Cara Menulis Biografi

Panduan Menulis Biografi

Panduan menulis biografi ini saya tuliskan dengan sederhana, karena memang saya rancang untuk pemula. Semoga ini bisa menjadi fondasi untuk kamu yang ingin memasuki area sebagai penulis biografi atau penulis kisah hidup.

Selamat membaca panduan menulis biografi ini dengan seksama.

 

APA ITU MENULIS BIOGRAFI

Dalam panduan menulis biografi ini, saya tidak akan menjabarkannya panjang lebar yang malah berpotensi membuatmu mumet. Saya akan mencoba menyederhanakan segala pengetahuan dan pengalaman saya dalam penulisan biografi dan menghadirkan panduan menulis biografi yang enak dan renyah, bahkan bisa dinikmai oleh pemula sekalipun.

Begini.

Menulis biografi adalah menulis kisah hidup. Menulis biografi adalah menulis berdasarkan kisah nyata. Dalam perkembangannya memang kita dapati ada istilah autobiografi, memoar, novel biografi, dan lain sebagainya. Tak apa. Tak usah bingung. Itu hanya pengembangan saja.

Intinya yang ingin saya sampaikan dalam panduan menulis biografi ini mah, menulis biografi adalah menulis kisah hidup berdasarkan kisah nyata. Itu saja sudah cukup sebagai pegangan. Karena kalau tidak nyata, berarti fiksi. Dan itu berarti masuknya ke novel.

Lalu, bagaimana dengan novel biografi?

Iya, saya tahu. Ada beberapa penulis yang menerapkan metode ini, seperti trilogi novel biografinya Dahlan Iskan.

Nah, novel biografi adalah adalah kisah nyata yang dinovelisasi. Dibikin versi novelnya.

Gitu doang? Iya, gitu doang. Jadi, tak usah bingung lagi, ya. Insya Allah saya rancang artikel panduan menulis biografi ini menjadi pegangan yang bisa menjadi rujukan kamu dalam berkarya nantinya.

Nah, menulis biografi sebenarnya tak harus selalu runtut, dari mulai masa kecil hingga akhir dari kehidupan sekarang. Itu akan jadi sangat tebal, membuat orang malas membaca, dan yah, tentu saja terasa membosankan.

Padahal, tujuan utama dari menulis biografi adalah menyampaikan pesan-pesan kehidupan seseorang kepada khalayak.

Dan pesan-pesan kehidupan itu tidak akan sampai dan bisa diterima dengan baik oleh pembaca, kalau kita menyampaikannya dengan cara yang membosankan sekaligus njlimet.

Itu hal penting yang harus saya sampaikan dalam panduan menulis biografi ini.

Di Barat misalnya, ada yang namanya Andrew Morton. Dalam menulis biografi, Andrew hanya menulis pada kasus-kasus tertentu, tidak keseluruhan hidup seseorang.

Misalnya, Monica Lewinsky yang berkasus dengan Bill Clinton, Nah, dia menulis tentang affair tersebut di buku itu. Dia membahas bagaimana seorang Monica Lewinsky yang bukan siapa-siapa, kemudian menjadi salah satu pegawai magang di Gedung Putih, lalu melakukan affair dengan Bill Clinton. Nah, itulah yang dibahas oleh Andrew. Dia hanya mau meng-capture itu.

Jadi, kita bisa menulis kisah hidup seseorang tak melulu dari A sampai Z. Akan tetapi, hanya menyorot pada satu masa-masa yang memang memiliki daya tarik tertentu.

Menulis biografi bukanlah tentang merangkum data, namun lebih kepada menyampaikan pesan-pesan kehidupan kepada lebih banyak orang. Itulah yang membuat perbedaan enak tidaknya ketika dibaca, antara satu biografi dengan biografi yang lain.

Kebanyakan kita gagal menyajikan biografi yang enak, renyah, dan menggemaskan, karena kita terlalu terpaku dengan data. Kita lupa bahwa tugas kita adalah penyampai pesan kehidupan.

Maksudnya terpaku dengan data? Dalam panduan menulis biografi ini akan saya jelaskan.

Begini. Misalkan, kita sudah melakukan wawancara, kita sudah mengumpulkan informasi-informasi tambahan dari beberapa buku dan juga googling.

Nah, setelah itu, kita hanya merapikan urutan kisah hidupnya, dan memaparkannya secara datar. Mulai dari lahir hingga sekarat.

Itu akan membosankan.

Buku tak akan memiliki jiwanya.

Kosong.

Membosankan.

Dan tentu saja, tak ada pesan kehidupan yang bisa digali oleh pembaca.

Menulis biografi adalah bagaimana kita menyerap detak kehidupan seseorang, lalu mengalirkan pesan-pesan kehidupannya kepada orang lain, yakni pembaca.

Kita sebagai penulis adalah penyampai pesan itu. Kita harus pandai-pandai menyampaikannya dengan memikat. Jika tidak, pesan itu akan ditinggalkan.

Jadi, saat sebuah buku biografi jelek, bukan salah tokohnya yang tidak menarik, akan tetapi penulisnya, karena gagal menyampaikan pesan kehidupan dengan anggun dan memikat.

Makanya, menjadi penulis biografi berarti kita tahu apa saja kesulitan yang narasumber hadapi.

Kita tahu bagaimana karakter dia.

Dan dari semua hasil interview itu, kita masih harus meramu lagi menjadi sebuah kisah hidup yang memiliki jiwa.

Kita gabungkan semuanya. Kita olah. Kita berikan nyawa. Tidak asal tempel dan taruh data.

Itulah yang namanya menulis biografi.

Seru, kan?

 

PANDUAN MENULIS BIOGRAFI

Yah, kelihatannya memang tidak gampang menulis biografi. Namun, juga tidak susah amat. Pengetahuan-pengetahuan dasar yang akan saya sampaikan, akan sangat berguna, untuk kamu yang nanti mau menekuni profesi ini.

Bayarannya lumayan, kok. Bisa puluhan juta, bisa ratusan. Tergantung kesepakatan. Yang pasti tidak dibayar ratusan ribu. Apalagi recehan.

Bagaimana? Greget, kan?

#1 – Masuk dalam Kehidupan Narasumber

Pertanyaan paling mendasar ketika kita ingin menjadi penulis kisah hidup adalah:

Mau nggak kita masuk ke dalam kehidupan narasumber?

Mau nggak kita sedemikian intim dengan apa yang dirasakan oleh narasumber?

Mau nggak kita sangat menyatu dengan kesulitan-kesulitan yang pernah dilalui oleh narasumber?

Penulis kisah hidup haruslah paham, bahwa apa yang kita tulis mencerminkan hidup orang lain. Dengan begitu, semakin menyatu, semakin mendalam, akan semakin baik.

Hal ini akan memberikan nyawa pada tulisan yang sedang kita susun.

#2 – Memotret Peristiwa

Kita harus memiliki kemampuan untuk memanggil kembali atau lebih tepatnya menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi di masa lalu, menjadi sebuah susunan kata-kata yang menghipnotis.

Misalkan, saat kita diajak narasumber mengunjungi lokasi-lokasi tertentu di mana lokasi itu memiliki ikatan sejarah emosional dengannya.

Nah, kita harus bisa menghidupkan lagi peristiwa itu.

Atau, saat narasumber menyebut sebuah tempat, kita harus bisa memberikan nyawa pada peristiwa yang terjadi di tempat itu, walaupun kita tak pernah berkunjung ke sana.

Berat? Enggak juga. Perbanyak saja latihannya.

Inilah seni dalam menulis biografi.

Yakni, kemampuan kita untuk menggali lagi satu peristiwa.

Lalu, kita mendramatisasinya dan mengemasnya hingga menjadi susunan kata yang nikmat sekaligus berharga untuk dibaca.

#3 – Bukan Soal Merekam

Ibarat dalam sebuah produksi film, penulis biografi adalah sutradaranya. Kita harus berani mengarahkan narasumber bercerita tentang bagian mana saja.

Adalah tugas utama seorang penulis kisah hidup untuk ‘memaksa’ narasumber bercerita tentang apa kesusahannya masa lalu, apa rasa sakitnya, apa kekecewaannya, apa kebahagiaannya, dan bagaimana ia berhasil melalui semua itu dengan gemilang.

Semua manusia di muka bumi ini memiliki tema hidup yang sama: senang-sedih, jatuh-bangun, terluka-sembuh. Hanya, alurnya saja yang berbeda.

Jadi, bukan merekam setiap ucapannya, yang tak jelas arahannya, kemudian kita sajikan dalam bentuk tulisan. Bila itu saja, narasumber itu tidak butuh penulis kisah hidup atau biografi, namun yang dia butuhkan adalah tukang tik.

Dengan adanya tukang tik, silakan narasumber mengoceh sepuasnya. Dan juru ketik tinggal mentraskip hasil rekaman itu.

Selesai.

Seni dalam menulis biografi adalah menggali keadaan jiwa narasumber. Menggali jiwa artinya kita tidak hanya mendengarkan dia bicara, namun juga bisa menerobos ke dalam hati, perasaan, dan visinya. Makanya, dalam panduan menulis biografi ini, saya selalu menekankan, jangan pernah terpaku dengan data saja. Namun, hidupkanlah kata-kata yang kamu ciptakan dalam bentuk tulisan itu.

Dari sanalah, kemudian kita sebagai penulis kisah hidup, merumuskan secara hati-hati, apa hikmah-hikmah yang terkandung dalam setiap episode kehidupannya ke dalam sebuah naskah.

Dengan begitu, sebuah karya penulisan biografi akan memiliki jiwa. Akan hidup. Dan memiliki nilai yang membawa pesan-pesan kehidupan.

#4 – Sebuah Teladan Nyata

Pada dasarnya, orang-orang sebenarnya benci untuk dimotivasi. Tak suka disuruh-suruh. Kebanyakan, lebih suka mengambil hikmah.

Banyak orang yang lebih nyaman mengambil pelajaran dari hidup orang lain, daripada membaca buku motivasi.

Nah, inilah pentingnya buku kisah hidup dihadirkan.

Seorang motivator yang menulis buku motivasi, akan sangat berbeda efeknya bila dia menulis tentang kisah hidupnya yang memang penuh drama hingga dia bisa menjadi sukses.

Contohnya? Merry Riana. Bukunya laku lebih dari seratus ribu eksemplar. Lebih lho, ya. Itu baru laku, belum yang baca dan pinjam.

Orang-orang cenderung butuh contoh nyata. Butuh sesuatu yang bisa mereka guman, “Oh, jadi begitu, ya.”

Nah, ini yang kemudian membuat penulisan biografi, penulisan kisah nyata, penulisan kisah hidup menjadi penting.

Makanya, dalam panduan menulis biografi ini saya tekankan, sebagai penulis kisah hidup, lakukan hal-hal yang diperlukan untuk menghasilkan karya yang akan mengubah hidup banyak orang.

#5 – Tentukan Gagasan Awal

Artinya, kita harus bisa menset sejak awal, apa arah utama yang hendak kita tulis. Misalkan, film Laskar Pelangi, gagasan awalnya yakni tentang anak-anak yang berjuang keras dengan pendidikan di Belitong.

Nah, setelah dapat gagasan utamanya, baru diolah dan dikembangkan sesuai kebutuhan.

Dalam proses interview, kita harus bisa mendapatkan gagasan awal itu.

Gagasan awal tersebut didapat setelah kita ngobrol dengan narasumber.

Hal itu akan memudahkan kita untuk menulis lebih lanjut, karena ada pedoman utamanya, dan membuat pikiran kita tidak lari ke mana-mana.

Bagaimana cara menemukan gagasan awal?

Biasanya, saya menggunakan teknik ini.

Untuk pertama kali bertemu, saya akan meminta narasumber berbicara panjang. Ke mana-mana aja, terserah dia. Nah, setelah itu, saya kemudian akan jadi tahu, angle apa yang sebaiknya saya ambil untuk dijadikan gagasan awal penulisan.

“Jadi begini ya, Pak, kita ambil angle ini dalam buku ini. Bagaimana, Bapak setuju?”

Kalau sudah saling bersepakat, proses penulisan dan wawancara akan relatif lebih lancar, karena angle dan gagasan awal sudah saling tersepakati.

Poin kelima ini merupakan poin penting yang harus disampaikan dalam panduan menulis biografi ini, karena tanpa angle yang bagus, tulisan kita akan kelihatan biasa saja.

#6 – Empati

Menulis kisah hidup memerlukan kemampuan empati yang luas. Kita harus memiliki stok simpati dan empati yang berlebih.

Kalau kita pada dasarnya orangnya nggak tegaan kalau melihat orang lain nangis, sedih, terpuruk, dan tersiksa, maka sebenarnya kita memiliki dasar yang bagus.

Seorang penulis biografi memerlukan kemampuan yang satu ini.

Dan tak semua orang memilikinya, lho.

Mengapa kemampuan ini penting?

Agar kita bisa ikut merasakan apa yang narasumber rasakan.

Agar kita bisa ikut senang saat narasumber mengisahkan kebangkitannya dan akhirnya sukses.

Kita jadi bisa menyatu dengan apa yang dulu narasumber perihkan.

Apa yang dulu ia gelisahkan.

Apa yang sekarang sudah ia capai.

Dan apa yang tengah ia perjuangkan.

Berbeda dengan menulis artikel yang hanya beberapa halaman, menulis kisah hidup membutuhkan kantong kesabaran yang tebal.

Nggak ada ceritanya kita akan selesai menulis kisah hidup dalam waktu singkat. Tak bisa satu hingga dua bulan saja.

Membutuhkan waktu yang lebih.

Sekitar paling tidak empat sampai enam bulan minimal.

Mengapa? Karena wawancaranya saja bisa dilakukan beberapa kali.

Belum pengolahan materinya. Pemberian nyawa pada tulisan.

Dan jangan lupakan revisi dan revisi yang tentu saja harus disepakati baik narasumber maupun kita sebagai penulisnya.

Maka, biasanya sebelum mewawancarai narasumber, cari tahu empat hal ini: karakternya, apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya, dan kebiasaannya.

Dengan begitu, kita sudah memersiapkan diri dengan cara terbaik untuk menghadapi narasumber.

Hal ini tentu saja, agar tercipta empati di diri kita.

Inilah seni menulis kisah hidup. Kita tak hanya mendengar cerita, namun kita juga masuk ke dalam relung hidup narasumber.

Dan pada saat yang sama, kita juga merasa diri terhisap dalam kehidupannya. Lalu kita menjadi seniman perangkai kata yang menyampaikan pesan-pesan kehidupan tersebut kepada khalayak.

Kadang saya mendapat pertanyaan: boleh nggak sih interview via email atau Skype?

Boleh saja. Tetapi, rasanya akan berbeda ketika bertemu langsung.

Saat bertemu langsung, kita akan bisa memerhatikan gesturnya, cara dia berbicara, cara dia bernapas, juga mimik mukanya saat emosi yang berubah-ubah. Dan data-data yang seperti itu, sangat penting untuk dimasukkan dalam naskah dan membuat naskah menjadi bernyawa.

Beda kalau via email atau Skype. Semua serba kaku dan tidak menghadirkan emosi yang hidup.

#7– Pendongeng

Mengapa sebuah buku biografi menjadi tidak menarik?

Karena terlalu banyak data dan tak ada nyawa dalam tulisannya.

Mengapa tak ada nyawa dalam tulisannya? Karena kita tak berperan sebagai pendongeng ketika menuliskannya.

Kita lebih seperti sekretaris yang yang mengetikkan data laporan tahunan.

Itulah mengapa buku kisah hidup nampak menyebalkan.

Inilah seninya menulis biografi.

Maka, dalam panduan menulis biografi ini saya tekankan, kita adalah pendongeng, namun berbasis data. Kita harus mampu mengolah data-data yang ada menjadi sebuah pelengkap cerita yang mengagumkan.

Kita adalah pendongeng yang menyampaikan pesan-pesan kehidupan narasumber kepada khalayak dengan cara yang anggun, menyenangkan, sekaligus membuat ketagihan.

Ibaratnya begini.

Saat menulis novel, kita memiliki imajinasi. Kita benturkan tokoh A dengan tokoh B. Kita sedihkan karakter C dengan karakter D.

Nah, dalam penulisan biografi, kita sudah memiliki data nih, nah tinggal kita hidupkan. Kita dramatisir. Kita novelisasi.

Oleh sebab itu, dalam panduan menulis biografi ini saya tekankan, kesalahan mendasar seorang penulis biografi adalah takluk kepada data dan berpikir bahwa dia telah berhasil menyusun kisah hidup karena memiliki data yang lengkap.

Itu saja tak cukup.

Bahkan akan gagal.

Kita harus menjadi seorang pendongeng. Seorang penutur cerita. Seorang storyteller.

Dengan begitu, kita akan mengalirkan kata-kata dengan sentuhan yang menarik, dan deskripsi yang membuat pembaca kepayang.

#8– Batas Imajinasi

Lalu, kapan sih batas-batas kita boleh berimajinasi dalam menulis biografi.

Misalkan begini. Narasumber hanya cerita:

Malam itu, saya membagikan brosur produkku di stasiun hingga tengah malam. Berharap ada yang membeli.

Kan nggak mungkin kita hanya menulis seperti itu. Perlu kita bumbui drama agar menarik.

Jadinya bisa seperti ini.

Kereta datang tak sesuai jadwal. Malam itu dinginnya terasa menusuk tulang. Sweaterku terasa kurang tebal membentengi ketahanan tubuhku. Orang-orang keluar dari dalam kereta dalam keadaaan layu. Mungkin mereka lelah karena terlalu lama di dalam kereta. Aku pun jua kelelahan. Membagi brosur sejak sore hingga tengah malam begini, membuatku terasa seperti rempeyek di dalam kulkas. Namun aku berusaha untuk tetap tersenyum. Aku tetap membagi brosurku kepada setiap yang lewat di depanku. Tak ada satu pun yang tertarik. Tentu saja. Siapa sudi malam-malam mengurusi hal seperti itu. Aku mulai tak sanggup memikirkan masa depanku sendiri.

Yah, walaupun tidak bagus-bagus amat, namun cukuplah untuk memberikan gambaran kesusahan yang dialami narasumber malam itu.

Selama kita yakin bahwa apa yang kita imajinasikan tidak merusak fakta, sah-sah saja.

Deskripsi adalah jantung yang menghidupkan cerita. Deskripsi yang baik, akan membuat kita nyaman membaca cerita, hingga tuntas.

Berbohong dalam tulisan itu mengubah fakta. Tapi mendramatisasi sebuah kejadian itu adalah tugas kita sebagai penulis untuk menyampaikan pesan kepada pembaca.

Pesan itu akan sampai kalau kita mampu membungkusnya untuk menggetarkan rasa. Kalau enggak, enggak akan sampai.

Demi menggetarkan rasa itu kita ciptakan romantisme yang hidup, kesedihan yang  sangat sedih. Tangis yang luar biasa.

Itu tugas kita sebagai penulis.

Kalau kita tidak bisa menghadirkan itu, berarti kita bukan penulis.

Kita juru tik.

Jadi, tugas penulis kisah hidup adalah membungkus data dengan drama yang memikat, dengan pita-pita romantisme yang asyik.

Padukan dengan susunan kalimat yang pendek namun penuh makna. Bukan panjang dan membosankan.

 

MERANCANG PENULISAN BIOGRAFI

Baiklah, ini pasti bagian yang kamu tunggu-tunggu dalam panduan menulis biografi. Yakni, bagaimana sih merancang sebuah penulisan biografi?

Pertama, tentukan dulu kategorinya. Apakah ini nantinya adalah kisah hidup tentang kepemimpinan, kisah cinta, dan lain sebagainya. Tergantung dari tokoh yang ditulis. Dan tergantung dari motif dihadirkannya biografi ini ke publik.

Motif?

Iya. Misalkan, ada sebuah buku yang dihadirkan ke publik hanya untuk berbagi pengalaman hidupnya. Ada yang ingin sebagai pencitraan. Ada yang ingin mendokumentasikan sejarah perjalanan hidupnya, dan lain sebagainya.

Apa pun itu, ingat, tugas kita adalah penyampai pesan kehidupan. Sajikan dengan memikat. Itu yang utama.

Kedua, buatlah data apa saja yang diperlukan. Biasanya akan seperti ini:

  • Foto koleksi pribadi
  • Data dari sumber lain, seperti koran, website, atau video dan rekaman tambahan
  • Dokumen pribadi, seperti buku harian, catatan-catatan, bahkan kalau ada arsip-arsip penting

 

Ketiga, buat data siapa saja yang akan diwawancarai. Terdiri atas narasumber utama, yakni tokoh yang ditulis, dan narasumber tambahan, yakni bisa istrinya, anaknya, pembantunya, temannya, kliennya, dan sebagainya.

Keempat, lakukan wawancara dengan intens. Jangan lupa untuk membersamai narasumber dalam berbagai aktivitasnya. Bisa ketika saat beliau makan dengan keluarga, bertemu dengan klien, dan sebagainya. Dengan begitu, kita akan tahu bagaimana cara beliau berpikir, merasa, bertindak, dan bertutur.

Kelima, setelah wawancara selesai dan semua data sudah didapat, saatnya pengerjaan naskahnya. Masukkan deskripsi dan imajinasi yang menyatu hingga cantik. Setelah selesai, lakukan editing, layouting, dan covering. Bila tak sanggup mengerjakan sendiri, pesankan saja ke studio desain. Beres.

Keenam, revisi. Setelah semuanya berbentuk dummy, berikan ke narasumber untuk diperiksa terakhir. Apakah ada kata yang salah susun, foto salah tempat, dan sebagainya.

Ketujuh, saatnya peluncuran. Saatnya menikmati hasil jerih payah. Melihat kegembiraan. Dan merayakan semua kebersamaan yang telah terajut antara penulis dan narasumber.

 

PERSIAPAN PENTING PENULIS BIOGRAFI

Apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi penulis kisah hidup?

Diri kita sendiri.

Kita harus memersiapkan diri kita: rasa empati, kemampuan bercerita, dan kerelaan hati untuk terjun ke dalam kehidupan seseorang.

Buatlah satu karya yang baik. Sebaik yang kita bisa.

Karena kita tak pernah tahu, karya itu akan dibaca siapa.

Siapa tahu, karya itu kemudian dibaca oleh orang terkaya nomor tiga di Indonesia, dan kemudian menghubungi kita untuk menuliskan kisah hidupnya. Karena tokoh akan menghubungi dari buku mana yang mereka suka, bukan dari seberapa terkenalnya kita.

Kan ada yang begitu. Dan bayarannya lumayan, puluhan hingga ratusan juta.

Masa nggak mau, sih?

Ada kok yang ingin dituliskan kisah hidupnya bukan untuk didistribusikan ke Gramedia. Akan tetapi, justru untuk anak-anaknya sendiri.

Misalkan, ada seorang kaya raya, pengusaha batu bara. Nah, dia ingin menyampaikan pesan ke anak-anak dan cucunya, bahwa bapak tersebut melalui semua perjuangan dengan sangat berat, dan dia ingin anak-anaknya mewarisi daya juangnya tersebut. Jadi, buku itu menjadi semacam kitab sakti untuk mereka terus bergerak dan bergerak menuju sukses.

Selamat menjadi penulis kisah hidup. Semoga panduan menulis biografi ini bisa menjadi pegangan untukmu dalam bekerja nantinya, ketika mendapatkan proyek menulis biografi.

Dan bagaimana menjadi seorang penulis biografi yang ahli?

Pada dasarnya, semua orang di bumi ini adalah amatiran. Namun mereka terus berdedikasi dengan pekerjaannya. Konsisten berlatih. Maka, dia kemudian semakin lancar berkarya.

Di situlah dia menemui alur keahliannya.

Begitu pun kita.

Saat kita mendedikasikan pikiran, waktu, dan tenaga dalam dunia penulisan biografi, kita akan semakin dengan penyandangan gelar ‘ahli’ itu.

Menjadi seorang penulis biografi akan membuat jiwa kita hidup, karena kita adalah penyampai pesan kehidupan. Dan apa yang lebih asik daripada menjadi seseorang yang memiliki kebermanfaatan yang tinggi bagi orang lain?

Semakin rutin kita berlatih menulis, karya kita akan semakin berkualitas. Teruslah berlatih. Teruslah peka. Teruslah belajar empati. Teruslah mengguyuri hari-hari kita dengan inspirasi kebaikan. Maka, menjadi penulis kisah hidup akan menjadi sebuah pekerjaan yang menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan, baik dari segi materi maupun kepuasan jiwa.

Semoga pemaparan saya dalam panduan menulis biografi ini bisa menjadi pemandu yang lengkap untuk kamu yang ingin menjadi penulis biografi atau kisah hidup.

Selamat menulis.[]

 

YUK DI-SHARE, AGAR LEBIH BANYAK YANG MERASAKAN MANFAAT DARI ARTIKEL INI. DAN untuk mendapatkan lebih banyak tip dan trik menjadi penulis, DAPATKAN BUKUNYA DI SINI.

 

Buku Panduan Menulis Biografi

 

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

12 thoughts on “Panduan Menulis Biografi

  1. Min, mau tanya kalau seumpama menulis biografi itu tidak bisa mewawanarai tokoh scr langsung, kan hanya berdasar data di referensi ya. Nah kalau kita menyusun dr beberapa referensi tentunya dg menyertakan sumbernya. Boleh gk sih min seperti itu, saya bingunh seperti itu termasuk plagiat tdk ya. Mksh

  2. Min tanya lagi ya. Yg dimaksud plagiat itu berarti jika mencopas tanpa sumber , gitu ya.

    Kalau ada sumbernya berarti boleh. Begitu kah?

  3. Kak, tanya. Jika menulis biografi orng dg copas dr artikel diedit dikit trus dikasih sumbernya. Boleh gk kaka? Hasilnya kita ikutin dilomba nulis biografi gitu ka. Makasih

Leave a Comment