Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)

pedoman umum ejaan bahasa indonesia

Prakata Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasil­kan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Pera­turan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Ditinjau dari sejarah penyusunannya, sejak peraturan ejaan bahasa Melayu dengan huruf … Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Panduan Menulis Buku

tips lengkap menulis buku

Panduan menulis buku – Banyak yang bertanya kepada saya seperti ini. “Bagaimana sih caranya bisa menulis dengan produktif seperti Mas Fachmy?” Biasanya saya akan menjawab, “Ketampanan wajah memengaruhi, sih…” Tentu saja saya bercanda.

Akan tetapi, pertanyaan itu saya perhatikan dengan serius. Yah, ternyata tak semua orang bisa menulis. Akan tetapi, kalau saya perhatikan lebih seksama, bukan tak bisa menulis sebenarnya, hanya lemah keinginan dan miskin strategi.

Secara garis besarnya, tak ada persiapan yang mumpuni untuk menjadi penulis.

Dalam artikel yang panjang ini, saya paparkan pengetahuan sekaligus wawasan saya dalam mengatur strategi menulis buku. Panduan ini sangat penting untuk penulis pemula yang masih menganggap menulis buku adalah suatu hal yang mustahil. Setelah menuntaskan membacanya, semoga kamu nanti tidak beranggapan seperti itu lagi.

Selamat menyimak, ya ….

 

Mengapa Kamu Menulis?

Ada hubungan erat antara menulis dan membaca. Erat banget, sudah kayak hubungan suami-istri gitu, deh.

Sudah menjadi kesepakatan jamak, siapa yang tak rakus membaca, ia tak akan bagus dalam menulis. Bahkan, ibaratnya ketika kita membaca satu buku, kita sedang membaca rangkuman ilmu atas bacaan-bacaan yang sudah dikunyah oleh penulis.

… dan hal tersebut merupakan sebuah efektifivitas waktu bagi kita dalam berburu ilmu.

Itulah mengapa banyak orang yang begitu rakus membaca, karena semakin greget dalam membaca akan semakin ketagihan untuk lebih tahu mengenai suatu subjek yang sedang dia pelajari.

Nah, itu salah satu kebaikan yang dialirkan lewat sebuah buku.

Kalau kamu sebagai penulisnya, apa yang membuatmu tertarik untuk menulis buku?

Apa yang membuatmu memutuskan untuk menulis buku?

Jawabanmu mungkin beragam seperti ini.

1 – Meningkatkan prestise diri dan mengemas personal branding dalam karier.

2 – Menambah penghasilan, karena mendapatkan royalti ataupun bayaran dari klien memang cukup besar dari menulis.

3 – Mewujudkan impian menjadi penulis, karena rasanya sangat keren ketika berhasil menulis buku.

4 – Merasa sangat senang bila ide, gagasan, dan penelaahan berhasil tersebar ke ribuan orang lewat sebuah buku.

5 – Pengakuan atas intelektualitas dan kreativitas dari masyarakat.

6 – Mewariskan pengetahuan kepada generasi penerus.

7 – Terkenal. Yah, alasan seperti ini pun ada, dan sah-sah saja, kok.

8 – Membangun reputasi dan kredibilitas sebagai pakar.

9 – Menantang diri sendiri.

10 – Media pelepasan isi pikiran dan curhat.

Nah, apa pun alasanmu untuk menulis buku, satu hal yang pasti, bahwa gagasanmu jangan sampai menguap begitu saja. Bila gagasan untuk menulis buku tidak segera kita tidak lanjuti, ia akan menghilang, diterpa dengan gagasan-gagasan baru, yang akan terus tumbuh seiring dengan wawasan dan pengalaman kita yang terus bertambah setiap harinya.

Oleh karena itu, bila suatu gagasan sudah sedemikian baik, segera atur waktu untuk mengeksekusinya menjadi sebuah karya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!
  • 2
    Shares

Royalti atau Jual Putus Saja Naskahnya?

royalti jual putus

Royalti atau jual putus? – Biasanya, penerbit akan memberikan besaran royalti 8-10%. Artinya, kalau buku kamu nantinya dijual seharga Rp60.000, berarti kamu mendapatkan Rp6.000 dari setiap buku yang terjual. Bila buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan semuanya ludes terjual, maka royalti yang kamu dapat nantinya adalah sebanyak Rp18.000.000. Memang angka yang lumayan, bisa untuk membeli laptop dan motor matic terbaru.

Sebenarnya, sebuah buku baru bisa dikatakan best seller, bila dalam setahun paling tidak sudah terjual sebanyak 30.000 eksemplar, dan rasanya royalti dengan penjualan sebanyak itu dalam setahun pun akan semakin “nendang”. Dengan besaran royalti Rp6.000 per buku, kamu akan mendapatkan royalti sebesar Rp180.000.000. Lumayan untuk membeli mobil baru.

Royalti biasanya dibayar dalam setahun sebanyak dua kali, yakni bulan Februari dan Juni secara bertahap. Sebuah buku akan menjadi best seller bila ada upaya bersama antara penerbit dan penulis, serta beberapa dukungan lain seperti komunitas terkait, dan serbuan media dalam mempromosikannya.

Nah, sedangkan maksud dari jual putus adalah penerbit membeli naskahmu dan dibayar dalam sekali waktu. Misalkan nih, naskahmu dibeli sebanyak Rp3.500.000, dengan perjanjian masa terbit lima tahun. Dengan begitu, kamu hanya berhak nominal sebanyak Rp3.500.000 itu saja. Jika kemudian bukumu menjadi laris dan terjual sebanyak 10.000 eksemplar, ya kamu harus gigit jari, karena keuntungan semuanya masuk ke penerbit.

Akan tetapi, ketika buku itu kemudian tidak laku, uang Rp3.500.000 itu sudah cukup untuk membuatmu senang, karena untuk buku yang tidak laku, kamu tidak akan mendapatkan royalti sebanyak itu. Lagi pula, portofolio karyamu pun sudah bertambah, dan kamu bisa fokus untuk menulis naskah selanjutnya yang berpotensi best-seller.

Normalnya, penerbit akan mengeksploitasi karyamu dalam masa 3 hingga 5 tahun, dan bila sudah terlewat masa itu, penerbit akan memperbarui surat perjanjian. Namun, terkadang surat perjanjian itu tidak diteruskan bersebab beberapa hal.

  • Bukumu tidak laku. Buktinya adalah banyak sisa-sisa stok yang penerbit harus memberlakukan sale stock alias dijual murah.
  • Penerbit sudah gulung tikar alias tidak bisa lagi melanjutkan bisnisnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Solusi Saat Stres karena Writer’s Block

writer's block

Hati gundah, kepala pusing, merasa karya nggak kelar-kelar, dan tangan yang bingung mau mengetik apa. Itu tandanya kamu terkena writer’s block. Pada kondisi seperti itulah, seorang penulis baik penulis pemula maupun yang sudah profesional, akan mengalami gangguan yang mendekati kondisi stres.

Saya terkadang terkena masalah ini, disebabkan dalam berkarya kekurangan referensi, sehingga saya kebingungan mengembangkan konten ke arah yang lebih jauh. Walau terkadang, sebagaimana pengalaman, saya juga pernah stres karena justru terlalu banyak referensi.

Terlalu banyak referensi kok bisa stres?

Bisa. Hal ini disebabkan saya khawatir untuk terlalu menjejali pembaca dengan banyak data, ramai teori, dan sebaliknya justru minimnya pencerahan dan teknik yang langsung bisa diaplikasikan.

Hal itu tentu menyebalkan.

Nah, biasanya apa yang saya lakukan ketika terkena writer’s block?

Satu hal yang pasti, ketika writer’s block menyerang, hal tersebut wajar saja, bahkan bisa menyerang siapa saja yang bekerja di industri kreatif. Solusi terbaik agar kita bisa memecah kebuntuan tersebut menurut saya adalah dengan meninggalkan sejenak proses penulisan tersebut, dan mengalihkannya kepada kegiatan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan menulis.

Pertama, dengan menonton film, bermain game, futsal, bermain rubik, atau melakukan perjalanan. Hal-hal seperti itu akan terasa bermanfaat karena memberimu energi dan kesegaran baru.

Kedua, mungkin kamu kurang tidur akibat bergadang terlalu lama dalam mengerjakan naskah. Efeknya tentu membuat kepalamu terasa sangat penat dan berat. Tidurlah. Orang sukses adalah orang yang tidurnya nyenyak. Bukan orang yang punya banyak harta, namun tidurnya tak nyenyak karena banyak utang di sana-sini. Yoris Sebastian, pakar dunia kreatif di Indonesia bahkan pernah mewejangi bahwa kasur yang empuk dan nyaman untuk tidur adalah investasi terbaik bagi seorang pekerja kreatif. Hal ini tentu menyiratkan bahwa tidur adalah investasi yang kita perlukan agar energi baru kreativitas terus tumbuh untuk melahirkan karya terbaik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

#TanyaFachmy: Novelku Ditolak Terus, Aku Ingin Self Publishing Aja

Assalamu’alaikum Bang Fahmi….

Saya mau minta sarannya kalau boleh. Jadi begini, Bang. Sedari dua tahun lalu saya mencoba menulis novel. Ini alhamdulillah sudah selesai, tapi saya pernah kirim ke TS Solo, alhasil ditolak. Plan saya selanjutnya ingin saya cetak sendiri, alias self publishing.

Menurut Bang Fahmi bagaimana?

Saya pun terbilangnya baru saja terjun nyoba dan menulis ya karena hobi. Maksud saya, saya nggak ingin sia-sia hanya menyimpan naskah saya Bang Fahmi. Mohon sarannya ya, Bang.

Terimakasih. Wassalamu’alaikum


 

Rasanya memang menyebalkan kalau naskah yang sudah kita buat susah-susah, pada akhirnya ditolak oleh penerbit. Lagian, penerbit ini maunya apa, sih? Bukannya mereka butuh naskah? Kok ketika kita kirim naskah, malah pada akhirnya mereka menolak naskah yang kita buat?

Hidup memang membingungkan.

Jadi begini. Dalam meniti karier sebagai penulis, mendapatkan penolakan dari penerbit itu hal yang biasa. Ditolak oleh penerbit merupakan suatu hal yang normal.

Saya nih, pernah ditolak oleh penerbit sebanyak tujuh kali. Yah, tujuh kali. Kamu nggak salah baca. Pada awal-awal dulu, saya sampai  gemes dan penasaran, kok bisa-bisanya naskah saya ditolak hingga sebanyak itu?

Namun, dari pengalaman ditolak itulah, saya makin ngebet untuk bisa berhasil. Akan saya buktikan bahwa saya bisa menembus penerbitan.

Dan benar saja, saya menulis memang menjadi passion kita, maka apa pun aral akan kita tembus dengan mudahnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!