Gagallah dengan Sering

“All failed companies are the same: they failed to escape competition.”Peter Thiel

Bersaing dengan orang lain membuat kita menghabiskan setiap hari dalam hidup untuk mengejar tujuan yang sebenarnya bukan milik mereka sendiri. Kita memiliki dua pilihan. Pertama, menghabiskan seluruh hidup untuk terus mengikuti apa kata orang lain, atau yang kedua, menghabiskan hidup untuk mengejar dan mewujudkan apa yang kita inginkan. Artinya, kita dapat menentukan kesuksesan untuk diri sendiri berdasarkan nilai kita sendiri dan melepaskan diri dari kebisingan.

And that’s the point. We all need to choose what matters most to us, and own that. If we attempt to be everything, we’ll end up being nothing.

Kegagalan adalah sesuatu yang harus dihargai dan dipuji. Kegagalan seharusnya membuat kita bergerak maju, karena kegagalan selalu memberikan kita pelajaran dan ‘memaksa’ kita untuk belajar.

Uber misalnya, akhirnya mengakui kekalahannya di China setelah kalah total dari pemain lokal: Didi Kuadi. Terdengar seperti nama Jawa, memang. Tetapi itu adalah perusahaan sharing transportation yang menguasai China. Kekalahan yang diderita Uber bukanlah kekalahan dan kegagalan yang murah. Uber harus merogoh kocek sekitar 2 miliar dolar untuk ‘bakar duit’ di negeri Tirai Bambu itu.

Menariknya, di China, sektor e-commerce dan media sosial memang dikuasai oleh pemain lokal sendiri. Pemerintah China memberlakukan larangan rakyatnya untuk menggunakan Facebook, Twitter, WhatsApp dan platform besar lainnya. Dengan larangan ini, otomatis pemain lokal menjadi alternatif. Dengan pasokan penduduknya yang besar, tentu platform-platform tersebut tak dipusingkan dengan user. Maka, lahirnya Baidu, WeChat, dan lain sebagainya.

Dan kabar terbarunya, Uber membeli saham Didi Kuadi sebesar 20%. Langkah yang patut dipuji, karena kegagalan Uber sebelumnya. Mungkin, daripada tidak berhasil sama sekali, mending ikut merasakan meriahnya kue yang dimiliki oleh Uber, walau tak banyak yang bisa dinikmati, alias hanya 20%.

Uber mempraktikkan petuah lama: act fast, fail fast, learn fast. Berani bertindak dengan cepat atas kesalahan-kesalahan yang dibuat, kegagalan-kegagalan yang menerpa, dan belajar dari itu semua untuk kesuksesan di masa depan. Meratapi kegagalan adalah kesia-siaan, tentu saja. Karena masa depan tidak akan berubah, bila hari ini kita terus meratapi hidup.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment