Mari Membangun Istana di Surga

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menyadari bahwa Islam memberikan peluang yang sama besar pada laki-laki maupun perempuan untuk mereguk sebanyak mungkin pahala yang Allah sediakan bagi mereka yang beramal.

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menjadikan diri kita dewasa. Bukan hanya dewasa dari segi fisik atau usia, tetapi dituntut untuk bisa dewasa atau matang dalam sikap dan perbuatan. Baik dewasa di hadapan anak-anak dan keluarganya, ataupun teman-teman yang sering menyapa. Dewasalah juga terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Sepelik, serumit apapun. Sesulit, sekusut apapun.

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menyadari bahwa kita begitu mulia dalam Islam. Walaupun masyarakat pra Islam, baik zaman sebelum Rasul maupun zaman kini, kebanyakan memandang perempuan sebagal makhluk yang berderajat rendah. Lihat saja, Umar bin Khattab bahkan pernah memberi kabar, “Pada zaman jahiliyah kami tak pernah memberikan hak apapun pada wanita. Sampai Allah menurunkan perintah yang penting pada mereka dan memberikan pada mereka bagian yang tepat.” Atau Aristoteles yang memandang wanita sebagai ‘makhluk yang belum selesai penciptaanya’. Atau juga dalam Rig Weda yang tertulis, “Tidak boleh menjalin persahabatan dengan wanita. Pada kenyataannya, hati wanita adalah sarang serigala.” Dan dalam Islam, wanita begitu terhormat. Dan dalam Islam, wanita begitu mulia. Dan dalam Islam, mereka turut mewarnai sejarah emasnya. Baik dulu, kini, ataupun nanti.

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menjadi seorang muslimah yang inovatif. Selalu mempunyai gagasan dan ide-ide baru hingga segala sesuatu tidak terkesan monoton dan membosankan. Baik dalam urusan rumah tangga (mulai dari urusan menu masakan sampai urusan interior rumah). Ataupun, dalam kontribusi kita dalam menegakkan Islam. Karena hidup harus kreatif. Sebegitu juga dakwah.

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menjadi pendendang lega bagi suami. Penaka Khadijah saat Rasulullah SAW ketika beliau mendapat wahyu pertama. Khadijah menenangkan beliau. Khadijah juga yang setia mendampingi Rasulullah SAW dalam setiap langkahnya. Seorang istri haruslah bisa jadi penyejuk dalam setiap langkah suaminya, penerang dalam gelapnya. Lentera dalam setiap pekatnya.

Mari membangun istana di surga. Dengan cara menjadi muslimah yang inspiratif di tengah lingkungannya. Selalu menjadi inspirasi kebaikan. Di manapun berada. Selalu menyenandungkan pahala, di mana berada.

Mari membangun istana di surga. Dengan caramu sendiri. Tentu saja, asal sesuai syari’at-Nya. Dengan segala daya. Dengan segala upaya. Dengan segenap potensi yang ada. Dengan begitu, kita membangun istana di surga. Untuk kita nikmati kelak. Atas segala payah yang telah melelah kita di dunia. Atas segala upaya yang melunglai raga dan jiwa.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment