Terkandung Banyak Dosa dalam Alasan

Mari berhati-hati dengan tipu diri, yang sering mengubah rupanya dengan wajah bernama alasan. Alasan sering terlontarkan karena kelemahan keinginan. Alasan sering terhadirkan karena rapuhnya azzam.

Alasan adalah wajah lain keengganan yang berupaya bermuka manis yang harus disayang. Padahal, alasan adalah bibit-bibit kemunduran hidup. Padahal juga, berkawan dengan alasan adalah ketidakmampuan diri mensyukuri satu hari kehidupan yang telah dianugerahi-Nya.

Balasan-Nya selalu hadir dikarenakan sunnatullah-Nya berupa sebab-akibat. Balasan-Nya yang tinggi, disebab pula oleh amal yang tinggi. Balasan-Nya nan indah disebab pula oleh amal yang baik.

Entah berapa sering kita mengaku merindu akhirat, namun menihilkan kerja dunia; bermalas-malasan menjemput rezeki, tak pandai mengatur strategi waktu, tak lihai menjaga kesehatan, tak bijak mengolah agar penghasilan tetap terus mengalir dengan apik.

Padahal, kerja-kerja dunia adalah pelancar langkah ke jannah, manakala meniatkannya untuk ibadah. Jadi, tak ada yang salah dengan kerja-kerja dunia. Karena itu justru pembuktian rasa kebertanggungjawaban kita atas hamba-Nya yang diamanahi-Nya untuk menjadi khalifah di bumi-Nya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menjadi Muslimah Inspiratif

muslimah inspiratif

Setiap pria dan wanita memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama di sisi Allah Ta’ala. Namun, jangan berpikir bahwa persamaan ini juga menuntut tugas yang sama. Karena kedua-duanya mempunyai orbit edar yang berbeda. Tetapi, keberbedaan itu saling melengkapi tentunya.

Ingat bahwa, engkau adalah perempuan, dan dia adalah laki-laki. Yang masing-masing mempunyai bentuk, karakter, dan garis jalan yang berbeda.

Salah seorang sahabiyah yang bernama Qailah Al-Anmariyah adalah seorang pedagang yang harus pergi ke pasar. Dalam riwayat, ia pernah bertanya pada Rasululah.

“Ya Rasulullah, saya ini seorang pedagang. Apabila saya mau menjual barang, saya tinggikan harganya di atas yang diinginkan, dan apabila saya membeli saya tawar ia di bawah yang ingin saya bayar.

Maka, Rasulullah kemudian menjawab, “Ya, Qailah! Janganlah kau berbuat begitu. kalau mau beli, tawarlah yang wajar sesuai yang kau inginkan. Diberikan atau ditolak.”

Jadi, intinya sederhana, sebagaimana penuturan indah dari Ustadz Umar Tilmisani, bahwa Islam tidak melarang seorang wanita menjadi dokter, guru sekolah, tokoh masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagal bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain sepanjang itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya.

Kehormatan wanita Barat terletak pada satu kata: kecantikan. Kehormatan akan mereka dapat bilamana berparas jelita, berbadan langsing, dan juga seksi.

Maka jika sudah begitu, segala macam rupa kemanjaan hidup akan didapatkannya. Majalah, televisi, dan semua media pun menggelar award untuk menghargai cantik dan jelita versi mereka itu. Namun, setelah masa menua hadir, rambut memutih, paras yang mengeriput, bodi yang tak lagi cihui, maka temarjinalkanlah sisi-sisi hidupnya.

Tak ada lagi kemanjaan. Tak ada lagi kehormatan. Maka, janganlah heran, begitu banyak iklan berbagai macam produk yang menawarkan cara melangsingkan tubuh. Memutihkan dan menghilangkan noda wajah, meluruskan rambut, dan mewangikan tubuh.

Nilai kemanusiaan diukur dari jasadi.

Masa-masa tuanya kemudian seringkali dirasakan berakhir di panti jompo. Tak ada belaian cinta dan kasih dari anak-anaknya. Tak ada rasa iba dan pembaktian dari sang pendendang jiwa.

Mengapa pula bisa begitu?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Permata Kemaafan

Di surga, ada istana terbuat dari permata dan marjan. Terbingkai emas. Terhias mutiara. Keindahan, kegemerlapan, juga kemewahan. Setiap yang melihatnya, takluk sudah hatinya. Ingin nian memilikinya.

Dalam Shahih Muslim, perihal istana itu teriwayatkan.

Ada dua orang hamba bersengketa di hadapan-Nya. Yang pertama meminta keadilan karena telah terzhalimi di dunia. Yang kedua menangis penuh sesal. Ketakutan meredup seluruh sendi harapan untuk selamat dari gugatan itu. Sungguh Allah tentu pengadil Yang Maha Adil. Tak ada ruang bagi hamba kedua untuk berkelit dari kezhaliman yang telah dilaksanainya.

Lalu Allah menunjukkan istana indah itu. Hamba pertama terpesona.

”Duh Rabbi, bagi Nabi siapakah istana ini? Milik shadiq yang mana? Milik syahid siapa?”

”Istana ini,” kalam-Nya, ”akan menjadi milik siapa pun yang mampu membayar harganya.”

Kian bersemangat hamba pertama. Berarti ada kesempatan baginya untuk mempunyainya.

”Berapakah harganya, Ya Rabbi? Dengan apakah orang yang menginginkan akan membayarnya? Siapakah yang beruntung bisa memilikinya?”

”Adalah dirimu, mampu membayar harganya. Asal saja, kau mau memaafkan saudaramu itu. Niscaya, istana ini kan jadi milikmu,” jawab Allah.

Riang menjalari hamba pertama. Kegembiraan sebegitu nian membuncahnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Meninggilah Ilmu, Merendahlah Hati

Ketinggian ilmu dan kerendahan hati memanglah harus selalu beriringan. Yang pertama meninggikan derajat kita di hadapan-Nya, yang kedua membumikan ketinggian derajat kita itu untuk kemashlahatan semesta; ia pun berbuah pahala pula.

Indah nian dua kombinasi ini. Celakanya, bila timpang salah satu, hanya akan menjadi pencelaka, tak hanya diri, juga orang-orang yang tak mengerti ilmu dan tak tahu bagaimana berendah hati.

Adalah kekhilafan kan selalu mengintai diri para pengilmu. Maka, kerendahan hati akan menyelamatkan diri dari kemusykilan dekapan kebenaran.

Abdullah ibn Wahab, Abdurrahman ibnul Qasim, dan Asyhab ibn Abdil Aziz Al-Qaisi adalah tiga alim nan faqih di Mesir. Suatu waktu, Asyhab dan Ibnul Qasim bersidebat hebat tentang satu persoalan pelik fiqih.

”Aku mendengar Imam Malik berkata begini,” kata Asyhab.

”Tidak, justru aku mendengar Imam Malik berkata begini, bukannya begitu,” bantah Ibnul Qasim.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menguatkan Fondasi Diri

Syukur ialah meruahkan pujian kepada-Nya. Karena segala anugerah, tentu datang dari-Nya. Syukur terejawantah tak hanya dalam kata, namun jua sikap dan lelaku keseharian.

Syukur bukanlah berpuas diri, tetapi mendayaguna segala anugerah-Nya untuk meloncat prestasi hingga lebih tinggi lagi.

Karena sesuai janji-Nya, dengan bersyukur, Dia kan mempermudah jalan bagi kita meraih keberlimpahan, dengan nikmat yang bertambah-tambah dan juga berkah.

“Benih-benih kejahatan sedang berkembang secara pesat, tetapi bibit-bibit kebaikan pun mulai berbuah lebat,” kata Sayyid Quthb dalam Afrahur Ruh-nya, “Walaupun batang pohon kejahatan itu sangat cepat pertumbuhan dan perkembangannya, namun akarnya tidak kuat tertancap ke dalam tanah. Sementara pertumbuhan dan perkembangan pohon kebaikan sangat lamban dan perlahan-lahan. Tetapi, akarnya menunjang masuk ke bumi. Daun-daunnya rindang, batangnya menjulang tinggi ke angkasa, melindungi manusia dari panas dan hujan. Kalau yang pertama akan cepat tumbangnya, maka yang kedua akan kekal bertahan.”

Nikmatilah proses.

Jalan menuju kejayaan memang tidak mudah dan tidak instan. Akan tetapi, jalan kejayaan memang selalu begitu, karena itulah yang akan membuat diri menjadi kuat dan berakar.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!