. . .

Apa yang Dinilai dari Penerbit dalam Sebuah Naskah?

Menilai naskah penerbit

Bagi sebuah penerbit, menerbitkan buku bukanlah perkara murah dan mudah. Bukan perkara murah, karena penerbit harus mengeluarkan banyak modal hanya untuk menerbitkan satu buku. Banyak modal itu di antaranya adalah biaya mencetak buku, membayar karyawan, biaya distribusi, biaya promosi, dan sebagainya. Bisa habis puluhan juta. Oleh karena itu, tentu penerbit tidak akan gegabah menerima dan menerbitkan sembarang naskah. Penerbit akan memilih naskah yang memenuhi setidaknya tiga hal utama.

Pertama, naskah layak jual. Artinya, potensi buku yang sudah tercetak nantinya bisa dinikmati banyak orang, dan terjual dalam jumlah yang banyak. Bagaimanapun, penerbitan adalah sebuah industri. Selain kualitas naskah yang bagus, penerbit akan memperhatikan daya serap dari buku tersebut. Semakin luas dan besar daya serap pasarnya, maka naskah yang seperti ini akan makin dicintai oleh penerbit. Jadi, kalau kamu bikin naskah dan potensinya hanya dibaca oleh sekitar 100-an orang saja, 99% penerbit akan menolak naskahmu.

Kedua, memiliki keunggulan yang lebih banyak daripada buku sejenis. Keunggulan bisa didapatkan dari dua hal: keunggulan dari sisi kualitas naskah dan keunggulan dari sisi kualitas penulisnya. Untuk keunggulan sisi kualitas naskah, jelas. Semakin baik, semakin lengkap, dan semakin mencerahkan pembaca, hal ini akan menjadi perhatian penerbit. Sedangkan keunggulan dari sisi kualitas penulisnya artinya penulisnya pun “bisa dijual” oleh penerbit. Bayangkan, ada penulis yang dalam menulis bagus, tampangnya enak dilihat, public speaking-nya hebat, serta bermain media sosialnya jempolan. Nilai plus-plus seperti ini tentu membuat penerbit makin kesengsem. Mengapa? Karena fungsi pemasaran tak hanya dipegang oleh penerbit, namun juga penulis ikut memasarkan produknya secara mandiri. Tentu, hal-hal tersebut membawa kebaikan bagi kedua belah pihak, baik secara keuntungan finansial, maupun kerja sama jangka panjang. Dan penulis jenis ini tentu menjadi rebutan di semua penerbitan.

Ketiga, tidak bertentangan dengan visi dan misi penerbit. Setiap penerbit memiliki visi dan misinya tersendiri. Kita tidak bisa mengirim naskah yang memiliki pandangan berbeda dengan visi dan misi penerbit tersebut didirikan. Walaupun penerbit adalah sebuah industri, yang secara kasarnya hanya mementingkan laba belaka, namun penerbit juga memiliki aturan tersendiri dalam membuat produknya. Maka, pastikan ketika mengirim naskah ke penerbit, perhatikan seperti apa produk-produk yang pernah dikeluarkannya, dan telisiklah apakah naskahmu cocok atau tidak bila diterbitkan di penerbit tersebut. Bila dirasa cocok, lanjutkan untuk mengirimkan naskah tersebut. Namun bila dirasa tidak cocok, segera cari alternatif penerbit lain.

Itu tiga hal utama yang dinilai dari naskahmu. Bila ketiga hal tersebut lolos, hal-hal lain cenderung bisa ditoleransi, misalkan ketebalan naskah, penulisan yang masih perlu penyempurnaan, dan hal-hal lainnya.

Seorang editor cenderung akan lebih melihat ide besarmu. Bila editor merasa melihat ide besar naskahmu menarik, layak jual, dan memiliki kesempatan untuk dinikmati banyak pembaca, editor akan berbaik hati untuk memberikan saran-saran yang diperlukan demi perbaikan naskahmu.

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.