Memahami Dunia Desain Grafis dan Peran Desainer Grafis dalam Industri Kreatif

Saat ini kita melihat seolah dunia bergerak dengan sangat cepat. Segala kemudahan dalam dunia informasi dan industri semakin dapat dinikmati semua kalangan. Hal ini berbanding lurus dengan kebutuhan manusia akan desain grafis.

Mengapa bisa begitu?

Karena hampir semua industri dan juga informasi memerlukan desainer grafis untuk menerjemahkan ide dan gagasan ke dalam berbagai media secara kreatif dan juga efektif.

 

Sekilas Desain Grafis dalam Sejarah Indonesia

JIka kita berkunjung ke daerah Magelang, Jawa Tengah, akan kita dapati Candi Borobudur berdiri megah, dengan relief batu-batu yang mengisahkan Budha. Hal itu merupakan bukti, bahwa sekitar abad ke-9 desain telah memasuki nusantara, dalam bentuk ukiran-ukiran batu pada candi dan aneka prasasti.

Untuk mengetahui kapan persisnya desain grafis masuk Indonesia, cara paling gampang adalah dengan menelaah lagi sejarah, yaitu kapan pertama kali mesin cetak didatangkan ke Indonesia. Ternyata, pada tahun 1659 M mesin cetak sudah masuk ke Indonesia. Ketika mesin cetak sudah masuk ke Indonesia, tentu saja pekerjaan desain grafis sudah mulai diperlukan. Karena jika ada proses cetak mencetak, maka sudah tentu melibatkan keahlian, pengalaman, serta pengenalan font dan layout. Dan itu, tentu saja adalah tugas seorang desainer grafis.

Iklan sebagai salah satu wujud dari desain grafis juga telah dikenal di Indonesia. Jan Pieterzoen Coen, pendiri kota Batavia sekeligus gubernur Jenderal Hindia Belanda (1919-1629), memiliki peran yang cukup besar dalam membawa budaya iklan ke Indonesia.

Iklan pertama kali muncul di Indonesia pada 7 Agustus 1744 di Batavia (nama sebelum Jakarta) bersamaan dengan terbitnya surat kabar Bataviasche Nouvelles milik VOC. Sayangnya, surat kabar ini hanya bertahan hingga 20 November 1745 karena informasi-informasi yang disampaikan dianggap mengganggu stabilitas politik perdagangan. Iklan menggunakan media cetak mulai marak setelah negara kolonial menetapkan undang-undang agrarian pada tahun 1870. Iklan-iklan tersebut dianggap efektif dalam memenangkan persaingan dan menjaring investor. Selain melalui media cetak, iklan juga disampaikan melalui poster dan leaflet yang disebarkan serta ditempel di tempat-tempat strategis.

Pada awal abad 20, berbagai macam iklan mulai banyak ditemui di media cetak. Tentang perkebunan, kebutuhan keluarga, sepeda, baju bedak, rokok, obat-obatan dan lain-lain. Disusul kemudian iklan-iklan jasa, seperti kursus menjahit, reparasi dan lain-lain.

Dengan maraknya iklan, perusahan periklanan pun bermunculan, dari perusahaan besar, menengah, hingga perusahaan kecil. Banyak dari perusahaan tersebut yang dijalankan para keturunan Cina, antara lain: NV Tjiong Hok Long (1901) dan Bureau Reklame Lau Djin yang berada di Solo. Sedang di kota semarang, muncul perusahaan periklanan seperti Liem Eng Tjang & Co, Ko Tioen Siang, Clear, dan lain sebagainya.

Surat kabar menjadi sarana penambah pengetahuan yang sangat populer pada masa itu. Harganya murah, tapi isinya selalu berbobot. Bahkan, surat kabar juga menjadi bahan penyadaran bagi pergerakan anti kolonialisme.

Pada tahun 1913, Ki Hadjar Dewantara, Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangun Kusumo pernah menerbitkan dan menyebarkan sebuah brosur yang memuat protes keras terhadap orang-orang Belanda yang merayakan kemerdekaannya yang ke-100 di tanah jajahannya. Brosur tersebut berjudul, “Seandainya Saya Seorang Belanda”. Kontan saja, Belanda langsung kalang kabut dibuatnya. Akhirnya, pemerintahan Belanda mengeluarkan perintah untuk menangkap penulisnya dan juga mengasingkannya.

 

Peranan Desain Grafis dalam Industri

Secara garis besar, peranan desainer grafis dibagi menjadi beberapa kategori:

1 | PERCETAKAN

Adapun yang masuk kategori ini adalah desainer kaver buku, majalah, poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, dan publikasi lainnya yang sejenis.

2 | DESAIN WEB

Desain untuk halaman web dan segala kebutuhannya.

3 | FILM.

Termasuk di dalamnya adalah CD, DVD, serta CD multimedia untuk promosi dan informasi.

4 | IDENTIFIKASI (LOGO)

Stationary set dan hal-hal yang berkaitan dengan branding.

5 | DESAIN PRODUK

Perancangan sebuah produk, sehingga produk tersebut memenuhi nilai-nilai fungsional yang tepat dan menjadi solusi bagi masalah yang dihadapi manusia dengan tidak meninggalkan aspek kenyamanan pengguna melalui teknik-teknik dan ketentuan-ketentuan tertentu.

Melihat berbagai rentetan berbagai macam bidang fakta di atas, kita dapat melihat bahwa peranan desainer grafis masih sangat terbuka lebar.

 

Desainer Grafis VS Seniman

“Fase hidup kita kurang lebih seperti ini: umur 0-20 tahun edukasi, 20-6- tahun tahun bekerja, 60-70 tahun pensiun. Bagi saya, lebih baik ambil lima tahun masa pensiun itu dan membaginya rata dalam usia produktif yang saya miliki sekarang. Hampir semua pekerjaan yang saya sukai—yang dihasilkan dalam tujuh tahun itu, dipengaruhi oleh satu tahun eksperimen. Jadi, saya pikir tahun eksperimen itu sangat penting karena membaut saya kembali bergairah terhadap desain. Alasan kedua adalah setelah bekerja tujuh tahun, saya mulai merasa bosan dengan hal-hal yang sama.”

Stefan Sagmeister

Apakah seorang desainer adalah seorang seniman? Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh mereka yang baru ingin masuk ke dalam ranah desain grafis. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat dengan mudah membedakan antara praktik seni rupa yang dilakukan seniman dengan praktik desain yang dilakukan oleh desainer grafis.

Menurut Supriyanto (2007: 13), “Iklan, karena tuntutan fungsi komersialnya mensyaratkan komunikasi yang intens dengan perangkat simbolik yang jelas, agar komunikasi atau apa yang ingin disampaikan bisa tercapai. Sementara itu, pada karya seni rupa yang baik, tentu saja rujukan dan tujuan itu justru disusun secara tidak langsung, berlapis-lapis atau bahkan samar dan kabur sama sekali. Jika ujung komunikasi iklan adalah ajakan agar orang pasif dan bersedia membuka dirinya untuk menerima bujukan, maka komunikasi estetik seni rupa justru mendorong orang untuk aktif melakukan refleksi hening.”

Secara sederhana, seni rupa adalah ekspresi bebas sang seniman itu sendiri, bersifat murni estetik. Biasanya, tidak ada unsur kefungsian sama sekali. Hanya unsur keindahan yang sangat ditonjolkan. Nah, sedangkan desain grafis, dijelaskan berfungsi sebagai problem solver bagi permasalahan komunikasi visual.

Namun, bagaimana bila terjadi sebaliknya, yaitu jika ada seorang seniman yang menciptakan sebuah karya yang menarik, fungsional, ekspresif dengan nilai seni yang sangat tinggi, tapi di sisi lain, ada seorang desainer grafis yang menciptakan karya desain yang menarik, tapi tidak fungsional dan tidak mengikuti brief pihak manapun?

Bagaimanapun, tugas utama seorang desainer grafis adalah menyampaikan informasi atau pesan-pesan dari klien kepada audiens yang dituju.

Untuk menyampaikan pesan tersebut, desainer perlu menggunakan elemen-elemen visual seperti garis, warna, gambar dan bidang yang disusun sedemikian rupa dan semenarik mungkin. Sehingga, pesan dari klien kepada target audiens dapat tersampaikan dengan baik dan juga menarik. Di sini, seorang desainer grafis berfungsi sebagai mediator.

Di situlah letak tantangan seorang desainer grafis. Berbeda dengan seorang seniman yang bekerja sendiri, memuaskan ego-ego estetiknya dalam berkarya, seorang desainer grafis tidak hanya dituntut menghasilkan ide-ide segar, namun juga mampu menyampaikannya dengan cara yang tetap mengandung unsur estetika, dan tetap sesuai dengan tujuan dan maksud dibuatnya desain tersebut. Dengan kata lain, seorang desainer harus bisa membuat karya yang asik, menarik, kreatif, dan juga efektif, tapi tetap sesuai brief dari klien sebagai pemakai jasa desain.

Desain yang baik selalu didukung oleh ilustrasi (foto maupun gambar), tipografi dan unsur-unsur visual yang berkualitas. Untuk menciptakan desain yang berkualitas, seorang desainer grafis dituntuk memiliki sense of aesthetic yang memadai, dan tentu saja keahlian untuk mengoperasikan software desain lewat komputer.

 

Desainer Grafis dan Teknologi

Saat ini, merupakan sebuah keharusan bagi seorang desainer grafis untuk terus mengikuti perkembangan teknologi. Pada era 80-an dan sebelumnya, desainer grafis nyaris tidak ada kewajiban menyimak teknologi canggih. Mereka bekerja secara manual menggunakan penggaris, mal, jangka, spidol, rapido, kuas, cutter, gunting, lem dan peralatan manual lainnya.

Semenjak komputer menggantikan peralatan manual dan menjadi alat bantu utama untuk membantu memvisualisasikan ide desainer, maka desainer wajib mengikuti perkembangan komputer, baik hardware maupun software yang berhubungan dengan desain grafis. Pada tahun 80 hingga 90-an, tidak sedikit desainer yang terkena compuphobia, penyakit “takut” komputer yang mereka anggap sebagai teknologi canggih yang susah dipahami.

Ketika komputer masih menjadi benda menakutkan bagi sebagian desainer, beberapa tahun kemudian muncul kamera digital. Munculnya kamera digital sangat membantu proses kerja desainer. Hasil pemotretan dapat dilihat langsung, diulang jika perlu, kemudian bisa langsung ditransfer ke komputer tanpa melalui proses mencetak terlebih dahulu.

Semua peralatan berteknologi canggih dengan sistem digital ini tentu dimaksudkan untuk mempermudah serta mempercepat proses kerja desainer, dengan hasil yang lebih akurat, presisi dan efisien.

Perkembangan software maupun hardware untuk kemudahan kerja desainer grafis luar biasa pesatnya. Terkadang, saya sendiri sampai kebingungan software mana yang harus dipelajari terlebih dahulu untuk kemudahan dalam membuat sebuah desain. Akan tetapi, semua itu tergantung pada kepentingan awalnya. Menurut pengalaman saya, ada tiga software yang perlu dikuasai terlebih dahulu bagi, yaitu CorelDraw, Adobe Photoshop, dan Adobe Illustrator. Penguasaan yang baik terhadap ketiga software tersebut akan memudahkan pula dalam menguasai software-software lain. Lagi pula, kebanyakan eksekusi dalam mendesain lebih banyak menggunakan ketiga software tersebut.

Lebih hebat lagi kalau kamu menguasai semua software desain grafis berikut ini. Tidak harus menguasai secara penuh. Cukup mengerti dasar-dasarnya saja, lalu ketika klien meminta dibuatkan suatu desain yang mau tidak mau kamu harus menggunakan software tersebut, tentu kamu akan lebih berani dan mudah untuk mengeksekusinya.

Ini dia beberapa software desain grafis yang bisa kamu pelajari dan akan sangat berguna untuk kerja kreatif desainmu. Akan saya bagi dalam beberapa bagian. Untuk desktop publishing, ada Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, Adobe Indesign, CorelDraw, GIMP, Inkscape, Adobe Freehand, dan Adobe Image Ready. Untuk web design ada Adobe Dreamweaver, Microsoft Frontpage, Notepad, juga Adobe Photoshop. Untuk kepentingan audio-visual, ada Adobe After Effect, Adobe Premier, Final Cut, Adobe Flash, Ulead Video Studio, Magic Movie Edit Pro, serta Power Director. Sedangkan untuk aplikasi 3D, ada 3D StudioMax, Maya, AutoCad, Google SketchUp, Light Wave, Blender, serta Softimage.

Wah, banyak ya! Walaupun banyak, cukup kuasai beberapa software yang sesuai dengan kepentinganmu saja. Misalnya kamu ingin menjadi layouter sebuah majalah, kuasai saja Adobe InDesign dan Adobe Photoshop. Menguasai kedua software tersebut dengan baik, sudah cukup untuk menjadi layouter andal.

Yang perlu kamu perhatikan hanya satu hal: tanggaplah terhadap berbagai perubahan yang terjadi dalam teknologi desain grafis. Adapt or die! Kalau sampai tidak tanggap bahwa ada software terbaru, tren model terkini, dan sebagainya, maka peran kamu sebagai desainer grafis lambat laun akan cepat tersingkir. Tetapi, saya yakin, sebagai insan kreatif, akan selalu tanggap terhadap perubahan-perubahan terkini. Karena pada dasarnya orang kreatif memang tidak suka hal-hal yang stagnan, bahkan terus bersemangat untuk menaklukkan tantangan-tantangan baru. Iya, khan? Jadi, jangan pernah berhenti belajar, yah!

 

Lingkup Kerja Desainer Grafis

Apa saja yang dikerjakan oleh seorang desainer grafis?

Berikut ini beberapa rangkuman dari kegiatan kerja seorang desainer grafis dalam beberapa bidang.

Sebenarnya, cakupannya kerjanya sangat luas dan tergantung dengan keinginan klien dan perkembangan jaman yang juga berkempang pesat.

Jadi, beberapa rangkuman di bawah ini hanyalah beberapa saja, dan akan terus bertambah daftarnya sesuai dengan perubahan-perubahan yang pasti terjadi dalam sebuah industri, apalagi industri kreatif yang memang mutlak diperlukan adanya inovasi dan perubahan yang terus-menerus.

Lingkup kerja seorang desainer dalam bidang printing biasanya membuat desain stiker, kartu nama, amplop, kop surat, map, formulir, memo, leaflet, kaver buku, iklan kolom koran, layout koran, layout majalah, iklan majalah, kartu pos, kemasan produk retail, poster, flyer, kalender, brosur, folder, buku, katalog, buku agenda, company profile, kemasan produk, annual report, buku tahunan sekolah, dan lain sebagainya.

Lingkup kerja seorang desainer grafis dalam bidang web, biasanya membuat desain interface, desain banner ads, dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk desainer grafis dalam ranah multimedia, membuat desain presentasi, desain interface program, disc cover, dan lain sebagainya. Dalam ranah identitas, membuat esain logo dan alat branding, graphic campaign, dan lain sebagainya.

Adapun dalam bidang enviromental, membuat membuat desain papan arah, papan pengumuman, desain sign system tools, dan lain sebagainya.

 

Bagaimana Desainer Grafis Mengaktualisasikan Dirinya?

Setiap orang mempunyai selera masing-masing terhadap obyek yang sedang ada di hadapannya. Dari sepuluh orang saja, mereka akan mengatakan tingkat keindahan pada suatu obyek yang berbeda-beda. Karena bagus dan tidak, indah dan tidak, luar biasa dan tidak, masuk ke dalam kategori pandangan pribadi. Inilah yang disebut dengan pertimbangan estetis. Sifatnya sangat relatif dan juga subyektif.

Oleh karena itu, terkadang seorang desainer grafis justru mendapatkan arahan desain yang bagus dan tidak dari nondesainer, atau dalam hal ini adalah kliennya, yang notabenenya justru tidak mengerti prinsip-prinsip dalam desain.

Untuk mengatasi permasalahan ini, desainer harus paham dan mampu menjelaskan apa itu desain grafis kepada non-designer. Terlebih kepada klien, desainer harus punya alasan untuk setiap elemen grafis yang dibubuhkan pada setiap desain, baik itu warna, tekstur, bentuk (shape), dll. Hal ini akan membuat mereka paham bahwasanya desainer bekerja berdasarkan tehnik dan metode tertentu dalam menyampaikan pesan secara visual, dan bukan sekedar asal meletakkan elemen grafis pada sebuah karya desain. Intinya, tidak asal-asalnya dalam membuat sebuah karya desain.

Lalu, bagaimanakah agar seorang desainer grafis tetap berdaya guna dan terus dapat mengibarkan bendera kreativitasnya dengan baik?

#1: Adapt or Die!

Desainer grafis ibarat seekor bunglon, yang harus bisa menyesuaikan diri dengan baik dalam setiap projek. Oleh karena itu, pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang pun dibutuhkan. Karena setiap klien akan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Hal ini yang membuat kenapa desain grafis merupakan profesi yang sangat berat.

Seorang street artist adalah seniman idealis. Bila ia masuk ke industri desain grafis, akan sering beradu argumen dengan klien. Padahal, desain grafis adalah pemecah masalah dan pemberi solusi bagi klien. Mengapa bisa begitu? Karena street artist biasanya sangat fanatik dengan gaya visualnya sendiri, sehingga tidak bisa mengubah style-nya sesuai dengan brief yang diberikan oleh klien. Seorang desainer grafis profesional harusnya menjadi pemberi solusi bagi masalah visual yang tengah dihadapi klien. Maka, jadilah ‘bunglon’ yang baik.

 

#2: Skill to Win, Style to Shine!

Menguasai software grafis seperti Photoshop, CorelDraw, dan Illustrator saja tidak cukup. Memiliki estetika yang tinggi dan kemudian mengeksekusinya dengan bantuan software, mutlak diperlukan. Keduanya saling berkaitan. Memiliki seni yang tinggi tapi tak bisa mengoperasikan software sama juga bohong, begitu pula sebaliknya. Memiliki kemampuan menggambar manual juga akan menjadi poin plus tersendiri. Selain itu, harus memiliki lautan ide yang banyak, memiliki keterampilan komunikasi yang baik, dan juga cara memasarkan skill.

#3: Menentukan Karier

Ada tiga macam tempat bagi seorang desainer grafis untuk melesatkan kariernya, yaitu Studio, In-House, dan Freelance.

– STUDIO

Bekerja di studio desain sejenis advertising, agency, dan studio kreatif lain. Dalam kondisi ini biasanya desainer akan menghadapi beragam klien dengan berbagai tipikal masing-masing. Selain itu, desainer di studio biasanya harus bekerja dalam deadline yang padat, dan bekerja dengan deadline yang sangat dekat bisa mengakibatkan desainer miskin ide, dan jarang mengaplikasikan proses kreatif dalam pembuatan desain.

Standar jam kerja pada studio desain biasanya berkisar antara 7-9 jam perhari. Ini akan membuat desainer tidak punya cukup banyak waktu untuk melakukan penyegaran baik bagi tubuh maupun bagi otak dan ide-ide kreatifnya. Padahal, keadaan yang demikian diperlukan desainer untuk menciptakan ide-ide kreatif pada saat membuat sebuah desain.

Namun, desainer yang bekerja di studio desain biasanya akan lebih mampu menguasai desain dan penggunaan tool-tool desain karena mereka diharuskan bekerja dengan cepat oleh perusahaan. Selain itu, variasi project yang dikerjakan akan mengasah kemampuan desain dari desainer itu sendiri.

Nilai plus lain dari desainer yang bekerja pada studio desain adalah kondisi kerja yang ramai dalam suatu perusahaan, sehingga mungkin desainer tidak akan mengalami kebosanan. Satu lagi, desainer yang bekerja di studio desain biasanya mendapat penghasilan secara tetap walaupun jumlahnya standar.

– IN-HOUSE

Desainer In-House biasanya bekerja dengan lebih santai karena project yang harus dikerjakan tidak sebanyak desainer yang bekerja di studio desain. Selain itu, desainer In-House biasanya punya penghasilan yang besar, karena bila ada proyek dikerjakan sendiri dan hasilnya pun dinikmati sendiri. Akan tetapi, proyek yang itu-itu saja mengakibatkan desainer tidak mendapat cukup latihan untuk pengembangan ilmu desain maupun penguasaan tool. Sehingga, ada kesan desainer In-House akan mengalami peningkatan skill yang lambat, kecuali dia adalah seorang pembelajar yang sangat giat dan penuh semangat.

– FREELANCE

Menjadi freelancer berarti memiliki kebebasan waktu yang sangat baik, bahkan berlebih. Menjadi desainer grafis freelance berarti harus membangun pasar sendiri dan menjemput bola untuk mendapatkan orderan kerjaan. Desainer freelance akan memiliki kebebasan waktu yang cukup, akan tetapi bisa jadi mengalami kebosanan, dan gaji yang tidak tetap sehingga sering menimbulkan kekhawatiran bagi diri sendiri. Apalagi, bagi yang sudah berkeluarga.

#4: Always Happy and Fun

Sangat tidak lucu bila seorang desainer grafis tidaklah kreatif. Tapi, bisa jadi terkadang kreativitas memang mengalami kementokan. Terdapat beberapa cara agar menjadi pribadi yang kreatif dan memiliki stok ide yang cukup baik.

Jadilah pribadi yang periang dan penuh gairah. Kondisi seperti itu akan membuat pikiran selalu fresh dan bersemangat mengerjakan proyek-proyek. Selain itu, tetaplah tenang dalam menghadapi setiap permasalahan—dalam kasus ini proyek-proyek yang sulit untuk diselesaikan. Deadline hanyalah pemacu agar kita berusaha lebih keras dan memaksimalkan kreativitas. Percayalah, saat telah berhasil menyelesaikan ‘tantangan’ proyek tersebut, rasanya akan sangat memuaskan sekali.

Jangan lupa pula, desainer juga butuh udara segar, gak ada salahnya berkeliling menghirup udara segar dan memanjakan mata dengan pemandangan pemandangan yang bagus. Hal ini biasanya akan membuat pikiran jadi lebih fresh untuk siap kedatangan ide-ide baru.

#5: Koleksi Inspirasi

Sudah tidak asing lagi, menyimpan berbagai inspirasi dari yang bersifat maya hingga nyata, adalah kesibukan seorang desainer. Browsing berjam-jam biasanya memang hanya untuk mencari inspirasi. Nah, agar kreativitas tetap berjalan, arsipkanlah segala yang telah disimpan dalam komputer, pilah-pilahlah apakah itu file gambar berupa brosur, poster, flyer, wallpaper, dan inspirasi lainnya. Agar suatu saat, dapat dengan mudah untuk dipanggil kembali inspirasi tersebut.

#6: Bergabung dengan Komunitas

Ada banyak forum desain dalam dunia maya. Apalagi, setelah adanya Facebook, banyak sekali grup-grup yang bisa digunakan sebagai komunitas pembelajaran, misalkan DesignDiary, JogjaForce, Tribute Troopers, Institut Vector Indonesia, Wow Magz, dan lain sebagainya. Komunitas atau organisasi secara offline yang harus diikuti adalah Asosiasi Desain Grafis Indonesia, yang tiap kota besar biasanya ada chapter-nya. Atau, bikinlah komunitas sendiri. Di Depok, ada Depok Creative yang diketuai oleh Lahandi Baskoro. Di Solo, ada Opor Kreatif. Dan masih banyak lagi komunitas-komunitas yang berbasis sharing kreativitas secara rutin dan seringnya juga gratisan.

Bergaul dengan sesama desainer dan membicarakan hal seputar desain memang mengasikkan. Namun, cobalah untuk menjelajah keluar dan berbaur di luar komunitas desain. Bergaullah dengan komunitas crafting, rubik, BMX, skateboard, musik, dan lain sebagainya yang justru bisa menimbulan wawasan baru dan juga kreativitas baru. Agar tidak monton dan dinamis dalam menjalani aktivitas.

 #7: Hidup Sehat

Bergadang, rokok, dan kopi mungkin bagi sebagian desainer adalah pacar kedua setelah komputer. Tapi, mengatur pola hidup jauh lebih penting. Selain itu, juga membuat pikiran fresh dan membuat ide mengalir deras. Biasakanlah untuk memperhatikan pola makan, pola tidur dan berolahraga. Buat apa banyak harta tapi badan tak sehat. Buat apa kreatif tapi badan tak sehat.

#8: Memasang Portofolio

Koleksi hasil karya sangat penting. Dalam ranah online, banyak sekali website yang menyediakan tempat untuk menyimpan portofolio yang bisa menjadi bargainning position dan bisa ditawarkan kepada klien, misalnya adalah deviantart.com, behance.net, shadowness.com, dan lain sebagainya. Dalam pembuatan kartu nama, dan alamat promosi pribadi lainnya, cantumkan selalu alamat website yang menjadi tempat penyimpanan portofolio. Lebih bagus lagi, bila website tersebut adalah web pribadi, sebagaimana yang dimiliki oleh Denny Budi Susetyo alias Design Maker Syndicate yang memiliki web sebagai tempat portofolio pribadi di digitalmainstrem.net.

#9: Mengoleksi Buku dan Majalah

Mengoleksi buku dan majalah berbau desain grafis juga suatu keharusan. Majalah seperti Concept, Babyboss, dan Versus, haruslah menjadi majalah wajib koleksi. Itu majalah yang versi cetak. Di internet, banyak sekali majalah grafis yang formatnya digital, seperti WowMagz, Vektorika, Warung Magz, Bajigur, dan lain sebagainya. Belum lagi dari majalah digital luar negeri, sangat banyak sekali. Silakan untuk berselancar di internet mencarinya. Semuanya gratis unduh. Sedangkan buku-buku desain grafis, untuk produk lokal sekarang sudah lumayan banyak. Apalagi yang bersifat tutorial untuk CorelDraw, Photoshop, dan juga Illustrator, sangat banyak sekali. Jika ingin mendapatkan buku-buku superkeren tentang desain grafis, kunjungi saja toko buku Kinokuniya. Saya jamin, akan betah seharian di sana.

#10: Aksi Sosial

Selain terus sibuk meningkatkan skill, dan terus mengerjakan orderan klien, jangan pernah lupa untuk bersosialisasi dan melakukan aksi sosial. Seorang desain grafis adalah seorang yang kreatif. Lakukanlah aksi sosial dengan sharing ilmu, pengetahuan, ataupun skill. Bisa saja lewat blog, atau lewat seminar-seminar kecil berbasis komunitas kreatif. Selain sebagai sebuah rasa syukur atas kemampuan yang kamu miliki, juga sebagai personal branding yang lebih baik ke depannya.

Yap, demikian sedikit ulasan sederhana agar kita lebih memahami tentang dunia desain grafis dan apa peran seorang desainer grafis di dalamnya. Jangan lupa share kalau postingan ini bermanfaat, ya. Selamat mengarungi dunia kreatif yang superkeren!

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 1
    Share
  • 1
    Share

Leave a Comment