Apa yang Paling Penting dalam Membangun Startup?

Setiap startup—dan bisnis apa pundimulai dengan sebuah ide. Akan tetapi, sebuah ide yang harus dieksekusi. Sebuah ide yang diwujud-nyatakan, bukan hanya dalam angan dan rencana di kertas. Kita harus sadar, bahwa para pelanggan hanya akan menggunakan uangnya untuk produk kita, saat produk kita “ada” dan menghadirkan solusi untuk mereka, bukan saat produk kita masih dalam tahap gagasan.

Jangankan para pelanggan, para investor pun, berinvestasi kepada sebuah tim yang solid mewujudkan gagasan menjadi sebuah produk atau layanan, bukan sebuah tim yang solid dalam menggagas ide.

Seperti itulah sebuah alur dalam startup, yakni kita harus mampu untuk bergerak cepat dari sebuah ide dan mewujudkannya ke dalam sebuah produk atau layanan bisnis. Pergunakan prinsip RERO dalam mewujudkannya. Penyempurnaan produk dilakukan sambil jalan.

Eksekusi ide yang berhasil adalah gabungan dari sebuah rencana yang tepat dengan tim yang kuat. Kombinasi ini akan menghadirkan keunggulan dan value yang besar.  Jadi, bukan soal ide itu orisinal ataukah bukan. Lagi pula, apa juga fungsi dari ide yang orisinal tanpa pernah dieksekusi.

Google, bukanlah layanan penyedia pencarian internet pertama di jaga maya. Pendahulunya sudah ada Yahoo!, AltaVIsta, juga InfoSeek, dan mungkin ada beberapa lagi yang lainnya. Akan tetapi, Google, dengan perencanaan yang matang dan tim yang hebat, berhasil mengeksekusi ide mereka dengan brilian. Data dari Investopedia menyebutkan bahwa Google adalah layanan  penyedia pencarian internet pertama yang dapat menghasilkan uang!

Having the right idea is better than a bright idea. But more importantly is the right idea that executed weakly it won’t serve the purpose.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menjadi Entrepreneur Memang Tidak Semudah Itu

Hal pertama yang harus kamu ketahui ketika memutuskan menjadi seorang entrepreneur adalah kamu harus benar-benar tahu apa yang akan kamu lakukan. Jangan menjadi seorang entrepreneur hanya karena ini adalah tren, atau karena kelihatannya menarik. Atau menjadi seorang entrepreneur hanya karena kamu sering melihat orang-orang sukses yang bermewah-mewahan dengan harta dan bersenang-senang dengan liburan.

Jadilah seorang entrepreneur karena kamu memang menginginkannya. Benar-benar menginginkannya. Hal itu harus benar-benar lahir dari passion terdalammu. Lalu, persiapkanlah juga dirimu dengan segala konsekuensi yang akan datang menghampirimu nantinya.

Menjadi seorang entrepreneur memang harus lahir dari passion, karena ketika ada aral dan permasalahan bisnis yang menghadang, kamu akan menganggapnya sebagai tantangan, bukannya beban hidup yang membuatmu makin stres.

Starting a business is like deciding you will climb mount everest, so be ready mentally and physically!

Have a clear road map towards your goals.

Envisioning is powerful, to work on it requires a blueprint and pick your mentors.

And always remember: victory loves preparation. Take action but prepare before your ACT!

Dalam mewujudkan keinginanmu menjadi seorang entrepreneur, jadikan motivasi terbesarmu adalah ingin menantang dirimu sediri untuk naik ke level berikutnya, yakni level kehidupan dan level kemampuanmu yang baru. Dengan begitu, kamu akan terus bekerja dengan serius untuk menaklukkan dan mencapai level baru yang kamu inginkan.

Menjadi seorang entrepreneur akan menghabiskan sumber daya personalmu: waktu, keluarga, keahlian, bahkan uang. Maka, pastikan bahwa kamu memiliki keyakinan yang kuat, bahwa potensi bisnismu akan sepadan dengan apa yang sekarang tengah kamu korbankan.

The only way to be satisfied in your work is to do work that you truly believe in.

Tak usah gelisah dengan risiko. Ambil. Bila pada akhirnya gagal, jadikan pelajaran. Bila pada akhirnya berhasil, tentu itu berdasar naluri bisnismu yang kuat, kalkulasimu yang matang, dan sudah melalui perencanaanmu yang brilian.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Release Early Release Often, Perlukah?

RERO adalah singkatan dari Release Early Release Often. Istilah ini dipopulerkan oleh Eric S. Raymond, dalam karyanya yang fenomenal, The Cathedral and the Bazaar: Musings on Linux and Open Source by an Accidental Revolutionary. Petuah sakti yang terkenal dalam dunia startup itu lahir dari pengalamannya mengembangkan Linux.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa release early release often bagus untuk bisnis kita?

Setiap kita merilis sebuah produk atau layanan sedini mungkin (tanpa menunggu kesempurnaan produk), maka pada saat yang sama kita juga sedang meriset tentang apa yang benar-benar dibutuhkan pelanggan, sekaligus menguji sejauh mana produk atau layanan yang kita rilis apakah benar-benar berhasil menjangkau pelanggan ataukah tidak.

Dengan menerapkan prinsip RERO ini, banyak startup yang berhasil berkembang dengan baik.

Siapa yang mengira Medium bisa menjelma menjadi platform idola untuk blogging seperti sekarang?

Siapa juga yang mengira AirBnB bisa menjadi platform terbesar dan terbaik untuk menyewakan tempat tinggal bagi para pelancong?

Hal itu terjadi karena menggunakan metode release early release often. As Reid Hoffman, founder of LinkedIn, said: “If you’re not embarrassed by the first version of your product, you’ve launched too late.”

Kenapa tidak menunggu saja sampai produk atau layanan kita benar-benar siap (atau mungkin mendekati sempurna) baru dirilis?

Saya akan meminjam jawabannya dari Nate Kohari, CTO dari Adzerk, “Nothing is real until it’s providing value (or not) to your users. Having completed work that isn’t released is wasteful.”

Kesempurnaan produk atau layanan adalah sebuah proses. Dan akan sangat menarik bila perusahaan kita bertumbuh bersama pelanggan, dengan saling memberikan masukan-masukan positif untuk pengembangan produk atau layanan perusahaan lebih lanjut, dan pada saat yang sama kita sebagai perusahaan, memberikan kenyamanan dengan  apa yang dibutuhkan oleh pelanggan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Tony Hsieh dan Bagaimana Cara Dia Menjadi Miliarder di Usia 25 Tahun

Pada usia 22, Tony Hsieh (sekarang CEO Zappos.com), lulus dari Harvard. Saat Tony berusia 23 tahun, enam bulan setelah memulai LinkExchange, dia ditawari satu juta dolar untuk pengakuisisian perusahaan tersebut.

Setelah banyak berpikir dan berdiskusi dengan partner kerjanya di LinkExchange, dia menolak tawaran tersebut karena percaya bahwa dia dapat terus membangun LinkExchange menjadi sesuatu yang lebih besar.

Lima bulan kemudian, Tony Hsieh ditawari 20 juta dolar dari Jerry Yang, salah satu pendiri Yahoo! Jumlah itu tentu sangat besar pada tahun itu—bahkan untuk tahun sekarang. Pikiran pertamanya yang muncul adalah, “Saya senang saya tidak menjual lima bulan yang lalu!” Namun, dia menahannya dan meminta beberapa hari untuk mempertimbangkan tawaran tersebut.

Tony memikirkan semua hal yang akan dia lakukan jika dia memiliki semua uang itu. Dan setelah merenung, dia hanya bisa memikirkan daftar kecil hal yang dia inginkan:

  • Sebuah kondominium
  • TV dan home theater built-in
  • Kemampuan untuk pergi berlibur mini akhir pekan kapan pun dia mau
  • Komputer baru. Untuk memulai perusahaan lain karena dia menyukai gagasan untuk membangun dan menumbuhkan sesuatu.

Itu saja.

Dia menyimpulkan bahwa dia sudah bisa membeli TV, komputer baru, dan sudah bisa berlibur mini akhir pekan kapan pun dia mau. Dia baru berusia 23 tahun, jadi dia memutuskan sebuah kondominium bisa menunggu lain waktu saja.

Tony kemudian berpikir, mengapa harus menjual LinkExchange hanya untuk membangun dan menumbuhkan perusahaan lain?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Jim Carrey dan Caranya Menjadi Miliarder

Hidup adalah tentang pilihan dan prioritas. Daripada scrolling and judging di ponsel setiap hari di media sosial, lebih baik gunakan waktu yang terhabiskan itu untuk membangun diri sendiri. Meningkatkan kualitas diri.

Setiap malam, selama periode akhir 1980-an, Jim Carrey selalu berkendara ke atas bukit, lalu memandang ke bawah kota Los Angeles yang gemerlang, sembari membayangkan bahwa sutradara akan menghargai kerjanya sebagia aktor brilian. Padahal, kondisinya saat itu, dia tengah bangkrut, duit menipis, dan bukan aktor. Akan tetapi, dia bercita-cita menjadi aktor andal nan masyhur.

Hingga pada awal tahun 1990-an, Jim Carrey masih melakukan hal itu. Namun kali ini ada sedikit beda. Di atas bukit sembari memandang Los Angeles di bawah, dia menuliskan 10 juta dolar di atas sebuah cek, dan menambahkan sebuah pesan: bayaran untuk layanan akting yang diberikan. Dia membawa cek palsu itu di dalam dompetnya selama lima tahun, hingga pada Thanksgiving tahun 1995, dia menerima cek asli sebesar 10 juta dolar atas perannya dalam Dumb and Dumber.

“After you become a millionaire, you can give all of your money away because what’s important is not the million dollars; what’s important is the person you have become in the process of becoming a millionaire.”Jim Rohn

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!