dahlan iskan kerja nyata

Dahlan Iskan (1): Kerja Nyata adalah Nyawanya

Tangan kiri Khalisnah sedari tadi memegang perutnya sendiri. Tangan kanannya meremas ujung dipan. Dari lisannya menyeruak erangan berpadu takbir dan tasbih yang hampir tanpa jeda. Khosiatun dan Shofwati, dua anak perempuannya bergantian tak tentu ritme, mencoba membantu ibu tercintanya itu menenangkan diri.

Keringat dingin mengalir lancar dari kening Iskan, sang suami. Kepanikan memang sedang menerjangnya, tapi tak boleh lama-lama. Iskan harus segera menemui dukun bayi. Bantuan secepatnya harus segera diarahkan kepada istri tercintanya yang hendak melahirkan itu.

Takeran yang sedang terlanda paceklik panjang memang boleh melumpuhkan perekonomian salah satu desa di Magetan itu. Tapi tak boleh ikut melumpuhkan ayunan langkah cepat Iskan untuk menemui dukun bayi, walau dirinya sendiri sedang menahan lapar akut. Inilah tanggung jawab seorang ayah, harus tetap nampak gagah walau raga terkurung lelah.

Beruntung, sang dukun bayi mudah ditemui, dan bersedia ikut dengannya untuk membantu proses kelahiran kandungan Khalisnah. Kelihaiannya tercipta karena memang terbiasa membantu proses kelahiran seluruh perempuan yang hamil di desa itu. Maka, ketika menghadapi Khalisnah, sang dukun bayi tetap tenang dan tak menampakkan ekspresi kepanikan, tak seperti yang tersirat dari raut muka Khosiatun, Shofwati, apalagi Iskan.

Iskan memang pantas terlanda kerisauan. Kegalauan menerjangnya karena ia ingin ada sosok lelaki yang menemaninya di rumah. Khosiatun sebagai anak pertamanya terlahir perempuan, begitu pula Shofwati. Sudah lama sekali terpanjatkan dalam doanya agar Allah bersedia menganugerahinya anak laki-laki, yang tak hanya bisa ikut membantunya mengerjakan banyak hal sebagai aktivitas penopang keluarga. Bukannya Khosiatun dan Shofwati tak mampu berperan dalam hal itu. Akan tetapi, setiap orang juga tahu, lelaki lebih memiliki keluwesan dalam mengemban tanggung jawab dan dalam kelincahan mencari nafkah. Sudah menjadi fitrah lelaki seperti itu.

Maka, ketika Khalisnah tengah berjuang agar bayinya bisa sehat dan selamat keluar dari dalam perutnya, Iskan tengah bersibuk dengan dzikir dan rapalan doa, agar semua proses berjalan lancar dan keinginan-keinginannya terjawab indah oleh Allah.

Bakda kegigihan Khalisnah berpadu kelincahan tangan dukun bayi, lahirlah bayi mungil yang dinanti. Alhamdulillah laki-laki. Persis seperti harapan Iskan. Sujud syukur seketika Iskan tumpahkan di lantai rumahnya yang hanya tanah biasa itu. Tak henti-hentinya lafal hamdalah mengalir deras dari lisannya. Air mata harunya tumpah ruah. Sekejap kemudian ia sudah beringsut mendekat penuh semangat menuju samping istrinya, sebentaran menggenggam tangan dan mengecup kening istrinya, lalu meminta dengan santun agar sang dukun bayi bersedia membolehkannya menggendong anak ketiganya itu.

Bayangan Iskan berkelebat. Menatap masa depan anak ketiganya. Sebenarnya, ada satu impiannya lagi, selain anak lelakinya itu bisa membantunya menopang kebutuhan keluarga. Menjadi guru. Tak muluk-muluk. Bahkan, terkesan sebagai impian yang terlalu sederhana bagi sebagian orang.

Tetapi, tidak bagi Iskan.

Iskan lahir di desa, anak petani, dengan pola dan alur kehidupan desa yang ala kadarnya; ke sawah, tingkat pendidikan rendah, dan pergaulan yang biasa-biasa saja. Yang ia tahu, hal paling mengagumkan dalam hidupnya hanyalah Pesantren Sabilil Muttaqien, tempat Kiai Imam Mursyid, paman Khalisnah yang sekarang telah sah menjadi istrinya, mengasuh ratusan santri.

Pengenalannya dengan pesantren itu pun karena sejak umur dua tahun lebih tiga bulan ia diasuh oleh Kiai Mursyid. Dan perjodohan yang digagas oleh Kiai Mursyid agar ia memperistri Khalisnah makin Iskan syukuri, karena harusnya bisa menjadi jalan untuk ia ambil bagian dalam pengembangan pesantren itu. Pesantren yang sangat ia cintai. Pesantren yang turut membentuk karakternya. Pesantren yang menyumbangsihkan banyak bekal baik untuknya dalam menjalani kehidupan. Dan lingkungan yang sangat ia idamkan bisa ia jalani tiap harinya: mengajar di lingkungan pesantren yang teduh, penuh nuansa keilmuan, dan bisa mengukuhkan imannya untuk tak berbuat macam-macam dan kebal dengan terpaan godaan duniawi.

Cita-citanya memang menjadi guru, tetapi garis takdir-Nya menjawab lain. Ia menjadi tukang kayu.

Khalisnah, sebagai anugerah terindah dalam hidup Iskan, disyukurinya nian. Bagaimana tidak. Khalisnah, yang besar dalam lingkungan pesantren, dengan bekal agama yang lebih dari cukup sebagai bekal menjadi seorang istri, dengan gaya hidup yang sebenarnya tak pernah kekurangan karena berada dalam keluarga besar kiai, harus rela meninggalkan itu semua dan ikut Iskan untuk memulai kehidupan dari bawah. Nol. Minus bahkan.

Walau sama-sama di kecamatan Takeran, namun Kebon Dalem, tempat Iskan dan Khalisnah membangun keluarga barunya, berjarak enam kilometer dari pesantren Sabilil Muttaqien. Lumayan untuk ukuran jarak bagi seseorang yang harus menempuhnya hanya dengan jalan kaki. Dan nyeker.

Ada sebidang tanah warisan keluarga Khalisnah di sana. Dan sepasang suami istri yang masih anyar ini kemudian menempatinya dan membangun rumah yang biasa. Berdinding kayu. Berlantai tanah. Sederhana. Sangat sederhana. Mengingat Iskan sebagai kepala keluarga hanyalah tukang kayu, yang penghasilannya tak seberapa, dengan prestise yang juga tak seberapa. Tetapi Khalisnah mau menerimanya, adalah kesyukuran yang ia lantunkan di setiap harinya. Terkadang, tanpa alasan yang jelas, ia pandangi dalam-dalam wajah istri tercintanya itu agak lama, lalu pergi begitu saja. Khalisnah tentu kebingungan. Namun Khalisnah tahu, suaminya sedang menyatakan sayangnya. Dan di saat yang sama, sedang mengamalkan syukurnya. Tak ada yang lebih membahagiakan seorang istri, selain kebertanggungjawaban dan kesetiaan seorang suami. Dan itu juga menjadi kesyukuran Khalisnah yang begitu dalam karena teranugerahi suami yang seperti itu. Sebuah sifat yang makin langka dimiliki para suami di negeri ini.

Bayi mungil itu ia namai Dahlan. Yah. Sependek itu. Cita-cita Iskan, agar Dahlan kelak berkiprah dalam dunia pendidikan seperti KH Ahmad Dahlan, tokoh Muhammadiyah yang masyhur itu. Iskan ingin Dahlan kelak menjadi guru, menyambung cita-citanya yang tak sempat terwujud.

Bagi Iskan, guru adalah profesi termulia yang ia kenal. Dan bagi Iskan, harapannya tentu Dahlan bisa menjadi kiai laksana Kiai Imam Mursyid; banyak ilmu, memiliki segudang kemanfaatan untuk umat, dan hidup dengan tenang, aman, dan melimpah keberkahan. Didikan Kiai Mursyid, nyatanya begitu membekas dalam keseharian Iskan. Puasa sunnah rutin ia lakukan. Zikir rutin pun tak pernah ia hilangkan kelazimannya. Ia ingin Dahlan juga memiliki keutamaan-keutamaan seperti itu, mampu mengajar dengan ajaran-ajaran yang diamalkan oleh murid-muridnya dengan penuh keikhlasan, dan mampu membentuk karakter mereka menjadi lebih baik.

Lahir dan menghabiskan masa kecil dalam kondisi kemiskinan yang erat dalam keseharian, membentuk karakter Dahlan sebagai pribadi yang tak lelet dan manja. Iskan dan Khalisnah yang memiliki bekal agama yang cukup, selalu berusaha membuat Dahlan belajar mengerti mana yang dibolehkan agama dan mana yang tidak.

Suatu hari, ada kacang kedelai di rumah. Ditanyailah Dahlan. Dan dari interogasi ringannya itu, Iskan tahu bahwa Dahlan memperoleh dari ladang, sisa-sisa para pemilik ladang. Sah-sah saja kedelai itu dibawa pulang. Tak hanya oleh Dahlan, namun bagi siapa saja. Itu adalah peraturan umum yang diketahui oleh siapa saja. Sah-sah saja. Halal-halal saja. Sudah menjadi kesepakatan bersama, walau tanpa tertulis. Kesepakatan yang tersampaikan lewat lisan.

Tetapi, Iskan memberikan pelajaran lain. Pelajaran yang tak pernah disangka Dahlan, namun masih membekas hingga ia besar nanti.

“Membawa pulang kacang boleh saja. Asalkan minta izin dulu pada yang punya.”

Yah, itu yang tidak dilakukan Dahlan. Meminta izin. Semua hal ada yang punya. Maka ketika mengambil tanpa seizin pemilik, maka statusnya menjadi tidak sah. Tidak sah berarti tidak halal. Bahkan bisa dianggap mencuri.

Ini adalah pelajaran agar Dahlan mengerti makna kehati-hatian. Makna sejatinya apa yang menjadi hak baginya dan bukan. Makna untuk menahan diri. Agar tak cepat silau dengan apa yang terlihat. Agar tak gampang terpukau dengan apa yang ada di hadapan.

Iskan pun tak asal ngomong soal itu. Ia juga memberi teladan. Karena Iskan tahu, sebaik-baik pengajaran adalah dengan teladan.

Dunia perkayuan yang lekat dengan kesehariannya pun rawan dengan membawa pulang apa yang tak menjadi haknya. Para pemesan yang memesan perkakas dari kayu sedangkan bahannya dari mereka, bila ada sisa, sebisa mungkin Iskan mengembalikannya. Bila pemesan membolehkan Iskan mengambil, baru lah diambil.

Ini soal kepercayaan. Kepercayaan menjadi nyawa dalam bisnis jasa. Namun jauh dari itu, ini soal akhlak. Karakter. Kemiskinan boleh menyapa kehidupan sehari-hari, namun laku dalam menjadi hidup harus terus berlandaskan ajaran Sang Nabi. Akhlak-akhlak mulia harus terus memayungi di setiap langkah keluarga Iskan dalam menapaki hari.

Seorang Kiai yang masih kerabat Khalisnah, menyerahi Dahlan yang waktu itu bahkan belum memasuki kelas 3 SR, sepasang domba untuk digembala. Sistemnya bagi hasil. Dari yang sepasang itu, digembala dengan baik oleh Dahlan hingga beranak puluhan. Dari sini Dahlan juga belajar kepemimpinan. Menggembala domba itu tak gampang. Kesabaran, ketelatenan, kemampuan mengarahkan, semua teruji di sini. Selain menggembala domba, Dahlan kecil juga menjadi kuli nyeset, menyabut daun tebu yang sudah menguning di kebun tebu. Letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Pekerjaan itu dilakukan di sela-sela kesibukannya menggembala. Taktiknya, bakda rampung belajar di sekolah, ia akan ke kebun tebu terlebih dahulu untuk nyeset, kemudian baru menggembala.

Demi apa Dahlan rela menyibukkan dirinya hingga sebegitu itu?

Ada dua benda yang selalu menjadi keinginan Dahlan: sepeda dan sepatu. Dari kerja kerasnya yang masih belia itu, ia ingin sekali memenuhi hasratnya untuk memiliki dua benda tersebut. Akan tetapi, melihat kebutuhan primer keluarganya yang belum begitu baik dan bahkan belum ada tanda-tanda membaik, upah hasil kerja kerasnya nyeset itu diserahkan kepada ibunya untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Itu jauh lebih penting daripada memenuhi kepentingan pribadi Dahlan.

Tetapi, bukan berarti ia mengubur habis impian sederhananya itu. Keinginan itu terus tergambar jelas di benaknya. Setiap hari ia pupuk. Tiap hari ia berangan. Hingga kelas 5 SR, saat domba bagiannya hasil dari sistem bagi hasil tersebut bisa dijual untuk dibelikan sepatu, Dahlan merasa impiannya telah dekat. Memohon lah ia kepada bapaknya agar kambing jatahnya tersebut dijual, dan hasilnya dibelikan sepatu.

Betapa riangnya Dahlan, karena impiannya akan segera menjadi nyata. Ia telah membayangkan betapa riangnya ia bersepatu dan bersepeda menyusuri desa dan bisa sedikit pamer kepada kawan-kawan sepermainannya.

Namun, Iskan menolak.

Ditekuk kaki kirinya hingga lututnya menyentuh tanah, agar wajahnya bisa sejajar dengan Dahlan kecil. Dipegang kedua pundak putra kesayangannya tersebut. Iskan hendak memberikan pengertian, bahwa kebutuhan sekunder seperti itu harus terkalahkan, mengingat kebutuhan utama keluarga harus terpenuhi terlebih dahulu.

Dahlan sedih? Tentu. Tapi itu hanya serangan kesedihan sesaat. Sejurus kemudian ia tersenyum, lalu mengangguk pelan menyetujui petuah bapaknya. Dahlan memendam keinginannya. Ia memang sedih, namun jua tak kemudian patah arang. Suatu saat pasti bisa memiliki sepatu. Yah. Suatu hari, tetapi tidak hari ini.

Dahlan menceria diri lagi. Tak ada alasan untuk mencaci harapannya yang belum terwujud hari itu. Masih ada hari esok. Saatnya bekerja lagi. Berkarya lagi. Ini hanyalah soal waktu untuk memiliki sepatu idaman. Hanyalah soal waktu. Yang Dahlan tahu, ia hanya harus terus berbaik sangka kepada Allah, bahwa hari itu akan tiba. Saat impiannya memiliki sepatu dan sepeda terwujud.

“Kebersamaan dalam keluarga, harus diutamakan,” kata Iskan. Dahlan mengerti. Kebersamaan dalam keluarga adalah harga mati. Nilai keluarga yang harus terus dijagai. Seperti yang selalu diajarkan Khosiatun. Bila ada apa-apa, Dahlan harus selalu berkonsultasi dengan kakak perempuan tertuanya itu. Sofwati juga melakukan hal yang sama. Keterbukaan akan menghadirkan kekompakan. Dan dengan kekompakan antarsaudara seperti itu, akan menyuguhkan kekuatan. Dan bila satu sama lain sudah saling mendukung, hadangan aral sedahsyat apa pun, akan mampu mereka hadapi dengan pijakan yang teguh dan jiwa yang kukuh.

Bakda lulus SR, Dahlan melanjutkan gairah belajarnya ke madrasah tsanawiyah Pesantren Sabilil Muttaqien. Jarak tempuhnya lumayan bagi Dahlan yang tak memiliki sepeda. Lima belas kilometer. Sama seperti ketika menempuh pendidikan di SR, hingga saat ini Dahlan pun belum memiliki sepatu. Jarak yang tak pendek dari rumahnya ke madrasah tsanawiyah pesantren Sabilil Muttaqien dengan hamparan batu cadas yang menguasai jalanan lima puluh persen lebih, sudah cukup sebagai alasan untuk membuat telapak kaki Dahlan terselimuti kapalan. Bila sudah kelelahan dan ketiduran tanpa sadar di rumah akibat berjalan jauh, Khalisnah kerap mengoleskan minyak kelapa ke telapak kaki Dahlan, dengan sebelumnya mengusap kening Dahlan sebentaran, dan berdoa kepada Allah agar kemudahan dan keberkahan senantiasa mengiringi Dahlan dalam menuntut ilmu.

Namun, siapa jua menyangka, itu jua adalah momen-momen terakhir kebersamaan Dahlan dengan ibundanya tercinta di dunia ini. Tak berselang lama, di umur Dahlan yang masih 12 tahun, Khalisnah dipanggil menuju-Nya.

Kemiskinan yang menderanya memang sudah cukup untuk melarakan harinya. Akan tetapi, ketiadaan ibunda tercinta, melebih semua kelaraan itu. Ibunda yang selalu mengalirkan sayang. Ibunda yang selalu menghamparkan kasih. Juga sosok ibunda yang selalu menghadirkan ketenteraman dan menekankan kebersamaan dalam rumah.

Paling tergada kepiluan, tentu Iskan. Ia kini harus menanggung sendiri seluruh amanah menjaga anak-anaknya. Ia kini tiada lagi teman berbagi beban, sebagaimana fitrah terciptanya manusia berpasang-pasangan. Membagi keluh dengan anak-anak bukanlah solusi terbaik. Karena bila Iskan tak cukup pandai mengatur emosi dan tak lihai mengatur ekspresi ketegaran bakda ditinggal Khalisnah, maka itu bisa mengalirkan semangat yang buruk untuk anak-anaknya. Tentu, Iskan tak ingin itu terjadi. Bila ia cukup tegar menerima kenyataan ini, maka anak-anaknya pun akan dengan sendirinya bisa ikut mengatur emosi ketegaran mereka.

Hari-hari berlalu. Seminggu pertama bakda kepergian sang ibunda adalah seminggu terberat dalam kehidupan Dahlan. Tetapi, membiarkan diri terus berada dalam pojok ratapan adalah kesalahan. Hidup harus terus berlanjut. Menatap masa depan terbaik adalah dengan melakukan hal terbaik hari ini dengan energi terbaik.

Di saat Dahlan tengah membangun semangatnya, ada seleksi masuk tim voli sekolah. Di luar dugaan, setelah lolos seleksi, Dahlan tak hanya masuk tim inti, namun juga menjadi kaptennya. Latihan rutin ia gelar. Kekompakan tim ia agenda utamakan. Suasana keakraban ia lazimkan. Semakin baik hati para pemain menyatu, semakin baik fisik bisa bekerjasama. Tak heran, kompetisi voli tingkat SMP se-Kabupaten Magetan bisa timnya raih. Ini adalah sejarah kemenangan kompetisi olahraga terbaik di Pesantren Sabilil Muttaqien. Ini juga sebagai pembuktian, bahwa sekolahnya tak salah sudah memilihnya menjadi kapten tim.

Hebatnya lagi, berkat prestasi itu, Dahlan mendapatkan tawaran untuk melatih tim voli anak-anak karyawan pabrik gula di Desa Gorang Gareng.

Mendapatkan kesempatan seemas itu tentu Dahlan bangga. Tetapi, yang paling membahagiakannya adalah besaran bayaran yang ia terima bisa untuk memiliki sepeda dan sepatu. Dan makin hebat lagi, ia sanggup memiliki dua benda impiannya itu dari jerih payahnya sendiri.

Dahlan masih saja menikmati kegembiraannya. Wajar, karena memang tak ada yang lebih menggembirakan selain terwujudnya impian, yang telah terajut bertahun-tahun.

Belumlah usai Dahlan hanyut dalam luapan kegembiraannya, ada kabar mengagetkan dari Khosiatun. Ia berencana merantau ke Kalimantan. Kehilangan sosok ibunda saja sudah membuatnya cukup luput dari sentuhan kasih sayang perempuan, sebagai penyeimbang energi aktifnya karena ia adalah tipikal lelaki yang selalu penasaran dan suka berkreasi. Makin ditambah dengan kehilangan Khosiatun tentu bukan berita yang enak dirasa.

Tetapi, tekad Khosiatun ternyata sudah begitu bulat. Iskan, Sofwati, juga adik Dahlan, Zainuddin yang lahir tak berapa lama sebelum ibundanya meninggal, ikhlas melepas kepergian Khosiatun.

“Kita akan bertemu lagi, Mbakyu. Aku akan belajar dengan rajin di pesantren. Dan sekuat tenaga membantu bapak dan menjaga Zainuddin.”

Sedari tadi Khosiatun mendiamkan saja ocehan Dahlan yang bercampur senggukan itu. Seumur-umur, inilah pelukan Dahlan tererat yang Khosiatun terima.

“Insya Allah, Lan. Insya Allah kita akan bertemu lagi. Khusnuzhan saja sama Gusti Allah. Hanya itu yang akan membuat kita selalu bisa menghadapi hari depan dengan kesiapan yang penuh optimisme.”

Dahlan mengangguk sebentaran, lalu mengusap lelehan hangat air mata di pipinya yang sedari tadi sangat susah dihentikan.

Khosiatun pergi. Semua sedih. Tapi Iskan, kemudian mewejangi semua sisa anaknya yang masih bersamanya, “Kita harus belajar ikhlas ditinggalkan oleh orang-orang yang kita sayangi. Karena nanti, kita akan sampai pada kehilangan yang paling besar, kehilangan nyawa kita sendiri saat ajal menjemput. Terkadang, memiliki kenangan saja sudah cukup untuk kita merasa memiliki orang tersayang dengan utuh.”

Dahlan, Sofwati, juga Zainuddin mengangguk pelan. Entah mereka sudah bisa memahami kalimat penuh makna ini ataukah tidak. Yang pasti, di pikiran Dahlan sekarang, cepat atau lambat, ia pun akan pergi dari desa ini, menjemput impian-impiannya. Karena baginya, Kebon Dalem terlalu sempit untuk mewujudkan impian-impian besarnya.

Maka, sebakda merampungkan madrasah tsanawiyah dan aliyahnya di Pesantren Sabilil Muttaqien, Dahlan mulai gelisah. Ia tahu keberhasilan tak akan pernah bisa diraih tanpa kerja keras dan kerja cedas. Dan bila ia tetap di Magetan, ia takkan mampu memperluas wawasan dan pengalaman. Dan Dahlan juga tahu, bila ia tak melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi, ia takkan memiliki wawasan yang cukup untuk bisa membuat alur berpikirnya menjadi matang dan bisa melahirkan inovasi-inovasi yang akan membuatnya terbebas dari jerat kemiskinan seperti sekarang. Ia harus kuliah.

Setelah beberapa hari merenung, satu-satunya kemungkinan yang bisa Dahlan tempuh hanyalah satu: menyusul Khosiatun di Kalimantan, lalu sembari bekerja, ia juga akan kuliah. Ilmu enam tahun di pesantren belum cukup memuaskan gairah keilmuannya. Sifat alaminya yang selalu ingin banyak aktivitas, selalu ingin melahirkan inovasi, juga selalu ingin berkreativitas harus segera difasilitasinya sendiri. Dan itu berarti dia harus memperlebar ruang geraknya dalam dunia kampus.

Alhamdulillah Iskan meloloskan keinginannya. Walau beberapa kali sebelumnya penjelasan Dahlan belum disambut dengan baik oleh Iskan. Tetapi sikap ngotot Dahlan meluluhkannya. Iskan pasrah. Tak baik membendung membendung gairah baik seseorang. Selama alasan Dahlan merantau adalah berjalan di jalan kebaikan, maka Iskan ridha. Jalan kebaikan adalah jalan Tuhan, maka sesiapa senantiasa berjalan di jalan kebaikan, berarti dia berjalan di jalan Tuhan. Maka sungguh, tak lagi tersisa alasan bagi Iskan untuk menolak keinginan Dahlan.

“Hanya doa dan keridhaanku, Lan. Sebagaimana engkau tahu, keridhaan orang tua adalah keridhaan Allah. Gapailah impianmu. Dan di saat yang sama, jangan pernah melupakan Rabbmu.”

Dahlan mengerti. Sesukses apa pun dirinya kelak, bila ia jauh dari Allah, tak lagi taat, Allah akan dengan mudah mencabut nikmat-Nya. Dan artinya, keberkahan tidak mengalir di nadi rezekinya.

Episode hidup yang baru pun dimulai. Setelah sampai di bagian Timur Kalimantan, yakni Samarinda, Dahlan bersegera menemui Khosiatun sekaligus tinggal dengannya. Sesuai misinya sejak awal, selain kuliah Dahlan ingin juga nyambi bekerja. Agar tak merepotkan keadaan finansial kakak pertamanya itu.

Berbagai macam pekerjaan pernah ia lakoni demi menunjang biaya perkuliahannya. Buruh tambang batu bara. Pembersih ban buldoser, juga bagian keamanan di sebuah pabrik kayu. Tapi ternyata, setelah melakoni berbagai macam pekerjaan itu, kuliah Dahlan terabaikan. Kecapekan, pembagian waktu, semuanya membingungkan Dahlan. Khosiatun dengan lembut meminta Dahlan mengurangi aktivitas kerjanya, dan fokus ke kuliah saja. Bakda merenung panjang, Dahlan menyetujui. Bila ingin mengejar dua kelinci, kita takkan pernah mendapat salah satunya. Fokus adalah pilihan terbaik untuk mendapatkan yang terbaik.

Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda adalah tempat di mana Dahlan kuliah. Akan tetapi, saat menginjak semester empat, Dahlan merasa ilmu di kampus itu tak cukup untuk menyegarkan dahaga pengetahuannya. Bahkan, ia menganggap materi-materi yang diajarkan di kampus itu hanya mengulang semasa ia di pesantren Sabilil Muttaqien. Lebih bermutu di pesantren malahan materi perkuliahannya. Bakda merenung panjang lagi, akhirnya Dahlan membuat keputusan radikal. Dahlan berhenti kuliah.

Kurang tantangan di IAIN, Dahlan mendaftar kuliah lagi di Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Samarinda atau biasa disingkat Untag. Di kampus inilah Dahlan mulai terlibat dengan Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Di kampus ini, selain bantuan finansial didapat Dahlan dari Khosiatun, seorang pengusaha Samarinda yang peduli pada generasi muda berbakat, Yos Sutomo, juga turut memberi bantuan finansial kepada Dahlan untuk kuliah. Akan tetapi, lagi-lagi, bakda menginjak tahun kedua di kampus Untag, Dahlan didera kebosanan juga. Aktivitas monoton dan materi perkuliahan yang menurutnya juga tak menantang membuatnya lebih sibuk di organisasi Pelajar Islam Indonesia. Setelah menyibukkan diri di PII, banyak aktivitas heroik ia lakukan. Demo, dikejar tentara, berhadapan dengan aparat, kerap mengisi hari-harinya. Aktivitas di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia juga makin menyibukkannya. Ia mulai nyaman bertemu kawan-kawan sepemahaman, aktif, dan rajin berdiskusi persoalan bangsa. Mengkritisi pemerintah bisa dia lakukan dalam dua hal: turun langsung ke lapangan dan juga lewat media.

Tak berapa lama, Dahlan ditawari Sayid Alwy, jurnalis dan tokoh pemuda di Samarinda, bergabung di surat kabar harian Mimbar Masyarakat yang sudah didirikan oleh Sayid Alwi sejak lima tahun sebelumnya. Dahlan menerima ajakan Sayid Alwy pun karena tertohok wejangannya, “Mau tetap jadi aktivis, bisa tetap idealis, bebas mengkritik tetapi tidak ditangkap, ada caranya. Jadilah wartawan. Ikut saya.” Bagi Dahlan, itu adalah tawaran yang paling menggembirakan baginya. Sudah kebiasaan Sayid Alwi untuk merekrut anak-anak muda menjadi timnya. Anak-anak muda itu kemudian ia ubah menjadi pendobrak yang memututinggikan medianya.

Di Mimbar Masyarakat, Dahlan mengarungi karier awal jurnalistiknya. Sayid Alwi mengajarinya langsung bagaimana menulis. Dahlan mudah mengerti. Tetapi, sungguh tak mudah menghabiskan hari pertama di surat kabar itu dengan kesuksesan. Ternyata, tidak ada ‘keberuntungan pemula’ bagi Dahlan. Enam jam Dahlan habiskan di depan mesin ketik untuk membuat berita berjudul Reuni Para Pembangkang. Tetapi, laporan itu dirobek-robek redaktur dan mengkomplainnya dengan tegas, “Bedakan antara berita dan opini! Bikin lagi!” Melihat nasib tulisan yang dibuat dalam enam jam di tempat sampah bukanlah suasana yang bisa diterima dengan mudah oleh hati.

Tetapi, bakda hari itu, Dahlan mulai terbiasa degan ritme kerja wartawan. Bahkan, Dahlan berkali-kali menjadi trendsetter berita. Cara berpikir out of box-nya lah yang membuat berita-beritanya selalu menarik dan menggelitik. Saat wartawan lain mengangkat profil pejabat, ia lebih memilih profil orang-orang biasa yang sukses di bidangnya. Saat seharian ia tak dapat berita karena Samarinda begitu lengangdan damainya, ia mengeluarkan berita Tumben, Tidak Ada Kejadian di Samarinda. Bahkan, saat ia tengah mencari berita dan ia terjerembab dari sepedanya karena senggolan para pengiring jenazah, ia mengeluarkan berita Sudah Saatnya Samarinda Punya Mobil Jenazah.

Yah, dan semua beritanya tersebut disukai pembaca. Kelihaiannya memeluk angle tulisan yang unik itulah yang membuatnya menjadi wartawan yang khas dan disegani mutunya. Meski sumber beritanya sama, tetapi di tangan Dahlan, sajian beritanya akan menjadi berbeda, lebih baik dan lebih disukai pembaca. Nah, jika sebuah berita disukai pembaca, omzet surat kabar tentu akan naik pula. Dan ini menjadi kebanggaan Sayid Alwi karena berhasil mendidik Dahlan dengan baik sekaligus bermutu.

Berkat kelihaiannya itu pula, bersama tiga orang wartawan lainnya dari Mimbar Masyarakat, Dahlan lolos dalam seleksi program pelatihan LP3ES. Kala itu, Dahlan mendapatkan kesempatan magang di majalah Tempo, yang lekat dengan jurnalisme sastrawi. Sebelum berangkat magang ke Tempo di Jakarta, Dahlan menikahi Nafsiah, teman aktivis semasa di PII dulu, yang memiliki kemampuan qiraah yang indah.

Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk memutuskan dengan pasti bahwa kau akan menerima pinangan seseorang? Menerima pinangan seseorang bukanlah perkara enteng, seperti memilih nasi goreng telur dadar ataukah nasi goreng telur ceplok. Menerima pinangan seseorang berarti tentang menerima orang yang akan mengikat janji suci, dan dengan tegas berjanji menjagamu sampai mati. Dan bahkan setelah engkau mati, engkau pun harus jua memastika ia masih menjaga dan merawat kenangan-kenangan yang pernah dilewati bersama.

Itu juga yang berada di pikiran Nafsiah. Dengan basmalah dan kemantapan hati, Nafsiah tak menolak pinangan Dahlan. Maka, Dahlan yang kala itu amsih berumur 25 tahun dan Nafsiah berumur 22 tahun, resmi menikah. Babak kehidupan Dahlan yang baru dalam rumah tangga, dimulilah sudah.

Selama magang, Dahlan rutin mengirimkan surat kepada Nafsiah, sebagai pelepas rindu. Terpisah jarak Samarinda-Jakarta bukanlah perkara mudah untuk mengabaikan rindu yang semelimpah itu. Tetapi semua itu tetap dilakoni, untuk menghidupkan gairah Dahlan akan jurnalistik.

Sebulan sebelum masa magang berakhir, Dahlan mendapatkan tawaran mengejutkan. Menetap di Jakarta dan menjadi wartawan Tempo. Statusnya sebagai pembantu lepas. Dibayar ketika per satu berita yang dimuat. Beginilah apa yang diperoleh ketika seseorang melakukan segalanya dengan hati. Dengan energi terbaik. Dengan totalitas. Dengan gairah. Tak semua wartawan bisa menjadi bagian dari majalah sekelas Tempo. Apalagi, kesempatan ini datang justru karena tawaran langsung dari pihak Tempo. Tentu kualitas Dahlan tak perlu lah lagi diragukan.

Setibanya di Samarinda, ketika habis masa magang, Dahlan langsung menemui Sayid Alwi dan menyampaikan perihal tawaran Tempo kepadanya. Bagi Dahlan, Sayyid Alwi adalah kakak sekaligus guru jurnalistiknya.

Awalnya Dahlan ragu-ragu. Tak dinyana, Sayid Alwi mengiyakan. Dahlan terharu. Pengiyaan Alwi jelas diluar dugaan Dahlan. Tetapi, sejatinya paling haru adalah Alwi. Awak Mimbar Masyarakat bahkan dilirik media sekelas Tempo tentu melegakannya. Berarti, Mimbar Masyarakat mampu menggembleng anak-anak muda mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Awaknya memiliki mutu yang sedimikian hebatnya.

Bakda itu, hari-hari Dahlan dihabiskan bergelut dengan berita, mesin ketik, dan kertas. Hanya dalam sebulan, ia bisa menghabiskan seribu lembar kertas untuk menyalurkan energi kreatifnya dalam menulis. Inilah momen di mana kesiapan dan kesempatan bertemu, yang kemudian tak disiakan Dahlan begitu saja. Momen kesiapan, karena Dahlan sudah berlatih keras selama ini, dan momen kesempatan, karena akhirnya Tempo dan Mimbar Masyarakat mau untuk menampung energi kreatifnya. Maka tak heran, seribu lembar kertas kosong habis dihajarnya dengan jejalan teks. Gairahnya dalam menulis disalurkan semaksimal mungkin.

Dahlan begitu asyik dengan pekerjaannya. Begitu asyik menulis. Begitu asyik berkreativitas. Dahlan seperti kesetanan dalam bekerja. Bukan lupa waktu dan lupa daratan. Tetapi lupa untuk membedakan antara bekerja dan memenuhi gairah berkaryanya. Dan keasyikannya itu berbuah manis. Di Mimbar Masyarakat ia diangkat menjadi Redaktur Pelaksana dan di Tempo berganti jabatan menjadi koresponden.

Berbekal dua jabatan prestisius itu, makin menggilalah aktivitas kreatifnya. Ide-ide hebat sering digulirkannya. Misalkan ketika diadakannya MTQ tingkat nasional di Samarinda. Dahlan bersama Ibrahimansyah Rahman dan Aan R. Gustam, rekan kerjanya di Mimbar Masyarakat, bersepakat menunaikan misi agar Mimbar Masyarakat menjadi yang terdepan dalam menyampaikan berita mengenai MTQ yang diadakan di kota mereka itu. Wartawan-wartawan dari seluruh kota besar di Indonesia memang dikirimkan ke sana, tetapi kalau bisa Mimbar Masyarakat menjadi media rujukan informasi. Maka, mereka bertiga berinisiatif untuk menjadikan Mimbar Masyarakat menjadi media yang update harian. Mengubah sementara format terbit mingguan menjadi harian, selama MTQ tersebut berlangsung.

Hebatnya, ternyata misi Dahlan dan dua kawannya tersebut berbuah manis. Mimbar Masyarakat menjadi media rujukan media-media nasional. Pejabat daerah bahkan berebutan agar aktivitas mereka diliput oleh Dahlan. Strategi Dahlan kala itu benar-benar menuai kesuksesan tak hanya dari segi brand namun juga finansial. Laba yang diperoleh Mimbar Masyarakat waktu itu mencapai enam ratusan juta, langsung membuat energi Dahlan kian berkibar-kibar. Energi kreatifnya makin tak terbendung. Apalagi, ditambah statusnya di Tempo menjadi Pembantu Tetap. Makin menggeliatlah energi menulis Dahlan. Parahnya, Tempo yang terbit seminggu sekali seperti Mimbar Masyarakat dianggap Dahlan belum mampu membendung energi menulis Dahlan. Maka, tulisannya yang tak lolos di Tempo, ia kirimkan ke media lain.

Setelah lumayan lama berlangsung, Dahlan dipanggil ke Jakarta. Dahlan juga sudah tahu bahwa tindakannya itu adalah hal tabu dalam dunia pers. Dahlan pasrah dengan kesalahannya. Yang menyidangnya adalah Yusril Djalinus, koordinator daerah.

“Mulai saat ini, Anda diberhentikan dari pembantu tetap Tempo di Kalimantan Timur.”

Dahlan menyedot nafas secara spontan, dan mengeluarkannya secara perlahan. Ia menunduk pelan. Saat itu terasa hening sekali. Baik suasana maupun pikiran Dahlan.

“Tapi …,“ kata Yusril melanjutkan, “Anda kini ditugaskan ke Surabaya menjadi Kepala Biro Tempo.”

Dahlan langsung mendongakkan kembali kepalanya. Hampir tidak percaya. Di ujung sana, Yusril tersenyum puas. Mereka bersalaman, dan Yusril meyakinkan bahwa Dahlan akan bisa mengemban tugas barunya itu.

Dahlan segera pindah ke Surabaya. Nafsiah dan putranya, Azrul Ananda yang biasa ia panggil Rully, ia boyong. Tentu setelah mendapatkan restu sepenuhnya dari Sayid Alwi. “Demi masa depanmu, tinggalkan saja saya.” Alwi tahu, potensi Dahlan harus dikembangkan, di kota besar. Samarinda masih terlalu kecil untuk menampung energi potensinya.

Saat menjabat sebagai Kepala Biro Tempo Surabaya tahun 1978 Dahlan memelopori berita dari daerah yang bermutu, bahkan sering menjadi Laporan Utama majalah Tempo di masanya, di tengah dominasi berita-berita nasional yang selalu mengandalkan berita dan wartawan dari Jakarta.

Misalnya, bagiamana keberhasilan Dahlan menuliskan berita tentang Kusni Kadut, penjahat legendaris era 1970-an, yang bahkan dijuluki Robin Hood-nya Indonesia. Liputan Dahlan menyedot atensi publik yang besar, karena menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil melakukan wawancara langsung lengkap dengan foto-foto eksklusif. Juga tentang peristiwa terbakarnya Kapal Tampomas II rute Tanjung Priok – Ujung Pandang di perairan sekitar Kepulauan Masalembo di Laut Jawa. Hebatnya, liputan itu menjadi cover story majalah Tempo edisi 7 Februari 1981, bermula dari liputannya itu terkuak skandal besar di balik peristiwa tersebut. Liputan Dahlan itu pun berjudul sangat apik, Neraka 40 Jam di Tengah Laut.

Ada empat benda yang menjadi kekhasan Dahlan ketika menjalankan tugas jurnalistiknya. Pertama, kamera saku. Jelas, untuk mendapatkan momen-momen menarik ketika meliput. Kedua, jaket kain berwarna biru yang ber-hoodie, hadiah dari kawannya sesama wartawan di Majalah Tempo. Ketiga, kacamata hitam besar. Besar? Yah. Karena memang sangat tidak cocok dengan bentuk muka Dahlan yang masih kurus nan tirus. Dan terakhir, adalah sepeda motor bebek warna abu-abu kombinasi hitam berlogo Honda.

Dengan keempat benda itu, Dahlan mengarungi serunya dunia wartawan; mencari narasumber, lalu menyajikan laporannya dengan tajam. Dunia yang menuntut kreativitas dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Kantor Dahlan di Surabaya janganlah dibayangkan sebagai ruangan megah dengan furnitur indah. Kantor yang terletak di Kampung Gubenag Airlangga Jalan Kertajaya dan berada tepat di belakang pasar itu hanyalah sebuah bangunan berdinding anyaman bambu, bersekat triplek, dengan lantai tanah.

Eric Samola yang baru saja diutus oleh Ciputra mengurus manajemen Tempo, langsung meminta Dahlan mencari pengganti dari kantor tak layak itu. maklum, Tempo baru saja mendapatkan suntikan dana yang tak sedikit dari Yayasan Jaya Raya, milik Ciputra.

Bakda kunjungan pertama ke kantor Biro Tempo Surabaya itu, Eric Samola dan Dahlan semakin dekat. Bahkan, Dahlan menjadi supir langganan bagi Eric Samola ketika berkunjung ke Surabaya. Banyak perbincangan terjadi. Kepimpimpinan, impian, cara mengelola perusahaan, dan lain sebagainya. Dahlan banyak belajar dari orang kepercayaan Ciputra itu.

Kerja, kerja, dan kerja adalah nyawa Dahlan. Dari gairahnya dalam jurnalistik yang kuat berpadu kreativitasnya dalam mencari sudut pandang berita, Dahlan sudah mengukuhkan fondasi untuk menguatkan pijakan menuju langkah baru. Langkah di mana orang-orang akan mengenalnya sebagai Raja Media.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment