Menjadi Aktor Sejarah Lewat Menulis

Tak berbahagiakah engkau, saat justru dari tanganmu sendirilah sejarah menjadi alurmu? Tak riangkah engkau, saat justru peradaban tengah engkau sumbangi dengan goresan kekata yang tengah engkau upayakan?

Pada abad ke-13, buku-buku di seluruh perpustakaan Baghdad, Irak, dibakar. Dari sanalah kemudian muncul gagasan yang melegenda itu, bahwa bila kita ingin mengubah suatu peradaban manusia, bakarlah semua buku dan gantilah dengan yang baru. Karena buku adalah salah satu tiang peradaban.

Tulisan-tulisan menjadi nyawa peradaban yang tervital. Titik terakhir tertinggi peradaban adalah tulisan. Setinggi apapun peradaban, jikalah belum meninggalkan warisan berbentuk tulis, belumlah menjadi peradaban yang makmur dan berkepribadian luhur.

Melalui tulisan, generasi takkan hilang, tetapi justru mati satu tumbuh seribu. Jika para ilmuwan yang telah meninggal beratus-ratus tahun yang lalu tidak mentransformasikan ilmunya lewat tulisan, takkan pernah sejarah mengenang nama Al-Ghazali, Albert Enstein, Al-Farabi, dan nama-nama lain yang agung itu.

Tak ada sejarah tanpa adanya tulisan. Manusia pribadi, berada dalam eksistensi mitos, karena cerita dari mulut ke mulut yang beruntun dan turun temurun. Manusia sejarah, berada dalam eksistensi sejarah karena adanya tulisan, yang ia dikenang darinya turun temurun pula.

Jika setiap pribadi dalam suatu bangsa mengerti betapa berharganya kemampuan menulis, tentulah bangsa itu akan menjadi besar dan berperadaban luhur. Kita bisa mengatakan dengan: negara maju adalah negara yang tingkat membaca dan menulisnya tinggi. Sedangkan negera terbelakang adalah kesebalikannya. Dan bila peradaban itu kita ibaratkan panggung, maka mereka yang menulis itu adalah aktor sejarahnya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment