pemasaran konten

50 Strategi Kreatif Content Marketing yang Terbukti Berhasil

Content marketing adalah keharusan bagi sebuah bisnis di era modern. Tanpa menguasai content marketing, maka sebuah bisnis seperti ketinggalan zaman dan akan sangat sulit bersaing dengan para kompetitornya. Hal ini jelas, karena kita telah berada pada era internet, di mana pembuat konten terbaiklah yang akan menang.

(1)

Ada begitu banyak media sosial besar, seperti Instagram, Facebook, Twitter, hingga YouTube. Akan tetapi, saran saya, tentukan satu kanal yang paling diunggulkan. Misalkan, apakah fokus di Instagram dulu, ataukah YouTube terlebih dahulu. Tergantung keperluan campaign dari brand kamu.

Bila mengandalkan gambar, tentu Instagram lebih cocok. Bila mengandalkan video, tentu YouTube lebih utama. Yang pasti, fokus dulu di satu kanal media sosial, lalu konsisten mengisi konten, dan besarkan dengan tekun.

(2)

Pastikan kamu mengambil platform media sosial yang tepat. Contohnya CapitalPitch yang ternyata memiliki strategi content marketing yang lebih berhasil di LinkedIn daripada Facebook. Mengapa? Karena target pasarnya adalah investor dan founder yang lebih matang. Tentu saja, LinkedIn adalah tempat yang tepat dan berkumpulnya orang-orang dengan persona seperti itu.

(3)

Selalu berikan alasan yang tepat dan masuk akal agar orang-orang mau kembali ke blog, Instagram, atau ke akun YouTube-mu. Sebenarnya orang-orang tak begitu suka kalau kita memposting konten terlalu sering. Yang lebih mereka butuhkan adalah konten yang berkualitas. Dua minggu sekali, namun konten sangat bagus, lebih disukai, lebih mudah untuk mendapatkan audiens baru, daripada konten yang sering namun miskin value. We live in an on-demand society but that doesn’t mean you have to post everything in real-time — it’s more important to get it right then get it in real time.

(4)

Fokuslah pada storytelling yang bagus. Pada era sekarang, memposting gambar yang bagus memang membantu. Akan tetapi, audiens akan lebih merasakan pengalaman yang lebih manakala gambar yang bagus disertai dengan storytelling yang menyentuh. Tool yang paling baik dan autentik adalah video, karena audiens merasa terlibat dengan sebuah pengalaman.

(5)

Berkolaborasi dengan influencer lain sangat bagus, karena tidak hanya membuat distribusi kontenmu mengalir jauh, namun juga menjadikanmu sejajar dengan level mereka.

(6)

Saat kamu membuat sebuah konten yang berkualitas tinggi dan luar biasa, distribusinya tidak usah kamu pusingkan, karena ia akan terdistribusi sendiri. Itulah mengapa selalu saya tekankan untuk membuat konten yang bermutu. Tak usah sering-sering, asal bermutu tinggi.

(7)

Tawarkan sesuatu yang bernilai. Sesuatu yang bisa menjadi sebuah solusi atau membaut audiens menjadi lebih mudah. Tukarkan dengan meminta email mereka dan jadikan itu sabagai bahan untuk building list.

(8)

DesignSchool.Canva.com rutin membuat konten yang berkaitan dengan desain dan mem-featured desain kelas dunia. Dari situ, Canva mendapatkan banyak traffic dan mendapatkan sokongan pertumbuhan pengunjung yang besar dari Pinterest. Nah, ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa Canva sesuai dengan media sosial Pinterest, karena audiens memang terbiasa menjadikan Pinterest sebagai sumber inspirasi untuk gambar-gambar menarik dan kreatif.

(9)

Mempromosikan konten lama lagi bukanlah sebuah aib. Namun, pastikan pada saat yang sama, kita juga membuat konten baru yang lebih hebat.

(10)

Seorang pembuat konten tak boleh hanya menunggu saja audiens datang dan menikmati konten yang dibuat. Sebagai pembuat konten, kita harus aktif mencari dan mendistribusikan konten dengan cara-cara yang kreatif dan sesuai dengan target penikmat konten kita. Ada konten yang lebih cocok kita maksimalkan dalam format blog. Ada konten yang lebih cocok kita maksimalkan dalam format video, dan lain sebagainya.

(11)

Setiap keping konten harus menawarkan value kepada audiens. Sesekali, jangan lupa untuk menawarkan kepada audiens, bahwa kalau mereka men- share konten yang kita buat, mereka akan mendapatkan sebuah “hadiah tertentu”, bisa berupa ebook, video, atau hal-hal lain yang seru.

(12)

Sertakan gambar dalam postingan Twitter-mu. Ini membantumu “keluar dari kerumunan” dan membaut twitmu lebih mudah terlihat.

(13)

Beberapa postingan ada kalanya memang tak usah kita distribusikan dengan keras, dia sudah menjadi viral sendiri. Tak ada rumus pasti bagaimana membuat postingan yang memiliki nilai viral yang tinggi. Namun yang pasti, saat kita selesai membuat postingan, kita memang harus rajin untuk mempromosikannya. Post and pray doesn’t work. If you create amazing content, you should put in effort to promote it.

(14)

YouTube adalah sumber konten yang paling cepat berkembang untuk saat ini, bahkan mungkin bertahun-tahun mendatang. Ini adalah eranya video. Jadi, kalau kamu ingin menjadikan konten promosimu maksimal dalam format video, kemaslah dengan cara yang kekinian dan sesuai dengan target pasarmu sekarang juga.

(15)

Facebook memiliki jumlah pengguna miliaran. Akan tetapi, Facebook memiliki jenis konten yang beragam, misalkan teks, gambar, bahkan video. Dan dengan banyaknya jumlah pengguna, artinya Facebook Page kamu, tingkat untuk mendapatkan perhatian akan kecil. Kecuali dengan bantuan FB Ads yang benar. Oleh itulah, ketika menggunakan Facebook, banyak yang berpatokan bahwa frekuensi konten memang tak usah sering-sering, namun harus berkualitas, sehingga mendapatkan atensi yang besar.

(16)

Pengguna terbesar Twitter, adalah anak-anak muda, sekitar 18–35 tahun. Dengan batasan karakter teks yang disajikan, frekuensi konten di Twitter sering tidak menjadi masalah, asalkan menggunakan tagar dan dikemas dengan menarik, sehingga memancing perbincangan yang aktif dengan pengguna lain. Pintar-pintarlah membuat tagar hingga menjadi khas dan mudah “ditemukan”.

(17)

Instagram, tentu saja, karena platform-nya adalah melayani gambar dan video singkat, memungkinkan bagi brand untuk mengeksplorasi produk lewat tampilan fotografi dengan seni video yang menarik.

(18)

Tetap gunakan kepribadian brand kamu. Apakah brand-mu memiliki persona elegan, serius, ataukah santai.

(19)

Sebelum membuat konten, tentukan dulu tujuannya, apakah formatnya adalah inspirasi, hiburan, informasi, edukasi, membangun interaksi, ataukah sebuah ajakan.

(20)

Bentuklah gaya bertuturmu, apakah sopan nan formal, ataukah blak-blakan nan kritis, ataukah justru santai penuh canda.

(21)

Ini adalah era disruption. Apa itu? Disruption mengacu pada dua tren pemasaran utama, yakni evolusi yang cepat dari teknologi dan pergesaran harapan konsumen pada waktu bersamaan. Semuanya dipadu dengan kreativitas. Ini adalah sebuah era baru perubahan pada sebuah industri dan cara bermain bagi merek dalam menanggapi tuntutan-tuntutan baru dalam dunia bisnis dan perubahan sosial.

Untuk lebih mudah memahaminya, perhatikan bagaimana Go-Jek, Uber, dan Grab, mampu menjungkirbalikkan model bisnis lama seperti Blue Bird. Model bisnis hotel juga terdisrupsi oleh AirBnB. Dan banyak contoh-contoh lainnya. Disruption sekarang menjadi begitu konstan. Brand kamu wajib mengikuti perubahan ini bila tidak ingin tertinggal jauh.

(22)

Dollar Shave Club, sebuah startup beurmur lima tahun ini dibeli Unilever seharga $1 miliar! Bagaimana startup penjual pisau cukur bisa membalikkan industri alat cukur dan mencapai begitu banyak keberhasilan dalam waktu sesingkat itu? Strateginya adalah menggunakan komunitas berbasis email: subscription marketing. Dollar Shave Club hanya fokus kepada yang penting saja dalam membuat produk, yakni gagang pisau cukur yang nyaman, mata pisau yang tajam. Itu saja, karena memang hanya itu yang dibutuhkan untuk mencukur jamban. Saat diakuisisi Unilever, Dollar Shave Club memiliki 1.7 miliar anggota, di mana setiap mereka pada tiap bulannya membayar hanya $10 untuk mendapatkan paketan alat pemotong jambang beserta krimnya langsung ke rumah mereka.

Sebuah ide bisnis yang brilian, bukan? Tanpa sentuhan pemasaran konten lewat email, tentu sangat susah untuk merawat 1.7 miliar anggota.

(23)

Content marketing yang terencana, akan menciptakan yang namanya experiental brands. Experiences don’t just happen, the need to be planned. Jadi, experience atau pengalaman yang dirasakan oleh audiens itu tidak akan terjadi begitu saja, namun harus direncanakan. Dan dalam proses perencanaan, seorang pemasar harus kreatif, memanfaatkan kejutan, intrik, dan bahkan provokasi. Hal-hal itu sah-sah saja dilakukan, selama tidak merusak reputasi brand. 

(24)

Pikirkan pertama kali tentang pengalaman konsumen. Setelah itu, barulah seorang pemasar dapat menentukan karakteristik-karakteristik fungsional dari sebuah produk dan manfaat dari merek yang ada.

(25)

Obsesiflah tentang detail dari pengalaman yang ingin diberikan kepada konsumen. Konsep pemuasan kebutuhan konsumen tradisional melewatkan unsur-unsur sensori, perasaan hangat yang dirasakan konsumen, serta cuci otak konsumen, yang meliputi pemuasan seluruh tubuh dan seluruh pikiran konsumen. Schmitt (1999) menyebutnya sebagai exultate jubilate, yang berarti kepuasan yang amat sangat.

(26)

Pada dasarnya, sebuah merek dibuat untuk membedakan sebuah produk atau jasa dari kompetitor. Ketika sebuah merek membangun brand management, hal tersebut dapat meyakinkan pelanggan, pemasok, atau siapa pun bahwa perusahaan kamu melalukan bisnis yang dapat dipercaya. Maka, pastikan konten-kontenmu sesuai dengan visi dan misi yang tengah diperjuangkan oleh brand. 

(27)

Apa manfaat mengelola merek bagi sebuah brand? Secara sederhana, perusahan memerlukan pengelolaan merek untuk menjadikan produknya dikenal orang. Di sisi lain, lewat brand management, merek dapat meningkatkan customer value tehradap produk atau jasa yang ditawarkan. Merek akhirnya mampu tampil beda dari para pesaing yang mulai banyak jumlahnya. Pada akhirnya, brand yang dikelola dengan baik bisa membuat orang tak lagi memikirkan soal harga. Kalau dia sudah suka dengan brand-nya, mereka tidak akan peduli berapa besar yang akan mereka bayarkan.

(28)

Kelola konten dengan kreatif nan konsisten. Bangun engagement yang kuat, aktif, dan menarik. Padukan antara amazing content, perfect timing, dengan ideal frequency. Kombinasi dari ketiga hal tersebut adalah sebuah kemenangan yang nyata dalam ranah content marketing. Dan tentu saja, jangan lupa mengukur efektivitas kampanyemu.

(29)

Samsung S8, karena target pasarnya adalah anak muda, mereka tidak memainkan iklan di televisi dengan masif, namun lewat media sosial. Sekarang, kita sudah sampai pada era di mana konsumen yang mendikte sebuah brand. Bila konsumen tidak suka, mereka akan skip, karena begitu banyak channel tersedia. Di YouTube, konsumen ingin menonton sebuah story telling yang menunjukkan pesan dan manfaat. Makanya, sedari awal brand harus kreatif, agar konsumen tidak langsung skip.

(30)

Untuk membuat story telling, sebuah konten harus punya nilai humanisme atau human story. Itulah yang akan membuat audiens “tersentuh”.

(31)

Angkat audiens sebagai hero, bukan produknya sebagai hero.

(31)

Jangan copy materi kampanye offline ke online. Perlakukan secara berbeda. Jangan menyamakan semua materi kampanye di multi platform media sosial.

(32)

Dari sekian banyak kampanye Aqua, paling berhasil adalah #AdaAqua. Bahkan, itu menjadi tagar perbincangan di media sosial, ketika ingin mengutarakan kalimat: lagi nggak fokus, ya?

Kampanye ini menyadarkan kita, bahwa content is king, distribution is queen. Setiap konten dan distribusi harus didefinisikan apakah mau yang berbayar, organik, atau anorganik. Cari momen yang tepat ketika menyebarluaskan suatu campaign pemasaran, sehingga mampu berkembang menjadi pembicaraan yang terus-menerus berlangsung di media sosial.

(33)

Konten dan distribusi tidak boleh timpang. Percuma apabila konten bagus, namun distribusinya kurang memadai.

(34)

Kreativitas konten mutlak diperhatikan ketika brand menggelar campaign di media sosial. Selain itu, materi konten harus relevan dengan apa yang terjadi di masyarakat. Jika tidak, kampanye akan dilewatkan begitu saja. Ketika campaign ingin mnejadi viral, konten haruslah punya diferensiasi.

(35)

Konten yang menarik akan terus diikuti, bila sudah tidak menarik, user akan skip. Itu sudah natural, karena banyak konten lain yang hadir. Bukalapak misalnya. Saat momen Harbolnas, mereka justru menghadirkan Zaky dalam iklan dengan konsep yang sangat nyeleneh, di saat yang lain berlomba-lomba menggaet artis terkenal untuk mempromosikan. Dan nyatanya, konten nyeleneh seperti itu justru stand out dan meraih perhatian. Nah, inilah poinnya. Meraih perhatian. Bukalapak juga menempatkan diri sebagai brand friend, yang dekat dengan konsumen, tanpa polesan iklan yang glamor dan berjarak. Dengan konsep seperti itu, campaign buka lapak layak mendapatkan awarenens, sharebility, dan ujungnya conversion.

(36)

Campaign di media sosial adalah soal konten. Masyarakat akan tanggap ketika konten yang dibuat memiliki diferensiasi dan kreatif. Dan satu hal lagi, relevansi. Semakin relevan, akan semakin dekat dengan konsumen. Dan mereka akan semakin engage.

(37)

Satu hal yang perlu dicatat, media sosial bukanlah platform yang tepat untuk hard selling. Sehingga, unsur brand harus dimasukkan dengan cara sehalus mungkin tanpa mengganggu kenyamanan publik. Maka, jadilah diri sendiri dan hadirkan diferensiasi pada setiap campaign. Definiskan target market yang disasar dengan jelas. Ikuti terus fitur-fitur baru di berbagai platform media sosial. Jangan hard selling, jangan menggunakan buzzer yang ternyata tidak relevan dengan brand, dan jangan lakukan komunikasi yang terlalu kaku dan dibuat-buat.

(38)

Ada tiga jenis konten. Core content, yakni inti dari konten. Sidebar content, atau konten yang tidak berkaitan langsung dengan core content tetapi ketika di-share bisa mengingatkan kepada core content. Lalu, snackable content, yang merupakan konten-konten kecil yang bisa di-share di berbagai media sosial.

(39)

Sebuah brand tidak boleh meninggalkan personality-nya ketika masuk media sosial. Identitas di dunia nyata harus bisa ditransfer ke dunia maya. Jika sebuah brand premium, berkomunikasilah secara elegan. Jenis produk juga membedakan cara berkomunikasi, ada yang memang bisa dijual langsung seperti kuliner, namun juga ada yang softselling seperti handphone.

(40)

Orang-orang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi. Maka, bila brand harus hardselling, akan terasa hard. Maka, lakukan brand story dan konten unik.

(41)

Melakukan social media marketing, memungkinkan targetting dan retargetting. Socmed ads sangat mudah untuk dikustomisasi. Kita bisa mengatur lokasi, tingkat pendidikan, interest akan topik, hingga sejarah pembelian situs yang mereka sukai. Artinya, socmed marketing memiliki tingkat akurasi hingga 90% lebih. Bahkan, Facebook menyediakan Facebook Pixel yang memungkinkan kita untuk retargeting, sehingga kita bisa merawat pelanggan.

(42)

Dengan social media marketing, ketika sbeuah merek mengadakan event, dengan tagar tertentu, konsumen akan mudah men-share-nya dan juga men-track-nya. sehingga, media yang tak bisa meliput pun bisa menggunakan hal itu sebagai sumber berita.

(43)

Memberikan solusi bagi pelanggan adalah tujuan bisnis. Maka, ketika konsumen menemui masalah, dan media sosial menjadi alat yang sedemikian cepat merespons kegelisahan pelanggan, tentu hal ini akan memudahkan engagement.

(44)

Texas Tech University merampungkan laporan bahwa merek dengan profil medsos yang aktif memiliki lebih banyak pelanggan setia. Pasalnya, ketiak Anda telribat dan berinteraksi di medoss, kamu menjadi terlihat idak seperti sebuah perusahaan atau merek, namun dianggap sebagai manusia hidup dan teman bagi konsumen.

(45)

Apa saja jenis konten yang bisa diposting di media sosial? Tips, breaking news, jokes, industry research, polls, interview based post, contest, case studies, Q&A sessions, envet post, live tweets, tutorials, top list, infographics, quotes, top list, comic strips, fill in the blank posts.

(46)

Ketika pesaing kamu gencar dengan social media marketing atau content marketing, dan kamu justru tak mengunakannya, selain dicap ketinggalan zaman dan tak relevan lagi dengan konsumen, kamu juga akan kehilangan pelanggan dan kehilangan atensi mereka.

(47)

Seberapa besarpun modal kamu, namun bila tak memiliki konten yang kreatif, kamu juga akan langsung di-skip. Kamu tidak berhasil dalam arena pertarungan content marketing. Merek yang berhasil go viral, adalah merek yang berhasil. Di media sosial, merek harus memberikan value, dan di sisi lain, harus menghibur serta menunjukkan kepribadian.

(48)

Tentu saja, tujuan marketing adalah meningkatkan penjualan. Social media marketing tak hanya menjaga nama perusahaan kamu di depan para pembeli yang potensian, namun juga memberikan kesempatan untuk memberi mereka inisiatif agar selalu memiliki alasan untuk membeli. Pemberian kuis, kupon, dan kode unik selalu berhasil, kan?

(49)

Apa beda FB Ads dan Google Ad? FB Ads lebih fokus pada apa yang audiens sukai, sedangkan Google Ad didasarkan pada kata kunci yang dicari pengguna di internet. Menggunakan Adwords menghabiskan maksimal US$ 50 per klik, namun FB Ads membuat kamu hanya membayar US$ 0,25 per klik, tergantung dari CTR (click through rate) dan faktor targetting untuk iklan kamu. Secara umum, kamu membayar FB Ads lebih murah dibandingkan Adwords, namun, dalam masalah CPC (cost per acquisition) FB bisa menjadi lebih mahal dibanding Adwords.

(50)

Dengan melakukan social media marketing, kalau ingin riset, cepat. Ingin mengetahui keinginan konsumen, cepat. Ingin rapat berdasarkan data konsumen, juga cepat. Media sosial memudahkan kita memetakan pelanggan dan memenuhi keinginan mereka serta memonetisasinya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment