Waktu, Tempat, dan Keadaan Mustajab untuk Berdoa

Berdoa memang disyariatkan sepanjang waktu. Akan tetapi, bukan berarti boleh berdoa sembarang tempat juga. Gua, kuburan, gunung, patung, jangan dijadikan tempat sebagai pemujaan apalagi tempat berdoa. Selain tidak disyariatkan, itu juga sebagai bukti kebodohan diri.

Setiap orang yang memanjatkan doa, hendaklah memerhatikan waktu-waktu ijabah serta bergegas menggunakan suasana maupun tempat yang menjadi salah satu unsur keterkabulan doa yang dipanjatkan.

Bagaimanapun, seorang mukmin hendaklah senantiasa memanjatkan doa kepada Rabbnya kapan dan di mana saja ia berada. Sebab, Allah berfirman, “Jika para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah bahwa) Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Tapi, waktu-waktu dan keadaan serta tempat yang menyebabkan peluang keterkabulan doa menjadi tinggi, hendaknya mendapatkan perhatian lebih juga. Inilah waktu-waktu, keadaan, juga tempat di mana kemustajaban doa berpeluang sangat besar.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Berdoa di Waktu Lapang Maupun Sempit

Doa selalu menyelamatkan. Doa adalah usaha yang juga dikerahkan oleh Nuh yang terselamatkan dari air bah lewat kapal besarnya. Doa adalah usaha yang dikerahkan oleh Musa dari kejaran Fir’aun yang hendak melumatnya hingga ke Laut Merah. Doa adalah usaha yang dikerahkan oleh Shalih dari kekejian kaum Tsamud. Doa adalah usaha yang dikerahkan oleh Hud dari kezhaliman kaum Ad.

Begitulah. Doa selalu menyelamatkan.

Berdoalah. Karena doa adalah ibadah paling mudah yang bisa terlafalkan, pada saat yang sama, ia adalah ibadah terkuat yang bisa mencegah berbagai musibah, dan menghadirkan apa yang kita inginkan dan pinta.

Berdoalah. Baik di kala lapang, juga sempit. Karena sang Nabi pernah bersabda suatu kali, “Kenalilah Allah di masa lapang (senang),” kata beliau, “niscaya Allah akan mengenalimu di masa engkau menghadapi kesulitan.” (HR. Tirmidzi)

Mengenal Allah di masa lapang, berarti tetap memperbanyak dzikir walau nikmat tengah mengguyur. Banyak bersyukur kala anugerah tengah meruah. Banyak beribadah kala hari-hari tengah terlimpah riang dan kemudahan. Maka, di saat sempit dan susah menerpa, Allah akan selalu di samping kita untuk membimbing dan mengeluarkan kita dari kegelapan dan jalan hidup yang sempit.

“Barang siapa yang senang (ingin) Allah kabulkan doanya di masa kesulitan dan genting, hendaknya memperbanyak doa (ketika) di masa lapang.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Paling mudah sebagai ilustrasi adalah kisah tentang Nabi Yunus. Yah, Nabi Yunus pernah mengalami hari paling menyusahkan dalam hidupnya ketika berada dalam perut ikan. Allah pun memberikan kabar gembira dengan mengeluarkannya dari perut ikan itu. Allah menyelamatkannya, tersebab Nabi Yunus sering melakukan shalat.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menjaga Nyala Nyawa Peradaban

“Jika seseorang memerhatikan biografi dan sejarah perjalanan para ulama,” tutur Ali bin Muhammad Al-Imran dalam Al-Musyawwiq ilal Qira’ah wa Thalabil ‘Ilm, “tentulah dia akan mengetahui betapa besar usaha yang mereka korbankan, baik dari sisi waktu yang panjang, usaha mereka yang mati-matian, hingga kesabaran yang indah di dalam menulis kitab-kitab besar dan kitab kompilasi agung.”

Masih sebagaimana yang diterakan dalam kitab tersebut, ternyata selain sibuk menulis karya sendiri, para ulama juga sibuk untuk menyalin kitab lain agar menjadi koleksi khusus baginya. Misalnya adalah Al-Hafizh Al-Mizzi menyalin dua kitab tebal Tuhfatul Asyraf dan Tahdzibul Kamal dengan tangannya sendiri. Hebatnya, bahkan ia melakukannya lebih dari sekali.

Ismail bin Zaid, sang pemburu hadits, menulis semalam suntuk untuk 70 lembar catatan yang rinci. Abdul Wahhab Al-Anmathi mengumpulkan keterangan-keterangan lalu mentakhrijnya—yang barangkali tidak ada satu pun riwayat kecuali telah beliau dapatkan manuskripnya. Di samping itu, beliau juga menyalin buku-buku besar, seperti Ath-Thabaqat Ibnu Sa’d dan Tarikh Al-Khatib. Abdul Qadir Ar-Ruhawi menulis banyak kitab dengan tangannya sendiri. Beliau pernah tinggal di madrasah milik Ibnu Al-Hanbali, Damaskus, beberapa waktu, hingga mampu menyalin Tarikh Ibn Asakir. Ahmad bin Abduddaim Al-Maqdisi menulis kitab-kitab besar yang tak diketahui beberapa jumlahnya.

Jika sedang tak ada pekerjaan, beliau menulis sembilan kitab atau lebih. Dan jika ada pekerjaan, hanya mampu menulis lima kitab saja. Kerennya lagi, beliau pernah menulis Al-Khiraqi dalam semalam, sedang Tarikhusy Syam karya Ibnu Asyakir dua kali, dan Al-Mughni karya Syaikh Muwafiquddin beberapa kali.

Menurut keterangannya sendiri, telah 2.000 jilid kitab ia tulis dengan tangannya sendiri. Selama 50 tahun lebih beliau telah menekuni tulis-menulis ini. Jika musim panas tiba, dan untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap dingin, Abu Abdillah Al-Humaidi Al-Andalusi berendam di ember yang telah diisi air sembari tetap menyalin sebuah kitab.

Duhai, kitab-kitab tersebut, tebalnya saja berjilid-jilid. Membacanya saja membutuhkan waktu teramat lama, apalagi menuliskannya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menghadirkan Cahaya Cordoba di Pojok Nusantara

Penaka panen raya di tengah kelaparan yang membusung lambung, bagi kaum Yahudi dan Kristen di Andalusia, kehadiran Thariq bin Ziyad dan pasukannya sudah dinanti-nanti. Polah Raja Gothic sudah memuakkan kehidupan mereka. Maka, sepenggal waktu kemudian, saat Thariq bin Ziyad dan 12.000 pasukannya yang masyhur dengan strategi bakar kapal demi melangitkan spirit pasukannya itu, berhasil melantakkan kepongahan kezaliman yang sudah meraja.

Sebagai ibukota Andalusia, Cordoba kemudian dijadikan pusat pemerintahan kekhalifahan Islam di bumi Eropa. Andalusia kemudian berangsur menjadi negeri berlimpah cahaya keilmuan, hingga kemudian pada 711 M menjadi saksi cikal bakal sebuah pusat peradaban bernama Universitas Cordoba. Sinergi manis antara pemerintahan yang adil, dengan rakyat yang memiliki keragaman berhasil diguyubkan dan mengejawantah menjadi tali yang kuat untuk kemudian bersama membangun Cordoba lebih anggun lagi.

Pada 786 M, khalifah Abdurrahman I meresmikan masjid terindah nan megah bernama Masjid Jami Cordoba. Seribu tiang besar jua kecil dipancangkan, dengan penerangan 113 buah yang tersebar cermat, agar setiap sudutnya tak hadir gulita dan memudah para abid melaksana aktivitas wajib maupun sunnahnya. Bagaimana tidak, satu penerang tertampung 1000 lampu, dan penerang paling kecil termuat 12 lampu. Paduan warna cantik merah, putih, biru, hijau dengan tambahan hitam indah celak, menghiasi lorong panjang berbentuk lengkungan, masih ditambah ukiran dan hiasan lain yang elok bertebaran. Semuanya tersuguhkan dengan cermat, indah, dan nyaman sebagai tempat beribadah sekaligus pusat keilmuan.

Di situ, jamaah mendapatkan pelayanan yang memanjakan pandangan dan memuaskan akal. Gelaran ilmu seolah banjir bandang. Deras, riuh. Bedanya, hanya pada ketertataannya. Imbasnya, pola hidup kemasyarakatan pun berubah. Tercatat toko-toko untuk mendukung keperluan masyarakat yang hilir-mudik berburu ilmu sebanyak 80.455. Pemandian umum sebagai sarana bebersih tersedia 900 bilik, dan masjid-masjid lain selain Masjid Jami Cordoba sendiri, terhitung 3.837, sehingga membuat Andalusia menjadi kian terasa nuansa barakahnya.

Sepenggal waktu kemudian, yakni pada 912 M, Masjid Cordoba kemudian diubah oleh Abdurrahman III, yakni Abdurrahman An-Nashir, menjadi Universitas Cordoba, demi kemajuan peradaban Islam itu sendiri. Berbagai bidang studi mulai ditata lebih rapi dan diajarkan dengan penuh hikmat, seperti akidah, bahasa, Al-Qur’an, juga beragam bidang khusus seperti geografi, matematika, fisika, kimia, sejarah, kedokteran, hukum, jua astronomi.

Abdurrahman III, sebagai pemimpin yang juga gemar akan ilmu, secara rutin dan khusus memanggil lulusan Al-Azhar dari Mesir dan Al-Qarawiyyin dari Baghdad, untuk berbagi ilmu di Universitas Cordoba. Abdurrahman III paham benar, bahwa ilmu adalah hal utama bila ingin mengangkat martabat negerinya. Bila keilmuan dikemas benar, kondisi ekonomi, politik, militer, sosial, akan menderajat naik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Cerdik Melantun Doa

adab berdoa

“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pangkal segala sesuatu. Hendaklah engkau berjihad, karena ia adalah kerahiban dalam Islam. Hendaklah engkau senantiasa berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an, karena ia merupakan rahmat bagimu di langit dan dzikirmu di bumi.” (HR. Ahmad)

Sungguh meminta pada-Nya, apa pun itu, selama dalam kebaikan, adalah anjuran-Nya. Sebab yang tak pernah memohon pada-Nya, kan jatuh pada kesombongan.

Nabiyullah Musa alaihis salam. Terpayah raganya karena berlari dari Mesir hingga Madyan. Para prajurit Fir’aun memburunya karena telah membunuh salah satu Bani Israil. Di antara sengal-sengal nafasnya, ia berjenak sebentar. Kelelahan mendera, dan tenaganya tinggal sisa-sisa, berpadu pula dengan lapar yang meraja. Maka, ia melantun doa pada Rabbnya, di sebuah tempat teduh, setelah sebelumnya sempat menolong dua putri Syuaib yang antri mengambil air minum untuk ternak mereka.

Pilih benar Musa atas kata-kata doa yang hendak ia panjat. Karena memohoni-Nya memanglah harus ada adabnya. Maka, bila kita seksamai, kondisi Musa begini: karakter Musa yang keras, ditambah kini ia tengah lelah dan payah, dengan kelaparan yang melemah tenaga, namun, doanya tetap santun terlantun, ”Rabbi, inni lima anjzalta ilayya min khairin faqirun; Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

Kalimat Musa penuh kehati-hatian. Ia tak menyebut tha’am, yaitu makanan dalam doanya. Ia justru melantun khair yang berarti kebaikan. Nah, bila kita mau mencermati, saat Allah sudah memberi khair pada kita, tentulah tidak tanggung-tanggung lagi indah, banyak, dan jua berkahnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!