. . .

Agar Jiwa Tak Menggelandang

”Setiap amalan mempunyai masa-masa semangat,” sabda Nabi riwayat Imam Ahmad, ”dan setiap semangat memiliki masa surut. Sesiapa yang saat semangatnya surut, namun tetap dalam sunnahku, maka dia telah mendapat petunjuk. Dan sesiapa yang saat semangatnya melemah dan dia berada pada selain sunnah, maka dia telah binasa.”

Setiap segala yang di dunia, memiliki titik jenuhnya masing-masing. Seperti kita tahu, Allah takkan pernah bosan menerima juga membalas setiap amalan diri. Akan tetapi, hamba-Nya lah yang seringkali bosan, dan kemudian jiwa seolah bergelandang tak tentu arah.

Yah, bahkan dalam kebaikan pun, kita kudu pintar memvariasi kebaikan, agar kefitrahan-kefitrahan diri sebagai manusia yang teranugerahi sifat bosan, tak melemahkan segala amal shalih diri.

Memvariasi kebaikan bukan menyelinginya dengan kemaksiatan. Bukan. Itu hanyalah tipuan setan yang menyesatkan jua menggelisahkan. Ibadah akan kehilangan makna juga rasa lezatnya, bila kita menyelinginya dengan kemaksiatan.

Namun, ibadah akan makin kuat makna dan rasa lezatnya kalau kita berhasil menjagai keistiqamahannya. Nah, dalam perjalanan keistiqamahan bertaat-taat itu, terkadang rasa bosan memang menghampiri. Oleh karena itu, memvariasi kebaikan perlu dilakukan.

Bila membiasa diri tilawah Al-Qur’an dua lembar per hari, berhentilah sejenak sekira tiga hari. Variasikanlah dengan membaca tafsirnya.

Bila shalat malam di kamar terasa menjemukan, variasikanlah dengan shalat malam ruang tamu rumah. Sensasinya tentu berbeda.

Jenuh mendengar ceramah agama, tak ada salahnya juga memvariasinya dengan mendengar nasyid dan film-film bermutu yang menginspirasi.

Intinya, asalkan tetap berada di jalur kebaikan, variasi boleh dilakukan.

 

Baca juga: Tak Perlu Khawatir Soal Rezeki

 

Kebosanan adalah sifat manusiawi. Cerdikilah ia dengan berbagai cara agar tak mengganggu kualitas diri sebagai hamba, dengan cara-cara yang kreatif, namun tetap berada di jalur-Nya.

Inilah terapi, agar jiwa tak menggelandang. Karena sungguh, kelalaian amat dekat dengan kebosanan.

Di ruang kelalaian itulah, bisikan-bisikan kelenaan dari setan akan memborbardir tanpa ampun untuk mengalihkan bening jiwa pada kekeruhan dengan cara mendekatkan dan mengiming-imingi dengan nikmat maksiat.

Padahal, maksiat yang kelihatan nikmat itu juga berklimak bosan. Berzina terus juga membosankan. Berkhamr terus juga membosankan. Karena itu kefitrahan diri sebagai manusia.

Bilalah sama-sama mengandung kebosanan pada akhirnya, mengapa tak memilih pada zona taat saja, yang jelas-jelas menguatkan cinta pada-Nya, juga mendekatkan diri pada kasih sayang dan jannah-Nya.[]

 

Bergabunglah bersama 5.357 pembelajar lainnya.
I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )
Dua pekan sekali, saya berikan informasi penting mengenai writerpreneurship. Wajib bagimu untuk bergabung dalam komunitas email saya ini kalau kamu ingin belajar menjadikan profesi penulis sebagai ikthiar utama dalam menjemput rezeki, seperti yang saya lakukan sekarang ini.
Kesempatan terbatas!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.