Berbaik Sangka Kepada-Nya Hingga ke Surga

Seorang Badui datang kepada Rasulullah seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang menghisab semua makhluk di akhirat nanti?”

“Allah,” jawab Rasul.

“Sendiri?”

“Yah, sendiri.” Si Badui tersenyum. Lalu berkata, “Ya Allah, segala puji bagimu ….”

Melihat tingkah polah si Badui, Rasul kemudian bertanya, “Mengapa kamu tersenyum?”

“Duhai Rasulullah, ketika Dzat yang Mahamulia itu sanggup, maka Dia memaafkan, dan ketika ia menghisab, dia berlemah lembut.”

“Mmmm …. Badui ini telah memahami…,” gumam Nabi.

Senantiasa berbaik sangka dengan segala yang terhadirkan dalam hidup, berbaik sangka dengan segala ketentuan-Nya, akan menemani di hari-hari yang sudah terpatri iman dalam diri. Di sanalah kemudian, mengalir energi optimisme yang merangkuli langkah-langkah yang terayunkan.

Ada seorang wanita Anshar yang dianugerahi sepuluh orang putra. Hebatnya, kesemuanya adalah singa-singa di medan perang. Kesepuluhnya direlakan oleh sang ibu untuk selalu bersama Nabi dalam berbagai kesempatan jihad.

Suatu kali, pada suatu peperangan, tujuh putranya syahid bersama. Pada peperangan berikutnya, dua putranya yang lain menyusul. Hingga tinggallah satu saja, yaitu yang paling kecil. Suatu waktu, ibunya menangis di dekat kepala anak yang paling kecil yang sedang terbaring sakit. Ibunya nampak lebih sedih ketika melihat yang kecil ini hendak meninggal dibandingkan kesedihannya ketika ditinggal sembilan putranya yang telah lebih dulu menjemput syahidnya.

Si kecil keheranan penuh tanya, “Ibu, mengapa ibu tidak menangisi kepergian kakak-kakaku. Padahal, mereka jauh lebih baik dariku sementara aku justru malah pernah menyakitimu duhai ibu ….”

“Justru karena itulah aku menangis,” jawab sang bunda. “Ibu, jikalau neraka ada di tanganmu, apakah ibu akan melemparkanku di dalamnya?”

“Tentulah tidak anakku ….”

“Ibu, sesungguhnya Rabbku lebih menyayangiku daripada ibu, maka tidaklah mungkin ia akan melemparkanku ke neraka ….”

Setelah Nabi mendengar tentang kisah dialog ibu dan anak itu, Beliau berkata, “Sesungguhnya putramu telah diampuni karena baik sangkanya kepada Rabbnya.”

Jika kita sudah berdekat-dekat dengan-Nya, tak ada lagi ruang untuk kita mempesimis segala yang dianugerahkan kepada kita. Semua kita rawat baik-baik untuk menumbuh-kembangkan cinta-Nya. Jika sudah begitu, jika sudah ia begitu besar kasih sayang kepada kita, maka ia lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Maka, akankah kita dibiarkan oleh-Nya untuk merasai neraka walau setitik saja? Ah, saya selalu berbaik sangka tidak. Maka, segala daya upaya yang telah dan akan selalu saya kerahkan untuk bertaat-taat kepadanya, di sana saya juga menaruh pengharapan yang amat sangat, dan berbaik sangka, bahwa Allah takkan membiarkan saya sengsara di dunia, dan juga di akhirat. Di sana saya selalu menaruh harap rindu, agar kita adalah hamba pilihan-Nya. Mari memulai untuk berbaik sangka kepada-Nya. Agar ketenangan hidup di dunia, dan ketenangan hidup di akhirat, menjadi lebih mudah dan indah. Lalu, jikalah kita telah berbalutan dosa masa silam yang disengaja maupun yang tak disengaja? Ah … sungguh, Allah adalah Maha Pengampun. Jiwa-jiwa kita tak boleh berlelahan dalam keburukan. Tapi, bernikmatlah dalam kekhusyukan untuk meraih keridhaan-Nya. Semoga hadits ini bisa menenteramkan kita.

“Allah lebih berbahagia dengan taubat hamba-Nya yang beriman daripada seorang yang berada di tanah tandus yang sepi yang orang itu semula bersama hewan kendaraannya yang membawa makanan dan minuman. Ia tertidur, dan ketika terjaga, hewan kendaraannya hilang. Ia berusaha mencari hewan itu sampai kehausan dan berkata, ‘Aku akan kembali ke tempat aku semula untuk tidur sampai mati.’ Ia pun meletakkan kepalanya untuk tidur bersiap untuk mati. Tapi tiba-tiba ia terbangun dan ia melihat hewan kendaraannya ada di sampingnya dengan tetap membawa bekal makanan dan minumannya. Sesungguhnya, Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba mukmin daripada kegembiraan pemuda itu menemukan lagi hewan kendaraannya.” (HR. Bukhari)

Ketika Ibnul Qayyim mengomentari hadits ini, ia menuturkan kisah yang menurutnya biasa dijadikan contoh kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya yang bertaubat. “Seperti seorang anak kecil,” kata beliau, “yang keluar meninggalkan rumah orangtuanya. Pintu rumahnya lalu ditutup dan anak kecil itu berjalan tapi tidak lama kemudian ia berhenti dan berpikir. Ia pasti tidak mendapatkan rumah lain kecuali rumah yang ia tinggalkan. Ia tidak mendapatkan orang lain yang akan melindunginya kecuali ibunya di dalam rumah itu. Maka, anak kecil itu kembali lagi dengan sedih dan menyesal. Ia datang melihat pintu rumah yang masih tertutup. Lalu ia letakkan pipinya di depan pintu dan tertidur. Tidak lama kemudian, sang ibu keluar dari rumah dan melihat anak kecil itu, segera memeluknya dan menangis sambil mengatakan, ‘Anakku, mengapa engkau pergi meninggalkanku. Siapa yang melindungimu selain aku? Bukankah aku sudah katakan jangan membantah aku, sehingga bisa mencabut kasih sayangku kepadamu dari perasaan baikku kepadamu?’ Sang ibu lalu memeluk anak itu seraya membawanya masuk ke dalam rumah.” Begitu penjelasan dari Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin.

Semoga jiwa-jiwa kita terus menapaki langit dan berdekat-dekat dengan-Nya. Karena hanya dengan itulah, Sang Khaliq memberkahi di setiap jejak-jejak perjuangan yang kita gulirkan dalam setiap episode kehidupan.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment