Kisah Ali

Mata Rantai Keteladanan

Kapankah pengajakan kebaikan tak lagi memerlukan kekata untuk dihadirkan? Jawabnya, saat akhlak seindah pelangi terhadirkan dalam kehidupan. Di sanalah, keteladanan menjadi inspirasi dari orang-orang yang mengenal kita.

Uniknya, saat kita peduli dan berbuat baik kepada siapa saja, saat kita tak lagi hadir di tengah-tengah mereka, kita masih diperbincangkan dan menjadi teladan. Yang terkaget-kaget biasanya adalah orang-orang terdekatnya yang sama-sama mempunyai sifat yang sama. Mereka biasanya didatangi dari orang-orang yang rindu dengan sosoknya yang telah hilang tersebut, seraya menyebut-nyebut rerentet kebaikan yang pernah dihadirkan untuk dirinya. Saat itulah, mereka sama-sama menangis. Bukan karena marah atas ketentuan-Nya yang mengambil sosoknya terlalu dini dari hadapan mereka. Tetapi, mereka rindu, kangen, dan ingin sekali lagi berdekat-dekat dengannya lagi. Nah, di saat itulah, mereka pun mulai berjibaku dengan segala kebaikan, karena ingin dikumpulkan di surga bersamanya, dan juga ingin menjadi sosok penuh keteladanan, agar dapat menjadi inspirasi kebaikan bagi yang lainnya.

Inilah mata rantai keteladanan.

Maka, kita mendapati reriwayat yang tertera dari gerak hidup salafush shalih, senantiasa membuat kita tercengang. Subhanallah, ada begitu banyak inspirasi keteladanan yang terhadirkan.

Kali ini, mari menggalinya dari sosok Ali bin Husain, yang dalam riwayat Abdurrahman bin Hafsh Al-Qurasyi, ia berkata, “Setiap kali Ali bin Husain hendak berwudhu, maka wajahnya berubah kuning pucat. Keluarganya pun bertanya kepadanya, ‘Mengapa engkau memiliki kebiasaan seperti ini?’ Ia menjawab, ‘Tahukah kalian, kepada siapa aku hendak menghadap?’.”

Inspirasi keteladanan yang dihadirkan Ali bin Husain memang patut untuk kita seksamai. Agar kita mengerti, orang-orang semacam ini, memang benar-benar pernah ada terhadirkan di bumi. Mari menyeksamai keteladanan darinya.

Pertama, keteladanan untuk memposisikan diri.

“Bila Ali bin Husain berjalan,” kata Abdullah bin Abi Sulaim, “maka tangannya tidak sampai melewati pahanya dan tidak pernah melambaikan tangannya. Apabila ia hendak melaksanakan shalat, tubuhnya bergetar. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab, ‘Tahukah kalian, di hadapan siapa aku berdiri dan bermunajat?’.”

Kedua, keteladanan untuk terus mengingat akhirat.

“Pernah terjadi kebakaran di sebuah rumah yang di dalamnya ada Ali bin Husain,” kata Abu Nuh Al-Anshari, “Ketika itu, ia tengah bersujud. Maka, orang-orang pun berteriak, ‘Wahai cucu Rasulullah, ada api! Wahai cucu Rasulullah, ada api!’ Akan tetapi, ia tidak beringsut sedikit pun, hingga api berhasil dipadamkan. Ketika dikatakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu tak mempedulikan api tersebut?’ Ia menjawab, ‘Aku disibukkan hanyut memikirkan api-api neraka’.”

Ketiga, untuk selalu melihat diri dan tak menyalahkan yang lain.

Teriwayatkan dari Sufyan, ia berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada Ali bin Husain, ia berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya si fulan menyakiti dan menuduhmu yang bukan-bukan. Ia berkata, ‘Mari kita mendatanginya!’ Maka Ali pun pergi bersamanya ke sana. Ali melihat orang ini hendak memberikan pembelaan untuk dirinya. Maka, sesampai di sana ia berkata, ‘Hai fulan, jika yang kau katakan tentang diriku itu benar, semoga Allah mengampuniku. Tapi, jika yang kau katakan tentang diriku batil (keliru), semoga Allah mengampunimu!’.”

Itulah Ali, bahkan ketika posisinya terpojok seperti itu, beliau masih menggunakan waktunya bukan untuk menyalahkan pihak lain, tapi untuk terus memuhasabahi diri. Maka tak heran, jika kita mendapati dalam salah satu bait doanya,

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai Engkau perbagus penampilan lahiriyahku di hadapan semua orang, sementara batinku Engkau perburuk. Ya Allah, sebagaimana aku telah berbuat jahat kepada-Mu, tapi Engkau senantiasa berbuat baik kepadaku, maka ketika aku kembali berbuat jahat, perlakukanlah kembali aku dengan baik.

Keempat, shalat malam memanglah menjadi agenda rutin bagi mereka orang-orang shalih.

Melazimkan diri untuk shalat malam memang seharusnya jangan sampai absen. Karena saat itulah kita bisa berdekat-dekat dengan-Nya, untuk mengambil energi keshalihan di pagi harinya. Nah, Ali bin Husain ini, ia tidak pernah meninggalkan shalat malam, baik ketika muqim maupun bepergian.

“Aku heran dengan orang sombong dan berbangga diri,” katanya, “yang kemarin dia adalah air mani dan esok akan menjadi bangkai. Aku sangat heran dengan orang yang ragu tentang keberadaan Allah, padahal ia melihat ciptaan-Nya. Aku sangat heran dengan orang yang mengingkari penciptaan kedua kalinya (hari berbangkit), padahal ia melihat penciptaan pertama. Aku heran sekali dengan orang yang bekerja untuk negeri fana, namun meninggalkan bekerja untuk negeri abadi.”

Kelima, mengambil aksi-aksi diam, yang kita jadikan sebagai amalan unggulan untuk menghadap-Nya.

Setiap kita, bisa memiliki amalan unggulan. Ada mereka yang berazzam untuk tak melepas diri dari membaca Al-Qur’an di tiap harinya, dan itulah amalan unggulannya, walau kadang-kadang, shalat dhuhanya sempat bolong juga. Tapi, ia tetap mempunyai amalan unggulan.

Ada mereka yang menjadikan shalat malam sebagai amalan unggulannya. Ada yang shadaqah. Ada pula yang aktivitas menulis, dijadikan sebagai amalan unggulannya. Setiap orang berbeda-beda. Biasanya, kepada jenis ibadah yang paling dicintainya.

Ali bin Husain ini, mempunyai amalan dalam diam, yang tak semua orang tahu akan amalan unggulannya ini. Dari Syaibah bin Nu’amah, ia berkata, “Ketika hidup, Ali bin Husain dikenal bakhil. Tapi ketika beliau sudah meninggal, orang-orang baru tahu kalau ia menanggung makan 100 keluarga di Madinah.” Dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata, “Dahulu, penduduk Madinah hidup dan tidak tahu dari mana mereka mendapatkan jatah penghidupan. Ketika Ali bin Husain meninggal dunia, mereka kehilangan apa yang biasanya mereka terima di malam hari.”

Dari Abu Hamzah Ats-Tsimali, ia berkata, “Salah satu kebiasaan Ali bin Husain adalah memikul sekantong roti di malam hari, lalu ia menyedekahkannya. Ia berkata, ‘Sesungguhnya, sedekah secara diam-diam dapat memadamkan kemarahan Allah Azza wa Jalla’.”

Dari Amru bin Tsabit, ia berkata, “Ketika Ali bin Husain meninggal dunia, orang-orang memandikannya dan melihat ada bekas kehitam-hitaman di punggungnya. Mereka bertanya-tanya, bekas apakah ini? Maka ada sebagian yang menjawab, ‘Itu bekas dia memikul kantong gandum yang ia pikul di malam hari untuk diberikan kepada orang-orang fakir Madinah’.”

Ah, Ali bin Husain, memberikan keteladanan bak pelangi. Warnanya indah, menggemaskan. Membuat rindu, memendah kasih. Tak terperi. Aksinya menyebarkan rahmat untuk seluruh alam. Walau lelah merantaskan kaki. Walau peluh membasah raga. Walau penat senantiasa menyengat. Semua selalu tertujukan untuk keridhaan-Nya. Menyemaikan kalimah-Nya agar bertebaran indah di bumi-Nya. Dan ketika akhlak-akhlak indah itu terhadirkan, pengajakan kepada kebaikan justru hadir bukan hanya lewat kata, tetapi juga keteladanan. Dan berteladan kepada manusia-manusia teladan, adalah cara untuk menjadi sosok yang suatu hari nanti juga bisa menjadi teladan.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment