Mengapa Harus Menjadi Product Owner?

Tak perlu kursus, setiap kita memiliki kejeniusan alami bila diminta untuk membayangkan apa saja yang akan dilakukan saat memiliki banyak uang. Akan tetapi, kita menjadi mendadak pandir maksimal, saat harus memaparkan apa yang harus dilakukan saat semua tak berjalan sesuai rencana dan kegagalan atau kebangkrutan tiba-tiba menerpa.

Padahal, sebagaimana kita tahu, mempersiapkan kemungkinan gagal, sama pentingnya dengan merancang apa saja yang diperlukan untuk menang dan berhasil.

Para pemilik bisnis media cetak, misalnya.

Sudah tahu usianya tinggal sesaat. Seharusnya mau berpindah ke model bisnis lain, seperti media online. Tetapi, sepertinya enggan berubah menolak, karena mungkin lebih baik mati dibanding berubah menjalani yang tak pasti. Padahal, senjakala sudah ada di depan mata.

Kita harus selalu siap untuk menghadapi perubahan. Selalu siap dengan inovasi yang hadir. Bagi rakyat lilin, sebuah lampu pijar adalah musibah inovasi. Menyiapkan diri untuk menghadapi inovasi berarti tidak bersikeras untuk berdelusi mengenai bisnis yang sedang kita jalankan.

Segeralah jadi product owner. Pemilik brand. Intinya, kita harus memiliki produk sendiri.

Mengapa? Karena kita akan jadi lebih mudah untuk me-leverage, baik di website pribadi maupun marketplace. Kita jadi lebih mudah untuk melakukan scale up. Hal tersebut tidak bisa kita lakukan kalau masih menjadi dropshipper.

Menjadi dropshipper sih oke-oke saja. Yah, lumayanlah ya untuk biaya hidup harian. Akan tetapi, lama-kelamaan kita akan bosan, karena scale up-nya yang cenderung agak susah. Ya iya, karena memang bukan brand kita sendiri. Kita jadi nggak bisa ngapa-ngapain.

Saya senang, ketika pekan lalu, adik saya curhat dan ingin bikin brand sendiri. Saya menyambutnya. Saya bikinkan website-nya. Saya siapkan juga peta dagangnya, apa saja yang harus dia lakukan sebagai pebisnis ranah online.

Hal-hal tradisional yang masih kita lakukan dalam bisnis sebaiknya pelan-pelan kita benahi. Saya tahu, merancang strategi pemasaran membutuhkan pengetahuan digital marketing yang cukup (demi belajar hal ini, dulu bahkan saya rela selama dua tahun untuk fokus mempelajari dasar-dasarnya, heuheuhe). Memiliki fondasi itu enak, kalau ada perubahan, kita tinggal menyambutnya.

Yuk berbenah. Perbanyak belajar. Praktik. Belajar. Praktik. Gitu terus.

Bayangkan. Apa yang bisa kita lakukan? Tokopedia dan Lazada di-invest oleh Alibab. Shopee, JD, Traveloka di-invest oleh Tencent. Bibli dan Tiket.com di-invest oleh GDP Capital. Artinya, dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pasar Indonesia hanya akan menjadi medan pertempuran dua raksasa ecommerce dari China: yaitu Lazada (+Tokopedia) dan Shopee. Blibli? Hmm… masih kuat lah. Tapi jadi nomor sekian.

Jangan sampai kita gini-gini aja, padahal sebenarnya kesempatan dan peluang sudah terpapar di depan mata.

So, saran saya, jadilah brand owner dan perbanyak pengetahuan menyoal digital marketing.

Fachmy Casofa
Bagaimana Mendapatkan Rp10 Juta Pertamamu dari Menulis?
Dengan pengalaman menjadi editor, penulis profesional, dan digital marketer sejak 2009, saya akan memaparkan bagaimana caranya. Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
Jangan khawatir, saya juga benci dengan spamming. Kita belajar bersama untuk hidup yang lebih baik.
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 1
    Share
  • 1
    Share

Leave a Comment