adab berdoa

Cerdik Melantun Doa

“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pangkal segala sesuatu. Hendaklah engkau berjihad, karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Hendaklah engkau senantiasa berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an, karena ia merupakan rahmat bagimu di langit dan dzikirmu di bumi.” (HR. Ahmad)

Sungguh meminta pada-Nya, apa pun itu, selama dalam kebaikan, adalah anjuran-Nya. Sebab yang tak pernah memohon pada-Nya, kan jatuh pada kesombongan.

Nabiyullah Musa alaihis salam. Terpayah raganya karena berlari dari Mesir hingga Madyan. Para prajurit Fir’aun memburunya karena telah membunuh salah satu Bani Israil. Di antara sengal-sengal nafasnya, ia berjenak sebentar. Kelelahan mendera, dan tenaganya tinggal sisa-sisa, berpadu pula dengan lapar yang meraja. Maka, ia melantun doa pada Rabbnya, di sebuah tempat teduh, setelah sebelumnya sempat menolong dua putri Syuaib yang antri mengambil air minum untuk ternak mereka.

Pilih benar Musa atas kata-kata doa yang hendak ia panjat. Karena memohoni-Nya memanglah harus ada adabnya. Maka, bila kita seksamai, kondisi Musa begini: karakter Musa yang keras, ditambah kini ia tengah lelah dan payah, dengan kelaparan yang melemah tenaga, namun, doanya tetap santun terlantun, ”Rabbi, inni lima anjzalta ilayya min khairin faqirun; Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Kalimat Musa penuh kehati-hatian. Ia tak menyebut tha’am, yaitu makanan dalam doanya. Ia justru melantun khair yang berarti kebaikan. Nah, bila kita mau mencermati, saat Allah sudah memberi khair pada kita, tentulah tidak tanggung-tanggung lagi indah, banyak, dan jua berkahnya.

Tak heran, bila khair yang terpanjat tadi menjelma: Nabi Musa bertemu dengan Nabi Syuaib; mendapat tempat tinggal dari Nabi Syuaib padahal ia buronan Firaun dari Mesir; pekerjaan dari Syuaib; bahkan kelak ia menjadi suami dari putri Syuaib. Banyak nan menarik nian.

Dari sini kita tahu, saat kita begitu cerdik memilih lantunan doa, di sanalah Allah yang senantiasa menjawab doa hamba sesuai janji-Nya itu, kan memberikan lampauan jauh di atas hajat utama.

Maka teruslah berdoa. Sungguh meminta pada-Nya, apa pun itu, selama dalam kebaikan, adalah anjuran-Nya. Sebab yang tak pernah memohon pada-Nya, kan jatuh pada kesombongan. Sungguh tak apa terus meminta keinginan. Hanya saja, cerdas nan cermatlah memilih kata dan melantun hajat pada-Nya.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment