hidup tak boleh mengalir seperti air

Hidup Tak Boleh Mengalir Seperti Air

Peristiwa hijrah adalah peristiwa visi yang luhur. Beliau merencanakan detail-detail perjalanan hijrahnya. Dimulai dengan memilih teman perjalanan, yaitu sahabat terbaiknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kemudian, memilih jalan yang ditempuhnya, di mana beliau memilih satu jalan yang tidak biasa dilewati kaum Quraisy, yaitu jalan pesisir. Demikian juga berdiam di sebuah gua di Gunung Tsur selama tiga malam, sampai situasi kembali aman untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian, beliau memilih Abdullah bin Uraiqith, seorang musyrik, sebagai penunjuk jalan dan mengutus Abdullah bin Abu Bakar untuk mencari kabar tentang kaum Quraisy, dan diakhiri dengan Amir bin Fahirah yang menggembala kambing di sekitar gua, sehingga lebih menjaga keamanan.

Ah, Nabi kita ini pun masih mengukir rencana untuk mewujudkan visinya. Tidak pasrah begitu saja.

Ada memang, sebagian orang yang menjalani hidup seperti air. Ah, ngalir sajalah. Apa yang ada di depan, kita jalani saja. Toh, kita tak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Lagipula, semua sudah ditakdirkan. Buat apa membentuk mimpi-mimpi. Semua sudah digariskan dalam kehidupan ini. Kalau memang ditakdirkan kaya, ya kaya. Kalau memang sudah ditakdirkan sukses ya sukses. Kalau miskin, ya miskin aja. Ngapain repot-repot. Toh semua sudah ada yang mengatur.

 

Perencanaan-perencanaan, kita perlukan untuk mengubah masa depan. Perencanaan-perencanaan dibuat agar kita mempunyai target. Dan ketika kita punya target, kita akan terlecuti untuk melompat, memompa diri, melakukan aksi untuk memenuhi target itu. Dan ketika kita melakukan itu, segala potensi akan kita kerahkan. Dan itu, adalah bentuk kesyukuran.

 

Takdir adalah ruang misteri. Bagaimana bila kita bermaksiat. Apakah itu takdir juga? Tidak. Bukan. Karena kita berhak memilih, berbuat baik atau bermaksiat. Dan itu akan mengubah masa depan kita: jannah atau neraka. Nah, karena takdir adalah ruang misteri maka kita memilih, kita merencanakan, untuk menyesuaikan diri, agar senantiasa sesuai dengan rencana-Nya.

Dan prinsip hidup kita, bukanlah seperti air, yang selalu turun ke bawah. Tapi hidup kita harus meloncat. Semakin hari, semakin tinggi. Orang-orang yang kalah sebelum turun ke medan laga adalah yang tidak menyadari bahwa dalam dirinya ada kekuatan, tapi ia menyepelekan bahkan membuangnya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment