panduan content marketing lengkap

Panduan Content Marketing untuk Digital Marketer

Panduan Content Marketing – Sebelum membahas terlalu jauh, mari memulainya dari pertanyaan paling sederhana: apa sih yang dimaksud dengan content marketing?

Dalam konteks digital marketing, melakukan content marketing adalah hal wajib bagi pemasar era digital, bahkan dianggap sebagai model pemasaran digital terbaik.

Kok bisa?

Dua alasan besarnya adalah:

(1) Content marketing adalah strategi paling ampuh untuk mendapatkan customer yang loyal.

(1) Content marketing adalah strategi pemasaran yang jauh lebih efektif daripada pemasaran tradisional.

Kok bisa? Bisa.

Model pemasaran tradisional adalah menjual produk atau jasa melalui iklan. Model seperti ini sudah tidak menarik lagi, karena konsumen sudah jengah diserbu iklan.

Siapa juga sih manusia zaman sekarang yang masih mau kemakan iklan.

Makanya, ketika kita melihat iklan, baik itu secara offline maupun online, kita lebih sering untuk melewatkannya dengan sengaja. Iya, dengan sengaja!

Lalu, apakah content marketer tidak menggunakan iklan? Tetap menggunakan, akan tetapi lebih banyak digunakan untuk mengiklankan konten yang menarik atau yang bermanfaat. Hal ini memang lebih efektif, karena memang kita secara alamiah lebih suka disuguhi konten bermanfaat dan berguna, daripada iklan dari sebuah produk atau jasa secara langsung.

Jadi, apa itu content marketing?

Content marketing adalah strategi penggunaan konten sebagai alat pemasaran. Tentu saja, dalam strategi itu ada perencanaan, pembuatan, dan pendistribusian konten dengan tujuan menarik audiens tertarget sehingga tepat sasaran, lalu mengonversi mereka menjadi pelanggan yang loyal.

Content marketing adalah strategi untuk menarik audiens baru agar menjadi pelanggan, dan merawat pelanggan yang sudah ada menjadi pelanggan yang loyal.

Karena namanya content, dengan demikian bentuknya bisa beraneka ragam, bisa artikel, video, audio (podcast), gambar, dan lain sebagainya.

Faktanya nih, menurut OneSpot (2015), content marketing menyumbang hingga 6x penjualan daripada yang tidak menerapkannya. Hal ini tentu saja bisa terjadi, karena content marketing secara alamiah menghadirkan kredibilitas. Nah, kredibilas inilah yang kemudian meningkatkan konversi penjualan.

Dan … paling menarik dari content marketing adalah audiens akan terus menemukan bisnis kita lewat berbagai cara yang tak pernah kita duga, seperti dari Google Search, media sosial, situs-situs orang lain (karena mereka menggunakan backlink), juga email, dan sebagainya.

Itulah mengapa, sebuah website yang menerapkan content marketing akan mendapatkan lebih banyak pengunjung dalam jangka panjang, bahkan dibandingkan yang langsung memasang iklan, karena ketika iklan berhenti, artinya traffic juga berhenti.

Haduh … bingung, Mas. Jan-jane content marketing ki piye!

Iya, iya, tenang, dong. Begini ilustrasinya.

Ilustrasi Sederhana

Kakak saya membuat sebuah usaha jasa clothing bernama Casofa Clothing. Dari mana income-nya? Pertama, dari orang-orang yang memesan kaos atau jaket. Kedua, dari jualan kaos polos. Dan yang ketiga, dari memproduksi kaos distro dengan brand sendiri.

Nah, saya kemudian membuatkan website dengan nama CasofaClothing.com. Mengapa tidak memakai ekstensi .id? Karena top level domain yang paling unggul adalah .com.

Di dalam website ini, saya menampilkan ketiga hal tersebut. Yakni, pertama, bahwa Casofa Clothing melayani jasa pembuatan kaos ataupun jaket, baik dalam satuan maupun pesanan massal. Kedua, Casofa Clothing juga menjual kaos polos kualitas premium. Ketiga, Casofa Clothing juga membuat kaos distro dengan desain premium.

Nah, selain menampilkan layanan-layanan tersebut, saya juga melakukan content marketing melalui blognya.

Di dalam blog tersebut, saya menulis artikel-artikel yang berkaitan dengan dunia dunia perkaosan, seperti jenis-jenis kualitas sablon, cara mendirikan usaha distro, jenis-jenis kain pada kaos, dan beragam artikel bermanfaat lainnya.

Dalam pembuatan artikel tersebut, saya menggunakan teknik SEO (kalau kamu masih bingung apa itu SEO dan bagaimana melakukannya, bisa mengikuti channel Telegram yang saya bikin ini: https://t.me/KajianSEO) disertai perpaduan pengetahuan copywriting serta cara menulis dan mengedit yang benar, sehingga kontennya memiliki kualitas.

Lalu, website tersebut mendapatkan banyak traffic dan banyak pesanan. Mengapa?

Pertama, saya mengiklan salah satu kontennya lewat FB Ads. Saya tidak mengiklankan tentang jasa dari Casofa Clothing, akan tetapi salah satu artikelnya saja.

Mengapa?

Kalau saya mengiklankan lewat FB Ads tentang “Terima Jasa Bikin Kaos”, maka kecil kemungkinan audiens yang akan tertarik menuju website Casofa Clothing.

Akan tetapi, ketika saya membuat artikel tentang “50 Strategi Jitu Menjadi Miliarder Lewat Bisnis Kaos”, lalu saya mengiklankan konten tersebut, maka akan banyak yang tertarik untuk membaca, sehingga membuat Casofa Clothing makin terkenal, kemudian banyak yang subscribe email, bahkan dengan rela hati akan men-share artikel tersebut.

Kebayang, kan?

Dengan begitu, akan ada banyak calon pelanggan yang berubah menjadi pelanggan dari Casofa Clothing. Bukankah itu yang kita demenin?

Lalu, katakanlah dua tahun kemudian, ada seseorang yang search di Google dengan kata kunci: Cara Kaya Lewat Bisnis Kaos.

Dengan optimasi SEO yang bagus, maka yang muncul di halaman pertama Google Search adalah artikel yang saya buat tersebut (Kalau kamu masih bingung apa itu SEO dan bagaimana melakukannya, bisa mengikuti channel Telegram yang saya bikin ini: https://t.me/KajianSEO). Maka, kita tanpa mengeluarkan biaya iklan sepeser pun, sudah ada calon pelanggan yang mendatangi website kita.

Bayangkan bila kita membidik kata kunci yang memiliki pasar besar (alias banyak yang membutuhkan), maka tanpa bantuan iklan pun, website kita akan terus diburu oleh calon pelanggan.

Jadi, dari sini, kita sudah mendapatkan tiga sumber untuk traffic dari website Casofa Clothing.

  • (1) dari artikel yang kita iklankan di FB Ads.
  • (2) dari Google Search, saat seseorang mengetikkan sebuah kata kunci yang kita bidik.
  • (3) dari media sosial, seperti Facebook bahkan WhatsApp, karena orang-orang yang membaca artikel tersebut merasa terbantu, takjub, lalu dengan sukarela men-share artikel tersebut ke teman-temannya yang memiliki passion di bidang perkaosan.

Nah, itu saja sudah membuat website kita “kewalahan” dengan traffic. Lalu, bagaimana bila yang membaca artikel tersebut adalah seorang blogger, lalu kemudian dia terinspirasi untk membuat postingan tentang dunia kaos dan menyebut website Casofa Clothing dalam artikelnya (hal ini disebut backlink — makanya, belajar SEO di sini: https://t.me/KajianSEO). Maka, kita mendapatkan satu lagi sumber traffic, yakni:

  • (4) dari backlink yang dilakukan oleh website lain. Kabar baiknya, saat artikel kita mendapatkan backlink dari sebuah website yang kredibel, akan makin membuat website kita kukuh di halaman pertama Google Search, karena website kita memiliki kredibilitas di mata Google.

Nah, itulah contoh sederhana dari content marketing. Padahal, konten yang saya sajikan hanyalah artikel, belum berupa tambahan konten lain, seperti video, gambar, infografis, dan sebagainya. Akan tetapi, impaknya sudah sangat besar.

Sudah paham, kan? Ora paham kebangeten. Heuheuheu….

 

Bagaimana Membuat Konten yang Menarik?

Karena saya anggap kamu sudah paham dengan ilustrasi di atas, sekarang saatnya membahas hal paling penting dalam artikel ini, yakni tentang cara membuat konten yang menarik.

Setelah membaca artikel di atas, mungkin kamu akan berpikir seperti ini:

“Duh, gue ketinggalan kerete. Berarti, sekarang gue harus mulai bikin artikel untuk website bisnis gue!”

Pemikiran yang bagus. Akan tetapi, jangan terburu-buru. Akan saya berikan kaidah-kaidah dalam pembuatan konten, terkhusus bila formatnya adalah artikel.

Kaidah #1: Padukan dua jenis konten, yakni konten dengan tema evergreen dan konten dengan tema temporer.

Konten yang evergreen adalah konten yang dibaca hari ini maupun sepuluh tahun yang akan datang tetap akan relevan dan berguna bagi pembaca.

Konten yang temporer adalah konten yang mungkin batas bisa dinikmati hanyalah satu tahun ini. Misalkan tentang informasi tertentu, di mana ketika informasi ini dibaca tahun depan akan terasa sudah sangat basi. Tidak apa-apa, konten berjenis ini tetap diperlukan, kok.

Perpaduan dua jenis ini akan membuat website bisnismu menjadi lebih hidup, variatif, dan kredibel.

Berapa komposisinya? Konten yang evergreen adalah 80% dan konten yang temporer adalah sisanya. Artinya, kamu harus fokus untuk membuat konten yang evergreen.

Kaidah #2: dalam membuat konten evergreen, pastikan untuk membuatnya bermutu, padat, dan memuaskan pembaca.

Menulis konten itu gampang. Paling susah adalah menulis konten yang bermutu, padat, dan memuaskan pembaca.

Makanya, saran saya, kita tidak menulis setiap hari bila ingin membuat konten jenis kaidah #2 ini. Kamu perlu mengendapkan diri, menulis yang rapi, dan membuat sedemikian unggul hingga siap untuk dipublis.

Loh, kok tidak setiap hari?

Kalau Intercom yang memiliki tim penulis unggul yang hanya memproduksi konten berkualitas saja hanya memposting lima artikel selama seminggu, ngapain kamu harus setiap hari?

Kalau Buffer.com hanya membuat 2 konten saja selama satu minggu, ngapakain juga kamu harus setiap hari?

Kalau Ahrefs.com hanya memproduksi sekitar 3 konten saja setiap bulannya, sebagai bagian dari kebijakan Tim Soulo, kepala pemasarannya, untuk fokus hanya membuat konten bermutu saja, mengapa kamu harus merepotkan diri membuat konten setiap hari?

Kalau Backlinko, yang dinakhodai oleh Brian Dean, seorang mastah SEO level dunia, hanya memproduksi konten sebanyak satu kali saja setiap dua bulan, mengapa kamu harus setiap hari?

Apa yang kita dapat dari pola ini? Kualitas. Yah, tak lain dan tak bukan adalah kualitas. Memproduksi konten yang digunakan untuk content marketing adalah seni memproduksi kualitas. Maka, sebagaimana kaidah yang saya paparkan, konten tersebut harus bermutu, padat, dan memuaskan pembaca. Itulah yang saya maksud dari kualitas.

Apakah yang berkualitas itu harus panjang? Maksudnya, haruskah kita menulis artikel yang sangat panjang?

Tidak selalu. Makanya, kaidah yang saya buat adalah “padat”.

Terlalu pendek, akan tidak kredibel. Terlalu panjang, akan sangat membosankan. Jadi, intinya bukan pada kedua hal itu, namun memiliki artikel yang padat. Tidak bertele-tele. Menjelaskan topik dengan baik.

Saat kepadatan artikel tercipta, pembaca akan terpuaskan.

Jadi, hal fundamental yang perlu kamu jawab adalah: seberapa banyak kata yang saya perlukan untuk menghadirkan konten yang berkualitas?

Kaidah kedua ini harus kamu pegang erat.

Kaidah #3: Traffic tidak akan berguna kalau kita tidak memiliki rencana apa yang harus dilakukan setelah mendapatkan banyak traffic.

Tujuan penting dari content marketing adalah mendatangkan traffic ke website bisnis kita. Akan tetapi, semua itu tidak akan berguna, kalau kita tidak memiliki rencana “apa selanjutnya” dari kebanjiran traffic tersebut.

Maksudnya apa nih, Mas Fachmy?

Maksudnya, setelah pengunjung datang ke website kita, apa yang kita inginkan untuk pengunjung tersebut lakukan?

  • apakah untuk mengisikan alamat emailnya dalam halaman subscriber;
  • apakah untuk membeli salah satu produk;
  • apakah untuk menggunakan salah satu jasa yang kita tawarkan;
  • ataukah hal lainnya.

Semua itu kamu yang menentukan. Di sinilah, kemampuan copywriting kita diuji. Bila kamu ingin belajar lebih banyak soal copywriting, saya sedang berusaha untuk membahasnya secara rutin lewat channel: https://t.me/KajianCopywriting. Silakan diikuti, semoga ada manfaatnya.

Mungkin kamu bertanya: loh, untuk apa kita mengumpulkan alamat email dari pengunjung atau pelanggan? Perlu kamu tahu, alamat email adalah salah satu harta karun terbesar dalam digital marketing. Lain kali akan saya bahas khusus mengenai “Email Marketing” ini. Mohon bersabar, ya.

Penutup

Melakukan content marketing bukan sekadar “memproduksi konten”. Di sini, konten yang medioker akan terlibas. Hindari mee-too konten. Perhatikan antara kuantitas dan kualitas dalam membuat konten, karena hal tersebut akan membuat “perbedaan” yang sangat besar dalam bisnismu.

Fachmy Casofa
Bagaimana Mendapatkan Rp10 Juta Pertamamu dari Menulis?
Dengan pengalaman menjadi editor, penulis profesional, dan digital marketer sejak 2009, saya akan memaparkan bagaimana caranya. Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
Jangan khawatir, saya juga benci dengan spamming. Kita belajar bersama untuk hidup yang lebih baik.
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 44
    Shares
  • 44
    Shares

Leave a Comment