kiat menulis artikel

Kiat Mahir Menulis Artikel dari Pamusuk Eneste

Menulis itu gampang-gampang susah. Gampang—tentu—bagi yang sudah mahir menulis. Susah—mungkin—bagi yang belum pernah menulis. Bagi yang sudah mahir, menulis artikel sama dengan pekerjaan rutin. Misalnya, bagi wartawan,  kolumnis, atau penulis profesional. Ini masuk akal karena memang pekerjaan mereka  menulis.

Namun, bagi pemula, menulis artikel itu mungkin merupakan siksaan. Bayangkan, seseorang yang belum pernah menulis artikel, tahu-tahu disuruh menulis artikel. Dari mana memulainya? Bagaimana memulainya? Caranya bagaimana? Lalu, apa yang harus ditulis?

Para pemula tentu tak perlu khawatir karena menulis artikel itu sebetulnya bisa dipelajari. Untuk itu, berikut ini disajikan hakikat artikel, struktur artikel, materi artikel, langkah-langkah menulis artikel, panjang artikel, membuat judul artikel, dan tip bagi pemula.

 

Hakikat Artikel

Apakah hakikat artikel itu? Hakikat artikel adalah ide. Ada ide yang ingin dikemukakan pada orang lain (pembaca). Apakah ide itu? Ide ini adalah sesuatu yang ingin dikemukakan kepada khalayak. Ide dapat  berupa pendapat mengenai suatu persoalan, tanggapan terhadap masalah tertentu, pemecahan persoalan, atau yang lain.

Tanpa ide (= sesuatu yang ingin dikemukakan), pastilah seseorang tak bisa menulis. Jadi, mula-mula harus ada ide. Ide itulah yang menggerakkan seseorang untuk menulis.

Dengan kata lain, ide itu adalah mesin penggerak. Jadi, sebelum mulai menulis,  seorang penulis artikel harus bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku mempunyai ide? Apa ideku? Ide apa yang ingin aku sampaikan kepada pembaca?   

Perhatikan bagan berikut.

IDE –> ARTIKEL –> MEDIA CETAK –> PEMBACA

 

Struktur/Pola Artikel

Adakah struktur/pola artikel yang bisa dipelajari? Artikel biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu Bagian Pembukaan, Bagian Isi, dan Bagian Penutup. Dalam artikel, ada kemungkinan nama bagian ini tidak disebutkan secara jelas (eksplisit), kecuali barangkali “Pengantar” dan “Penutup”.

Bagian Pembukaan adalah semacam pengantar ke dalam tulisan. Pada bagian ini dikemukakan, misalnya, hal-hal yang mendorong penulis untuk membuat artikel itu. Lantas, pada bagian akhir Pembukaan biasanya juga dicantumkan hal-hal (subjek) yang akan dikemukakan dalam sub-sub di bawahnya (Bagian Isi).

Pada Bagian Isi dikemukakan ide penulis. Ide itu tentu harus dijabarkan menjadi sub-sub atau alinea-alinea (paragraf-paragraf) yang logis dan sistematis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

Bagian Penutup adalah semacam rangkuman atau kesimpulan artikel. Ide yang dikemukakan pada Bagian Isi dirangkum atau disimpulkan  pada bagian ini.

Adakah persentase bagian-bagian ini?

Ada. Kira-kira sebagai berikut:

  1. Pembukaan: 10-15%
  2. Isi: 70-80%
  3. Penutup10-15%

Namun, persentase ini hanya ancer-ancer. Sifatnya relatif. Yang penting diingat adalah Bagian Isi memperoleh porsi terbanyak dari sebuah artikel. Bagian Pembukaan dan Bagian Penutup hanya bagian kecil. Bahkan Bagian Isi masih tetap lebih banyak (lebih panjang) dibandingkan dengan penjumlahan Bagian Pembukaan dan Bagian Penutup.

 

Materi Artikel

Apa yang bisa ditulis? Pertanyaan ini bisa dijawab dari dua segi, yaitu segi materi/tema dan segi  penulis.

Dari segi materi/tema, apa saja sebetulnya bisa dibuat artikel. Asal tahu caranya. Asal tahu kiatnya.  Begitu banyak persoalan di sekitar kita.

Persoalan itu bisa dibagi tiga, yaitu

  1. persoalan yang tahan sepanjang tahun,
  2. persoalan yang muncul secara periodik, dan
  3. persoalan yang sedang hangat (dadakan/sporadis/aktual).

Persoalan yang tahan sepanjang tahun, antara lain, mengenai  kemacetan lalu lintas, pendidikan anak, hubungan orang tua dan anak, olahraga, agama, dan  politik. Persoalan ini tentu bisa diperpanjang menurut kebutuhan.

Persoalan yang muncul secara periodik, antara lain, pemilu (1 x 5 tahun),  tahun ajaran baru (1 x 1 tahun), liburan (cawu dan tahunan), Lebaran dan Natal (1 x 1 tahun), dan Proklamasi Kemerdekaan RI (1 x 1 tahun). Dalam hal ini,  kita harus mengetahui atau menghafalkan tanggal-tanggal penting berdasarkan kalender.

Ada pula masalah yang muncul secara mendadak (sporadis/aktual). Artinya, persoalan itu tergantung pada keadaan, tergantung pada situasi tertentu. Misalnya, soal pornografi, soal  kecurangan pemilu, soal kenaikan tarif  angkutan umum, soal kenaikan BBM, soal penyempurnaan kurikulum, soal dukun santet, dan soal Kejaksaan Agung RI.

Dari segi penulis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, sebaiknya kita hanya menulis artikel mengenai masalah yang kita minati. Artinya, kita hanya bisa menulis tentang masalah yang menarik minat kita. Kalau  tidak berminat di bidang yang kita tulis, kemungkinan besar kita akan “sulit” atau bahkan gagal menyelesaikan artikel itu.

Kedua, sebaiknya kita hanya menulis  artikel yang kita kuasai ilmu/bidangnya. Jadi, kalau kita tidak mengerti soal pesawat terbang, kita tak perlu menulis mengenai itu. Kalau kita “buta huruf” mengenai  konstruksi jembatan layang atau pembangunan jalan tol, kita tak perlu memaksakan diri menulis tentang itu. Dengan kata lain, janganlah menulis tentang sesuatu yang kita tidak kuasai ilmu/bidangnya.

 

Baca juga: Panduan untuk Penulis Pemula dalam Menaklukkan Penerbitan

 

Ketiga, sebaiknya kita hanya menulis artikel mengenai sesuatu yang kita miliki bahan/materinya. Bahan/materi ini bisa berupa buku, majalah, guntingan/kliping koran, atau yang lain.

Keempat, agar layak muat atau gampang dimuat, sebaiknya kita menulis artikel  mengenai sesuatu yang sedang  aktual,  ngetren, atau in dalam masyarakat. Dijamin bahwa  tulisan itu akan cepat dimuat. Tentu setelah memenuhi persyaratan yang lain.

Khusus untuk buletin/majalah sekolah, tentu ada tema-tema yang layak dituliskan atau disajikan. Tidak semua persoalan yang layak untuk media cetak umum, juga layak muat/saji untuk buletin/majalah sekolah.

Buletin/majalah sekolah sifatnya lebih khusus. Pembacanya juga hanya terbatas pada satu sekolah. Jadi, pengelola buletin/majalah sekolah sebaiknya tidak mencoba menyaingi media cetak umum. Itu tak perlu. Buletin/majalah sekolah akan selalu kalah bersaing.

 

Sepuluh Langkah

Ada beberapa langkah yang ditempuh penulis artikel  mulai dari awal hingga artikel siap kirim.

Langkah 1. Siapkan ide yang akan ditulis. Ide apa yang akan kita kemukakan dalam artikel?

Langkah 2. Catatlah/tuliskan cetusan-cetusan pikiran yang muncul sekitar ide itu. Catat sebanyak mungkin pada selembar atau beberapa lembar kertas. Mereka yang  mempunyai komputer tentu bisa langsung menuliskan cetusan-cetusan pikiran itu pada layar komputer.

Langkah 3. Kelompokkanlah  catatan/cetusan pikiran itu menjadi tiga bagian yang disebut tadi: Bagian Pembukaan, Bagian Isi, dan Bagian Penutup. Setelah dikelompokkan pada kertas semula, pindahkan pada kertas baru.

Sambil mengelompokkan, biasanya akan muncul cetusan-cetusan pikiran/pendapat yang baru. Catat semuanya dan tambahkan pada kelompok-kelompok itu.

Langkah 4. Mulailah  menulis/menyusun artikel,   baik dengan mesin tik maupun dengan  komputer. Hasil penulisan  itu  merupakan Buram 1. Tulisan ini masih kasar. Mungkin bahasanya masih kacau, datanya belum lengkap, dan susunannya masih jungkir balik.

Langkah 5. Lengkapi Buram 1 dengan informasi yang relevan (dari buku, majalah, koran) guna mendukung artikel itu. Hasilnya  merupakan Buram 2.

Langkah 6. Poleslah kembali Buram 2. Perhalus bahasa yang masih kasar. Ganti kata-kata yang kurang pas. Perbaiki ejaan yang salah. Hasil perbaikan  merupakan Buram 3.

Langkah 7. Bacalah kembali Buram 3. Periksa kutipan pendapat orang dari buku, majalah, atau koran. Periksa sumbernya, apakah sudah betul. Periksa nomor halamannya, apakah sudah betul.

Langkah 8 . Jangan lupa mencantumkan judul artikel pada bagian atas.  Kalau perlu, artikel bisa juga dibagi ke dalam beberapa subjudul. Pembagian ini juga bisa dilakukan dengan mencantumkan  angka Arab (1, 2, 3 dan seterusnya),  angka Romawi (I, II, III dan seterusnya), atau tanda bintang (*).

Langkah. Jangan lupa mencantumkan nama kita (nama penulis) di bawah judul artikel. Kalau diperlukan, identitas kita dicantumkan pada bagian bawah kanan.

Langkah 10. Artikel siap ditik bersih atau dicetak (komputer). Artikel siap dikirimkan ke media cetak.

Panjang Artikel

Adakah  ukuran panjang yang standar (baku) untuk sebuah artikel?

Tidak ada. Hal ini  tergantung pada kebijaksanaan tiap media cetak. Harian/koran (Kompas dan  Suara  Pembaruan) biasanya sekitar 3-5 halaman kuarto, 2 spasi. Majalah Gatra atau Tempo, misalnya, mengenal dua pola artikel. Pertama, pola 1 halaman cetak (= 3 halaman kuarto) dan kedua, pola 2 halaman cetak (= 6 halaman).

Perlu diperhatikan,  artikel biasanya hanya untuk sekali muat. Jadi, artikel  tidak bersambung ke esok harinya, atau minggu depannya, atau bulan depannya.

Perlu pula diketahui, lazimnya  artikel harus bisa sekali baca. Sekali duduk bisa tuntas dibaca. Jadi, artikel itu tidak dirancang untuk berpanjang-panjang atau bertele-tele.

 

Judul  Artikel

Kapan dibuat judul artikel? Ada dua cara. Pertama, sebelum kita mulai menulis. Kedua,  setelah tulisan selesai dibuat. Keduanya ada untung-ruginya.

Kalau judul dibuat lebih dulu, kita akan terikat pada judul itu. Ada kemungkinan kita akan jadi sulit “bergerak”. Namun, ada juga keuntungannya. Adanya judul itu membuat kita  tidak ngelantur ke sana kemari. Jadi, sudah ada “pedoman kerja”.

Sebaliknya, kalau judul artikel dibuat belakangan, kita bisa longgar atau bebas. Judul artikel disesuaikan dengan isi atau kandungan artikel yang sudah jadi. Namun, ada juga ruginya. Pikiran kita bisa “bercabang” ke sana kemari.

Mana yang lebih baik?

Tentu tergantung pada pribadi masing-masing. Jadi, tidak ada resep yang paten untuk itu.

 

Tip bagi Pemula

Berikut ini dicantumkan tips bagi pemula.

Satu, tulislah artikel  yang menarik minat Anda.

Dua, tulislah artikel mengenai masalah  yang kita ketahui duduk perkaranya (ilmu/bidangnya).

Tiga, jangan sekali-kali menulis tentang materi yang tidak kita kuasai/miliki.

Empat, tulislah artikel mengenai masalah  yang  aktual, ngetren, atau in dalam masyarakat. Untuk buletin/majalah sekolah: disesuaikan dengan sekolah bersangkutan.

Lima, jangan membuang artikel Anda yang pernah ditolak media cetak. Simpanlah artikel itu. Siapa tahu suatu ketika bisa dimanfaatkan kembali.

 

Penutup

Menulis artikel itu bisa dipelajari asal kita tekun. Mula-mula memang sulit, tetapi kalau kita rajin dan tekun, lama-lama akan terasa gampang.

Jadi, jangan kapok berusaha. Siapa tahu, Anda jadi penulis artikel yang andal kelak.

Selamat mencoba!

 


*Materi ini disampaikan oleh Pamusuk Eneste dalam acara Diklat Penerbitan dengan Spesialisasi Penerbitan Majalah yang diselenggarakan Pusat Grafika Indonesia di Gedung Pusgrafin, di Jakarta, pada 5 Agustus 1999.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment