Agar Gagal Membangun Startup Itu Tidak Menderamu ….

Kegagalan adalah hal yang menyebalkan. Untuk apa membangun startup yang gagal? Siapa juga yang mau untuk membangun startup yang gagal. Agar hal itu terjadi pada startup-mu, perhatikan beberapa hal berikut.

Pentingnya Co-Founder. Sebuah startup cenderung memiliki potensi sukses yang lebih besar, saatnya didirikan oleh dua atau tiga orang founder yang memiliki kompetensi dan kegigihan yang mumpuni untuk mengembangkan bisnisnya, bukan oleh seorang founder saja. Dalam banyak kasus, mengembangkan startup membutuhkan banyak energi, sehingga hal ini tidak bisa dilakukan oleh seorang founder saja, apalagi bila startup tersebut direncanakan sebagai bisnis jangka panjang.

Paul Graham, seorang venture capitalist, mengatakan bahwa, “Memulai sebuah startup akan sangat berat bila kamu seorang saja. Kamu tetap membutuhkan seorang teman untuk brainstorming, dan seseorang yang menghiburmu saat terjadi keputusan yang salah.”

Bahkan, faktanya, venture capital cenderung menolak mendanai sebuah startup yang hanya didirikan oleh seorang founder.

Instagram misalnya. Awalnya, dulu startup ini bernama Burbn, investornya mau mendanai sebesar 50.000 dolar, asalkan Mike Krieger, founder dari aplikasi ini, mau mendapatkan seorang co-founder, yang mana kemudian Mike menemukan Kevin Systrom.

Jadi, ketika ingin membuat startup, lebih baik untuk menemukan co-founder, daripada harus berjuang sendirian. Mengapa? Karena meluncurkan sebuah startup, akan melibatkan banyak tekanan kegelisahan, emosi, bahkan keuangan, sehingga perjuanganmu setiap hari akan terasa lebih ringan bila kamu menemukan seorang co-founder.

Bentuklah tim yang kuat. CB Insight, sebuah perusahaan big data, memaparkan hasil riset mereka, bahwa penyebab kegagalan ketiga sebuah startup adalah tim yang lemah dan tidak efisien. Penyebab kegagalan pertama adalah tidak adanya pasar yang membutuhkan produkmu, penyebab kegagalan kedua adalah kehabisan dana.

Seberapa penting sebuah tim yang kuat?

“Satu hal penting bagi seorang entrepreneur dalam membangun bisnis adalah adanya tim yang benar-benar bagus,” kata Mark Zuckerberg.

“Kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Gandakan dirimu dengan mempekerjakan tim yang hebat,” kata Noah Kagan, pendiri AppSumo.

“Seorang founder tidak membuat sebuah startup yang sukses. Tim lah yang membuatnya menjadi sukses. Jadi, pastikan kamu dikelilingi oleh tim yang lebih cerdas dari dirimu sebagai founder,” kata Neil Patel, pendiri CrazyEgg, HelloBar, dan KissMetrics.

Lalu, bagaimana membentuk tim yang bagus dan kuat?

Satu, saling melengkapi. Kunci membentuk tim yang bagus adalah pada kemampuan per orang. Lebih baik, mempekerjakan satu orang dengan satu keahlian spesifik daripada satu orang dengan kemampuan yang banyak namun kurang mendalam. Misalnya, bentuklah satu tim terdiri atas lima orang dengan kemampuan spesifik yang berbeda. Ini akan menjadi tim yang hebat dan kuat, karena lima orang tersebut memiliki kemampuan untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.

Dua, pekerjaan orang dengan passion dan komitmen yang sama dengan dirimu. Dengan begitu, kerja keras bersama berdasarkan gairah, komitmen, dedikasi, dan visi yang ingin dicapai bersama dapat terwujud.

Artinya, kamu akan dengan sengaja menyusun sebuah tim yang akan membuat startup-mu gagal, apabila hanya diisi oleh orang-orang yang tak memiliki gairah, dedikasi, komitmen, dan visi yang sejelas dan sehebat yang kamu miliki.

Tiga, pekerjaan mereka yang memiliki aksi lebih banyak daripada bacotnya. Seni mempekerjakan tim adalah seni untuk menemukan orang-orang yang memiliki kualifikasi kemampuan sesuai dengan yang kamu harapkan, dan mereka mau melakukan aksi nyata untuk bersama-sama mewujudkan startup yang sukses, alias bukan bacot doang.

Chrystal Huang mengatakan dengan apik mengenai poin ini, “Seorang kandidat, seharusnya menunjukkan apa yang bisa dia lakukan, bukan mengatakan apa yang bisa dia kerjakan.”

Bentuk kultur. Satu poin penting untuk menghasilkan startup yang bagus adalah mengolah kultur perusahaan yang dapat mendukung value perusahaan. Sebuah kultur perusahaan yang positif dapat membuat bisnis maju lebih pesat, sedangkan kultur yang negatif dapat menggerogoti kemajuan bisnis.

Adanya permintaan pasar. Pastikan bisnis yang sedang kita jalankan ada permintaan dari pasar. Produk kita hadirkan, dikarenakan adanya permasalahan. Tanpa adanya permasalahan, tidak ada solusi. Artinya, tak ada produk yang bisa kita hadirkan. Artinya pula, pastikan kita menghadirkan produk yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di pasar.

Marc Andressen, mengatakan bahwa yang paling menentukan apakah suatu startup berhasil ataukah gagal adalah pada ketersedian pasar.

Yah, bahkan, bila suatu startup itu diisi oleh tim hebat nan solid, tidak akan menjadi startup yang berhasil, manakala produknya tidak dibutuhkan di pasar.

Rilis MVP dan jangan menunggu produk yang sempurna. Pasar tidak membutuhkan produk yang sempurna. Pasar hanya membutuhkan produk yang tepat untuk menyelesaikan masalah mereka.

Sebagai seorang founder, sangatlah wajar, kalau kamu ingin mendapatkan impresi pertama yang baik dari user. Kenapa? Karena kamu dan tim telah menghabiskan berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun, untuk riset, mengembangkan produk, dan hal-hal lainnya untuk membuat produkmu siap pakai. Kamu ingin memastikan bahwa semua usaha, waktu, dan dana yang telah dikeluarkan sepadan dengan hasilnya. Sebisa mungkin kamu mengabaikan gengsi, ingin memberi kesan “keren” ke pelanggan, dan bahkan nama yang begitu spesial pada startup-mu. Dan untuk timmu yang telah bekerja keras, kamu ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada mereka dengan laba yang banyak, karena mereka telah ikut bekerja keras. Pada saat yang sama, kamu juga ingin membuktikan kepada teman, keluarga, ataupun pacar, bahwa kamu bisa meraih kesuskesan lewat startup ini.

Saya tahu itu.

Akan tetapi, ada satu hal krusial yang harus kamu perhatikan.

Kamu harus segera meluncurkan produkmu ke pasaran, tanpa menunggu produk itu sempurna.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa produk kita sudah cukup bagus untuk dilempar ke pasaran?

Untuk itulah, istilah MVP ada, yakni minimum viable product. Meluncurkan produk, menawarkan solusi atas permasalahan pelanggan, dan melakukan perbaikan sambil jalan.

“Kamu tidak akan pernah tahu,” kata Sean O’Malley, co-founder dari SmartBiz, “kapan kamu akan menghasilkan produk yang tepat, pada waktu yang tepat, untuk pasar yang tepat, sampai kamu meluncurkan produkmu. Langsung terjun ke pasar, adalah cara paling tepat untuk memvalidasi secara nyata data pelanggan. Maksud dari terjun ke pasar secepat mungkin adalah kamu tahu kebutuhan pelangganmu dengan fitur seminimal mungkin namun berguna bagi mereka.”

Bersiaplah untuk pivot. Berpindah haluan itu perlu, kalau memang itu dibutuhkan agar startup-mu tidak tenggelam digilas keadaan.

Instagram dulunya adalah aplikasi check-in lokasi. PayPal dulunya adalah aplikasi dompet digital. Pinterest awalnya adalah e-commerce hingga kemudian beralih menjadi aplikasi berbagi gambar inspiratif dan publishing service.

Pivot diharuskan ketika memang kesuksesan akan lebih nampak bila kita harus melakukan pivot.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment