidak salah ke penerbit yang bertolak belakang dengan fikrah ataupun mazhab dari buku yang sedang kamu tulis.

Buku Bisnis

Atau biasa disebut dengan Business Books, adalah buku panduan berbisnis dan mengembangkan bisnis. Bisa ditulis oleh profesional bisnis, misalnya CEO, bisa juga oleh praktisi bisnis atau para entrepreneur muda yang sekarang jumlahnya bertambah sangat signifikan di Indonesia.

Jenis buku bisnis ini sangat baik, karena pasarnya yang juga besar. Setiap pebisnis pasti memiliki permasalahannya masing-masing. Nah, itulah peran dari seorang penulis yang memiliki ketertarikan dengan dunia entrepreneurship untuk memulai berbagi ilmu entrepreneurship-nya lewat medium buku.

Buku Perjalanan

Seiring dengan menjamurnya trentraveling, buku panduan traveling murah menjadi primadona. Ide backpacker-an ke luar negeri yang dulu terasa mahal, sekarang menjadi bisa dinikmati hampir siapa saja. Kamu, kalau memiliki kecenderungan di traveling dan siap berbagi, buku jenis ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kamu coba.

Nah, di antara semua itu, jenis buku mana yang kamu tertarik untuk mencobanya? Sesuaikan dengan kemampuan dan potensimu. Saat kamu cocok dengan jenisnya, proses penulisanmu akan lebih nikmat kamu jalani.

 

apa sih anatomi buku itu

 

Berkenalan dengan Anatomi Buku

Satu hal penting yang akan membantu kita dalam menulis buku adalah penguasaan mengenai anatomi buku. Mengenal anatomi buku adalah juga salah satu wawasan yang harus dimiliki oleh seorang penulis. Dengan mengetahui anatomi buku, kita jadi tahu bagian mana saja dari sebuah buku yang harus kita tulis dan bagaimana caranya. Bahkan, salah satu syarat sebuah buku baru dinyatakan sebagai “buku” adalah karena buku tersebut memiliki anatomi buku lengkap.

Anatomi buku bisa juga kita sebut sebagai bagian-bagian buku yang saling melengkapi satu sama lainnya, sehingga tercipta sebuah buku yang utuh.

Apa saja anatomi buku tersebut?

Preliminaries

Atau bisa disebut dengan bagian depan atau halaman pendahulu. Letaknya adalah sesudah kover buku. Yang termasuk dalam kategori preliminaries adalah beberapa halaman berikut.

1 – Halaman Prancis

Disebut juga dengan France Title atau Half Title. Halaman ini adalah halaman terdepan dalam sebuah buku setelah kover buku. Pada halaman ini bertuliskan judul utama buku tanpa disertai keterangan lainnya, seperti anak judul, nama logo atau nama penerbit. Hanya bertuliskan judul utama. Letaknya di sebelah kanan, dan halaman setelah halaman ini adalah halaman kosong. Oleh itulah, mengapa biasa disebut halaman setengah judul.

2 – Halaman Judul Utama

Halaman ini adalah halaman kedua setelah Halaman Prancis. Letaknya di sebelah kanan, dan berisi judul, subjudul, nama penulis, logo penerbit, serta tahun terbit dan kota tempat terbit.

3 – Halaman Hak Cipta

Atau biasa disebut dengan Copyright Notice. Halaman ini terletak di sebelah kiri, dan letaknya setelah halaman Judul Utama. Tepat di balik Halaman Judul Utama.

Pada halaman inilah riwayat atau data singkat tentang buku dicantumkan, seperti judul buku, subjudul, nama penulis ataupun penerjemah, nama editor, nama ilustrator, nama layouter, nama desainer, nama dan alamat penerbit, nomor kode penerbitan, ISBN, tahun terbit, cetakan atau edisi, nama pencetak, hak cipta penerbitan, dan terkadang ada yang mencantumkan kutipan undang-undang hak cipta.

Pada buku terjemahan, biasanya dicantumkan pula judul asli, nama penulis asli, dan nama penerbit asli. Pada halaman inilah kita bisa mengetahui siapa saja yang terlibat dalam penyusunan satu buku tersebut.

4 – Halaman Persembahan

Atau biasa disebut dengan Dedications. Untuk yang sudah berkeluarga, biasanya dipersembahkan untuk anak dan istrinya. Beberapanya memberikan sedikit puisi atau kutipan kata motivasi pendek. Untuk yang belum berkeluarga tapi sudah punya kekasih hati, biasanya digunakan untuk mempersembahkan kepada kekasih hatinya. Untuk yang jomblo akut, biasanya dipersembahkan untuk mantan orang lain. Enggak, ding.

Halaman persembahan selalu terletak di sebelah kanan, dan halaman sebaliknya dibiarkan kosong.

5 – Halaman Ucapan Terima Kasih

Disebut juga dengan Acknowledgements. Halaman ini boleh ada boleh tidak. Kadang diadakan, bila memang banyak pihak-pihak yang memang membantu dalam penyusunan buku, sehingga penulis perlu memberikan halaman tersendiri, karena memang harus mengucapkan terima kasih kepada banyak pihak. Namun, bila ucapan terima kasih itu sedikit, baisanya diselipkan dalam paragraf-paragraf yang ada di dalam Prakata.

6 – Halaman Sambutan

Halaman ini diberikan oleh sosok kompeten yang diminta untuk mengomentari buku. Boleh lebih dari satu sosok, sehinga Halaman Sambutan ini bisa berhalaman-halaman. Namun, beberapa buku tanpa adanya halaman ini juga tidak masalah.

7 – Halaman Kata Pengantar

Bisa juga disebut Foreword. Kata pengantar ditulis oleh orang lain, bukan dari penulis buku itu sendiri. Biasanya ditulis oleh orang yang berkompeten dengan tema bukunya dan berkomentar tentang isi buku secara sekilas dan juga berkomentar tentang penulisnya secara sekilas pula. Bahkan, bisa juga pada bagian ini ditulis oleh editor buku tersebut untuk mewakili penerbit, dan biasanya disebut dengan Pengantar Penerbit.

8 – Halaman Prakata

Atau disebut dengan Preface. Banyak yang masih bingung antara perbedaan Kata Pengantar dan Prakata. Kata Pengantar ditulis oleh orang atau pihak lain, sedangkan Prakata ditulis oleh penulis buku tersebut.

Menurut Iyan Wb dalam bukunya Anatomi Buku (2007), “Saat ini masih banyak orang yang tidak menerapkan dengan benar istilah Kata Pengantar, terlebih mereka yang berkecimpung di dalam penerbitan buku. Kata Pengantar yang terdapat dalam buku-buku yang beredar di pasar, sebenarnya sebuah Prakata. Memang, istilah Prakata belum banyak dikenal karena selama ini orang lebih sering menggunakan Kata Pengantar. Jika ditinjau dari kata dalam bahasa Inggris, antara Kata Pengantar dan Prakata terdapat perbedaan mendasar, yaitu foreword dan preface. Jadi, sebetulnya, apa yang dimaksud dengan Kata Pengantar dan Prakata?

Kata Pengantar adalah tulisan yang dibuat oleh orang lain, sedangkan Prakata adalah tulisan yang dibuat oleh penulis buku. Kata Pengantar sekadar mengulas isi buku dan sekilas mengenalkan jati diri penulis. Biasanya, Kata Pengantar diberikan oleh pakar atau tokoh masyarakat yang kemampuan atau keahliannya berkaitan dengan materi yang dibahas di dalam buku. Kata pengantar juga dapat dibuat oleh penerbit. Di dalam Kata Pengantar tersebut, penerbit mengenalkan maksud penerbitan buku dan kelebihan buku tersebut dibandingkan dengan buku sejenis yang telah beredar di pasar. Biasanya, disebut juga dengan Pengantar Penerbit. Yang perlu diketahui juga, jika dalam sebuah buku terdapat lebih dari dua Kata Pengantar, setiap Kata Pengantar hendaknya tidak lebih dari dua halaman.

Sementara itu, Prakata yang merupakan tulisan pengantar dari penulis berisi ulasan tentang maksud dan meode yang digunakan penulis dalma menulis buku tersebut. Yang perlu diperhatikan, Prakata hendaklah tidak lebih dari dua halaman, dan paling sedikit adalah satu halaman. Biasanya, di dalam Prakata penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulisan bukunya. Seandainya pihak yang diberi ucapan terima kasih lebih dari lima, sebaiknya dibuatkan halaman tersendiri, yaitu halaman Ucapan Terima Kasih.”

Apa yang ditulis di Prakata? Paparkan apa saja yang menjadi motivasimu untuk menulis buku tersebut. Apa maksud dan tujuan dari penulisan buku tersebut. Sebutkan juga keunggulan buku tersebut daripada buku yang lainnya yang bertema sama di pasaran. Beberapa trik dan tip khusus untuk membaca buku tersebut. Dan terakhir, selipkan haturan terima kasih untuk orang-orang yang telah membantu terbitnya buku tersebut. Jangan lupa sebut editormu yang sudah membantu menjadikan naskah karya yang makin cemerlang. Tidak usah menyebut mantan di halaman ini. Bikin baper.

9 – Halaman Daftar Isi

Halaman ini tentu saja membantu pembaca untuk mencari informasi tertentu tentang isi dari buku tersebut. Ada beberapa aturan dalam pembuatan daftar isi yang harus diperhatikan.

Dalam daftar isi, tidak usah dicantumkan halaman prancis, halaman judul utama, halaman hak cipta, halaman persembahan, halaman ucapan terima kasih, dan halaman daftar isi itu sendiri.

10 – Halaman Daftar Tabel, Daftar Ilustrasi, serta Daftar Singkatan dan Akronim

Halaman ini diperlukan untuk membantu pembaca mengail informasi bila ternyata di dalam naskah tersebut banyak tabel, ilustrasi, singkatan, dan akronim.

11 – Bagian Teks

Biasa disebut juga dengan Text Matter, yaitu inti dari sebuah buku. Di dalamnya termuat bab, subbab, hingga sub-subbab. Semua harus urut sehingga memudahkan pembaca dalam menikmati bacaan.

12 – Bagian Akhir

Bagian Akhir biasa juga disebut dengan End Matter, atau sering juga disebut sebagai halaman penyudah alias postliminary atau reference pages. Pada bagian ini ada Daftar Pustaka, Halaman Daftar Istilah atau Glosarium, Halaman Lampiran atau Apendiks, Halaman Indeks, dan Tentang Penulis. Tidak semua harus ada, tergantung kebutuhan sebuah buku saja. Namun untuk buku nonfiksi, Daftar Pustaka dan Tentang Penulis harus ada.

Nah, itulah pengetahuan singkat tentang anatomi buku. Sekarang kamu menjadi mengerti ketika memegang sebuah buku, mana yang disebut Halaman Prancis, apa saja yang ditulis di dalam Prakata, dan apa saja yang ada pada bagian postliminary. Pengetahuan ini tentu berguna untuk semakin memudahkanmu dalam menulis nantinya.

 

panduan menulis buku best seller

 

Merencanakan Buku agar Best-Seller

Tak ada rumus pasti bagaimana membuat buku yang best-seller. Tentu saja. Bila rumus membuat buku yang best-seller bisa paten dipraktikkan, tentu seluruh penerbit di Indonesia akan menerapkan rumus tersebut agar setiap buku yang diterbitkannya menjadi best-seller. Nyatanya tidak.

Akan tetapi, sebuah buku bisa dirancang dan diupayakan untuk menjadi best-seller. Termasuk bukumu nantinya. Bagaimana caranya?

1 –Tema yang diminati oleh pasar luas

Masih ingat bagaimana cerita saya membuat buku Habibie: Tak Boleh Lelah dan Kalah!? Saya merancang buku itu agar bisa dinikmati semua kalangan, baik kalangan tua maupun kalangan muda. Dengan sosok BJ Habibie yang digemari oleh berbagai kalangan dan pengemasan konten sekaligus visual yang bagus, buku itu patut untuk dicintai oleh siapa saja, bahkan untuk yang baru pertama kali memegangnya. Nyatanya kemudian, buku itu terjual lebih dari 25.000 eksemplar.

Nah, dengan statusnya sebagai buku best-seller, buku itu bisa menjadi catatan kita bersama bahwa tema yang diminati oleh pasar yang luas akan membuat buku itu memiliki kesempatan penjualan yang lebih banyak.

2 –Pengemasan visual buku yang baik

Sebuah naskah yang bagus namun memiliki layout dan kover yang buruk, akan membuat nilai buku tersebut menurun drastis. Inilah pentingnya seni mengemas buku agar lebih bagus, karena berakibat kepada daya jual.

Bayangkan bagaimana buku serial kisah Harry Potter dikemas oleh tim kreatifnya. Mereka menciptakan logotype yang khas, visual ilustrasi yang juga khas, serta konsep packaging book set yang juga cantik.

Dengan merancang sisi visual sebagus itu, tentu menambah nilai sebuah buku menjadi lebih baik, dan menjadi buku yang mendapatkan perhatian lebih dari calon pembeli.

3 –Promosi yang Gencar dan Efektif

Apalagi kita berada di era digital sekarang ini. Rancanglah metode promosi yang dibutuhkan, dan manfaatkan media sosial untuk mempromosikan bukumu. Berikan sedikit sentuhan-sentuhan yang membuat calon pembeli penasaran. Dengan begitu, karyamu akan menjadi santapan viral yang tentu saja membantu promosi bukumu dengan lebih baik.


Kalau butuh digital marketing agency, saya sarankan Enxyclo.


Lakukan diskusi dengan pihak pemasaran dan promosi penerbit. Beberapa hal perlu dilakukan, seperti roadshow bedah buku, gratis unduh beberapa halaman bukumu untuk pembaca, dan sebagainya.

Salah satu yang masih efektif adalah melalui resensi buku. Setelah bukumu berhasil terbit, satu hal yang tak boleh kamu lupakan adalah membuat resensi buku. Mintalah beberapa temanmu yang blogger atau resensor untuk meresensi karyamu. Berdiskusilah dengan pihak pemasaran dari penerbit untuk mengalokasikan beberapa buku untuk promosi, salah satunya untuk diresensi.

Salah satu fungsi resensi adalah mengenalkan buku tersebut kepada khalayak yang lebih luas. Dengan adanya resensi, calon pembaca baru akan mengetahui kekuatan dari buku tersebut.

Menulis resensi sebenarnya mudah. Namun, sebelum meresensi, semestinya seseorang memahami dasar-dasar menulis resensi, yaitu:

Pertama, memahami atau menangkap tujuan (maksud) pengarang dengan karya yang dibuatnya. Berhasil atau tidaknya kita menangkap tujuan dari sang penulis akan menentukan bagus atau tidaknya resensi.

Kedua, memiliki tujuan dalam membuat resensi buku. Seperti dasar menulis artikel pada umumnya, sebuah tulisan harus didasarkan sebuah tujuan. Begitu juga dengan resensi. Tujuan itu bisa berupa mengajak orang-orang untuk ikut membaca buku itu, ataupun bisa sebagai kritik dan masukan bagi sang penulis.

Ketiga, harus mengenal atau mengetahui selera dan tingkat pemahaman dari pembaca. Dengan memahami selera dan tingkat pemahaman pembaca, kemudian akan tercipta gaya tulisan dan juga buku yang hendak diresensi.

Keempat, mempunyai pengetahuan dan menguasai berbagai disiplin pengetahuan sebagai tolak ukur ketika mengemukakan keunggulan dan kelemahan buku. Menguasai berbagai pengetahuan akan mempermudah kita menulis resensi yang memadai sesuai dengan kategori buku tersebut. Seperti menulis resensi tentang buku keislaman tentu harus memiliki wawasan keagamaan yang cukup.

Kelima, jadilah pengamat buku sekaligus kolektor buku. Bagus atau tidaknya sebuah buku akan relatif berbeda tiap orang. Memberikan perbandingan dengan buku lain akan mempermudah kita dan pembaca dalam menentukan tolak ukur kadar kualitas buku yang diresensi.

Keenam, menampilkan data buku, seperti judul, penulis, editor, penerbit, tebal, dan juga harga buku.

Tugas promosi memang tugas utama dari pihak penerbit, namun tidak ada salahnya jika kamu sebagai penulisnya juga turut berperan dalam melakukannya.

Logikanya sederhana. Bila penerbit tidak melakukan promosi, tentu mereka juga yang akan rugi, karena mereka yang mengeluarkan modal produksi. Akan tetapi, bila buku tersebut gagal di pasaran, tentu hal ini juga menjadi bebanmu, karena karyamu justru tidak bisa terjual dengan baik, dan ini tentu akan menyerangmu secara psikologis sebagai penulis buku dan mempengaruhi karier menulismu. Akan lebih menyenangkan kalau kamu memiliki track record sebagai penulis yang memiliki karya yang laris terjual bukan?

Beberapa hal sederhana yang bisa kamu lakukan untuk promosi mandiri dengan biaya nol rupiah, seperti:

  • Membuat blog gratisan. Bisa lewat WordPress ataupun Blogger. Di sana, kamu memberikan artikel-artikel yang mendukung untuk penjualan bukumu.
  • Membuat banner-banner sederhana dengan kutipan dari isi bukumu untuk diunggah di media sosial. Sertakan pula kover isi bukumu untuk sekaligus promosi.
  • Membuat status-status di media sosial yang merupakan cuplikan dari bukumu.
  • Membuat artikel-artikel ringan yang mendukung bukumu dan disebar melalui media sosial.

 


Baca juga: Teknik Memanfaatkan Sosial Media untuk Mempromosikan Buku


Hal-hal sederhana seperti itu akan membantu penjualan bukumu.

Sebuah buku akan menarik dan menjadi pilihan banyak orang manakala topik yang ditawarkan menarik, digarap dengan serius dan profesional, baik sisi konten maupun visualnya, ada diferensiasi yang jelas, serta dukungan promosi yang tepat.

Diskusikan dengan pihak penerbit tempat karyamu diterbitkan, dan rancanglah pola-pola promosi yang efektif untuk makin mengenalkan karyamu ke khalayak luas.

 

menulis buku pertama

Demikianlah panduan menulis buku. Ada 7.678-an kata dalam artikel ini. Semoga bisa menjadi inspirasi dan panduan yang lengkap. Bila masih ada pertanyaan, bisa langsung disampaikan di kolom komentar.

Terima kasih sudah meluangkan waktu yang panjang untuk membaca artikel ini. Jangan lupa share ke teman, ya. []

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 2
    Shares

Leave a Comment