cara merancang naskah buku

Cara Merancang Naskah Buku

Cara Merancang Naskah Buku – Dari mana mendapatkan ide penulisan buku? Mengapa ada seseorang yang memiliki ide yang begitu banyak, sehingga seolah tak kehabisan energi dalam menulis buku?

Penulis adalah pekerja kreatif. Dengan adanya ide yang berlimpah, akan membantu penulis untuk mengembangkan karyanya lebih jauh. Nah, itulah mengapa kita harus pandai-pandai berburu dan mengikat ide.

Dalam mengikat ide, saya biasa melakukan beberapa hal ini.

Pertama, mengamati permasalahan orang-orang. Misalkan, kita memperhatikan orang-orang memiliki masalah dalam membuat konten yang bagus di blog dan bagaimana mengoptimasikannya menjadi medium personal branding yang bagus, bahkan bisa menghasilkan uang lewat blog. Maka, lahirlah sebuah ide seperti ini:

Masalah: Punya blog tapi tidak bisa memonetisasi.

Ide buku: Optimasi blog menjadi pabrik duit.

Isi buku: Tip dan trik mengoptimalkan blog menjadi medium personal branding dan menghasilkan uang halal lewat ngeblog.

Atau, kamu juga bisa melakukan hal seperti ini untuk menghasilkan ide menulis buku, yakni dengan menentukan TEMA, kemudian TOPIK, setelah itu JUDUL TENTATIF-nya.

Misalkan nih kamu mengambil tema tentang kesuksesan. Setelah menentukan tema, baru tentukan topik yang ingin dibahas. Dengan tema kesuksesan, kamu bisa menentukan topik: sukses bukan melulu soal uang melimpah atau topik yang lain, yakni sukses adalah keluarga yang bahagia. Nah, dari situ, kamu bisa menentukan judulnya, kira-kira seperti apa judul yang “nendang” dan mencuri perhatian. Bila dibuat tabel untuk memperjelas maksud saya ini, akan seperti ini.

TEMA TOPIK JUDUL
Kesuksesan Sukses bukan melulus soal uang Uang Melimpah Bukan Ukuran Suksesmu
  Sukses adalah keluarga yang bahagia Keluarga Bahagia adalah Makna Sukses Sesungguhnya

Nah, tahu kan perbedaannya? Untuk menentukan tema dan topiknya, pastikan kamu sudah mengukur seberapa jauh tingkat pengalamanmu, setinggi apa pengetahuanmu, serta semahir apa tingkat keterampilanmu dalam menulisnya. Pastikan pula kamu sudah mempersiapkan value tambahan agar penyajian idemu tersebut menarik, layak jual, kekinian, dan tentu saja dibutuhkan oleh pembaca. Untuk apa juga kan menulis sesuatu yang tidak menarik, tidak layak jual, tidak kekinian dan tidak dibutuhkan oleh pembaca.

Saat memiliki ide, langsung ikat idenya dan bikinlah pola seperti itu. Sangat sederhana memang, karena tugasnya hanya mengikat ide yang berseliweran yang kita rasa cocok untuk menjadi sebuah buku. Cara mengikatnya bisa dengan menulis di notebook, atau lewat aplikasi note di smartphone. Intinya, kita mengikat ide yang berseliweran, dengan menuliskan apa ide tema bukunya dan apa isi bukunya. Di dunia ini banyak sekali orang yang memiliki masalah dan membutuhkan solusi. Nah, bila karya kita bisa hadir sebagai solusi, maka karya kita akan dibutuhkan oleh banyak orang. Dan itu tentu kabar baik, karena selain manfaatnya semakin tersebar banyak, income kita sebagai penulis juga semakin tebal lewat royalti.

Level sebuah masalah juga bertingkat-tingkat. Ada masalah yang perlu solusi sederhana, namun ada juga masalah yang perlu solusi tingkat kepakaran. Begitu pun ketika menyajikan solusi lewat barisan kata-kata. Sesolutif apa kita dalam mengurai masalah, maka kehadiran karya kita akan semakin menjadi primadona.

Kedua, sering bermain ke toko buku dan pameran buku. Saat melihat sebuah buku dengan tema yang bisa kita tulis, dan buku yang sudah ada tersebut ditulis dengan kualitas yang lebih rendah dari apa yang kita bisa, maka saatnya kita mengambil peran.

Bila kita merasa bisa menulis yang lebih baik dari buku tersebut, mengapa tidak? Inilah semangat seorang penulis yang ingin menghasilkan karya yang lebih baik dari penulis lain. Apakah semangat seperti ini salah? Tidak. Karena dengan begitu, setiap pekarya akan selalu berlomba-lomba untuk terus menambahkan value di dalam karyanya.

Ketiga, mengoleksi katalog buku luar negeri. Buku-buku yang terbit di luar negeri biasanya saya perhatikan lewat katalog. Beruntung, saya rutin mendapatkan katalog dari beberapa penerbit di luar negeri. Bila tak bisa mendapatkan katalog versi cetaknya, bisa kita melakukan browsing ke website-nya. Banyak ide menarik dari buku-buku itu yang bisa kita kemas versi lokal.

Dalam membuat konsep naskah, hal paling sering saya lakukan adalah cara ketiga ini, karena hemat waktu, sudah terbukti ada buku yang dibutuhkan oleh masyarakat, dan ada bukti nyata buku yang bisa kita benchmark dalam pengerjaannya. Tinggal menambahkan value yang terasa lebih lokal dan sedikit kreativitas kita sebagai pengembang konten dan penulis. Ingat, kita tidak menjiplaknya, ya. Hanya mengambil inspirasinya.

Selain dari ketiga hal di atas, sisanya adalah ide-ide yang lahir secara random, misalkan dari seminar, reuni, pelatihan, lokakarya, tafakur, saat sedang beribadah, dan hal-hal lainnya, di mana kita sering melakukan tiga aktivitas utama yang akan memantik ide, yakni banyak membaca, banyak menjelajah sudut-sudut semesta, dan banyak bergaul dengan orang-orang kreatif.

Ada macam-macam cara untuk membuat sebuah tulisan bagus: mengindahkan gaya bahasa, meluarbiasakan alur cerita, atau meliukkan diksinya. Tapi, semua bermuara pada satu hal penting: IDE.

Yah, IDE.

Ide yang baik, akan tetap menghasilkan gugahan. Ide yang keren, akan tetap melahirkan gerakan. Ide yang baik, walau disajikan dengan bahasa yang susunannya kacau, masih bisa menghasilkan sesuatu. Tapi, ide yang buruk, walau disajikan dengan bahasa semeliuk apapun, akan tetap kosong.Itu yang membuat sebuah tulisan bagus.And remember, you can’t win with yesterday’s ideas. Jadi, sering-seringlah mengail-ngail ide sebanyak dan sekeren mungkin.

Kita sering terkapar karena tak mampu mewujud-nyatakan ide berbentuk tulisan, bersebab satu hal: ketakmampuan berbahasa. Makanya, kemampuan menulis ini memang tak mudah. Sehebat apa pun ide kita, namun saat kita tak memiliki kemampuan untuk mengaitkan antarkata dengan apik, kita akan mengalami kebuntuan.

“Banyak penulis lupa akan misteri dan kekuatan bahasa,” kata Sindhunata, “Mereka lebih percaya pada pengetahuan dan pengalamannya. Padahal, semua itu masih mentah dan belum nyata apabila tidak dinyatakan dengan bahasa. Jangan mengira bahwa menyatakan dengan bahasa itu mudah. Sebelum menyatakan dengan bahasa, kita harus menggulati pengetahuan kita dengan bahasa. Sering terjadi dalam pergulatan itu kita kalah. kita merasa tahu dan mengerti, merasa mengalami dan sadar, tetapi semuanya itu tidak dapat kita kalimatkan—artinya, bahasa tak membantu kita untuk menyatakan semuanya tadi. Akhirnya, semua tinggal sebagai kegelapan dan kebawahsadaran, padahal kita merasa terang dan sadar tentangnya. Dalam hal ini, bahasa adalah sarana pencerahan bagi kegelapan kita.”

Jadi, jangan anggap remeh kekuatan bahasa, ya. Tanpa kemampuan itu, ide kita tak akan tersampaikan kepada pembaca dengan baik. Menulis adalah mengomunikasikan gagasan. Maka, sejauh mana kamu berani dan mampu menyampaikan ide dan pemikiranmu itulah yang akan berpengaruh pada kemampuanmu menulis. Kekayaan ide dan pemikiran yang ada pada otak dan hati manusia juga akan sangat berpengaruh pada kemampuan dalam menulis. Tentu saja, bagaimana kamu bisa menulis dengan bagus jika dalam tubuhmu sendiri miskin gagasan?

Oleh karena itu, proses memperkaya diri dengan gagasan harus terus kita lakukan. Banyak hal yang bisa dilakukan, seperti membaca, bersilaturahim, merenung, dan juga melakukan jelajah alam. Hal-hal mendasar seperti itu akan menjadikan hati dan pikiran kita terbiasa dengan gagasan-gagasan. Lebih baik banyak gagasan daripada tidak sama sekali.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Karena berkolaborasi akan lebih baik, apalagi kolaborasi yang bermanfaat. Bergabunglah bersama pembelajar lainnya. Sekarang.
Jangan khawatir, saya juga benci dengan spamming. Kita belajar bersama untuk hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.