Grit dan Growth Mindset

Apa yang diperlukan untuk sukses? Jawabannya hanya dua hal fundamental, yakni grit dan growth mindset.

Lalu, apa sih grit dan apaan sih growth mindset?

Sebelum membahas terlalu jauh, mari kita definisikan terlebih dahulu dua hal, yakni perbedaan antara sukses dan maju.

Menurut kamu apa?

Menurut idola saya, Mas Roni, sukses adalah ketika kita sudah mencapai titik tertentu dari impian atau ambisi kita. Misalkan, akhir tahun mendapatkan omzet satu miliar dan target tersebut tercapai.

… itu artinya kita sukses.

Sedangkan definisi maju adalah kita melakukan hal-hal yang diperlukan untuk membuat diri dan bisnis terus berkembang.

… itu kata kuncinya: berkembang.

Oke, untuk lebih memahamkan, kita lanjutkan pembahasan.

Angela Lee Duckwoorth telah melakukan penelitian dan hasilnya adalah tak ada hubungan antara IQ dan kesuksesan seseorang. Satu-satunya yang menjadi benang merah di antara orang-orang sukses adalah mereka memiliki ‘grit’ atau kualitas diri berupa kesabaran dan pantang menyerah.

Grit, bahasa lainnya adalah keinginan yang kuat untuk terus berjuang dalam jangka panjang mengejar targetnya. Makna lainnya adalah kesabaran, keuletan, dan kekuatan mental untuk memenangkan pertandingan.

Paul Tough dalam How The Children Succeed juga memaparkan hal yang sama, bahwa ‘grit’ adalah salah satu karakter unggul yang dimiliki oleh anak-anak beprestasi dan sukses.

Setelah ‘grit’ ada karakter lain sebagai syarat fundamental untuk sukses, yakni growth mindset, sebagaimana dikemukakan oleh Carol Dweck dalam bukunya Mindset.

Apaan sih growth mindset itu? Yakni, cara berpikir bahwa segala sesuatu itu mungkin atau bisa dilakukan melalui kerja keras, pembelajaran, dan sumber-sumber lainnya. Intinya, segala sesuatu yang kelihatannya sulit bisa dipelajari dan ditaklukkan.

Lawannya adalah fixed mindset, yaitu pola pikir bahwa segala sesuatu sulit berubah karena memang “yaudah begitu, mau digimanain lagi.” Apa ya, orang Jawa mungkin mengatakannya dengan “pasrah bongkokan”.

Growth mindset mengajari kita memiliki mental untuk terus mengupayakan diri agar terus berkembang bagaimana pun caranya, sedangkan yang fixed mindset adalah pasrah karena merasa itu “takdir” dan memang template hidupnya kayak gitu.

Inilah mengapa, kita sering kaget. Kaget karena tiba-tiba teman kita semasa sekolah dulu sekarang sukses, padahal dulu kelihatan bodong banget. Alah, mengerjakan PR saja kagak pernah. Bolos aja sering. Kantin menjadi tempat nongrkong rutinnya.

Akan tetapi, sekarang ia justru sukses luar biasa.

Mengapa?

Karena teman kita tersebut merasa bodoh, merasa gelasnya kosong, merasa hidupnya bisa berubah bila dia mau untuk berusaha demikian keras. Jadi, ketika bertemu hambatan, dia anggap sebagai tantangan. Jurusnya adalah terus lapar akan ilmu baru, terus haus akan strategi teranyar. Rajin bertanya ke sana ke mari dan rajin mencoba. Selalu terus belajar dari kesalahan masa lalu. Yak, merasa de javu dengan frasa stay hungry stay foolish-nya Steve Jobs?

Sedangkan kita yang “merasa diri ini pintar”, cenderung sulit untuk menerima perubahan, malu untuk bertanya lagi, gengsi untuk mengakui bahwa ada cara-cara anyar yang bisa kita coba dan terapkan. Fixed mindset memang bertugas untuk menghalangi jalan kemajuan yang sejatinya sudah terbentang.

Terus gimana?

Kedua hal fundamental ini, yakni grit dan growth mindset menjadi senjata terampuh untuk menyamaratakan satu kata istimewa dalam hidup: kesempatan.

Artinya, kita semua berkesempatan untuk meraih apa pun yang kita impikan dan idamkan, asalkan memiliki dua hal tersebut.

Siap menikah? #eh

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!
  • 25
    Shares
  • 25
    Shares

Leave a Comment