dahlan iskan kerja nyata

Dahlan Iskan (2): Terobosan Sang Raja Media

Sebelas tahun berlalu. Sejak akuisisi tahun 1971, Eric Samola kini berkunjung lagi ke kantor Dahlan di Surabaya, tahun 1982. Seperti biasa, Dahlan masih menjadi supir langganannya untuk mengantar ke mana pun Eric Samola mau.

Kali ini, tujuannya ke Kembang Jepun. Ke sebuah gedung kuno peninggalan Belanda tahun 1980. Di gedung inilah markas Jawa Pos berdiri, yang sudah mulai terbit sejak Juli 1949. Pemiliknya pasangan suami-istri, The Chung Shen alias Soeseno Tedjo dan Mega Endah. Pada masa kejayaannya, pasangan yang memiliki dua anak kuliah di Inggris ini pernah memiliki tiga koran berbahasa berbeda. Java Post berbahasa Indonesia, Hwa Chiao Sien Wen berbahasa China, dan de Vrije Pers berbahasa Belanda. Tapi, yang tersisa sekarang hanyalah Jawa Pos, yang sudah berkali-kali berganti nama dari Java Post, Djawa Post, Djawa Pos, dan kemudian Jawa Pos.

Kedatangan Eric Samola dan Dahlan waktu itu adalah negosiasi pertama untuk mengakuisisi Jawa Pos. Beberapa waktu kemudian, negosiasi terus dilancarkan Eric Samola. Hingga negosiasi terakhir dilancarkan oleh petinggi Tempo yang lain, Fikri Jufri dan Harjoko Trisnadi, dan tentu saja, Dahlan diikutsertakan dalam negosiasi tersebut. Ketiganya mewakili Eric Samola.

The Chung Shen akhirnya menyetujui akuisisi tersebut. Pertanyaan kemudian menyeruak. Siapa yang akan memimpin Jawa Pos?

Ada tiga nama, yang kesemuanya adalah generasi awal di Tempo yang menjadi kandidat. Bambang Halilintar, jago manajemen. Harun Musawa yang pernah menduduki wakil direktur, dan Harjoko, jago dalam bidang keuangan.

Tetapi, Eric Samola lebih memilih Dahlan. Jawa Pos yang oplahnya hanya enam ribu, harus dibangkitkan oleh tangan dingin seorang pekerja keras sekaligus memiliki kemampuan pemahaman yang baik dalam dunia media. Harus dibangkitkan oleh seseorang yang memiliki kepekaan dalam sense of news value yang selama ini selalu telah dibuktikan Dahlan dengan kebermutuan sajian beritanya.

5 April 1982. Dahlan resmi menjadi pemimpin Jawa Pos. Dan jabatannya bukanlah Pemimpin Redaksi atau pun Direktur, tetapi Ketua Satuan Tugas Pelaksana. Jabatan yang cukup aneh dalam dunia pers. Bahkan hingga saat ini. Sebagaimana kerja adalah nyawa Dahlan, maka unggul dalam berita adalah nyawa Jawa Pos. Ini yang selalu ditekankan oleh Dahlan kepada seluruh kru di Jawa Pos. Sepuluh peraturan ditegakkan Dahlan untuk seluruh kru agar menjadi wartawan yang memiliki keunggulan dan mempunyai daya tulis dan penyajian berita yang jempolan.

Pertama, tokoh. Semua peristiwa menyangkut tokoh layak berita. Kedua, besar. semua berita yang besar layak berita. Ketiga, dekat. Semua peristiwa yang terjadi di dekat Jawa Pos, lebih layak muat daripada berita besar yang terjadi tapi di tempat jauh. Dan bila pun kedua berita itu perlu diberitakan, peristiwa terdekat harus diberitakan lebih lengkap. Keempat, selalu yang pertama. Semua peristiwa yang baru pertama terjadi, layak menjadi berita. Misalkan pencurian dengan modus baru, walau korbannya kecil, layak diberitakan. Kelima, human interest. Peristiwa-peristiwa yang menyentuh perasaan terdasar manusia harus menjadi berita. Keenam, bermisi. Setiap berita harus memiliki misi atau tujuan, entah itu mencerdaskan, mendidik dan memotivasi. Ketujuh, unik. Semua peristiwa yang unik layak menjadi berita. Kedelapan, eksklusif. Berita-berita investigasi adalah contoh berita eksklusif yang tidak dimiliki oleh media lain layak menjadi berita, karena pembaca pasti menyukainya. Kesembilan, tren. Tak peduli apakah itu tren gaya hidup maupun tren perilaku. Dan terakhir, adalah prestasi. Kisah-kisah keberhasilan orang, bahkan orang biasa, penemuan-penemuan, dan lain sebagainya yang menunjukkan prestasi dan anugerah layak diberitakan.

Dahlan menyebut kesepuluh aturan itu sebagai Rukun Iman Berita. Bahkan, bila wartawan Jawa Pos tidak menemukan salah satu rukun tersebut, sebaiknya tidak usah ke kantor saja, karena bisa dipastikan dia tidak akan bisa mengetik berita apa pun.

Maka, berubahlah Jawa Pos sejak dikendalikan oleh Dahlan. Berita-beritanya bermutu. Ringan, komunikatif, eksklusif, aktual, faktual, urgen, trend setter, original, valid, juga berimbang. Kelebihan-kelebihan macam itulah yang kemudian merebut hati pembaca. Dahlan pun masih turun tangan sendiri untuk meliput. Bahkan, juga ikut mengedit berita. Bahkannya lagi, Dahlan juga merevolusi tampilan tata letak, menjadi lebih stylist dan dinamis juga nyaman dibaca. Tak jarang juga, Dahlan bahkan turun sendiri ke jalan-jalan untuk menjajakan korannya. Totalitas kerja yang ala Dahlan banget!

Tapi di atas itu semua, satu hal yang menjadi perhatian lebih dari Dahlan adalah mengkualitaskan kru redaksinya. Setiap ada wartawan baru yang masuk, dia tatar selama lima bulan, tiap hari, kecuali Sabtu-Minggu. Di sana, wartawan-wartawan baru itu Dahlan gembleng dengan Rukun Iman Berita dan diberikan penegasan khusus, “Koran gagal atau sukses itu, nomor satu ditentukan kualitas redaksinya. Nomor dua karena redaksinya. Nomor tiga karena redaksinya. Nomor 27 karena pemasaran korannya. Nomor 28 karena pemasaran iklannya.”

Yah, mutu para redaksi akan menyajikan mutu berita. Mutu berita akan menjadikan koran secara keseluruhan menjadi koran yang bermutu. Akan lebih mudah bagi para pemasaran menjual barang yang bermutu, sehingga oplah akan terus bertambah, dan tentu, akan lebih mudah pula bagi pencari iklan mencari iklan.

Tak heran, dalam waktu dua tahun masa kepemimpinan Dahlan, tiras Jawa Pos sudah mencapai sebelas ribu eksemplar. Perbandingannya, koran lain di Jawa Timur macam Memorandum tirasnya sepuluh ribu, Suara Indonesia tirasnya tujuh ribu, Radar Kota tirasnya seribu. Tetapi, ada satu koran yang begitu menguatkan tekad Dahlan untuk bisa dikalahkan, Surabaya Post, yang sampai seratus ribu lebih tirasnya.

“Kita harus bisa mengalahkan Surabaya Post!” koar Dahlan kepada seluruh anak buahnya. Terlalu bermimpi? Memang. Bayangkan, tiras Jawa Pos bahkan hanya sepersepuluhnya.

Tetapi, Dahlan ketika berbicara seperti itu bukannya tanpa strategi. Dahlan tahu betul Surabaya Post kualitasnya seperti apa. Semenjak menjadi Kepala Biro Surabaya dari Tempo, tiap hari Dahlan membaca koran itu, sebagai pembanding dari pemahaman beritanya. Maka, Dahlan tahu benar bagaimana bisa menyalip Surabaya Post. Maka tak salah, bila lima tahun pertama kepemimpinannya di Jawa Pos, Dahlan berhasil menyulap tiras yang hanya seangkutan becak menjadi 126 ribu eksemplar. Artinya, omzetnya meningkat 20 kali lipat sejak pertama diakuisisi, dan tentu, berhasil menyalip Surabaya Post.

Akan tetapi, menuju momen mengalahkan raksasa seperti Surabaya Post bukan perkara gampang. Penggemblengan Dahlan kepada seluruh awak redaksi habis-habisan.

Bahkan, untuk meningkatkan mutu kru redaksi, Dahlan memberlakukan program Garansi Antisalah. Dilatarbelakangi kegemaran Dahlan karena masih banyak redaksi yang kacau dalam tata bahasa, program tersebut diluncurkan. Setiap pembaca yang berhasil menemukan kesalahan pada salah ketik dan salah tata bahasa pada berita, salah grafis, salah teks grafis, salah foto dan salah teks foto, pembaca bisa mendapat langganan gratis Jawa Pos selama tiga bulan! Terdengar gila? Memang. Dahlan tak menggubris protes redaksi. Dahlan sudah tahu bahwa bila banyak yang menemukan kesalahan, bisa mempengaruhi omzet alias tekor. Itu artinya, seluruh kru redaksi bila tak ingin hal itu terjadi, harus meningkatkan mutunya. “Kalau tidak mau tekor, berarti kita harus cari akal!” semangat Dahlan pada seluruh kru redaksi.

Maka, ditempatkanlah redaktur bahasa di semua lini. Dan setiap mendapatkan laporan kesalahan dari pembaca, wartawan dan redaktur berita yang mengedit mendapatkan sanksi. Wajib ikut kelas bahasa. Pengajarnya? Redaktur bahasa itu sendiri.

Dahlan bahkan tak jarang berjaga-jaga di depan pintu kantor ketika sore hari, dan menanyai setiap wartawan yang hendak masuk. “Beritamu apa?” Bila ada wartawan yang hanya membawa berita biasa-bisa saja, Dahlan tak segan-segan berkata, “Sudah, kamu pulang saja. Hari ini kamu bukan wartawan Jawa Pos.” Artinya, baru bisa dianggap wartawan Jawa Pos bila mampu menyiapkan bahan berita bermutu. Karena Dahlan yakin, hanya dengan standar tinggilah Jawa Pos baru bisa mengalahkan raksasa media nomor satu di Jawa Timur, yakni Surabaya Post.

Dahlan, bahkan sering turun sendiri menjajakan korannya ke pinggir jalan. Para petinggi di Jawa Pos juga sering diajak langsung turun ke jalan. Bahkan, kala ada pelanggan yang telat mendapatkan koran, dahlan tak jarang mengantarkan sendiri ke rumah pelanggan seraya berjanji takkan lagi ada koran telat sampai ke tangan pelanggan.

Selain itu, Dahlan juga agresif membangun jaringan pemasaran. Keluarga karyawan diminta Dahlan untuk ikut memasarkan. Dahlan pun memulai dengan istrinya turun langsung ke jalan. Memobilisasi tukang ojeg juga dilakukan. Di samping itu, Dahlan juga menerapkan sistem pemasaran secara blok.

Blok pertama adalah di Surabaya. Blok kedua ada di Malang. Blog ketiga ada di Jember, dan seterusnya hingga seluruh Jawa Timur. Maka, dengan mutu berita, ditunjang grafis yang apik, serta pemasaran yang cerdas dan militansi karyawan, Jawa Pos hanya butuh waktu lima tahun, yakni 1982-1987 untuk mengalahkan Surabaya Post.

Lalu, masuk di tahun kedua, yakni 1987-1992, Jawa Pos makin menggila dengan memiliki mesin cetak sendiri di Surabaya. Tujuannya satu. Agar koran bisa sampai ke tangan pelanggan tepat waktu. Nah, dengan terbelinya mesin cetak tersebut, target market Jawa Pos yang sebelumnya adalah menengah-bawah, brand koran ini kemudian diperbaiki dengn mengusung slogan Koran Nasional Terbit di Surabaya. Dengan kata lain, segmen Jawa Pos juga menyasar kelas atas, pasar yang selama ini dikuasai Kompas.

Pada tahun 1992, oplah Jawa Pos mencapai 300 ribu eksemplar per hari dengan omzet hingga Rp38,6 miliar. Dan di lima tahun periode kedua itu pula, Jawa Pos memang getol-getolnya ekspansi ke daerah.

Setelah melampaui Surabaya Post, target Dahlan selanjutnya adalah mencapai sejuta tiras per hari. Target ini bermula dari suntikan ide Eric Samola, “Surabaya Post terbit sore hari, sedangkan Kompas harus dikirim dari Jakarta. Kalau Jawa Pos diisi berita nasional dari Jakarta, dan diedarkan pukul lima pagi, masa’ tidak bisa menang. Kita terbit dengan sejuta tiras!”

Tetapi, dengan hanya mengandalkan Jawa Pos saja, tidak akan membuat tiras naik sebanyak itu. Maka, strategi baru dilancarkan Dahlan. Menggandeng atau mendirikan koran lokal, dengan konten nasional dari Jawa Pos. Strategi brilian!

Misi itu bersambut, ketika harian Fajar bergabung dengan Jawa Pos pada tahun 1985. Harian Fajar yang kalah saing dengan Pedoman Rakyat, surat kabar besar di Makassar, sangat bersyukur karena Jawa Pos mau mengakuisisinya. Tentu, akuisisi ini memantik semangat seluruh kru Harian Fajar, yang jelas butuh nafas segar dari koran itu yang hampir tumbang. Apalagi, ketika mendengar Dahlan akan turun langsung untuk menggembleng wartawan di sana.

Langkah cepat diambil Dahlan. Para wartawan dikirim ke Jawa Pos untuk magang dan mendapatkan pelatihan khusus. Didikan Dahlan berbuah. Pedoman Rakyat yang kala itu menguasai pasar Makassar, tumbang tak kuat bersaing dengan keganasan kebangkitan Harian Fajar.

Kesuksesan ini kemudian menginspirasi untuk membentuk PT Media Fajar, gabungan kerja manajemen antara Jawa Pos dan harian Fajar, yang kemudian melahirkan puluhan koran, antara lain harian Ujungpandang Ekspres, Ambon Ekspress, Timor Ekspres, Radar Selatan, Buton Pos, Palopo Pos, Pare Pos, dan lain sebagainya, lengkap dengan Fajar TV dan Fajar FM.

Melalui PT Media Fajar pula, Jawa Pos berhasil mengakuisisi Manado Post, yang kala itu bahkan berkondisi nahas, terlilit hutang hingga Rp1 miliar. Dengan manajemen terukur ala Dahlan, Manado Post berhasil menguasai pasar informasi media di Sulawesi Utara. Berinduk Manado Post ini kemudian beranak pinak media lain, Posko Manado, Gorontalo, dan Malut Pos. Dengan suksesnya media ini, Jawa Pos berhasil menaklukkan pulau Sulawesi.

Papua menjadi target selanjutnya. Terbitlah koran Cenderawasih Post. Dari koran ini kemudian menganakpinak Radar Sorong dan Radar Timika.

Kesuksesan menghampiri dengan baik, langkah bijak diambil. PT Fajar Media, kemudian berubah menjadi Fajar Group dan sudah menjadi holding tersendiri. Dari sini lahir bisnis nonmedia seperti Universitas Fajar.

Fajar Grup hanyalah salah satu armada kapal induk, sebutan wilayah basis operasional grup ini. Karena di awal dekade 2000-an, Jawa Pos sudah memiliki sekitar delapan armada kapal induk di pangkalan Timur dan Barat Indonesia. Di tiap pangkalan, memiliki koran harian utama.

Di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Timur, kapal induknya bernama Jawa Pos, yang berpangkal di Surabaya. Di Provinsi Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada Riau Pos yang berpangkal di Pekanbaru. Di Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, ada Sumatera Ekspres yang berpangkal di Palembang. Di Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah, ada Rakyat Merdeka dengan pangkalan di Jakarta. Di wilayah Kalimantan Barat berpangkal di Pontianak ada Pontianak Post. Di Wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah dan berpangkal di Balikpapan ada Kaltim Post. Armada terakhir, yakni Fajar Grup dengan Harian Fajar yang bergerak di wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku dengan pangkalan di Makssar yang pada 2008 lalu telah membangun Gedung Graha Pena Makassar berlantai tujuh belas.

Kedelapan armada kapal induk tersebut bertumbuh pada periode kedua yakni 1987-1992 dan mengalami perkembangan pesat pada periode ketiga, yakni 1992-1997.

Hebatnya, strategi Dahlan dalam menggandeng atau mendirikan koran lokal dengan konten nasional dari Jawa Pos, telah melampaui target Eric Samola, yakni mencapai tiras satu juta eksemplar per hari, yang hanya membutuhkan waktu sepuluh tahun. Dan pada tahun 1993, dahlan mengundurkan diri dari kursi pemimpin redaksi dengan usia 42 tahun. Pengunduran dirinya karena harus berganti jabatan menjadi Pemimpin Umum Jawa Pos, namun dalam rangka mengorganisir manajemen anak-anak perusahaan Jawa Pos agar strategis dan lebih rapi yang kemudian lahir Jawa Pos National Network (JPNN), dan menjadi jaringan media terbesar di Indonesia, hingga sekarang.

Mengapa Dahlan begitu bersemangat mengembangkan koran di daerah-daerah?

“Menerbitkan koran di daerah bukanlah untuk tujuan bisnis,” kata Dahlan, “menerbitkan di daerah itu merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar lagi. Salah satu fungsi koran atau media adalah alat kontrol kekuasaan. Fungsi lainnya adalah mencerdaskan masyarakat. Anda bisa membayangkan, bagaimana cara mengontrol kekuasaan di wilayah Indonesia yang sangat besar ini? Anda bisa bayangkan berapa banyak masyarakat yang jadi cerdas karena membaca koran? Tujuannya adalah supaya daerah lebih cepat maju, bukan agar korannya cepat kaya atau pemilik korannya kaya-raya.”

JPNN, selain memelopori juga memimpin konten koran-koran lokal dari Aceh hingga Papua, dengan surat kabar harian, tabloid, maupun majalah ayng terbit dan beredar di seluruh penjuru nusantara. JPNN juga hadir menggunakan sistem cetak jarak jauh yang terintegrasi, baik antarkota maupun antarprovinsi. Dengan kekuatan jaringan itu, JPNN juga menghadirkan jpnn.com, sebagai portal berita dengan direktori terlengkap di Indonesia baik dalam pemberitaan nasional maupun internasional.

Selain itu, Dahlan juga berusaha keras agar Jawa Pos adalah yang pertama dalam mengaplikasikan teknologi cetak jarak jauh. Mengapa? Ini semua dilakukan agar perkembangan Jawa Pos yang sangat pesat itu harus menjadikan Jawa Pos sebagai industri media yang terintegrasi. Maka, teknologi cetak jarak jauh akan memepengaruhi aspek penampilan koran, ketepatan waktu, dan oplah dalam memenuhi selera pembaca dan pelanggan.

Demi ini, Dahlan bakan tak segan-segan menyekolahkan SDM-nya ke luar negeri demi belajar tentang cetak mencetak. Bahkan, Dahlan kemudian memutuskan divisi percetakan berdiri sendiri, menjadi salah satu anak perusahaan Jawa Pos Grup, berbadan hukum PT Temprina Media Grafika pada tahun 1996. Divisi percetakan itu didirikan untuk mengintegrasikan layanan Sistem Cetak Jarak Jauh.

Setelah itu, Dahlan juga makin memantapkan Jawa Pos Group sebagai industri media terpadu ketika merambah bisnis kertas dan pabriknya, dan menjadikan sektor ini sebagai salah satu anak perusahaan Jawa Pos Grup, dengan mengibarkan bendera PT Adiprima Suraprinta. Perusahaan ini tentu untuk menjaga keberlangsungan pasokan kertas sebagai bahan baku utama percetakan koran-koran Jawa Pos Grup tersebut.

Inilah kehebatan Dahlan, benar-benar mampu mengintegrasikan dunia koran menjadi industri media terintegrasi. Saling menopang sesuai dengan fungsinya masing-masing. Lihatlah bagaimana kecerdasan Dahlan menggunakan satelit untuk teknologi Sistem Cetak Jarak Jauh dan hadirnya pangkalan berita dan foto menggunakan perangkat utama jaringan kantor berita JPNN, yang kesemua itu ditambah berkembangnya koran-koran lokal di bawah bendera Jawa Pos Group, mesin percetakan, pabrik kertas, semuanya terintegrasi. Semuanya demi satu tujuan, menghadirkan mutu koran yang selalu menjadi yang pertama dalam mengabarkan berita dan selalu hadir lebih pagi.

Kesuksesan demi kesuksesan menghampiri Dahlan seolah tanpa jeda. Dedikasi, kreativitas, terobosan, menghiasi hari-hari Dahlan untuk disumbangsihkan kepada Jawa Pos Group.

Hingga tiba momen di mana Dahlan mulai disadarkan oleh Allah tentang makna regenerasi dan percaya pada kekuatan yang muda, sebagaimana yang ia koar-koarkan sendiri selama ini. Dahlan tervonis kanker hati dan harus menjalani operasi transplantasi hati di First Central Hospital Tianjin, China. Alhamdlillah lancar. Dahlan mensyukuri sakitnya itu, “Kalau saja takdir tidak seperti itu, barangkali saya masih bercokol di Jawa Pos sampai hari ini, memimpin Jawa Pos dengan gaya saya, lalu ditertawakan oleh yang muda-muda. Sakit keras saya secara tidak langsung membawa implikasi percepatan proses regenerasi.”

Bahkan, Azrul Andanda, putranya, sejak awal tahun 2000-an, setelah lulus secara cumlaude sebagai master dari International Marketing dari California State University, Sacramento, Amerika Serikat, menyatakan minatnya kerja di Jawa Pos. Posisi Dahlan waktu itu masih menjadi Direktur Utama. Tetapi, syarat diberlakukan ketat untuk Azrul. Nilai performance-nya harus di atas rata-rata karyawan lain.

Kerja keras Azrul pun berbuah. Lewat inovasi-inovasinya, seperti DetEksi, yaitu halaman koran yang Azrul ciptakan secara khusus sebagai ruang aktualisasi anak-anak muda Indonesia, dengan paduan brand activation melalui kompetisi, seperti DetEksi Mading Championship yang merangkul jurnalis-jurnalis sekolah. Kompetisi DetEksi merambah juga ke Model Competition, Pop Group Competition, Custome Shoes, dan banyak lagi. Paling fenomenal, tentu brand activity berupa kompetisi basket tingkat SMA bernama Development Basket Ball League (DBL), yang sangat tenar di dunia jagat basket tanah air. Tak heran, kemudian World Young Reader Prize 2011 yang diberikan oleh Asosiasi Penerbit Dunia yang berpusat di Paris memberikan pilihannya pada Jawa Pos.

Dahlan lega. Kini Jawa Pos dipenuhi anak-anak muda yang bertalenta dan bersemangat untuk mengembangkan Jawa Pos lebih jauh. Seperti semangatnya dulu untuk menjadikan Jawa Pos terdepan dengan kembermutuan yang tinggi.

Bahkan, dengan kesuksesan-kesuksesannya itu, Dahlan kini juga mengurusi pesantren Sabilil Muttaqien dengan duduk sebagai Ketua Dewan Pengawas. Pesantren ini bahkan mengembangkan 131 sekolah dengan jumlah guru mencapai 9.300. Salah satu sekolahnya adalah pesantren internasional yang bernama International Islamic School yang berlokasi di Magetan. Pesantren ini bekerjasama dengan Al-Irsyad, lembaga pendidikan Islam ternama di Singapura.

Mimpi ayahnya terwujud. Bahkan melampui mimpi ayahnya agar Dahlan menjadi guru madrasah. Dan kini, saat mimpi-mimpi pribadi Dahlan terwujud di Jawa Pos dan mimpi ayahnya terlampui, Dahlan bisa hidup tenang dan menikmati masa tuanya. Betapa indahnya. Betapa tenangnya. Betapa melegakannya.

Tetapi, ternyata takdir hebat Dahlan tak berhenti hanya sampai di situ. Tugas agung lain menunggunya. Berbakti pada negeri. Setelah selesai pada diri sendiri dan keluarga serta perusahaannya, kini negeri ini menanti kerja nyata dan terobosan Dahlan. Dan itu dimulai dari sebuah kabar di pertengahan September 2009, agar Dahlan tidak keluar kota dalam minggu-minggu itu. Kabarnya, Dahlan akan diangkat menjadi Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara!

Sebuah tawaran yang tak saja mengagetkan Dahlan, melainkan juga bahkan menerobos mimpi terliar Dahlan sekali pun!

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment