6 Kunci Memasarkan Produk di Teespring

Teespring, sebagai platform penjualan produk-produk kreatif, khususnya kaos, menjadi platform yang bagus bagi para internet marketer, atau yang ingin mendapatkan income dari platform global ini.

Beberapa hal berikut bisa berguna untukmu dalam menjelajahi Teespring.

#1 – Riset

Habiskan banyak waktu hanya untuk fokus pada satu niche saja. Bila kita tenggelam dalam satu riset yang mendalam, kita akan mengetahui dan memahami produk dan desain seperti apa yang dibutuhkan oleh audiens dari niche tesebut.

Desain dan produk yang tepat akan dapat kita ciptakan untuk mereka. Dengan terus-menerus menguji dan meneliti, kita juga akan menemukan cara yang tepat untuk menargetkan dan menjangkau audiens.

Tantangan terbesar ada pada riset desain pada niche yang baru. Memiliki desain yang bagus dan sesuai dengan target market memerlukan riset yang panjang dan harus kita pastikan memiliki audiens peminat yang luas.

#2 – Merawat FB Pages

Saat kita melihat sebuah postingan yang viral di pages yang lain, kita harus membuat versi lainnya dengan tema yang sama dengan lebih baik. Usahakan secara konsisten untuk membuat 5-8 postingan atau meme setiap hari di FB Pages.

#3 – Mengukur Keberhasilan Campaign

Kalau hari ini terjadi dua penjualan atau lebih, saatnya menaikan bujet iklan harian.

Kalau hari ini tidak ada penjualan, tetapi ada beberapa penjualan beberapa hari yang lalu, maka lanjutkan iklan.

Kalau hari ini tidak ada penjualan, tetapi memiliki komentar dan share yang bagus, lanjutkan iklan sampai komentar dan share-nya berhenti.

Kalau penjualan hari ini lebih sedikit daripada kemarin, kurangi bujet iklan lalu hentikan iklan ketika semakin tidak ada pembeli.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

5 Kunci Mendirikan Startup

Mendirikan startup bukanlah persoalan main-main. Ini adalah sebuah kegiatan yang memang kita rancang menjadi sebuah bisnis yang menghasilkan. Lalu, apa saja yang perlu kamu persiapkan?

Temukan Alasan Mendasar

Mengapa kamu mendirikan startup? Apakah agar jadi kaya raya dengan income miliaran, atau agar terkenal, atau hal lainnya? Pada akhirnya, alasan terbaik untuk memulai sebuah startup adalah karena kamu sangat-sangat bergairah untuk menjadi pemecah sebuah masalah, dan kamu akan menyesal seumur hidup bila tidak mendirikan startup tersebut.

Dengan alasan semendasar itu, halangan apa pun yang akan hadir dalam perjalananmu, akan menjadi tantangan yang harus kamu taklukkan. Dalam dunia startup, adalah dunia yang penuh stres dan pembaruan-pembaruan yang terus berlanjut. Pastikan alasan mendasarmu untuk mendirikan startup tersebut menghasilkan energi.

Membuat Tim Tetap Ramping

Tetaplah memiliki tim yang sedikit, namun berimpak besar. Dengan begitu, kamu dan tim bisa fokus kepada produk, dan siap untuk bertumbuh lebih lanjut.

Tetaplah ramping selama yang kamu bisa.

Dua Pikiran yang Harus Dipikirkan

Pikiran pertama yang harus dipikirkan adalah, pikirkan bagaimana caranya agar bisnismu bisa berjalan dalam jangka waktu yang panjang. Pikirkan apa yang seharusnya dicapai dalam sepuluh tahun ke depan oleh bisnismu, dan keputusan macam apa yang harus kamu putuskan sekarang.

Pikiran kedua yang harus dipikirkan adalah, berpikirlah besar. Apa yang bisa kamu lakukan sepuluh kali hingga seratus kali lebih baik dari apa yang bisa kamu lakukan daripada kompetitor. Apa yang bisa bisnismu lakukan yang saat ini kompetitormu tak bisa lakukan.

Pola pikir keduanya akan membuat bisnismu berjalan dengan baik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Ide-Ide Bodoh dalam Startup yang Berubah Menjadi Bisnis Triliunan Rupiah

Banyak yang melihat startup seperti Instagram atau Facebook, kemudian mengatakan, “Gue juga pengen bikin perusahaan seperti itu. Gue cuman butuh ide bagus aja yang kayak gitu.”

Perlu kita tahu, tak semua ide bagus berakhir menjadi sebuah bisnis bagus. Dan tak semua ide jelek, berakhir menjadi bisnis yang jelek. Buktinya adalah beberapa ide startup ‘tak bagus’ ini yang berubah menjadi bisnis bernilai triliunan.

Snapcat. Evan Spiegel, pendirinya, ketika mempresentasikan produk ini kepada calon investor, “Ini adalah sebuah aplikasi mobile di mana teman-teman bisa berbagi foto yang akan hilang selamanya dalam hitungan detik.” Kontan saja para calon investor ini mengatakan, “Ini adalah sebuah ide yang mengerikan!”

Dan sisa ceritanya, kita tahu bahwa Snapcat justru begitu booming.

Airbnb. Menyewakan kamar untuk orang asing, dan bahkan menyediakan sarapannya juga? Terdengar ide yang buruk bukan? Tapi siapa sangka, ide sewagu ini berubah menjadi bisnis triliunan rupiah. Brian Chesky, pendirinya, mengatakan ide ini kepada semua orang yang ditemuinya, dan semuanya mengatakan bahwa idenya memang terdengar sangat bodoh dan aneh.

Satu-satunya yang percaya dengan ide ini adalah Paul Graham, itu pun komentarnya sangat mencengangkan, “Saya pikir Airbnb adalah ide yang sangat buruk. Saya mendanainya hanya karena saya sangat menyukai para founders-nya.”

SpaceX. Didirikan oleh Elon Musk, dengan satu premis yang menggetarkan, “Kalau NASA bisa mengirimkan roket ke luar angkasa dengan dana 100 juta dolar, maka SpaceX bisa melakukan hal yang sama dengan dana hanya 50 juta dolar.” Kelihatan sebagai sebuah ide yang berantakan memang. Bahkan, Elon Musk sebagai pendirinya pun mengakuinya.

Akan tetapi, siapa menyangka hal itu benar-benar terwujud, dan SpaceX menjadi bisnis yang bernilai triliunan rupiah.

Google. Yah, kamu tidak salah baca. Saat Google didirikan, saat itu sudah ada 20 search engine yang tersedia di pasaran. Bahkan, Rusia pun memiliki search engine-nya sendiri. Yang membedakan Google dengan search engine lain adalah pada pengelolaan homepage-nya. Google menghapus semua konten dan hanya menampilkan dalam bentuk list saja.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Belajar dari Unsplash dan Bagaimana Perannya dalam Mengubah Industri Fotografi

Unsplash adalah salah satu platform yang mengubah industri bisnis fotografi. Berkat Unsplash, kita sering mendapati para pekerja kreatif (yang berhubungan dengan jenis pekerjaan desain) berkreasi untuk menghadirkan presentasi mockup dengan baik.

Saya tahu Unsplash pertama kali saat di Product Hunt, di mana ada salah satu member yang mengunggahnya, dan langsung mendapatkan upvote yang banyak. Pertama kali langsung jatuh cinta, karena kualitas fotonya yang super bagus dengan ukuran yang kelewat gede.

Cerita tentang Unsplash ini menarik, karena awalnya tidak diniatkan sebagai sebuah entitas bisnis oleh founder-nya, namun justru sebagai sebuah project asik-asikan ajah.

Unsplash didirikan oleh para pendiri Crew—yang saat ini sudah diakuisisi oleh Dribbble. Saat itu, mereka menyewa seorang fotografer untuk memotret beberapa project. Dikarenakan ada sisa banyak foto yang tak terpakai, akhirnya mereka menemukan sepuluh foto terbaik dari yang tidak terpakai, dan daripada hanya ngendon di hard drive, mereka justru membuat website dengan berbasis Tumblr, dan menggratiskan foto tersebut untuk diunduh. Siapa tahu di luar sana, ada freelancer lain yang bekerja di industri kreatif yang membutuhkan foto-foto tersebut untuk digunakan dalam presentasi pekerjaan mereka.

Dan ternyata ide sederhana itu benar. Kini, Unsplash telah tersumbangi 250.000 foto dari para anggota, dan semuanya memiliki kualitas fotografi super bagus dengan resolusi super besar, dan 10 foto pertama yang diunggah oleh mereka telah dilihat 58 juta kali! Sekarang, banyak dari kita sering melihat materi presentasi berbasis desain, seperti mockup untuk website, presentasi slide, dan sebagai, menggunakan foto-foto yang diunduh dari Unsplash.

Jeff Sheldon, pendiri Ugmonk sekaligus penyumbang foto di Unsplash, bahkan portofolio foto-fotonya sudah dilihat 140.000.000 kali! Itu bahkan jumlah views yang jauh lebih banyak daripada ketika kita mengunggah di Instagram.

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Dapat Rp700 Juta dalam Sebulan Saja, Tanpa Ikut MLM! Inilah Kekuatan Internetpreneur

Teman saya, empat bulan lalu, masih menjadi seorang hotel e-commerce in-house sebuah hotel di Jogja. Istrinya tinggal di Solo, dan dia kerja di Jogja. Pulang setiap hari Sabtu. Waktu itu istrinya sedang hamil.

Saya bilang, “Bro, ngapain kerja kok sebegitunya harus ninggal istri dan nanti anak yang mau lahir demi gaji yang nggak seberapa. Bukannya ini zaman internet, kenapa nggak kerja di rumah saja, dan semua kerjaan dikendalikan lewat internet?”

Dia berpikir keras.

Mengangguk mengamini.

“Bagaimana caranya, Mas?”

Lalu saya ajarkan cara cari duit lewat internet. Detail. Sebuah bisnis pasti. Bukan angin surga. Bukan harapan berbunga.

Bulan depannya dia resign. Dan sekarang penghasilannya memang baru Rp2 jutaan sebulan, akan tetapi cukuplah untuk biaya tinggal di Solo, dengan waktu kebersamaan bareng keluarga yang “tumpah ruah”. Dan bisnisnya masih bisa di-scale up. Artinya, kesempatan untuk dinaikin jadi Rp100 juta sebulan juga mungkin.

Sekarang dia bangga ke mana-mana pakai tagar #saveworkfromhome.

Heuheuheu.

Yah, itulah sekelumit cerita nyata tentang kawan saya.

Ada satu kawan saya malah lain lagi ceritanya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!