bagaimana penerbit mendapatkan naskah

Bagaimana Penerbit Mendapatkan Naskah?

Setelah mengetahui apa itu penerbitan, serta tugas dan makna sebuah penerbitan seharusnya, tentu kamu akan bertanya, bagaimana sebuah penerbit mendapatkan naskahnya.

Pertanyaan bagus.

Memang, tanpa adanya stok naskah, sebuah penerbit tak akan bisa membuat produk bernama buku. Oleh karena itu, penerbit sangat membutuhkan kehadiran penulis, dan pada saat yang sama, penulis juga membutukan penerbit untuk menerbitkan karyanya.

Semacam simbiosis mutualisme.

Ada dua cara penerbit mendapatkan naskah, yakni menunggu datangnya naskah masuk ke meja editorial dan memesan sebuah konsep naskah ke penulis. Istilahnya, solicited atau naskah yang dipesan, dan unsolicited, naskah yang tidak dipesan alias naskah yang secara mandiri dikirim oleh penulis ke penerbit.

Mengapa penerbit harus repot-repot memesan naskah ke penulis? Dua alasan terbesarnya adalah seperti ini.

  • Kualitas naskah-naskah yang masuk ke meja editorial tidak sesuai dengan yang diharapkan.
  • Tema yang ditulis tidak layak jual, dan masih ditambah lagi penyelesaian naskah yang tidak apik dan penulisan yang berantakan.

Makanya, demi terus menjaga stok naskah, seorang editor dalam sebuah penerbit biasanya akan membuat konsep naskah, dan meminta para penulis untuk mengeksekusi konsep tersebut menjadi sebuah naskah.

Editor memang orang yang super baik. Bagaimana tidak, demi menjaga keberlangsungan stok naskah tempatnya bekerja terjaga dengan baik—karena apalah daya penerbit tanpa stok naskah yang siap diterbitkan—rela melakukan riset, memperhatikan tren, dan kemudian membuat konsep naskah, yang sebenarnya sang editor pun sanggup untuk mengeksekusinya sendiri, namun lebih memilih penulis lain untuk mengeksekusi konsep tersebut.

Lalu, bagaimana seorang editor melihat potensi seorang penulis yang bisa mengeksekusi ide naskahnya? Ada banyak cara. Namun cara yang paling umum yang biasa saya lakukan adalah lewat dua hal: media sosial dan website.

Saran saya, pergunakanlah media sosialmu dan website atau blogmu dengan baik, karena dua hal itulah sarana yang digunakan oleh editor untuk melihat potensi menulismu.

Saat kamu konsisten memamerkan kemampuan menulismu di blog atau media sosial, mata jeli seorang editor akan melihat potensimu tersebut. Terkadang, walau kamu tidak pernah menulis buku sebelumnya, editor tersebut akan memintamu untuk mengeksekusi konsep yang sudah dibuatnya, dan dengan asistensinya kamu bisa menulis buku pertamamu.

Sebuah kesempatan yang sangat menarik, kan? Saya banyak melakukan hal seperti itu. Hanya dengan melihat blog atau media sosial seseorang, saya tahu apakah dia berpontesi untuk saya angkat menjadi penulis ataukah tidak. Beberapa orang yang melejit menjadi penulis buku, padahal awalnya belum pernah menulis sama sekali misalnya adalah Muhammad Ilman Akbar, Adjie Silarus, Bunda Wening, Qalbinur Nawawi, Natali Ardianto, Husin Syarbini, Silka Mitrasari, Lahandi Baskoro, dan banyak lagi yang lainnya.

Sungguh bahagia melihat orang-orang berhasil menulis buku pertamanya. Itu juga yang saya maksudkan dengan kehadiran buku ini, untuk membantumu menerbitkan buku pertamamu, langsung dari panduan seorang editor, penulis, praktisi perbukuan, bekerja di penerbitan, dan sudah melejitkan para penulis pemula meraih best-seller pertamanya.[]

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Karena berkolaborasi akan lebih baik, apalagi kolaborasi yang bermanfaat. Bergabunglah bersama pembelajar lainnya. Sekarang.
Jangan khawatir, saya juga benci dengan spamming. Kita belajar bersama untuk hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.