Aplikasi Ilmu Desain Grafis dalam Kerja Nyata di Industri Kreatif

Setelah postingan yang lalu kita membahas tentang dunia desain grafis secara umum, sekarang kita akan membahas tentang aplikasi teknis tentang ilmu desain grafis dan bagaimana aplikasinya dalam lingkup kerja nyata dalam industri kreatif. Semoga beberapa paparan berikut, bisa menambah wawasan dan juga mempertebal minatmu untuk masuk dalam industri kreatif sebagai desainer grafis.

 

Unsur-Unsur Desain Grafis

Ibarat memasak menu yang spesial, ada komposisi bahan-bahan, serta cara meramu yang khusus dalam menghasilkan hidangan yang lezat. Demikian juga dengan desain grafis. Ada unsur-unsur yang harus dipahami oleh desainer grafis agar dapat menghasilkan komposisi desain yang estetik, harmonis, komunikatif dan menyenangkan untuk dinikmati audiens.

Unsur-unsur tersebut di antaranya, garis (line), bidang (shape), warna (color), gelap terang (value), tekstur (texture) dan format (format).

#1: GARIS (LINE)

Garis dapat dimaknai sebagai jejak sesuatu. Goresan pensil, pena atau mouse di komputer dan lain sebagainya. Garis tidak memiliki kedalaman (depth), hanya memiliki ketebalan dan panjang. Oleh karena itu, garis adalah elemen satu dimensi.

Wujud garis dangat bervariasi. Garis lurus mengesankan kaku dan formal, garis lengkung memberikan kesan lembut dan luwes, garis zig-zag berarti keras dan dinamis, garis tidak beraturan berarti fleksibel dan tidak formal. Kemudian, garis horizontal mengesankan pasif, tenang dan damai. Garis vertikal memiliki kesan stabil, gagah dan elegan. Garis diagonal dapat diartikan sebagai makna aktif, dinamis dan menarik perhatian. Masih banyak variasi lainnya yang biasa digunakan, seperti garis putus-putus, gradasi, tebal tipis, dan sebagainya.

Penggunaan garis dalam desain komunikasi visual tidak terikat pada aturan dan ketentuan, karena pada dasarnya garis adalah elemen visual yang dapat dipakai di mana saja, asalkan bertujuan memperjelas dan mempermudah audiens, atau sekadar pemanis yang bisa disusun sedemikian rupa.

Garis dalam pemahaman semiotika, memiliki arti yang lebih luas lagi, yaitu elemen yang tidak selalu tergores di atas kertas. Deretan tiang lampu, repetisi pepohonan di jalan, kemudian kolom-kolom arsitektur juga dapat dimaknai sebagai garis.

Penggunaan garis perlu diperhitungkan secara cermat, sehingga tidak terkesan asal-asalan dan dipaksakan. Tujuan dari desain komunikasi visual adalah untuk menyajikan informasi baik verbal maupun visual, agar dapat ditangkap dengan mudah, menarik dan menyenangkan sekaligus mengesankan. Selain itu, desainer grafis dapat menggunakan garis sebagai ilustrasi.

#2: BIDANG (SHAPE)

Shape atau bidang adalah segala bentuk apapun yang memiliki dimensi tinggi dan lebar. Bidang dapat berupa bentuk-bentuk geometris (lingkaran, segitiga, segiempat, elips, setengah lingkaran dan sebagainya) dan bentuk-bentuk yang tidak beraturan.

Bidang geometris memiliki kesan formal, sebaliknya, bidang non geometris memiliki kesan tidak formal dan dinamis.

Dalam dunia desain grafis, pengertian bidang tidak terbatas hanya itu saja. Area kosong yang berada di antara elemen-elemen visual dan space yang mengelilingi gambar/foto, bisa juga disebut sebagai bidang. Blank space (bidang kosong) bahkan bisa dianggap sebagai elemen desain. Bidang kosong dimaksudkan untuk menambah kenyamanan baca (legibility) dan menimbulkan gairah membaca juga memberikan kesan nyaman dan “bernafas” dan memberikan tekanan kepada obyek visual yang ada dalam sebuah desain.

#3: WARNA (COLOR)

Warna adalah elemen visual penarik perhatian paling utama. Bila penggunaan pada warna salah, maka kualitas, citra, keterbacaan, pun akan salah. Sebagai contoh adalah warna yang lembut akan memancarkan kesan romantis dan ketenangan. Sedangkan warna-warna tegas dan kuat akan memberi kesan dinamis. Penggunaan yang salah tempat tentu akan menimbulkan kesan di benak audiens yang salah.

Warna memiliki karakteristik, kegunaan, dan makna masing-masing. Dalam seni rupa, warna kemudian dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu:

DIMENSI PERTAMA: HUE

Pembagian warna berdasarkan nama-nama warna, seperti merah, biru, hijau, kuning, dan seterusnya.

Berdasarkan Hue, warna kemudian dibagi lagi menjadi tiga golongan, yaitu:

  • Primary Colors (Warna Primer)

Warna primer terdiri dari merah, kuning, dan biru.

  • Secondary Colors (Warna Sekunder)

Warna sekunder merupakan campuran dua warna primer dengan perbandingan seimbang (1:1), yang kemudian menghasilkan warna oranye (hasil percampuran merah dan kuning), hijau (hasil percampuran kuning dan biru), kemudian ungu (hasil percampuran biru dan merah).

Bila warna sekunder kemudian dicampur dengan warna primer, yang terjadi kemudian adalah warna tersier (tertiary colors), yaitu kuning-oranye, merah-oranye, merah-ungu, biru-ungu, biru-hijau, dan kuning-hijau.

Dalam percetakan, warna yang digunakan adalah empat warna pokok yang biasa disebut dengan CMYK, yang merupakan kependekan dari Cyan (light blue), Magenta (pinky red), Yellow, dan Black. Semua hasil cetak yang berwarna-warni hanyalah hasil percampuran empat warna itu.

Secara visual, warna dibagi menjadi dua golongan, yaitu Warm Color (warna panas), dan Cool Color (warna dingin). Warna-warna yang masuk kategori Warm Color contohnya adalah merah, merah-oranye, kuning-oranye, kuning, kuning-hijau, ataupun merah-ungu yang bila ditampilkan pada sebuah visual menghasilkan kesan hangat.

Sedangkan warna-warna yang masuk kategori Cool Color contohnya adalah warna hijau, biru, hijau-biru, biru-ungu, dan ungu. Warna-warna tersebut bila divisualkan akan menghasilkan kesan warna yang statis, kalem, pasif, dan tidak mengundang perhatian lebih heboh.

DIMENSI KEDUA: VALUE

Yaitu terang-gelapnya warna. Pada dasarnya, semua warna dapat diterangkan (yang kemudian muncul kesan lebih muda), ataupun digelapkan (yang kemudian muncul kesan lebih tua).

Contohnya adalah warna biru. Apabila dimudakan atau diterangkan, hasilnya adalah biru muda yang segar, dan apabila dituakan atau digelapkan hasilnya adalah biru tua yang tegas. Warna-warna yang dimudakan dengan cara menambahkan unsur-unsur putih disebut dengan warna Tint. Sedangkan, warna yang dituakan dengan cara menambahkan sedikit unsur hitam disebut dengan warna Shade.

Dalam komputer, cara melembutkan warna adalah dengan mengurangi presentase unsur-unsur warnanya atau dengan menambah sedikit unsur warna hitamnya untuk membuat warna makin ke arah gelap.

Misalnya adalah dengan warna hijau yang unsur Cyan dan Blacknya 100%, dapat diubah dengan Cyan (20%) dan Yellow (20%). Hasilnya akan didapati warna hijau yang lebih muda. Atau, bila ingin warna hijau tersebut menjadi lebih tua, cukup ditambahkan Cyan (100%), Yellow (100%) dan Black (30%).

DIMENSI KETIGA: INTENSITY

Yaitu Tingkat kemurnian atau kejernihan warna (brigtness of color). Warna-warna yang belum dicampur dan masih murni disebut pure hue. Para seniman lukis umumnya kurang menyukai warna-warna murni, karena terlalu mentah untuk diaplikasikan dalam sebuah lukisan.

#4: GELAP-TERANG (VALUE)

Salah satu cara terbaik untuk memudahkan unsur penangkapan pesan dalam visual grafis adalah dengan mengatur gelap dan terangnya. Ada dua pembagian dalam kategori ini, yaitu Low Contrast Value yang berarti penggunaan warna-warna yang kurang kontras. Visual yang dihasilkan akan cenderung kalem, statis, dan sederhana serta tenang. Sedangkan yang kedua adalah High Contrast Value, yaitu penggunaan warna-warna kontras dengan ekstrim, sehingga menghasilkan visual yang enerjik, ceria, dinamis, dramatis, dan penuh gairah.

Berdasarkan nilai dalam gelap dan terangnya, warna dibagi menjadi beberapa tingkatan. Paling terang adalah warna putih, kemudian warna tergelap adalah hitam.

Aturannya, warna gelap akan terbaca jika ditempatkan pada background terang.

Begitu pula sebaliknya, warna terang akan sangat mudah terbaca jika ditempatkan pada background gelap.

#5: TEKSTUR (TEXTURE)

Tekstur merupakan nilai raba atau lebih mudahnya adalah halus dan kasarnya sebuah permukaan benda. Dalam desain grafis, penggunaan tekstur dapat dimayakan untuk memberikan visual yang lebih berkarakter. Tekstur sering digunakan untuk mengatur keseimbangan dan kontras dalam sebuah desain komunikasi visual.

#6: FORMAT (FORMAT)

Panjang dan pendek, tinggi dan rendah, serta besar dan kecilnya suatu elemen visual perlu diperhatikan. Tujuannya agar keterbacaan (legibility) dapat tersajikan dengan baik.

Untuk mengatur format dalam sebuah desain visual perlu dibuat yang namanya Visual Hierarchy (skala prioritas). Caranya adalah dengan mengurutkan hal-hal penting untuk ditampilkan lebih utama, baru kemudian yang tidak penting. Tujuannya agar pembaca tahu bagian mana yang harus dibaca atau dilihat terlebih dahulu. Demikian pula dengan peletakan font, warna, bentuk, posisi, dan semuanya yang perlu menjadi bagian mana yang bagian utama dan bagian pendukung.

Perbedaan ukuran yang diperhitungkan secara proporsional akan membantu audiens dalam memilih informasi yang perlu didahulukan. Tidak semua informasi yang disampaikan itu penting, sehingga semua elemen berukuran besar dan mencolok. Desain yang seperti itu akan sangat riuh, dan sangat membingungkan. Oleh itulah perlu diperhatikan skala prioritasnya, mulai dari bagian mana yang sangat penting, penting, hingga yang kurang penting.

 

Prinsip-Prinsip Desain Grafis

Memahami prinsip-prinsip desain grafis sama pentingnya ketika kita harus memahami grammar ketika mempelajari bahasa Inggris, atau tata bahasa ketika mempelajari bahasa Indonesia. Jadi, prinsip-prinsip inilah yang menjadi pondasinya. Prinsip-prinsip untuk mengajarkan kaidah-kaidah dasar bervisual.

Prinsip-prinsip desain grafis ini adalah aturan-aturan dasar. Setelah kamu kuasai, pada akhirnya nanti kamu boleh untuk melabraknya atau melanggarnya, kok. Karena pada dasarnya, dalam desain grafis, orisinalitas ide dan kreativitas lebih menjadi andalan utama. Dalam ranah kreativitas, melabrak aturan adalah salah satu aturan untuk menjadi kreatif itu sendiri. Hakikatnya, pelanggaran aturan-aturan itu pun bertujuan untuk menghadirkan visual yang apik dan lebih menarik perhatian audiens. Jadi, hal itu justru menjadi tujuan utama untuk menghadirkan kejutan-kejutan kepada audiens.

#1: KESEIMBANGAN (BALANCE)

Keseimbangan berarti pembagian sama berat dalam komposisi desain. Dalam aturan keseimbangan, sama berat berarti menciptakan kesan sama berat, baik bersifat simetris maupun asimetris. Dalam hal ini, terdapat dua pembagian. Pertama, Keseimbangan Formal (Formal Balance), yaitu membagi sama berat kiri-kanan atau atas-bawah secara simetris atau setara. Kedua, Keseimbangan Asimetris (Informal Balance), yaitu penyusunan elemen-elemen desain yang tidak sama antara sisi kiri dan sisi kanan, namun terasa seimbang. Jadi, pada dasarnya tidak terjadi keseimbangan secara harfiah, akan tetapi pembagian berat sama-sama enak untuk dilihat dan mengesankan seimbang. Penyusunan visualnya pun tidak hanya terbatas pada gambar, tapi juga pada warna, value, bidang, tekstur, dan elemen-elemen lainnya yang memberikan kesan seimbang.

#2: TEKANAN (EMPHASIS)

Yaitu penekanan yang ingin disampaikan kepada audiens. Hal itu bisa dilakukan dengan beragam cara, misalnya adalah warna yang sangat mencolok, ukuran yang sangat besar, huruf yang menarik, dan elemen-elemen lain yang membuat keterpukauan audiens akan penekanan. Berikut ini beberapa aturan untuk menciptakan penekanan yang menarik.

KONTRAS

Yaitu obyek yang paling penting perananannya dibuat berbeda dengan elemen-elemen lainnya. Berkreativitaslah sebaik mungkin. Membuat berbeda bisa jadi dengan membuat suatu obyek vertikal saat obyek lain horisontal, atau membuat satu obyek berwarna terang saat obyek lain berwarna gelap.

ISOLASI OBYEK

Yaitu dengan cara memisahkan obyek paling penting dari sebuah kerumunan. Obyek yang keluar dari sebuah kerumunan akan lebih mudah ditangkap mata terlebih dahulu daripada yang berada dalam sebuah kerumunan.

PENEMPATAN OBYEK

Suatu obyek akan menjadi pusat perhatian manakalah audiens sanggup tertahan beberapa saat untuk memerhatikan visual yang ditampilkan. Jadi, terdapat unsur stopping power yang sangat kuat. Caranya bisa dengan benar-benar mengolah secara maksimal obyek utama yang paling penting yang ingin disampaikan. Jika audiens sanggup berhenti dan memerhatikan visual tersebut selama beberapa saat untuk memerhatikan karena keterpukauannnya terhadap olahan obyek, maka kita telah berhasil memaksimalkan unsur ini karena telah menghadirkan stopping power bagi audiens.

#3: IRAMA (RHYTM)

Memberikan unsur irama pada elemen visual juga memberikan keterpukauan bagi audiens. Irama dalam ranah visual berarti menghadikan repetisi bagi suatu obyek secara konsisten. Atau, bisa juga dengan variasi, yaitu menghadirkan perulangan visual tapi tidak dengan sama persis, melainkan repetisi elemen visual yang disertai perubahan bentuk, ukuran, ataupun posisi.

Akan tetapi, repetisi pun harus diperhatikan efektif tidaknya. Bila repetisinya terlalu sering atau banyak, tentu akan menghadirkan kebosanan dan keriuhan visual yang tidak efektif. Jadi, hadirkanlah repetisi atau variasi, tapi lakukanlah dengan seefektif mungkin agar kebosanan tidak melandan audiens.

#4: KESATUAN (UNITY)

Unsur kesatuan berarti terjadi keharmonisan dalam tipografi, ilustrasi, warna, dan unsur-unsur desain yang lainnya. Menghadirkan keharmonisan dalam desain yang hanya satu muka seperti poster, akan lebih mudah mengaturnya.

Akan tetapi, mengatur keharmonisan dalam desain majalah yang berlembar-lembar, tentu tidak mudah untuk mengatur keharmonisan dan juga agar audiens tidak merasa bosan.

 

Desain Grafis dan Tipografi

Tipografi (typography) yaitu cara untuk memilih dan juga mengelola huruf. Dalam desain grafis, huruf pun masuk dalam unsur penting yang perlu diperlakukan dengan tersendiri. Oleh itulah, memahami tipografi mutlak diperlukan untuk menghasilkan visual lebih baik.

Tipografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu tupos yang berarti ‘yang diguratkan’ dan graphoo yang berarti tulisan. Mulanya, tipografi hanyalah dimaknakan sebagai ilmu cetak-mencetak. Oleh itulah, dahulu jika seseorang memiliki keahlian mencetak disebut dengan tipografer. Setelah berkembang, tipografi kemudian diartikan sebagai cara untuk memahami karakteristik suatu huruf, sehingga dapat dikelola sesuai dengan tujuan-tujuan tertentu.

Setiap jenis huruf memiliki karakter yang berbeda-beda, pengelolaan dan penanganannya pun berbeda pula. Begitu pula dengan penempatannya sesuai dengan obyek yang diinginkan. Misalnya adalah penggunaan huruf Comic Sans tidak pas untuk desain bergaya minimalis ataupun retro. Itu dari sisi karakter. Belum lagi dalam pengelolaan besar-kecilnya ukuran huruf. Huruf yang terlalu kecil akan sangat sulit dibaca, begitu pula spasi yang tidak harmonis. Unsur kemudahan baca bagi audiens sangat penting karena tujuan mendesain adalah menyampaikan pesan informasi kepada pembaca secara cepat, mudah, dan menyenangkan; bukan sebaliknya. Dalam penggunaanya, elemen tipografi terbagi menjadi dua:

Huruf Teks (Text Type)

Yaitu huruf yang tersaji untuk naskah. Menggunakannya, pilihlah huruf teks yang unsur keterbacaannya sangat mudah dan juga nyaman. Jangan gunakan huruf teks yang berbodi tebal dan terlalu banyak lengkungan.

Huruf Judul (Display Type)

Untuk penggunaan huruf judul lebih fleksibel. Asal unsur keterbacaan dan keefektifan penyampaiannya dapat terkemas dengan apik dan nyaman, maka unsur penerapan dalam desain grafis sudah terpenuhi.

MEMILIH HURUF

Dalam komputer, sudah tersedia ratusan font yang bisa digunakan. Akan tetapi, kita pun bisa menambahkannya lagi. Di internet, banyak sekali font yang bisa di download dengan bebas. Beberapa situs terkenal yang memuat font bebas unduh adalah:

http://www.dafont.com

http://www.urbanfont.com

http://www.fontspace.com

http://www.scholarsfont.net

http://www.fontsquirrel.com

Masih banyak lagi yang lainnya. Silahkan browsing sendiri di internet. Kaitannya dengan memilih huruf, berdasarkan sejarah perkembangannya, huruf diklasifikasikan menjadi tujuh gaya, yaitu:

#1: Huruf Klasik (Classical Typefaces)

Huruf yang memiliki kaki atau kait (serif) lengkung disebut dengan Old Style Roman. Pada awal-awal teknologi percetakan, huruf gaya ini banyak digunakan untuk desain-desain media cetak oleh Inggris, Italia, dan juga Belanda sebagai negara maju.

Hingga sekarang, huruf gaya ini masih sering digunakan untuk teks karena memiliki ketermudahan baca. Contohnya adalah font bernama Garamond yang diciptakan oleh Claude Garamond pada tahun 1540 di Perancis.

#2: Huruf Transisi (Transitional)

Hampir sama dengan huruf Old Style Roman. Hanyasaja, pada ujung kaitnya beda runcing dan memiliki sedikit perbedaan pada tebal-tipis pada garis vertikalnya. Yang masuk dalam kategori gaya ini adalah font bernama Baskervile yang dibuat oleh John Baskervile pada tahun 1750 di Inggris, dan juga Century yang sering digunakan untuk judul.

#3: Huruf Modern Roman

Huruf gaya ini sangat jarang digunakan untuk teks karena memiliki ketebalan tubuh huruf sangat kontras, yaitu garis pada bagian vertikal sangat tebal, sedangkan garis horisontal dan kaitnya sangat tipis. Sehingga, bila digunakan untuk teks akan memiliki keterbacaan yang sulit. Contoh huruf untuk gaya ini adalah font yang bernama Bodoni dan Scotch Roman.

#4: Huruf Sans Serif

Disebut dengan sans serif karena tidak memiliki kait pada ujung hurufnya. Bagian tubuh huruf satu dengan lain sama tebalnya. Citra yang dihasilkan oleh font ini adalah dinamis dan simpel serta minimalis. Font yang masuk kategori gaya ini adalah Arial, Helvetica, Univers, dan Futura. Font gaya ini sama baiknya digunakan untuk teks maupun judul. Akan tetapi, digunakan untuk judul lebih baik. Karena bila digunakan untuk teks, apalagi teks yang sangat panjang, kurang begitu nyaman.

#5: Huruf Berkait Balok (Egyptian Slab Serif)

Huruf bergaya ini sangat populer di Inggris pada tahun 1895, ketika masyarakatnya terpesona dengan kebudayaan Mesir. Oleh itulah, font bergaya ini disebut dengan Egyptian. Huruf bergaya ini memiliki kait berbentuk balok pada ujung-ujung hurufnya. Kesan yang dihasilkan dari jenis huruf ini adalah kaku, keras, dan juga jantan.

#6: Huruf Tulis (Script)

Huruf bergaya ini berasal dari tulisan tangan. Sangat tidak cocok bila dipakai untuk teks yang panjang. Tapi, sangat cocok untuk huruf judul. Apalagi untuk desain bertema keagamaan atau romantisme.

#7: Huruf Hiasan (Decorative)

Huruf ini sangat berlebihan dalam bentuk, sehingga hanya cocok digunakan untuk judul yang pendek dan tidak cocok digunakan untuk teks.

Tidaklah mudah untuk memilih font yang pas untuk digunakan sebagai elemen visual. Bagaimanapun, pemilihan font yang pas sangat berpengaruh terhadap kualitas suatu desain. Perlu jam terbang, intuisi, dan rasa berkesenian yang sangat baik untuk memilih font yang berkarakter dan sesuai dengan tema visual yang hendak disampaikan kepada audiens.

MENGELOLA HURUF

Setelah dipilih, huruf masih perlu untuk dikelola agar teks nyaman dan pas untuk dinikmati audiens. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan huruf adalah:

#1: Ukuran Huruf

Besar dan kecilnya ukuran huruf sangat berpengaruh terhadap unsur keterbacaan sebuah teks. Huruf yang kecil tidak mudah untuk dibaca bagi sebuah teks. Tetapi, huruf yang terlalu besar pun tidak pantas bagi sebuah teks, karena selain memakan tempat juga tidak nyaman untuk dibaca. Jadi, sangat penting memerhatikan berapakah ukuran font yang pas untuk dibaca.

Huruf teks untuk visual publikasi seperti poster, leaflet, flyer, ataupun brosur berkisar 8-12 point. Untuk bacaan anak-anak berkisar 14-16 point. Akan tetapi, pada dasarnya penggunaanya tergantung pada intuisi kita sebagai desainer dengan mempertimbangkan ketersediaan ruang bagi teks, jenis informasi yang hendak disampaikan, serta gaya dari tema desain yang bersangkutan.

#2: Bobot dan Variasi Huruf

Huruf memiliki bobot, yaitu tebal-tipisnya. Selain itu, juga memiliki variasi, yaitu tinggi (condensed), miring (italic) tebal (bold), tipis (light), sedang (medium), dan juga sangat tebal (extra bold). Misalnya adalah font Futura yang memiiliki semua variasi huruf tersebut.

Dengan berbagai variasi yang terjadi, dapat digunakan untuk berbagai keperluan yang berbeda tergantung tema desain yang bersangkutan. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa dalam satu desain, misalkan desain poster, jangan terlalu banyak menggunakan variasi jenis font, karena dapat menimbulkan kesan berdesak-desakan sehingga tidak memudahkan keterbacaan.

Untuk beberapa teks yang hanya satu atau dua paragraf, variasi ketebalan dan ketipisan huruf dapat digunakan untuk memberikan kemudah dan penghilangan kemonotonan dalam teks.

#3: Mengatur Panjang Garis

Panjang garis biasa disebut dengan line-length. Maksudnya adalah mengatur lebar kolom agar pembaca nyaman dan tidak mengalami kelelahan serta kebosanan. Menurut penelitian Herbert Spencer, jumlah huruf perbaris yang nyaman saat dibaca adalah sekitar 60 karakter. Baris teks yang terlalu panjang dapat melelahkan, dan baris teks yang terlalu pendek dapat mengurangi kenyamanan baca.

#4: Mengatur Spasi Baris (Leading)

Mengatur jarak antar baris dalam teks disebut juga dengan leading. Tujuannya adalah untuk menghadirkan keindahan dan juga keterbacaan. Membuat leading yang lebih lebar atau lebih sempit tergantung dari tujuannya, yaitu apakah untuk tujuan keseimbangan, pengisian bidang, irama, atau alasan-alasan estetik lainnya. Tidak harus baku dan sesuai aturan, terkadang boleh juga menabrakkan baris spasi untuk teks pendek, untuk menghadirkan estetika dan penarik perhatian.

#5: Spasi Huruf, Kerning, dan Tracking

Ada beberapa huruf yang jika berdampingan, spasi hurufnya akan sedikit terlalu lebar bahkan terlalu sempit sehingga terkesan tidak seimbang. Sebagai desainer, kita perlu mengaturnya agar lebih enak dilihat dan pas. Beberapa huruf yang jika berdampingan terjadi spasi yang terlalu lebar adalah Y berdampingan dengan A, juga W dengan A, dan Y dengan O kecil. Sedangkan huruf-huruf yang bila berdekatan spasinya terlalu sempit adalah huruf N dengan I, kemudian H dengan N, serta M dengan E, dan sebagainya. Begitu pula dengan huruf G kecil dan Y kecil.

Pengaturan spasi huruf pada huruf-huruf yang berdampingan disebut dengan Kerning. Sedangkan mengatur spasi huruf, baik direnggangkan maupun dirapatkan seluruhnya dalam sebuah tulisan disebut dengan Tracking.

#6: Bentuk Susunan (Alignment)

Bentuk penataan susunan baris dapat dikategorikan menjadi lima, yaitu:

Rata Kiri (Flush Left)

Hanya bagian kiri yang rata. Sedangkan bagian kanan tidak teratur. Kesan dinamis dan tidak monoton akan tercipta dengan gaya susunan baris seperti ini.

Rata Kanan (Flush Right)

Hanya bagian kanan yang rata, sedangkan bagian kiri tidak teratur. Untuk naskah teks yang panjang penggunaan susunan baris seperti ini tidak baik, karena pembaca kita membaca dari arah kiri, sedangkan yang rata bagian kanan. Pembaca akan kesulitan mencari posisi awal huruf untuk memulai membaca.

Rata Tengah (Centered)

Cocok digunakan untuk teks pendek, seperti kata mutiara, quote, atau teks-teks penting. Untuk naskah yang panjang sangat tidak dianjurkan menggunakan gaya ini karena akan melelahkan pembaca.

Rata Kiri-Kanan (Justified)

Sangat cocok digunakan untuk naskah teks yang panjang. Tetapi, perlu diingat, bila melakukan susunan baris seperti ini, akan terjadi beberapa kata yang kerenggangannya tidak teratur. Perlu beberapa pengaturan khusus agar terjadi keterbacaan yang baik. Tapi, jenis ini sangat dianjurkan.

Asimetris (Random)

Susunan baris yang tidak memiliki aturan dan tidak berpola. Bentuk susunan asimetris tidak cocok untuk teks yang panjang, karena memiliki tingkat keterbacaan yang sangat rendah.

 

Setiap font memiliki personality tertentu. Jadi, perhatikan betul-betul pesona font yang bisa disampaikan dengan tujuannya. Misalnya, font-font bergaya tegas untuk tujuan visual yang sporty. Sedangkan font-font bergaya ornamental untuk tujuan visual romantis.

Selain memerhatikan personality, perlu juga tren yang terjadi pada font. Karena, penggunaan font sesuai dengan tema desain yang bersangkutan, juga terjadi tren. Tetapi, di samping terjadi tren, ada pula font-font yang long-lasting, seperti Helvetica, Arial, Times New Roman, dan lain sebagainya.

 

Desain Grafis pada Logo

Sebuah logo dibuat dengan bertujuan sebagai merek dagang atau simbol suatu perusahaan. Tak hanya itu, logo pun berperan sebagai representasi perusahaan dan juga media pengikat kepercayaan dengan audiens.

Secara umum, logo terbagi menjadi tiga, yaitu: pertama, logotype yaitu logo yang berupa olahan huruf. Kedua, logogram, yaitu logo yang berupa olahan gambar. Sedangkan yang ketiga adalah gabungan antara olahan huruf dan gambar. Tidak ada penyebutan khusus, hanya biasanya disebut dengan logo saja.

Merancang logo tidaklah mudah. Walaupun hasilnya seringkali hanya simpel belaka. Akan tetapi, jauh lebih rumit daripada saat mengerjakan sebuah poster atau kaver buku. Karena logo dituntut untuk mampu berbicara kepada audiens bahwa logo tersebut adalah representasi dari perusahaan atau organisasi yang profesional, kredibel, dan berkualitas. Di samping itu, logo juga berperan sebagai marketing tools. Karena logo adalah media promosi yang membangun ikatan emosional antara pemilik logo dengan audiensnya. Dengan demikian, logo yang buruk, tentu akan berimbas pada pemilik logo tersebut.

Bagaimanakah cara membuat logo yang bagus? Jacob Cass, founder dari Just Creative Design memaparkan tips dan triknya dalam 5 Princples of Effective Logo Design sebagaimana berikut:

#1: SIMPLE

Logo yang baik mudah dikenali dalam waktu tiga detik. Walaupun sederhana, tapi konsepnya pas dan sesuai dengan karakter pemilik logo.

#2: MEMORABLE

Selain simpel, juga harus tepat guna, dan logo itu selalu terngiang-ngiang di benak audiens dengan baik. Contoh untuk logo yang selain simple tapi juga memorable adalah tipografi M khas dari McDonalds.

#3: TIMELESS

Selain simpel, memorable, juga harus timeless. Artinya, mau digunakan sampai tahun berapapun logo tersebut akan tetap kelihatan keren. Tren dalam suatu produk memang akan selalu berubah. Akan tetapi, logo haruslah tetap bisa digunakan sepanjang masa agar secara turun temurun pun keloyalan untuk sebuah brand tetap bisa diwariskan dengan baik.

Berbeda dengan lawannya, Pepsi Cola. Coca-Cola tidak pernah mengalami perubahan logo. Filosofi timeless benar-benar berfungsi dengan baik.

#4: VERSATILE

Sebaiknya, sebuah logo memang harus dibuat dalam bentuk vektor, agar dapat fungsional dan dipalikasikan ke dalam berbagai media apapun. Begitu pula dengan tingkat skalanya, apabila diperkecil tetap masih berbentuk baik, begitu pula saat skalanya diperbesar. Begitu pula saat logo tersebut dicetak dalam satu warna, apakah akan tetap merepresentasikan logo tersebut, ataukah tidak. Logo yang baik, tetap merepresentasikan walau hanya dicetak dengan satu warna.

#5: APPROPRIATE

Selalu sesuaikan logo dengan target audiens dan juga karakter pemilik brand. Misalnya, logo untuk audiens anak-anak, haruslah menggunakan warna-warna yang dekat dengan mereka, begitu juga bentuk-bentuk yang tidak kaku dan elegan.

Logo adalah alat untuk mengidentifikasi. Sebuah logo perusahaan komputer tidaklah perlu ditampilkan gambar komputer, begitu pula logo untuk perusahaan handphone. Cukuplah logo mewakili identifikasi dari perusahaan tersebut. Logo yang baik, selalu bisa mengidentifikasi dengan baik.

Menurut analisa dari Webson, 50 top brand dunia dalam logonya lebih menjelaskan kepada perusahannya, bukan pada produk yang dijualnya. Jadi, tidak perlu menampilkan gambar komputer bila perusahaan tersebut bergerak dalam bidang komputer.

Hal terpenting dari sebuah logo adalah untuk membuat orang mengatakan sesuatu dalam benaknya. Sebuah Logo bisa dikatakan bagus baik jika dilihat orang akan langsung menghubungkan dengan produk tersebut.

Secara visual, bentuk logo dapat didesain dengan berbagai aturan berikut ini. Pertama, logotype. Ditulis menggunakan olahan tipografi yang khas, unik, dan juga konsisten. Kedua, initials. Mengolah huruf pertama dari nama brand dengan unik, menarik, tapi tetap bermakna dan sesuai. Ketiga, pictorial visual. Representasi obyek untuk menggambarkan citra perusahaan, jasa, atau organisasi. Keempat, abstract visual. Menggunakan olahan visual yang abstrak. Penuh dengan bentuk-bentuk dan paduan warna yang sangat riuh. Akan tetapi, tidak mengurangi keindahan dari logo tersebut. Kelima, penggabungan dari keempat elemen di atas.

 

Desain Grafis dan Iklan Media Cetak

Iklan adalah alat marketing untuk memperlihatkan dan menjual produk dari perusahaan kepada target audiens dengan menggunakan elemen-elemen verbal dan visual melalui media yang dianggap efektif. Tetapi, ada pula iklan yang nonkomersial dan bertujuan untuk menyampaikan informasi tertentu kepada masyarakat. Secara umum, iklan bisa muncul dari mana saja dan menggunakan media apa saja, asalkan bisa mengusung informasi jualan untuk target audiens.

Iklan media cetak, hanya mengandalkan elemen-elemen visual yang statis, tidak bergerak, dan juga tidak bersuara. Karena sifatnya yang statis itu, maka desainer grafis untuk media cetak seperti ini haruslah pintar-pintar mengolah kreativitas agar gambar statisnya mampu ‘berbicara’ lebih baik, sehingga iklan dapat tersampaikan dengan maksimal.

Aspek Verbal Iklan Media Cetak

Naskah iklan secara lengkap, terdiri dari beberapa unsur berikut ini.

#1: Headline

Disebut juga dengan kepala tulisan. Bagian teks ini diharapkan dapat dibaca pertama kali oleh audiens. Walaupun namanya head (kepala), posisisnya tidak selalu berada di atas, tapi bisa juga di tengah ataupun di bawah.

#2: Subheadline

Sering disingkat dengan subhead. Berisi kalimat penjelasan atau kelanjutan dari headline. Biasanya, terletak di bawah headline, karena fungsinya memang menjelaskan headline. Bila teks pendek letaknya di atas, penyebutannya adalah overline.

#3: Bodycopy atau Bodytext

Adalah teks yang menguraikan informasi produk lebih detail. Diharapkan dapat membujuk dan memprovokasi pembaca untuk membeli produk yang diiklankan. Panjang-pendeknya bodycopy tergantung kondisi ruang iklan.

#5: Tagline

Disebut juga dengan slogan, atau catch phrase. Sebuah kalimat pendek yang menyerukan suatu spirit dari produk atau korporat secara berulang-ulang, sehingga dihafal oleh masyarakat. Contohnya adalah Teh Botol Sosro yang berslogan Ahlinya Teh.

#6: Baseline

Bagian penutup dari sebuah iklan. Umumnya berisi nama dan logo perusahaan beserta alamat pengiklan. Disebut juga dengan signature atau sign off. Terkadang disebut juga dengan closing.

#7: Product Shot

Foto produk atau brand yang ditawarkan. Bisa dengan menghadirkan gambar utama, atau bisa juga dengan gambar diletakkan di baseline. Iklan kosmetik misalnya, lebih menonjolkan model yang memakainya, bukan produknya sendiri.

Terkadang, dalam sebuah iklan cetak tidak termuat semua elemen tersebut. Tergantung dari kreativitas si pembuat iklan. Yang penting, informasi tersampaikan dan serta branding dan efek jualan semakin baik.

Aspek Ilustrasi Iklan Media Cetak

Ilustrasi berasal dari bahasa latin Illustrare yang artinya menerangi, menghias. Pada iklan media cetak, unsur visualnya terdiri atas foto maupun gambar olahan serta gambar manual. Akan tetapi, dapat pula berupa elemen-elemen grafis, seperti garis, warna, bidang, juga tipografi.

Philip Ward Burton memberikan beberapa arahan untuk menjadikan ilustrasi sebuah desain visual iklan media cetak dapat menarik perhatian.

  1. Figur manusia lebih menarik daripada benda. Apalagi, packaging dari suatu produk kurang begitu menarik. Maka, sosok figur manusia kan lebih mudah menarik perhatian audiens.
  2. Bayi dan hewan pada umumnya memiliki daya tarik yang cukup kuat.
  3. Figur lelaki lebih cocok mengiklankan produk lelaki, sedang figur perempuan lebih cocok mengiklankan produk perempuan.
  4. Terkadang, ilustrasi menggunakan huruf lebih efektif daripada gambar, terutama untuk menyampaikan informasi tentang perkembangan penting atau mendramtisasi produk baru.
  5. Selebritis dapat menarik perhatian dengan baik jika digunakan untuk ilustrasi produk yang sesuai. Misalnya, olahragawan terkenal mempromosikan sepatu olahraga.

 

Pengelompokan Ilustrasi Iklan Media Cetak

Dalam iklan media cetak, menurut Otto Kleppner, ilustrasi dikelompokkan menjadi beberapa bagian.

  1. Illustration of the product alone.

Hanya menampilkan gambar produk itu sendiri tanpa dipadukan dengan unsur-unsur lainnya.

  1. Illustration of the product in setting.

Produk disajikan bersama dengan unsur-unsur pendukung agar keunikan produk makin menonjol.

  1. Illustration of the product in use.

Menampilkan produk ketika sedang digunakan, atau proses bagaimana sebuah produk ketika sedang digunakan.

  1. Illustration of benefit from the use of the product or a loss or disadvantage from not using the product.

Menggambarkan keuntungan ketika menggunakan suatu produk dan kerugian ketika sedang menggunakannya.

  1. Dramatization of a headline.

Ilustrasi digunakan untuk mendramatisir tema.

  1. Dramatization of single situation.

Mendramatisir situasi tunggal. Ilustrasi boleh jadi tidak relevan, akan tetapi dijelaskan dengan bodycopy yang apik.

  1. Dramatization of evidence.

Menunjukkan serangkaian pembuktian fakta melalui tes produk.

  1. Continuity strip dramatization of sequence.

Menggambarkan rangkaian cerita atau pengalaman seseorang yang berhubungan dengan produk tersebut.

  1. Dramatization of detail.

Menunjukkan gambar detail untuk menampilkan bagian-bagian penting dari suatu produk. Menggambarkan perbandingan dengan produk lain untuk menunjukkan keunggulan dari produk yang ditawarkan. Menggambarkan perbedaan mencolok antara dua produk atau kekontrasan sebuah objek saat sebelum dan sesudah menggunakan produk. Ilustrasi dengan gaya kartun atau karikatur, baik secara tunggal maupun serial.

  1. Trade character.

Ilustrasi yang menunjukkan karakteristik produk melalui model dan teks.

  1. Charts and diagram.

Ilustrasi menggunakan diagram atau grafik untuk menjelaskan data-data statistik atau fakta-fakta yang signifikan.

  1. Phantom or ghost diagram.

Penggambaran sistem operasional atau konstruksi dari produk yang dapat memperjelas bagian dalamnya, misalnya dengan teknik sinar rontgen, sinar X, atau dengan teknik grafis lainnya. Penggambaran produk secara simbolis untuk memberi makna lebih mendalam.

  1. Decoration, ornament, abstract design.

Penggambaran produk dengan gaya dekoratif, ornamentik, atau abstrak yang divisualisasikan melalui garis tepi, tipografi, background, dan sebagainya.

 

Desain Grafis pada Website

Pembuatan produk digital seperti website melibatkan peran beberapa profesi. Website yang bagus biasanya di kerjakan oleh sekumpulan orang dengan spesialisasi yang berbeda namun saling bersinergi. Beberapa di antaranya adalah:

1 / Web Interface Designer

Intinya, interface designer bertugas membuat tampilan sebuah website enak dipandang. Memang butuh waktu untuk mempelajari cara kerja website, memahami cara kerja code dan developer, sampai dengan mengamati tren desain website terkini. Peran interface sama pentingnya dengan developer.

2 / Front End Developer

Secara teknis, front end developer akan menghasilkan HTML dan CSS dari desain yang telah di buat di photoshop oleh interface designer. Front end developer yang baik mempunyai mata yang jeli dan biasanya juga mempunyai sense of art. Kalau dia mempunyai dasar sebagai seorang desainer akan sangat lebih baik lagi.

3 / Back End Developer

Tampilan sudah bagus, sekarang tinggal memberikan ‘kemampuan’ pada website. Back end developer ini bisa di bilang pekerja di belakang layar. Pengguna tidak melihat langsung tetapi bisa merasakan dan berinteraksi dengan website. Ia bertugas membuat sebuah website menjadi lebih berdaya dan mudah dioperasikan. Misalnya saja saat pengunjung mengunggah sebuah video, maka proses yang dilalui sebenarnya panjang agar video tersebut bisa terunggah dengan baik. Akan tetapi, hal itu dimudahkan setelah back end developer memeras keringat bekerja sama dengan front end developer dan interface designer.

4 / Copywriter

Dalam tampilan website, peran copywriter sangat di perlukan. Gaya dan cara berkomunikasi dengan audiens lewat kata-kata yang mudah dimengerti sekaligus khas dari sebuah website, itulah tugas dari copywriter. Peran copywriter ini terkadang bisa menjadi faktor x. Salah satu contoh paling fenomenal tentu saja adalah bagaimana Twitter mengubah “What are you doing now” menjadi “What’s happening”. Hanya dengan mengubah kalimat, Twitter berubah menjadi sumber berita tercepat bagi seluruh dunia.

 

CORPORATE WEB DESIGN

Website sebuah perusahaan merupakan perpanjangan tangan secara online dari sebuah perusahaan. Selain fungsinya untuk memberikan informasi, tak jarang juga banyak perusahaan menggunakan websitenya untuk mendapatkan klien baru.

Beberapa elemen yang wajib ditampilkan dalam web perusahaan adalah:

#1 | Slogan Perusahaan

Tujuannya, dalam sekejap pengunjung sudah tahu secara garis besar tentang perusahaan tersebut.

#2 | Informasi Perusahaan & Kontak

Pengunjung dapat mengetahui latar belakang perusahaan dan jasa yang di tawarkan. Untuk alamat bisa juga di bantu dengan menambahkan peta (bisa di buat ilustrasi peta sendiri atau dengan menggunakan google maps).

#3 | Jasa/Produk yang Ditawarkan

Info produk harus bisa di komunikasikan dengan mudah, sehingga pengunjung dapat dengan cepat menangkap tujuan perusahaan ini dan apa keuntungannya untuk konsumen. Diberikan tampilan foto dengan kualitas yang baik akan sangat membantu.

#4 | Get the Costumer

Ubahlah pengunjung menjadi klien potensial yang bisa dihubungi lagi dan akhirnya bisa menjadi klien. Misalnya dengan menghadirkan kolom pengisian e-mail pengunjung, atau penawaran khusus untuk suatu produk atau jasa yang membuat kita mudah untuk mengirimi mereka dengan promo.

 

BLOG WEB DESIGN

Sekarang, fungsi sebuah blog sudah bergeser dari yang tadinya hanya sebatas tempat curhat pemilik blog, menjadi citizen journalism. Beberapa elemen agar desain blog menjadi lebih efektif adalah:

#1: Tata Letak Kolom Konten

Ada 5 macam jenis tata letak kolom yang sering digunakan pada desain blog. Masing-masing tata letak mempunyai kelebihan dan kekurangan.

– Menurun Single (1 kolom)

Jenis ini merupakan tata letak yang standar dan hampir semua blog menggunakan metode ini. Rata-rata menggunakan model ini dikarenakan pola dokumentasi dan penanggalan blog biasanya berdasarkan hari. Sehingga, posting-an terbaru akan terletak di paling atas.

– Menurun Paralel (2 kolom)

Kolom konten terbagi menjadi 2, sehingga dapat memuat lebih banyak konten di dalam satu halaman.

– Grid (4-6 kolom)

Sesuai dengan namanya, tata letak ini menggunakan sistem grid untuk mengatur tata letak kolom kontennya. Desainer bebas menentukan akan menggunakan berapa kolom, tergantung dengan kebutuhan dan jenis konten.

– Full Width

Tipe yang satu ini tidak menggunakan kolom, tetapi menggunakan seluruh lebar halaman yang ada. Bahkan bagian sidebar kanan atau kiri tidak di gunakan, namun ada juga beberapa yang tetap menggunakan sidebar, tetapi dengan porsi yang sangat minim.

– Custom Posting

Tipe ini merupakan tipe yang benar-benar out of box dan melabrak berbagai aturan.

#2: Pengaturan Font

Konten adalah jiwa dari sebuah blog karenanya desainer grafis harus memperhatikan cara menggunakan dan menampilkan teks dengan baik. Tujuannya tak lain adalah agar nyaman di baca. Di dalam blog pasti ada 2 jenis font yang harus di gunakan, yang satu sebagai heading, dan yang lain sebagai body text. Untuk bagian heading bisa menggunakan font yang jarang di pakai oleh desainer lain atau disesuaikan dengan kebutuhan dasar headline itu sendiri, yaitu untuk menjadi pusat perhatian. Yang kedua adalah font untuk body text. Di bagian ini sebaiknya menggunakan font standar yang memang di fungsikan untuk body text, alasan utamanya adalah agar teks dapat di tampilkan dengan baik di semua monitor pembaca.

#3: Desain Header & Logo

Dalam blog, logo memang bukan suatu keharusan. Akan tetapi, pembuatan header dengan memasukkan logo tentu akan lebih baik. Desain logo yang unik akan menjadi identitas blog.

#3:Optimasi Sidebar

Mayoritas blog mempunyai sidebar, biasanya di gunakan untuk: Komentar Terkini, Posting Pilihan (Featured), Posting Terpopuler, Icon Social Media, Flickr Gallery, Kategori Posting, Archives.

#4: Kolom Komentar

Untuk menciptakan komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca, jangan lupa sertakan selalu kolom komentar.

#5: Optimasi Footer

Ada dua tujuan dasar dari sebuah footer, yaitu untuk meletakan fitur tambahan yang tidak cocok (tidak muat) di letakan di sidebar atas dan membuat pembaca lebih mendalami konten blog, misalnya, dengan menaruh widget most amazing post. Yang pasti footer bukan ruang yang tidak penting. Tapi, justru dapat menambah nilai jual sebuah blog.

Demikian ulasannya, pastikan untuk nge-share artikel ini ya bila bermanfaat. Terima kasih sudah merampungkan membaca tulisan yang panjang ini.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment