Mengapa Kita Harus Rajin Belajar Ilmu Syar’i?

Ilmu akan memutik, berkembang, kemudian tumbuh memohon tinggi nan rindang serta berakar kuat, manakala diusung oleh mereka yang memiliki kemauan dan semangat dada yang membara-bara, serta berbasuhkan kesabaran dalam merengkuhinya.

Lebih utama lagi, manakala kekuatan tubuh sedang dalam masa-masa emasnya. Dan kesemua syarat itu, terwujudi dalam satu tubuh: pemuda. Di sanalah berkumpulnya kekuatan jasmani, lancarnya konsentrasi dan daya pikir, sedikitnya kesibukan hingga bebas untuk melanglangbuana, serta tak adanya tanggung jawab hidup dan kepemimpinan kekeluargaan.

Seseorang hanya akan mampu mengoptimalkan segenap yang ada pada dirinya ketika masih muda saja. Sederhananya begini. Bisa saja, seseorang belajar pada masa tuanya. Namun, pada beberapa momen tertentu, ia pasti akan tersandung dalam kesulitan-kesulitan yang kita yakin bahwa pada masa mudanya, ia pasti bisa melakukannya lebih baik dan maksimal.

Contohnya dalam menghafal Al-Qur’an. Seseorang yang usianya sudah lanjut, bisa saja ia menghafal satu halaman per harinya. Namun, dapat kita pastikan ia juga akan lupa dalam waktu yang cepat pula.

Atau, tentang seseorang yang sudah lanjut usia, dan ingin sekali belajar membaca Al-Qur’an secara benar. Makhrajnya pas, tajwidnya sesuai, dan alunan suaranya merindukan. Akan tetapi, ia akan kesulitan memperbaikinya, karena lisan yang sudah tak berfungsi normal lagi. Nah, tentu masa-masa optimal telah terlewatkan bukan.

Sebelum terlambat, mari memaksimalkan.

Sungguh anugerah yang perlu disyukuri. Zaman ini, telah memudahi langkah kita untuk mereguki ilmu dari berbagai sarana. Akan tetapi, perlu diingat. Karena itu berarti kita tak lagi menemui alasan untuk tak meregukinya.

“Mencari ilmu adalah kewajiban,” kata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, “ia merupakan penawar bagi hati yang sakit. Terpenting lagi, bagi setiap hamba adalah harus mengenal agamanya. Sebab mengenal agama dan mengamalkannya adalah penyebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sebaliknya, kebodohan mengenai agama dan menyia-nyiakannya menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka,” pungkasnya mewanti-wanti kita.

Sifat dari ilmu syar‘i yang utama itu, otomatis tidak bisa kita jadikan sampingan dalam mereguknya. Oleh itulah, peregukannya harus menjadi prioritas, dan harus menyita sebagian besar waktu kita. Setelah dapat, teruslah untuk menjagainya.

Menjagai ilmu, berarti melestarikannya untuk terus bermanfaat. Ali bin Abi Thalib, dengan sangat apik menerangkan tentang ini, “Ilmu menyeru pemiliknya untuk mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya, maka ia menjawab seruan itu. Jika tidak, maka ilmu tersebut telah pergi menjauh darinya.”

Coba sejenak menekuri kondisi zaman ini. Kita mendapati, banyak mata jiwa yang tertutup oleh lena dunia. Mempelajari ilmu syar‘i hanya menjadi buruan dari sedikit sekali kalangan generasi muda. Malah tak jarang, kata-kata miring, memojokkan, dan memberikan label yang aneh-aneh menghampiri para pemburu ilmu.

Tabiat generasi muda yang inginnya selalu ikut-ikutan saja, memaksa generasi kita untuk tidak berkeyakinan teguh dengan ajaran agamanya sendiri. Persis, sebagaimana, “Manusia itu,” kata Ibnu Taimiyah, “seperti sekelompok merpati: saling mengikuti, satu sama lain.”

Padahal, di tengah arus zaman yang sedemikian deras, hanya dengan mempelajari ilmu syar‘i sajalah kita mampu menjagai diri agar tetap lurus menatap ke langit.

“Ilmu itu,” kata Ibnul Qayyim, “lebih dibutuhkan daripada makan, minum, dan udara.” Memanglah begitu. Kebutuhan kita akan ilmu, jelas-jelas menempati prioritas, dan terang-terang membuat hidup kita menjadi lempang. Karena dengan ilmu, kita menjadi sedemikian berbeda bukan hanya dari segi kearifan dalam hidup, namun juga dalam status makhluk. Dalam versi pepatah Arab, “Kalau bukan karena ilmu, maka manusia seperti binatang ternak.” Simpulnya, sesiapa yang tak melandasi segala gerak dan ucapnya dengan ilmu, maka ia sebagaimana yang telah tersinggung oleh pepatah tersebut. Sederhana sekali.

Dalam surah Al-Baqarah ayat tujuh puluh sembilan, lafal rabbâniyyîn berarti: ulama’- mu‘allimin-fuqaha dalam urusan din. Mereka itu, yang mempelajari ilmu-ilmu dari dasar atau pokok ilmu sampai ilmu yang besar atau penjabaran darinya. Di sinilah kita kemudian mengerti, wajib bagi sesiapa pun mukmin, untuk mempelajari ilmu syar’i, yang di sana tak mungkinlah kita bisa menunaikan kewajiban, atau mengetahui yang syubhat dan haram, kecuali setelah kita mempelajarinya.

Nah, ilmu semacam itulah, yang kemudian dibebankan kepada kita, dengan sabda shahih ini, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Menjadi muslim itu mengagumkan. Bagaimana tidak, standar kemuliaan dan ketaqwaan bukan terletak pada garis keturunan, negeri asal, ataupun pangkatnya. Tetapi, pada sejauh mana kualitas rasa takutnya kepada Allah, serta sejauh dan sehebat apa pelaksanaan terhadap ajaran-ajaran-Nya. Jadi, mentang-mentang anak kiai pun belum tentu takwa, karena iman tak bisa dibeli, karena takwa tak bisa diborong atau dijajakan dengan diskon maksimal.

“Maka, atas dasar ketakwaan dan amal shalih inilah,” kata Syaikh Muhammad Hasan Al-Jamal dalam kitab Hayah Al-A’immah, “Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya ilmu pengetahuan serta memberinya kepercayaan untuk menjaga agama dan Al-Qur’an-Nya. Untuk itu, Dia memilih di antara hamba-hamba-Nya untuk menjadi seorang pionir, dan diberikan kepada mereka ilmu pengetahuan serta taufik. Sehingga, mereka tampil sebagai teladan serta obor penerang yang akan menyinari jalan hidup kita, menggugah kesadaran kita dengan baik terhadap seluruh ajaran-ajaran agama. Dan mereka itu adalah para ulama yang agung itu. Menjelaskan hal-hal yang belum kita ketahui tentang ajaran agama, serta memberikan penyelesaian terhadap problematika besar yang terjadi di masyarakat. Dan dengan gamblang mereka menjelaskan kepada kita masalah-masalah aqidah, ibadah, perintah-perintah yang seharusnya diikuti, larangan-larangan yang semestinya ditinggalkan, serta batasan-batasan yang telah diletakkan oleh Allah. Dengan demikian, mayoritas umat mengikuti apa yang diajarkan dan difatwakan mereka.”

Mungkin, analoginya seperti ini.

Terkisahkan tentang seorang ahli ibadah yang tentu saja tekun beribadah. Suatu hari, ia membunuh seekor tikus tanpa sengaja. Ia pun menyesal. Sangat menyesal. Sebagai penebus kesalahannya, ia kemudian menggantungkan tikus tersebut di lehernya sewaktu beribadah. Dengan harapan, dengan cara seperti itulah dosa-dosanya terampuni atas ketidaksengajaannya membunuh tikus tersebut. Hal itu terus ia lakukan hingga kewafatan menjemputnya. Ketika dihadapkan Allah, ternyata semua amalannya tertolak disebabkan najis yang selalu ia bawa ketika beribadah, disebabkan tikus yang ia gantungkan di leher tadi.

Begitulah amal tanpa ilmu. Caranya mengelabui, senantiasa menjeruji segala pahala yang seharusnya kita terima. Di sinilah, kita harus mengazzam diri, untuk terus mensemangati diri, mendekapi ilmu tanpa tepi. Agar tak seperti ahli ibadah yang merasa menebus dosa, tapi justru melumbungkan dosa pada catatannya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment