biografi anies baswedan

Biografi Anies Baswedan (2): Sang Penyala Lentera Kebangsaan

Biografi Anies Baswedan. Anies kecil menghirup udara pertamanya pada tanggal 7 Mei 1969 di Kuningan. Terlahir dari pasangan Awad Rasyid Baswedan dan Aliyah Ganis. Kakek Anies adalah Abdurrahman Baswedan atau bisa disingkat dengan AR Baswedan, yang tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu pejuang yang berperan penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Rumah berdinding separuh bata di Kampung Cipicung, Kuningan, Jawa Barat, adalah saksi Anies terlahir. Rumah itu adalah rumah kakek Anies dari jalur ibunya, Abdullah Ganis.

Di bagian samping rumah Abdullah Ganis, ada ruangan berukuran lumayan besar, tempat di mana beberapa karyawan Abdullah bekerja menenun sarung. Ritme alunan mesin tenun bersahutan sepanjang hari. Usaha tenun tradisional sudah ditekuni Abdullah Ganis sejak tahun 1930-an.

Semasa kecil, tak jarang Anies ketika berlibur ke rumah kakeknya itu, sering ikut mencuci benang ke Sungai Citamba yang airnya berasal dari mata air di Gunung Ciremai. Airnya segar, jernih, dan tentu saja dingin.

Anies memang tak tinggal lagi di situ, karena Jogjakarta yang kental budaya adalah kota di mana masa kecil Anies dihabiskan. Kala berusia setahun, Anies dipindahkan dari rumah kakeknya, Abdullah Ganis, dan dibawa ke Jogjakarta, lalu besar di sana.

Abdullah Ganis adalah sosok yang begitu perhatian pada pendidikan. Di kampung Cipicung kala itu, keluarga Abdullah Ganis adalah salah satu dari sedikit keluarga yang mengirimkan anak-anaknya sekolah ke luar kuningan. Uniknya, anak-anaknya diwajibkan mengirim surat setiap minggu, untuk bertukar kabar dan berbagi cerita.

Selain terbiasa dekat kepada orang tua walau jarak memisahkan, kewajiban itu juga bisa melatih kepekaan dan kemampuan literasi. Ibunda Anies, Aliyah Ganis menjadi perempuan pertama dari keluarga Abdullah Ganis yang meraih gelar sarjana.

Dengan kakek dari garis ibu yang seorang pengusaha dan pemeduli pendidikan, dari garis ayah, Anies memiliki kakek seorang pejuang bernama AR Baswedan. Yah. Darah pejuang mengalir deras dalam nadi Anies. Bila kita melihat sekarang Anies Baswedan begitu gigih mengajak banyak orang membangun negeri ini, tentu tak perlu ditanya kenapa. Terlalu wajar. Bahkan sangat wajar.

AR Baswedan terdata sebagai tokoh penting dalam masa pra dan pasca kemerdekaan. Pada 4 Oktober 1934 di Semarang, Jawa Tengah, ia bersama beberapa aktivis mengadakan Hari Kesadaran Indonesia-Arab yang dikenal dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab. Masyarakat keturunan Arab diarahkannya mewujudkan nasionalisme yang satu, yakni ke-Indonesia-an, tempat mereka tinggal sekarang, bukan negeri nenek moyang mereka mulanya berasal. “Bagi golongan keturunan Arab yang dilahirkan di Indonesia,” kata AR Baswedan sebagaimana terpaparkan oleh Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, “yang hidup di Indonesia dan ingin mati di Indonesia, hendaknya memandang Indonesia sebagai tanah airnya.” Dan hebatnya, AR Baswedan bahkan mengemukan gagasan jeniusnya itu di umur yang begitu muda. 22 tahun.

AR Baswedan bersama kawan-kawannya yang keturunan Arab, Nuh Alkaf, Segaf Assegaf, dan Abdurrahman Argubi, turut berandil banyak memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan, dengan mendirikan Partai Arab Indonesia pada 1934. AR Baswedan menjadi ketuanya. Tujuannya, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Itu saja. Simpel, tapi tentu tak mudah untuk mewujudkannya di tengah kondisi yang berkecamuk konflik dan auman penjajahannya yang begitu mengerikan. Bahkan, demi fokusnya pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan menjadi ketua Partai Arab Indonesia, AR Baswedan melepaskan pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar Matahari. Yang secara drastis mengubahnya, karena pekerjaan awalnya memberinya gaji cukup, setelah resign menjadi lumayan berkekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, demi nasionalisme dan kemerdekaan, apa pun menjadi taruhan. Walau habis terang, AR Baswedan meneruskan jalan menuju kemerdekaan negerinya. Tak hanya itu, kiprahnya dalam dunia pers juga mendapatkan penghargaan dengan masuk ke dalam 111 tokoh perintis pers nasional.

Tak hanya itu, Partai Arab Indonesia juga terpilih menjadi salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Setelah tercapai tujuan, yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, partai ini kemudian membubarkan diri dan mempersilakan seluruh anggotanya bergabung dengan partai mana pun, dan AR Baswedan kemudian memutuskan untuk beralih ke Partai Masyumi.

Lewat partai Masyumi, karier politik AR Baswedan pun mengalami tanjakan yang baik. Menteri Muda Penerangan Republik Indonesia di Kabinet Sjahrir III, yakni antara 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, di sandangnya. Nah, di saat menjabat itulah dia bersama Agus Salim, yang kala itu menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, Sekjen Kementerian Agama Rasjidi, Muhammad Natsir dan Sutan Pamuncak, bertugas berkeliling ke negara-negara Arab, mencari dukungan internasional atas usaha kemerdekaan Indonesia bakda proklamasi, sebagai delegasi diplomat Indonesia pertama dalam sejarah republik. Ya. Pertama!

Bakda melalui perjuangan berat, delegasi pun meraih sukses, dan Mesir menjadi negara pertama yang secara de facto dan de jure mengakui Republik Indonesia. Mengapa perjuangan diplomatik tersebut terasa berat?

Liga Arab memang menganjurkan semua anggotanya mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Akan tetapi, Mesir lah yang kemudian menjadi yang pertama mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Menteri Luar Negeri Mesir kala itu, Nokrashi Pasha lah yang menandatangani dokumen pengakuannya.

Berhasil mendapatkan satu pengakuan dan harus masih melakukan tugas diplomatik ke negara-negara lain, Agus Salim meminta AR Baswedan segera pulang ke Indonesia, dan menyerahkan dokumen tersebut sampai dengan selamat di tangan presiden. Tak peduli bagaimana pun caranya.

“Baswedan, bagi saya tidaklah penting apakah Saudara sampai di tanah air atau tidak,” tegas Agus Salim, “yang penting dokumen itu harus sampai di Indonesia dengan selamat!”

AR Baswedan pun bertekad membawa dokumen penting pengakuan itu dengan selamat sampai di Indonesia. Nahasnya, posisinya yang berada di Kairo tak bisa langsung berpesawat menuju Jakarta, tetapi harus transit terlebih dahulu ke Singapura. Lebih nahas lagi, perwakilan Belanda di Singapura ikut turut campur agar AR Baswedan tak bisa kembali Indonesia lewat Singapura.

Sebagai negara baru, Indonesia belum memiliki perwakilan di Singapura, dan posisi Belanda sebagai negara penjajah, tentu ingin mempersulit langkah kemerdekaan penuh Indonesia. Wajar.

Di negeri orang tanpa koneksi, tentu menyebalkan. Selama sebulan AR Baswedan harus berada di Singapura tanpa kepastian bisa kembali ke Indonesia atau tidak. Padahal, dokumen penting yang berada dalam dekapannya harus segera sampai di Indonesia. Beruntung, Ibrahim Assegaf membantunya menjalani kehidupan keseharian selama di Singapura, hingga akhirnya bertemu dengan Talib Yamani, yang bisa membantunya berpesawat ke Indonesia, dan berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta pada 13 Juli 1947.

Tetapi, kegembiraannya terpapas seketika, karena penjagaan pasukan Belanda masih sedemikian ketat di Bandara. Dokumen penting yang dibawanya bisa terampas. Maka, celah paling aman dan memungkinkan untuk menyelamatkan dokumen mahapenting itu adalah dengan menyimpannya di kaos kaki, yang terbungkus sepatu lusuhnya. Sempurna. Pasukan Belanda bahkan terlalu malas mendekati zona bagian bawah kakinya itu. Lolos pemeriksaan, AR Baswedan bersegera menuju Yogyakarta.

Di Gedung Agung, Yogyakarta, ibukota pemerintahan kala itu, Presiden Soekarno menerima dokumen pengakuan tersebut. Betapa gembiranya seluruh yang hadir di situ. Ini adalah pengakuan internasional pertama. Indonesia bersiap menjadi negara hebat. Kurungan penjajahan tentu sudah melelahkan siapa saja. Dan walau yang datang baru selembar dokumen pengakuan, itu sudah cukup untuk membangkitkan optimisme para pendiri republik ini. AR Baswedan terduduk lega. Mensyukuri bahwa puluhan tahun berjuang untuk Indonesia, titik terangnya sudah makin membesar.

AR Baswedan terlahir di Surabaya, Jawa Timur, 11 September 1908, dan meninggal di Jakarta pada 16 Maret 1986. AR Baswedan tentu telah melalui jalan panjang sebagai pejuang. Tetapi, paling menarik adalah ungkapannya, bahwa perjuangan tidak harus selalu identik dengan masuk penjara. “Contohlah Haji Agus Salim. Tidak ada yang meragukan kegigihan perjuangannya. Tetapi, baik pada zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, Agus Salim tidak pernah masuk penjara.” AR Baswedan selain sastrawan, dia juga dikenal sebagai penyair dan seniman. Pidatonya memiliki kharisma yang otentik. Seni teatar juga dimahirinya. Sajak-sajak banyak pula yang digubahnya. Selain bahasa Arab, dia juga lihai berbahasa Inggris dan Belanda.

AR Baswedan mengawali belahan hatinya dengan Sjaichun. Akan tetapi, pada tahun 1948 istri tercintanya itu dipanggil Yang Kuasa. Dua tahun kemudian, Barkah Ganis menjadi perawat luka hatinya. Rumah KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta menjadi tempat ijab qabul dilangsungkan dengan Mohammad Natsir berperan sebagai wali untuk mengesahkan mereka. Sebelas anak dan empat puluh lima cucu kemudian menjadi turunan AR Baswedan.

AR Baswedan masyhur sebagai sosok yang begitu sederhana. Seperti bila ia meninggal, ia ingin dikubur di TPU Tanah Kusir, berdampingan dengan para pejuang Indonesia lainnya yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

“Sebagai seorang pejuang,” kata Menteri Luar Negeri Adam Malik mengenai AR Baswedan, “seluruh hidupnya ia korbankan untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia sebagai seorang penulis dan penyair selalu melukiskan perjuangan mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah dan sebagai seorang Islam, ia selalu memuja dan berdoa kepada Allah Yang Maha Besar.”

Semasa hidupnya, AR Baswedan tinggal di Taman Joewono nomor 19, Jogjakarta. Nah, di sini pula, Anies tinggal di masa kecilnya. Karena AR Baswedan adalah tokoh masyarakat, tak heran bila rumahnya sering kedatangan tamu. Bakda besar, Anies baru tahu bahwa yang sering bersilaturahim ke rumah kakeknya itu adalah orang-orang besar nan penting, seperti WS Rendra, Syafi’i Ma’arif, Gus Dur, atau Romo Mangun Wijaya. Orang-orang besar dengan beragam latar pemikiran yang beragam dan wilayah gerak juang yang berbeda-beda, namun intinya sama: demi kemajuan Indonesia.

Sepertinya, semenjak kecil AR Baswedan juga sudah memberikan nuansa pelatihan leadership yang kental kepada Anies. Pembentukan karakter dan mental perlahan nan cerdas mulai ditanamkan oleh AR Baswedan kepada Anies dengan berbagai cara yang menarik. Misalnya, ketika AR Baswedan ada undangan ceramah atau berbicara di depan publik, tak jarang Anies juga kerap digamitnya untuk ikut menghadiri, bahkan tak jarang ikut naik ke panggung. Pembentukan mental sejak dini seperti itu akan memudahkan Anies semasa remaja untuk tak lagi demam panggung, atau banjir keringat dan gagap bicara ketika melihat kerumunan orang banyak.

Dalam merangsang sisi intelektualitas, Anies juga kerap di bawa ke perpustakaan di jalan Pangeran Mangkubumi. Tujuannya? Tentu untuk membiasakan Anies bergelut dengan ilmu, mencintai baca, dan menjadi pribadi yang matang pengetahuannya. Sebuah cara pewarisan nilai kepejuangan dan kepemimpinan yang apik dan terkonsep.

Sejak kelas tiga SD, Anies bahkan sudah diikut terlibatkan peran-peran penting. AR Baswedan mengajari Anies menggunakan mesin ketik. Langsung praktik mengetik, tanpa teori yang njelimet. Fungsinya, agar Anies cepat lincah menekan tuts, dan membantu AR Baswedan mengetik surat untuk teman-temannya.

AR Baswedan sudah terlalu tua untuk menekan tuts dan melihat tulisan. Dengan adanya Anies yang semakin lihai mengetik, AR Baswedan hanya tinggal mendiktekan saja. Sebagai penghargaan, dalam baris terakhir, Anies biasa diminta untuk menuliskan kalimat: Surat ini diketik oleh cucu saya, Anies Rasyid Baswedan.

Mendapatkan penghargaan sebegitunya bagi Anies yang masih kecil tentu luar biasa. Berkat sempilan namanya di akhir surat itu, Anies kerap memamerkan betapa penting kemampuannya itu kepada teman-temannya.

Tak berapa lama, keluarga Anies pindah untuk menempati rumah sendiri. Walau begitu, namun tak jauh dari rumah sang kakek. Hubungan kedekatan fisik maupun emosional antara sang cucu dengan sang kakek tetap berjalan. Saat Anies menginjak remaja dan mulai diperbolehkan mengendarai sepeda motor vespa, Anies sering diminta mengantar Sang Kakek untuk mengunjungi teman-temannya, atau menjemput teman seperjuangan sang Kakek dari luar kota yang berkunjung ke Jogja.

Sepertinya, ini adalah cara AR Baswedan menjaga kelestarian spirit pejuang bagi para penerusnya, dengan mengenalkannya kepada kolega-koleganya dan memasukkan dia ke dalam lingkungan para pejuang kemerdekaan, orang-orang besar yang memiliki peran penting di masyarakat, dan yang semisalnya.

Dengan begitu, suatu saat nanti, kala Anies dewasa, Anies akan terbiasa untuk berurusan dengan orang-orang penting, dan terbiasa untuk menggaungkan perjuangan tak kenal henti, dan berterus menyumbangsih perbaikan untuk bangsa ini.

Anies adalah anak pertama dari pasangan Drs. A. Rasyid Baswedan S.U dan Prof. Dr. Aliyah Ganis, M.Pd. Ayahnya, Rasyid Baswedan, pernah menjadi wakil rektor Universitas Islam Indonesia dan dosen di Fakultas Sosial dan Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta. Sedangkan Aliyah Ganis, adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta.

Ayah Anies sudah meninggal pada 13 September 2013. Ayahnya dikenang Anies sebagai sosok yang di dalam kepribadiannya berpadu antara ketegasan, kesederhanaan, dan keberanian. Sedangkan ibundanya, sudah pensiun dari dosen, dan pada orasi ilmiahnya pada masa pensiun, mempersembahkan orasi apik bertema Memperkuat Langkah UNY Menuju Panggung Dunia. Sebuah persembahan terakhir Aliyah pada dunia pendidikan yang telah ditekuninya bertahun-tahun. Tujuh Inisiatif Strategis digagas Aliyah. Pertama, benchmarking of excellence, mencari model perguruan tinggi yang unggul di dunia dan mencari hal-hal yang bisa dipelajari dari model tersebut. Kedua, incorporating the local/traditional and the modern. Sebagai warisan budayanya, menjadi ‘kewajiban’ bagi UNY untuk menjadikan hal tersebut sebagai ‘keunggulan kompetitif’. Ketiga, memanfaatkan keunggulan UNY seabgai salah satu universitas berkembang dari perguruan tinggi menuju perguruan terbaik di Indonesia. Keempat, menaikkan visibilitas UNY di level nasional maupun internasional. Kelima, mendirikan fasilitas yang mendukung pengembangan keterampilan berbahasa. Keenam, memperluas jaringan UNY dengan membentuk network dengan kampus-kampus yang justru terletak di daerah-daerah yang jauh dari pusat. Ketujuh, pendidikan kewirausahaan. UNY berkewajiban untuk mencari, mengembangkan, meneliti, mempraktikkan model pendidikan entrepreneurship yang dapat dijadikan acuan untuk pendidikan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi dan masyarakat, yang secara global kebutuhannya sudah sangat mendesak.

Sebuah persembahan terakhir lewat gagasan yang begitu brilian dari Aliyah. Akumulasi dari pengalaman, perhatian, perenungan, kebersamaan dan olah diskusi dengan banyak kawan sesama pegiat pendidikan, dan kerja nyatanya di UNY.

Karena kedua orang tua Anies adalah pengabdi yang gigih untuk dunia pendidikan di Indonesia. Maka tak heran, Anies pun memiliki sejarah ketertarikan pada dunia kependidikan yang baik, dan berhasil mengubah wajah pendidikan Indonesia lewat gerakan Indonesia Mengajar, Kelas Inspirasi dan Indonesia Menyala. Hidup dalam lingkungan pejuang dan akademisi tentu membentuk karakter yang hampir komplit pada diri Anies menuju karakter nasionalis, akademisi, aktivis, juga kepekaan sosial yang dalam.

Karena orang tuanya berkiprah di kampus, di rumah Anies pun sering kedatangan mahasiswa yang konsultasi skripsi, maupun menyerahkan tugas. Anies pun, kerap berinteraksi dengan mereka dan melihat proses diskusi dan sharing keilmuan yang hangat.

Aliran rangsangan keilmuan sepertinya memang terus menderasi hari-hari Anies semasa kecil. Perpustakaan Kedaulatan Rakyat yang berada di Jalan Pangeran Mangkubumi, Jogjakarta misalnya, adalah tempat yang memang rutin Anies kunjungi selepas pulang sekolah. Paling disukai Anies, adalah membaca buku biografi. Dengan membaca kisah hidup tokoh-tokoh besar, Anies menjadi terinspirasi untuk berbuat dan berkarya nyata seperti mereka. Kakeknya, AR Baswedan bahkan memiliki ribuan judul buku di perpustakaan pribadi rumahnya. Orang tuanya yang berprofesi sebagai dosen, pun tak lepas dari koleksi buku.

Berada dalam lingkungan seperti itu, tentu membuat dasar keilmuannya menjadi apik. Ditopang dengan peran kakeknya yang terbiasa berceramah dan sering mengikutsertakan Anies, tentu Anies kemudian memiliki dua kekuatan yang boleh dikata langka: dasar ilmu yang matang dan kemampuan untuk berbicara di depan publik dengan runtut dan enak didengarkan. Didukung dengan karakter Anies yang ramah dan enak diajak ngobrol, tentu membuat karakter Anies menjadi sosok yang mudah dihangati dan dicintai. Sebuah karakter mendasar pemimpin yang telah terbentuki secara alamiah sejak dininya. Ditopang, Anies sejak kecilnya dikenal sebagai pribadi yang pemberani. Tentu ini makin membuat Anies sejak mudanya sudah terbentuki sebagai sosok yang tak kenal khawatir dan takut bila sedang memperjuangkan kebenaran yang diyakininya.

Aliyah biasa memberikan pola pendidikan yang tidak terlalu over protective kepada Anies. Bahkan, walau nyerempet ke dalam bahaya, asal tidak berlebihan, tidak apa dan dibiarkan oleh Aliyah, karena hal itu justru membuat Anies lebih tangguh dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tak heran, ketika sekitar usia lima tahun, Anies pernah dikeroyok beberapa kawannya. Yang entah bersebab masalah apa. Aliyah yang kala itu pulang dari mengajar di kampus, ternyata justru mengabaikannya. Melerai tidak. Memarahi Anies di lokasi juga tidak. Bahkan, Aliyah justru pura-pura tidak melihat. Sepulangnya ke rumah, Anies pun tidak dilabrak. Karena versi Aliyah, dengan begitu Anies akan terbiasa menghadapi dan menyelesaikan permasalahannya sendiri. Apalagi Anies adalah laki-laki. Harus kuat. Harus tangguh. Harus menjadi problem solver. Dan itu harus dibiasakan sejak dini.

Di sisi lain, Ayah Anies pun tak pernah marah kepada Anies. Begitu juga kepada istri dan anak-anaknya yang lain. Bagi Rasyid, hal ini untuk tidak menjadikan anak tertekan, dan juga menjauhkan keluarganya dari aura keluarga yang apa-apa suka marah. Tetapi lebih mengedepankan diskusi dan mencari solusi bila ada permasalahan. Kebersamaan inilah yang penting dijaga dalam sebuah keluarga. Ikatan yang kuat akan mampu menghadang permasalahan sepelik apa pun.

Belum genap tiga tahun, Anies sudah masuk Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal di Gedongtengen. Belum selesai setahun di sana, Anies lalu pindah ke TK Masjid Syuhada. Selulusnya, SD Laboratori Yogyakarta menjadi tujuan belajar selanjutnya. Bakdanya, SMP Negeri 5 Yogyakarta menjadi lembaga pendidikan ia menghabiskan masa remajanya.

Di SMP ini, Anies terpilih menjadi Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat ketika kelas 2. Tugasnya? Menjadi penaut antara OSIS dengan siswa. Jadi, ketika OSIS memiliki kegiatan, tugas Seksi Pengabdian Masyarakat lah yang menyampaikan. Perlu kecakapan diplomasi, berceramah, supel, dan sosok yang mudah digemasi dan cintai oleh banyak siswa, sehingga pesan-pesan dari OSIS bisa tersampaikan dengan baik agar kemudian banyak siswa sekolah yang mengapresiasi dan mendukung kegiatan-kegiatan tersebut.

Wajah dan karakternya yang sudah sebegitu familiar bagi siswa-siswi SMPN 5, berpadu dengan kegesitan Anies yang sudah terbiasa mengurusi banyak hal dengan tuntas dan bermutu, membuatnya ditunjuk sebagai ketua panitia perpisahan kelas tiga. Hajatan terakbar setiap tahunan ini tak hanya melibatkan siswa dan guru, namun juga orang tua siswa dan alumni.

Di tangan Anies dan timnya, acara itu sukses tergelar di Gedung Purna Budaya, walau tentu memeluhkan seluruh timnya. Akan tetapi, Anies memiliki daya kepemimpinan yang cukup untuk semua timnya terus bersemangat turun tangan agar acara lancar dan berkesan bagi semua pihak.

Dengan kemampuan-kemampuan Anies yang masih berumur belasan di masa SMP kelas 2 itu, guru BK juga memintanya ikut menangani siswa-siswi lain yang tergolong nakal dan kekurangan daya tangkap pelajaran. Guru BK itu hanya khawatir bila mereka tidak naik kelas dan gagal ujian. Anies mau-mau saja menerima tantangan itu. Dan hasilnya memang sesuai dugaan, Anies dengan perlahan mampu membuat anak-anak tersebut perlahan mulai mengurangi aktivitas bandelnya dan lebih serius mempersiapkan diri dalam belajar dan ujian kelas. Walhasil, anak-anak yang dulunya kurang bersemangat belajar menjadi lebih tertarik untuk menggeluti ilmu dan mendengarkan penjelasan guru, dan yang bandel mulai lebih memilih menyalurkan energi berlebihnya itu ke dalam kegiatan sekolah yang bermanfaat. Berkat ini, guru BK saat itu, Pak Sujono, memberikan apresiasi besar atas kiprah Anies ikut membangun budaya baik dan prestatif di SMP Negeri itu.

Sebenarnya, jiwa kepemimpinan Anies sudah nampak sejak belianya. Seperti misalnya, ketika berusia 12 tahun, Anies bersama kawan-kawannya membentuk kelompok anak-anak muda, yang umurnya sekira 7-15 tahun di kampungnya dan diberi nama Kelabang, kepanjangan dari Klub Anak-Anak Berkembang. Kegiatan utamanya adalah membuat kegiatan yang ada hubungannya dengan olahraga. Seringkalinya, bertanding sepakbola dengan dukuh lain. Walau timnya sering kalah, namun yang dicari Anies dan timnya bukanlah itu. Tetapi kebersamaan. Kekompakan teman-teman satu wilayahnya. Dan keriangan bebas memainkan imajinasi masa kecil.

Serampung SMP, Anies melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMAN 2 Yogyakarta. Awal-awal masuk, Anies langsung mendapatkan kesempatan mewakili sekolahnya dalam lomba pidato bahasa Inggris. Hasilnya? Menang. Kecakapannya dalam public speaking dipadu dengan hasil les bahasa Inggris yang digagas ibundanya semasa kecil di rumahnya, tentu memberikan banyak bekal cukup bagi Anies untuk memenangkan kompetisi hari itu.

Bakda itu, nama Anies kian populer di sekolahnya. Kala pemilihan ketua OSIS, Anies pun dicalonkan oleh angkatannya untuk mewakili mereka. Karena baru kelas satu, Anies kalah. Tetapi, perolehan suaranya hanya terpaut sedikit dengan pemenang, yang berasal dari kelas dua. Artinya, sebagai pendatang baru di sekolahan itu, kepopuleran dan kemampuan Anies sudah diperhitungkan. Sejak itu, walau masih kelas satu, Anies sudah menjadi Wakil Ketua OSIS.

Tak lama setelahnya, Anies kemudian mendapatkan kehormatan sebagai wakil sekolah untuk mengikuti Penataran Pengurus OSIS Tingkat Nasional, yang diikuti oleh 300 delegasi OSIS seluruh Indonesia. Pengadanya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pelatihan ini diadakan di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan. Dalam perjalanannya ke Jakarta, Anies didaulat sebagai ketua rombongan OSIS dari empat belas SMA se-Jogjakarta. Sesampai di Jakarta, Anies juga didaulat lagi menjadi ketua peserta pelatihan, yang notabenenya adalah ketua OSIS semua delegasi. Bisa dibayangkan, Anies harus memimpin para pemimpin sekolahnya masing-masing, selama sepuluh hari, dan harus menjadi penghubung yang baik antara peserta dan panitia. Teknik berdiplomasi, bernegosiasi dan berjejaring terlatih dan teruji betul selama masa pelatihan ini.

Sejak kelas satu, Anies sudah masyhur sebagai siswa yang pandai bergaul, ramah, terbuka, dan ringan untuk turun tangan. Oleh itulah, kala kelas dua ketika diadakan lagi pemilihan ketua OSIS, Anies memenangkan pemilihan.

Tidak seperti tiga kandidat lain yang menyampaikan visi dan misinya yang berbusa-busa, Anies yang mendapatkan kesempatan terakhir menyampaikan, justru berkata singkat, “Buat saya, banyak bicara tetapi tak ada kerja adalah nol.” Ibu jari dan jari telunjuknya kemudian cepat membentuk angka paling bulat itu. “Pilihlah yang terbaik,” katanya sebelum turun podium. Hanya itu. Dan sesingkat itu. Tetapi, justru speech super singkatnya itulah yang kemudian mendapatkan gemuruh aplaus ternyaring dari seluruh hadirin. Benar-benar penuh kejutan!

Ini model pemimpin yang mereka harapkan. Yang sibuk kerja, berkarya, dan terus berkontribusi, bukan yang rajin menebar citra, kerja nol dan lari dari tanggung jawab. Sejak dininya, Anies tahu betul makna bagaimana pemimpin memang seharusnya turun tangan. Bukan sibuk urun angan.

Di masa SMA ini pula, Anies berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar American Field Service (AFS) Intercultural Programs, yang diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat. Selama setahun ia berada di sana. Dan South Milwaukee High School adalah sekolah penempatannya. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumah induk semangnya. Pengalaman selama setahun di Amerika di usia yang begitu mudanya membuat Anies begitu memahami arti toleransi, perbedaan budaya, dan bagaimana tetap berpegang teguh pada agama yang diyakini. Walau tinggal di keluarga Katolik taat selama di Amerika, Anies juga diberi keleluasaan menjalankan ibadahnya dengan taat pula. Bahkan, gereja setempat memberikan kesempatan Anies untuk menyampaikan materi tentang keislaman dan keindonesiaan. Sebuah kesempatan besar bagi Anies untuk berbicara tentang agama Islam yang kala itu masih begitu minoritas di Amerika dan tentang Indonesia yang memiliki potensi-potensi kebaikan yang siap bangkit, multi budaya, karakter manusianya, dan kekayaan alam yang melimpah ruah.

Sepulang dari program pertukaran pelajar, Anies merasakan benar bagaimana dia lebih terbiasa mengemukakan pendapat, kritis, juga lebih toleran, dikarenakan sistem pembelajaran di sana yang sangat berbeda dengan yang didapatnya di SMA, dan juga kondisi lingkungan. Yang paling kentara, tentu sikap kritis Anies. Saat pembuatan SIM misalnya, dan Anies merasa sudah sesuai prosedur tetapi instansi terkait justru meminta tambahan biaya dan meribetkan urusannya, Anies pun mencak-mencak dan mengajak debat oknum terkait di lokasi tersebut, sehingga menjadi tontonan gratis banyak orang. Anies pun akhirnya memenangkan duel argumentasi itu, dan mendapatkan SIM pertamanya. Saat gurunya menggunakan metode mengajar yang agak memaksa murid, Anies pun tak jarang juga protes. Aliyah, sang ibunda hanya bisa mewejangi Anies, bahwa tak selamanya apa yang telah dia dapatkan di negeri Paman Sam itu bisa diterapkan di negerinya. Maka, Anies pun perlahan mulai bisa bersikap seperti biasa, setelah sempat mengalami shock culture. Tetapi, itu menjadi bekal pelajaran yang baik baginya, untuk kemudian menerjemahkan gagasan-gagasan baik dari luar dan disesuaikan dengan keadaan di Indonesia.

Tak berapa lama baliknya dari Amerika, Anies pun mendaftar di TVRI Yogyakarta yang membuka pendaftaran baru untuk presenter dalam acara Tanah Merdeka, yang memang dipandu acaranya oleh remaja-remaja berprestasi dan cakap berceloteh di depan kamera. Program ini membuka kesempatan bagi presenter baru setiap dua tahun sekali. Anies dinyatakan lulus tes, dan berkesempatan mewawancarai banyak tokoh hebat, seperti BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, dan juga Fuad Hasan yang kala itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pengalaman terhebat, tentu ketika berusaha mewawancarai Presiden Soeharto kala itu. Walau begitu ketat keamananan dan prosedurnya, Anies dan kawan-kawan tak menyerah. Tetapi, tetap saja tak menemukan titik hasil. Paling memungkinkan, hanyalah mewawancarai Ibu Tien, istri Presiden Soeharto. Karena mewawancarai istri orang nomor satu di Indonesia, tayangan Tanah Merdeka episode itu ditayangkan oleh TVRI nasional, tak hanya di Jogjakarta saja. Bahkan, berkat acara itu pula, TVRI memiliki banyak stok video dan gambar Ibu Tien. Dan stok visual itu pulalah yang kemudian diolah dan diputar berulang-ulang ketika Ibu Tien meninggal pada 28 April 1996, dengan backsound Gugur Bunga-nya Ismail Marzuki.

Aktivitasnya di Tanah Merdeka selesai ketika Anies menginjak semester tiga dari kuliahnya di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada. Karena memang jatahnya berada di sana hanya dua tahun, dan kemudian digantikan generasi baru yang lebih muda dan berprestasi.

Sudah masyhur di Jogjakarta sebagai presenter acara favorit remaja, Tanah Merdeka, untuk kemudian berkiprah di Kampus tak begitu menyulitkan Anies. Bahkan, sejak masa Ospek, Anies sudah dibidik oleh Lukman, ketua Senat Mahasiswa Ekonomi yang juga aktif di HMI-MPO cabang Yogyakarta.

Anies pun bergabung, walau pergerakan mahasiswa ini harus bergerak secara underground. Selain itu, dalam kepengurusan Senat, Anies menjadi anggota Organisasi Badan Pelaksana Mahasiswa (BPSM), dan terpilih sebagai ketua panitia Ospek 1991. Sukses menggelarkan, Anies kemudian terpilih menjadi ketua umum Senat Mahasiswa UGM lewat Kongres II UGM pada Februari 1992.

Bakda terpilih itu, aktivitas gerakan kemahasiswaan Anies luar biasa produktif. Debat, lobi antar gerakan, berhadapan dengan aparat, dan kekhasan lain gerakan mahasiswa era 90-an. Dan tentu, bahkan tak jarang aksi-aksi turun ke jalan dalam memprotes kebijakan pemerintah berbuntut Anies harus mendapatkan perlakuan khusus dari intelijen. Tak jarang, rumahnya terus mendapatkan pengawasan ketat. Bahkan, Anies kerap melakukan strategi pengalihan perhatian, yakni dengan cara menyuruh Zulfa, sepupunya yang berpostur mirip dengannya, untuk memakai jaket hitam dan helm dan menaiki vespanya, agar dia yang dikuntit intel dan Anies bisa bebas keluar rumah dan melakukan aktivitas pergerakan kemahasiswaannya.

Telepon gelap yang meneror rumahnya pun kerap merisaukan Aliyah dan Rasyid, orang tua Anies. Tetapi, alhamdulillah peneroran itu mereda setelah mendapatkan bantuan dari beberapa pihak, termasuk dari dr Fauzi Fakhrudin, putra mantan ketua Muhammadiyah KH AR Fakhrudin.

Selain aktif dalam pergerakan mahasiswa, Anies juga suka menulis. Bahkan, kemampuannya itu makin terbuktikan setelah Japan Airlines Foundation mengadakan lomba menulis esai. Anies menjadi salah satu pemenangnya, dan berhak mengikuti kuliah musim panas selama satu semester di Bidang Asia Tenggara di Sophia University, Jepang.

Di negeri Matahari Terbit itu, Anies kemudian tinggal di daerah Kawasaki, area industri yang terletak di bagian selatan Tokyo. Program yang diadakan oleh Japan Airlines Foundation ini memiliki maksud bagus, yakni mengumpulkan dan mempertemukan anak muda Asia dalam forum yang bernama Asia Forum Scholarship, sehingga anak-anak muda terbaik dari Asia itu bisa bertemu, berdiskusi, dan berjejaring, sehingga menciptakan komunitas internasional. Sebuah kesempatan yang sangat bagus dari Anies, untuk menikmati sejak dini pergaulan internasional dengan orang-orang terbaik dari Asia, dan berjejaring juga bertukar ide dan pengalaman.

Sepulangnya, Anies kemudian mengumpulkan teman-temannya dan membentuk Center for Student and Community Development. Di sini, Anies menjadi ketuanya. CSCD kemudian berkembang pesat, dan bahkan pelatihan-pelatihannya dipakai Dikti untuk melatih dosen-dosen dan mahasiswa. Walau sudah sibuk di CSCD, Anies juga berkiprah di Pusat Antar Universitas (PAU) UGM sebagai tenaga honorer. Tugasnya di situ adalah merancang penelitian tentang komitmen perusahaan-perusahaan multinasional terhadap isu-isu lingkungan.

Saat itu, Anies sudah memasuki tahun keenam kuliah. Sadar sudah terlalu lama di kampus, Anies kemudian ngebut skripsi. Pada bulan November 1995, Anies lulus. Kiprahnya di PAU UGM terus Anies tekuni, karena dirasa itu bisa menjadi jalannya menjadi dosen, cita-citanya.

Anies selalu memiliki prinsip, bahwa dalam pekerjaan, ia ingin yang secara intelektual selalu bertumbuh, tetap bisa bertanggung jawab kepada anak dan istri, dan memiliki pengaruh sosial kepada lingkungan. Dan dosen memiliki tiga kriteria itu.

Akan tetapi, menjadi dosen di UGM haruslah bergelar S2. Maka, Anies kemudian berburu beasiswa. Lewat beasiswa Fullbright Anies kemudian belajar ke Universitas Maryland untuk jurusan perdagangan internasional, bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi.

Sebelum berangkat ke Amerika, Anies menikahi Fery Farhati, yang telah ditaksirnya sejak dua tahun lalu. 11 Mei 1996, di usia yang sama-sama 27 tahun mereka menikah.

Di Amerika, awalnya mereka bertinggal di kompleks apartemen University Garden. Namun, karena lingkungannya yang rawan kejahatan membuat pasangan baru ini memilih pindah ke kompleks University City. Minimnya biaya yang mereka miliki tak sebanding dengan mahalnya hidup di negeri Paman Sam. Apalagi, ketika Fery hamil. Anies harus membuat keputusan mahaberat. Memulangkan Fery ke Indonesia ketika masa hampir melahirkan tiba. Sebagai pasangan baru, hal itu luar biasa membuat sedih Anies dan Fery. Akan tetapi, keputusan itu harus tetap dilaksanakan.

Anies makin tekun belajar. Mengusir kesendirian dan kegalauan akut karena long distance relationship. Hingga malam kerap ia masih di perpustakaan, mengerjakan tugas-tugas kampusnya, dan baru pulang ke apartemennya bila kelelahan sudah menghajarnya.

Demi mendapatkan tambahan dana hidup di sana, Anies pun memanfaatkan musim panasnya dengan bekerja. Tak lama, kesempatan menghampirinya. Dia diterima sebagai asisten peneliti di laboratorium kampus. Tugasnya? Membersihkan tempat ulat yang sedang diteliti. Setiap hari, tugasnya selalu sama: mengganti daun dan membasahi kapas baru dan memasukkannya ke tempat ulat tersebut. Tiga hari pertama dilalui Anies dengan kejijikan yang merajalela. Makan pun membuatnya tak berselera. Akan tetapi, demi mendapatkan tambahan dana, ia harus bisa melewati ini semua. Karena hanya pekerjaan macam itu yang tersedia baginya saat itu.

Selain itu, Anies juga terus berburu tambahan beasiswa. Indonesian Cultural Foundation (ICF) dan William P Cole III Fellow lah yang menyambutnya. Setelah kabar beasiswa itu menggembirakannya, kabar melegakan datang dari Fery. Anaknya sudah lahir, perempuan, dan mereka kemudian menamainya dengan Mutiara Annisa Baswedan. Berbekal beberapa dana tambahan yang diperolehnya, Anies nekat pulang, menengok buah hatinya yang baru saja lahir, sekaligus melepas rindu yang sudah tak bisa dibendung lagi kepada Fery.

Merasa sudah cukup puas melepas kangen pada Fery dan Annisa, Anies kembali ke Amerika. Kegembiraannya makin lengkap, karena di Amerika, Anies mendapatkan kabar bahwa Yahya Muhaimin, dosennya di UGM dulu ditunjuk sebagai konsulat pendidikan di Washington DC, dan menawari Anies agar mau tinggal di rumah dinasnya saja. Tentu Anies tak membuang kesempatan ini. Dan tak lama kemudian, Anies pun memboyong Fery dan Annisa ke Amerika lagi.

Beberapa waktu berlalu, dan kini Anies sudah semakin dekat menyelesaikan S2-nya. Kegalauan menyapanya, apakah kembali ke Indonesia ataukah melanjutkan S3 saja. Setelah berdiskusi panjang dengan Fery, akhirnya pilihan jatuh untuk melanjutkan S3. Di North Illinois University lah akhirnya Anies menghabiskan belajar S3-nya. Dalam masa itu, lahirlah lagi anak Anies yang kedua, yakni Mikail Azizi. Selama masa menyelesaikan S3-nya, Fery juga menjadi mahasiswa North Illinois University ketika Mikail berusia dua tahun. Pada akhirnya nanti, Fery juga mendapatkan gelar masternya dalam parenting education dari kampus yang sama.

Menjelang akhir masa perkuliahannya, Anies juga mendapatkan pekerjaan sebagai Direktur Riset di IPC Inc., sebuah asosiasi perusahaan elektronik sedunia di Chicago. Hampir setahun Anies bekerja di situ. Dan dengan demikian, tabungan untuk keluarganya sudah lumayan aman untuk hidup di Amerika dan rencana pulang kampung. Apalagi, masa-masanya di IPC juga mendapatkan anugerah baru dengan lahirnya Kaisar Hakam, anak ketiganya.

Bakda melewati tahun demi tahun di negeri Paman Sam, Anies mulai merindu untuk berkarya dan berbakti lagi di negeri sendiri. Terasa aneh memang, dia yang dulu begitu aktif dengan gerakan kemahasiswaan, yang kesemuanya berujung satu: membela kepentingan rakyat dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang tak bijak pada masyarakat, kini malah berkarya di negeri orang. Keinginan untuk pulang pun makin kuat menghunjami dada Anies.

Tak berapa lama, akhirnya mimpi itu terwujud pula. Pulang ke negeri. Berkiprah di negeri. Dan ikut membangun negeri sendiri.

Di penghujung 2005, Anies, Feri, Annisa, Mikail, dan juga Kaisar akhirnya kembali ke Indonesia. Keluarga yang tak lagi kecil ini menghirup lagi udara segar bumi pertiwi.

Dengan gelar Ph.D, tentu tak sulit lagi bagi Anies untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan, tawaran pekerjaan deras menghampiri. Tetapi, Anies kemudian memilih tawaran dari Eep Saefullah Fatah untuk menjadi Direktur Riset The Indonesian Institute (TII), lembaga nirlaba yang sering mengadakan penelitian mengenai isu-isu politik dan demokrasi. Tak berselang lama, status sebagai Peneliti Utama di Lembaga Survei Indonesia juga disandangnya. Akan tetapi, kesempatan terbaiknya datang menghampirinya kemudian, ketika Anies menjadi National Advisor di The Partnership for Governance Reform dari United Nations Development Programme (UNDP) pada Maret 2000. Bersibuk di situ membuat Anies memiliki pemasukan yang lebih dari cukup, dan kesempatan untuk berkeliling Indonesia hingga ke pelosok-pelosoknya, karena selama 10 hari di tiap bulannya Anies terjadwal rutin berada di pelosok-pelosok. Selain urusan pekerjaan, Anies juga akhirnya bisa melihat langsung kondisi rakyat. Memantau langsung apa kebutuhan mereka. Daerah-daerah yang seolah tak terjamah tangan pemerintah.

Dalam masa-masa ke pelosok-pelosok itulah Anies mendapatkan pencerahan secara penuh. Kondisi Indonesia memang memiliki alam yang luar biasa indah. Akan tetapi, kondisi manusianya yang berada di pelosok sangat terpinggirkan. Kondisi transportasi, kesehatan, tingkat kesejahteraaan, dan juga pendidikan begitu memprihatinkan. Anies begitu tersedih hati. Dan bertekad suatu saat harus ikut menuntaskan masalah ini. Ya, suatu hari nanti. Anies berjanji.

Selain berkiprah secara profesional, Anies juga aktif di Yayasan Wakaf Paramadina, sejak 2006, atas ajakan Sudirman Said, mantan pejabat rektor Universitas Paramadina. Mereka berdua pernah bertemu semasa di Amerika. Tak berapa lama, setelah kiprahnya di yayasan, Anies teramanahi sebagai rektor Universitas Paramadina, pada 15 Mei 2007, di usia 38 tahun. Bakda hari itu, kiprah dalam dunia pendidikan pun mulai menjadi keseharian Anies, dengan totalitas.

Teorbosan-terobosan brilian berhasil digagas dan diwujudkan oleh Anies demi memajukan dunia pendidikan dan meningkatkan mutu Universitas Paramadina. Di masa kepemimpinan Anies, Paramadina begitu bergairah menaikkan levelnya. Tiga di antaranya yang paling menarik adalah program beasiswa Paramadina Fellowship, Paramadina Social Responsibility, dan penerapan mata kuliah wajib Antikorupsi.

Paramadina Fellowship adalah strategi rekayasa masa depan Anies. Di Paramadina, bentuk beasiswa itu berupa biaya kuliah, buku, dan juga biaya hidup. Anies fokus untuk menggagas pencarian anak-anak terbaik Indonesia, khususnya yang kurang mampu, melalui program Paramadina Fellowship. Mengapa? Karena Anies terkesan dengan pidato Joseph Nye, Dekan Kennedy School of Government di Harvard University, bahwa salah satu keberhasilan Harvard adalah hanya mau menerima yang terbaik (admit only the best).

Dalam program Paramadina Fellowship, beasiswa ini didukung oleh sejumlah donor secara individu juga perusahaan, dengan memberikan beasiswa penuh selama delapan semester yang diberikan kepada ratusan mahasiswa baru yang dijaring dari belasan kota dan desa di Nusantara. Tak hanya itu, program-program pengembangan diri dan training juga digalakkan untuk membentuk kualitas kemanusiaan mereka.

 

“Kita semua ingin Indonesia yang lebih baik. Indonesia hanya bisa lebih baik jika kualitas manusianya berubah jadi lebih baik. Menjadi manusia yang terdidik dan tercerahkan.”

—Anies Baswedan

 

Dalam Paramadina Social Responsibility, adalah sejenis beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa yang bermukim di sekitar kampus Paramadina. Anies berkeinginan agar anak-anak di lingkungan padat penduduk itu tidak hanya bisa lewat di depan kampus, namun juga bisa beroleh kesempatan untuk studi di sana.

Terobosan dalam mata kuliah di Universitas Paramadina paling mencolok misalnya adalah adanya matakuliah Antikorupsi. Anies ingin berperan aktif mengurangi supply koruptor sejak bangku sekolah. Mata kuliah ini wajib diikuti semua mahasiswa. Matakuliah ini pun tak hanya materi di kelas, namun juga di lapangan. Setelah mendapatkan teori, mahasiswa diajak ke Pengadilan Tindak Pidana dan Korupsi, dan di akhir semester mereka diwajibkan membuat laporan investigasi praktik-praktik korupsi di sekitar mereka, seperti ketika pembuatan SIM, STNK, dan lain sebagainya.

Anies selalu menyajikan program-program brilian agar Paramadina menjadi universitas kelas dunia. Setahun menjadi rektor Paramadina, yakni pada tahun 2008, Anies masuk dalam jajaran 100 Tokoh Intelektual Dunia versi majalah Foreign Policy, Amerika. Sebuah majalah yang dipublikasikan lembaga independen, Carnegie Endowment for International Peace dan berpusat di Washington, Amerika Serikat. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil kebijakan di banyak negera, karena isinya yang berbobot dalam urusan politik internasional. Dan majalah ini dirintis oleh pemikir Amerika kenamaan, Samuel Huntington.

Dalam jajaran yang sama, Anies bersanding dengan Paus Paulus (Pope Benedictus XVI), Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Orhan Pamuk, Yusuf Al-Qardhawi, Lee Kuan Yew, juga Muhammad Yunus.

Pada tahun 2009, Anies juga teranugerahi lagi penghargaan, seperti Young Global Leaders 2009 dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi berperan dalam memperbaiki dunia pada masa mendatang. Disandingkan dengan Mark Zuckerberg, Tiger Woods, Chad Hurley, juga Michael Schumacher.

Pada tahun itu juga, Anies tampil memoderasi debat calon presiden yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Jelang akhir 2009, Anies dipercaya presiden SBY menjadi juru bicara Tim-8 dalam kasus yang menjerat dua pimpinan KPK, Bibit dan Chandra.

Tak berhenti di situ. Kiprah Anies juga mendapatkan pengakuan lagi. Kali ini, pada akhir tahun 2010, majalah Foresight yang terbit di Jepang, menahbiskan Anies bersama tokoh-tokoh dunia sekelas perdana menteri Rusia, Vladimir Putin, presiden Venezuela, Hugo Chavez, anggota parlemen dan sekretaris jenderal Indian National Congress India, Rahul Gandhi, sebagai salah satu dari 20 tokoh dunia yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang. Hebatnya, Anies adalah satu-satunya tokoh dari Asia Tenggara, sekaligus satu-satunya pendidik dalam daftar tersebut.

Penghargaan-penghargaan tersebut membuat Anies memiliki banyak pertemanan baru sehingga makin meluaskan jaringannya, dan membuat namanya makin dikenal publik. Diskusi-diskusi pun kerap ia gelar. Dan semuanya selalu menyerempet ke masalah sosial seperti pendidikan dan kondisi kebangsaan. Dari diskusi-diskusi itulah kemudian konsep Gerakan Indonesia Mengajar lahir.

Konstruksi dasar gerakan ini mulai terumus pada pertengahan 2009. Anies mendiskusikan dan menguji idenya itu ke berbagai pihak. Dimulailah pengembangan konsep dan dibentuklah tim kecil, sehingga GIM menjadi organisasi pendidikan dengan relawan terbanyak dan terkuat hingga seperti sekarang ini. Tim kecil itu adalah teman-teman Anies ketika dulu masih aktif di UGM, seperti Hikmat dan Sjahid yang pernah sama-sama berkiprah di Center for Student and Community Development (CSCD); Eko, yang pernah membantu penelitian Anies ketika di PAU UGM; serta Evi Trisna yang jago komunikasi.

“Banyak sekali masyarakat Indonesia yang sudah mendapatkan berkah kemerdekaan, telah makmur, dan sudah menikmati pendidikan bahkan hingga ke luar negeri. Maka, kita bergandengan tangan, mari sama-sama kita dorong suplai guru yang berkualitas ke pelosok-pelosok itu, dengan mengirim anak-anak muda ke sana.” Kata Anies.

Anies tidak menutupi, bahwa program ini adalah penerjemahan ulang dari konsep Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM). Adalah seorang mantan rektor UGM periode 1986-1990, Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri atau yang akrab disapa Pak Koes, yang merupakan keturunan ningrat dari Tasikmalaya, dan eks Tentara Pelajar yang sejak pasca-revolusi kemerdekaan menjadi mahasiswa UGM yang baru saja berdiri di Yogyakarta. Pada tahun 1950, Pak Koes menginiasiasi program bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yakni sebuah program untuk mengisi kekurangan guru SMA di daerah, khususnya di luar jawa. Dalam beberapa kesempatan, PTM ini justru mendirikan SMA baru dan pertama di sebuah kota kabupaten.

Pak Koes adalah inisiator sekaligus salah satu dari delapan orang yang menjadi angkatan pertama PTM ini. Beliau berangkat ke Kupang dan bekerja di sana selama dua tahun. Sepulang dari Kupang, dia mengajak serta tiga siswanya paling cerdas untuk kuliah di UGM. Salah satunya adalah Adrianus Mooy, yang kemudian hari menajdi Gubernur Bank Indonesia.

Anies memahami bahwa anak-anak Indonesia membutuhkan kompetensi kelas dunia untuk bersaing di lingkungan global. Tetapi, kompetensi kelas dunia saja tak cukup. Anak-anak muda Indonesia harus punya pemahaman empatik yang mendalam seperti akar rumput meresapi tanah tempatnya hidup.

Berkat kiprahnya itu, Anies menerima anugerah Nakasone Yasuhiro Award, dari The Institute for International Policy Studies (IIPS) Jepang. Selain itu, juga menerima penghargaan dari Asosiasi Solidaritas Sosial untuk Negara-Negara Pasifik (Association of Social and Economic Solidarity with Pacific Countries) atau PASIAD, Turki, di Jakarta. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Mendiknas Muhammad Nuh atas upaya luar biasa Anies dalam mengembangkan Gerakan Indonesia Mengajar.

“Gerakan Indonesia Mengajar telah memberi harapan akan kemajuan pendidikan di daerah terpencil dan miskin,” kata Demir Timurtas, Ketua PASIAD Indonesia. PASIAD didirikan di Istanbul, Turki dan bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia.

Usia menerima PASIAD Award, Anies berkata, “Ini sebuah apresiasi yang luar biasa untuk sebuah ikhtiar yang baru dimulai. Kita semua berharap akan ada lebih banyak lagi anak-anak terbaik Indonesia yang siap untuk menjadi pengajar muda, menjadi guru, menjadi sumber inspirasi di desa-desa terpecil di Indonesia. Award ini merupakan penghargaan bagi mereka yang bersedia meninggalkan kenyamanan kota, melepaskan peluang hidup nyaman dan berkarier baik, lalu mengabdikan diri selama satu tahun di pelosok-pelosok Indonesia. PASIAD Award ini adalah apresiasi untuk para pejuang itu.”

Tak hanya itu, dari Jepang, Anies menerima Nakasone Yasuhiro pada Juni 2010. Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Mantan Perdana Menteri Jepang, Yasuhiro Nakasone. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang visioner yang membawa perubahan dan memiliki daya dobrak, demi tercapainya abad 21 yang lebih cerah.

Sedangkan dari Timur Tengah, Anies juga menerima penghargaan dari The Royal Islamic Studies Center, Jordania yang memasukkan namanya dalam daftar The 500 Most Influential Muslim pada Juli 2010. Tentu saja, penghargaan ini diberikan kepada 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia.

Selain itu, Anies juga mendapatkan penghargaan The Golden Awards di bidang pendidikan melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Anies juga mendapatkan Anugerah Integritas Nasional dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Penilainnya berdasar survei yang dilakukan pada 2012 tentang persepsi masyarakat terhadap sejumlah tokoh nasional. Dompet Dhuafa juga memberikan penghargaan Dompet Dhuafa Award 2013 kepada Anies karena dinilai telah memberikan inspirasi kebajikan bagi masyarakat dan berkontribusi bagi bangsa.

Anies juga menerima penghargaan Tokoh Inspiratif dalam Anugerah Hari Sastra Indonesia. Penghargaan ini diberikan pada saat perayaan Hari Sastra Nasional pada 3 Juli 2013 di Balai Budaya Pusat Bahasa, Rawamangun, Jakarta. Anies mendapatkan penghargaan kategori tokoh inspiratif karena dinilai memiliki track record serta kepedulian memperjuangkan kemajuan untuk Indonesia.

Pregerakan Indonesia Mengajar ternyata tak berhenti sampai di situ saja.

Bermula dari teman-teman Indonesia Mengajar dan beberapa teman profesional yang ingin berkontribusi pada pendidikan Indonesia, lahirlah konsep Kelas Inspirasi.

Anies kemudian menulis surat terbuka kepada para profesional Indonesia dengan judul Surat Panggilan Anies Baswedan kepada Para Profesional. Panggilan nasional dari tokoh pendidikan Indonesia. Demikian isinya.

Yth. Para Profesional di Indonesia

Saya menulis surat ini dengan keyakinan kita semua punya mimpi yang besar untuk masa depan Indonesia dan optimisme untuk bisa mewujudkannya.

Hari ini sebagian dari kita telah mendapatkan kesempatan untuk berprofesi yang baik dan hidup lebih sejahtera. Hadirnya kaum profesional adalah salah satu bukti nyata bahwa pendidikan adalah pembuka pintu kesempatan; pendidikan adalah eskalator sosial-ekonomi.

Bila kita ambil jeda sebentar saja dari kesibukan untuk mengingat berapa banyak teman sekelas di SD dulu yang berhasil melewati pendidikan tinggi, barangkali jumlahnya bervariasi.

Setiap keberhasilan kita hari ini, di dalamnya ada jejak iuran para pendiri republik, jejak yang sering terlupakan.

Republik ini didirikan lewat iuran kolosal. Saat itu hampir semua pilih turun tangan. Ada yang iuran pikiran, iuran harta, iuran tenaga, iuran darah, bahkan tak terhitung yang iuran nyawa.

Semua ikut iuran tanpa pernah bertanya apa yang nantinya akan diberikan balik oleh republik ini; tak pernah ada pernyataan bahwa anak-cucunya pasti hidup makmur dan sejahtera. Tidak ada.

Tapi bisa kita pastikan, setiap peran itu akan meninggalkan tanda pahala yang akan membekas. Iuran mereka itulah yang membuat kita semua menikmati kemajuan seperti sekarang ini.

Tradisi berjuang itu tidak pernah hilang. Sampai sekarang keluarga kita tetap membesarkan pejuang: orang-orang yang selalu ingat bahwa kehadirannya bukan sekadar untuk menikmati semua peluang di republik tercinta ini, tapi juga untuk menanamkan makna bagi saudara sebangsa.

Kita semua ingin Indonesia yang lebih baik. Indonesia hanya bisa lebih baik jika kualitas manusianya berubah jadi lebih baik. Menjadi manusia yang terdidik dan tercerahkan.

Mengubah manusia selalu lewat proses pendidikan. Walau pendidikan memang tidak selalu sama dengan sekolah, kini sekolah apalagi di tingkat dasar memainkan peran penting.

Secara konstitusional, mendidik memang adalah tugas negara, tapis ecara moral mendidik adalah tugas setiap orang terdidik.

Karena itu, kami mengundang Anda yang sudah merasakan faedah pendidikan untuk ikut turung tangan, ikut terlibat langsung dalam membangun manusia Indonesia, ikut bersama-sama mengubah kondisi Indonesia kita.

Tawaran kami sederhana: think big, start small, and act now!

Kami undang Anda yang sudah berkarier di dunia profesional untuk ambil cuti dan menjadi guru Sekolah Dasar selama satu hari pada hari Rabu, tanggal 20 Februari 2013.

Di SD-SD yang telah ditentukan ini mungkin Anda akan menyaksikan bahwa hitungan jarak kilometernya memang amat dekat dengan tempat Anda bekerja, tapi hitungan jarak kesejahteraan, jarak pengetahuan, jarak wawasan terlihat amat jauh.

Pada hari itu Anda tidak mengajar matematika, bahasa Indonesia atau Ilmu Pengetahuan Alam. Di SD itu Anda menceritakan tentang profesi Anda. Anda hadir untuk menjadi sumber inspirasi. Kita menyebutnya sebagai Kelas Inspirasi.

Mimpi itulah yang senyatanya sering hilang dari ruang kelas di sekolah-sekolah kita, apalagi saat kelas bukan lagi sekadar berarti ruang belajar di sekolah, kelas juga berarti pembagi strata ekonomi.

Berada di “atas” sering memudahkan untuk bermimpi, dan berada di “bawah” itu sering membuat bermimpi itu jadi sebuah mimpi tersendiri.

Anda hadir di sana untuk membangkitkan mimpi anak-anak di SD itu. Baju mereka bisa amat sederhana, rumah mereka bisa panas dan kumuh tapi ajaklah mereka untuk bermimpi, untuk punya cita-cita besar. Anda hadir di kelas itu menanamkan bibit mimpi mulia bagi saudara sebangsa. Sejauh apapun jarak kesejahteraannya, wawasannya, atau pengetahuannya mereka adalah amat dekat; mereka saudara kita, saudara sebangsa.

Mimpi adalah cermin pengetahuan, cermin wawasan. Anda datanglah untuk membukakan pengetahuan dan wawasan llau biarkan mimpi mereka terbang amat tinggi, sambil ingatkan mereka bahwa lewat kerja keras nan cerdas dan didampingi doa mereka bisa meraih dan melampaui mimpi itu!

Di kelas itu Anda akan menyaksikan mata berbinar, senyum lebar dan wajah ceria anak-anak itu. Mereka adalah wajah masa depan bangsa ini. Di ruang kelas itu Anda mulai mencicipi suasana Indonesia di masa depan. Potret masa depan Indonesia ada di ruang-ruang kelas.

Di kelas itu, anak-anak akan melihat Anda dengan penuh semangat. Guru seharinya adalah orang baru. Izinkan mereka mengingat Anda, mungkin mereka pulang ke rumah, menyongsong orang tuanya sambil bertutur betapa inginnya dia bisa seperti guru-guru di Kelas Inspirasi, seperti Anda.

Secara fisik kehadiran Anda cuma sehari, tapi bekasnya bisa langgeng. Ya, cerita Anda, pengetahuan, inspirasi, semangat dan pencerahan dari Anda bisa hadir secara amat permanen dalam hati dan mimpi mereka.

Anda memang diharuskan mengambil cuti pada hari itu tapi kami tidak mengajak Anda untuk berkorban, kami menawarkan kepada Anda kehormatan untuk mewakili kita semua hadir di kelas-kelas membangkitkan mimpi.

Menyumbang uang itu baik, memberikan buku itu bermanfaat, membangun fasilitas pendidikan itu mulia, tapi sesungguhnya iuran terbesar dan terpenting dalam pendidikan adalah kehadiran. Ya, hadirnya inspirator adalah Iuran terbesar dalam pendidikan. Kini lewat Kelas Inspirasi Anda bisa beri iuran terbesar itu yaitu hadir sebagai inspirator.

Kami pun yakin sehari di ruang kelas itu akan memberikan wawasan lain, membuka perspektif baru tentang bangsa kita tercinta. Anda akan bertemu guru, kepala sekolah yang berdedikasi menyiapkan masa depan. Mereka pun akan belajar tentang Anda. Melalui Kelas Inspirasi itu semua akan belajar.

Seselesainya jadi pengajar di Kelas Inspirasi Anda akan punya perasaan yang berbeda, Anda telah senyatanya ikut turun tangan mengubah wajah masa depan Indonesia.

Lewat kelas Inspirasi ini Anda turun tangan, bergandeng tangan dengan para profesional di berbagai kota di Indonesia, semua sama-sama ikut melunasi janji kemerdekaan kita: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kami tunggu kehadiran Anda berserta pengalaman Anda di Kelas Inspirasi.

Salam hangat,
Anies Baswedan

 

Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi profesional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para profesional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari secara serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD, yaitu pada Hari Inspirasi.

Kegiatan Kelas Inspirasi yang pertama diadakan pada 25 April 2012. Para profesional diajak untuk menceritakan mengenai profesinya. Harapannya, para siswa akan memiliki lebih banyak pilihan cita-cita serta menjadi lebih termotivasi untuk memiliki mimpi yang besar.

Bagi para profesional pengajar, Kelas Inspirasi dapat memberi pengalaman mengajar di depan kelas sebagai bentuk kontribusi nyata dan aktif terhadap perbaikan masa depan bangsa. Interaksi antara para profesional dengan siswa dan guru SD diharapkan dapat berkembang nantinya menjadi lebih banyak gagasan dan kegiatan yang melibatkan kontribusi kaum profesional.

Kelas Inspirasi merupakan solusi bagi para profesional Indonesia yang ingin berkontribusi dengan mengajar di lingkungannya. Hal ini membuka pintu interaksi positif antara kaum profesional dengan sekolah tempat dia berpartisipasi. Partisipasi para profesional tersebut untuk mengambil cuti sehari dan berbagi pengalamannya bersama anak-anak SD, merupakan partisipasi berbasiskan individu, bukan institusi. Ini menunjukkan bahwa kepedulian dan kesadaran pribadi terhadap pendidikan masih tinggi.

Kesempatan andil dalam Kelas Inspirasi ini terbuka bagi semua orang yang sudah pernah bekerja secara profesional minimal dua tahun dan bersedia berkomitmen untuk hadir pada waktu yang telah ditentukan.

Tak hanya itu, muncul pula ide program Indonesia Menyala, yaitu program perpustakaan. Ide ini berawal dari hasil pengamatan sejumlah Pengajar Muda sejak mereka ditempatkan pada November 2010. Mereka melihat bahwa mayoritas anak didik mereka kekurangan bahan bacaan yang bermutu.

Sementara, sejumlah kolega para Pengajar Muda juga memiliki kepedulian yang sama untuk mensukseskan upaya rekan-rekannya. Kesamaan visi tersebut akhirnya membuat sejumlah sukarelawan dan Indonesia Mengajar menginisiasi serangkaian pertemuan sejak Februari 2011. Akhirnya, nama Indonesia Menyala dipilih sebagai nama resmi program perpustakaan Indonesia Mengajar. Filosofi dibalik pemilihan nama ini, menurut Anies, adalah “Anak-anak desa yang menyala akal dan budinya karena membaca buku yang baik bersama para Pengajar Muda, bagaikan ribuan dan jutaan lampu yang menyalakan Indonesia.”

Indonesia menjadi menyala, tidak hanya karena sumber daya alamnya tetapi karena sumber daya manusianya yang menyala. Karena itu program ini diberi nama Indonesia Menyala.

Mengetahui betapa pentingnya buku dan melihat kebutuhan yang sangat tinggi terutama untuk adik-adik di pelosok Indonesia, maka sejak diinisiasi pada Februari 2011, Indonesia Mengajar bersama dengan beberapa sukarelawan yang peduli pendidikan bergerak melalui Indonesia Menyala dan selanjutnya gerakan ini diluncurkan secara online pada tanggal 15 April 2011.

Gerakan Perpustakaan Indonesia Menyala ini menyebar di wilayah penempatan Pengajar Muda di mana saat ini terletak di 157 lokasi Sekolah Dasar (SD) di 17 kabupaten penempatan Pengajar Muda.

Saat ini, fokus utama Indonesia Menyala menciptakan perilaku membaca hingga menjadi budaya di suatu daerah tertentu. Titik beratnya pada siswa, namun tidak menutup kemungkinan perilaku baca ini dapat tumbuh di lingkungan siswa, mulai dari keluarga, guru/Kepala Sekolah, hingga masyarakat.

Dalam menciptakan perilaku membaca ini, Indonesia Menyala ingin lebih fokus dalam mengaktifkan peran multi aktor. Jadi tidak hanya bergantung pada Pengajar Muda untuk mengaktifkan dan meningkatkan perilaku baca. Siapa saja multi aktornya? Orang tua, guru/Kepsek, masyarakat, hingga aparat pemerintahan desa, dan bahkan bisa jadi siswa itu sendiri yang berperan sebagai role model perilaku membaca di lingkungannya.

Perilaku membaca, khususnya bagi anak-anak, sungguh-sungguh seperti lilin. Mudah tergoda oleh angin, rentan karena hanya seutas benang yang sedang dibakar oleh apinya. Ia bahkan bisa habis oleh nyalanya sendiri. Tetapi, itu tidak membuat mereka patah semangat. Dalam mimpi para relawannya, membaca adalah api abadi dalam jiwa generasi masa depan Indonesia.

Bagaimanapun, Anies Baswedan secara alami seolah menjawab dahaga kita akan pemimpin yang benar-benar mampu menjadi inspirasi. Sosok pemimpin yang memiliki integritas. Pemimpin yang juga selalu ringan turun tangan menyelesaikan permasalahan. Pemmpin yang lebih gemar menyebar optimisime daripada pernyataan-pernyataan absurd dan penuh kepentingan. Pemimpin yang memiliki kemampuan menulis yang menggerakkan dan menggugah, serta kemampuan public speaking yang memesona, didukung pemikiran yang matang.

Pemimpin muda yang mampu mengumpulkan anak-anak muda untuk rela berkumpul karena memiliki kegelisahan yang sama tentang Indonesia. Dan dengan sadar, mereka kemudian mengubah gelisah itu ke dalam berbagai tindakan yang positif berlandaskan optimisme, bukan pesimisme. Anak-anak muda itu pun selalu mendukung gerakan Anies dengan sadar, karena orang baik tak akan bisa maju sendirian. Orang baik harus senantiasa didukung banyak orang.

Anies pandai menggandakan optimisme orang, dan mampu membuat orang-orang merasa memiliki dan merasa ikut berperan untuk memajukan Indonesia. Lihai mengambil hati dan membuat orang merasa terlibat. Mampu mengajak anak-anak muda terbaik untuk mengajar di pelosok-pelosok negeri selama setahun. Mampu mengajak para profesional turun ke sekolah-sekolah menceritakan keasyikan profesi mereka. Dan hebatnya lagi, mampu menggalang 25.000 lebih relawan untuk masuk dalam politik bersih. Benar-benar relawan, bukan bayaran. Relawan yang tergabung dalam nama Turun Tangan mengubah kebiasaan materi menjadi semangat untuk memperbaiki negeri. Relawan-relawan ini dengan sadar, bahwa Anies memang pantas didukung. Anies adalah pemimpin yang tak suka duduk santai berteriak memerintah ini dan itu, namun rela turun tangan dan mengajak orang-orang untuk menghancurkan belenggu. Anies pandai untuk memberikan keterangan, bahwa semua orang berperan dalam memajukan bangsa ini.[]

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment