5 Anak Muda Kreatif Kebanggaan Indonesia Ini Bisa Menyulut Semangatmu untuk Berkarya!

Kelima anak muda kreatif kebanggaan ini membuktikan bahwa Indonesia memang tak pernah kekurangan anak muda kreatif yang mau berbuat sesuatu untuk membuat negerinya bangga!

Tak seperti kebanyakan anak muda lainnya, profil kreatif berikut ini menunjukkan kepada kita, bahwa mereka yang memang mau untuk berbuat sesuatu dan mencoba keras untuk berkarya, akan menemui masa untuk mendapatkan apresiasi dan tempat yang layak untuknya.

Kepada generasi muda Indonesia, jangan habiskan umur mudamu untuk melakukan hal-hal yang sia-sia. Saatnya berkarya, dan tunjukkan kepada dunia, bahwa generasi muda Indonesia adalah harapan masa depan dunia!

1 – Atika Putri Astrin, Putri Lingkungan Bayer Young Environmental Envoy 2013

Penyebabnya sederhana. Atika hanya gundah, karena banyak banget limbah kantong belanja plastik yang menggunung dan mendominasi sampah di berbagai lokasi pembuangan sampah. Mahasiswi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini kemudian mencari cara, agar plastik yang memang bisa merusak lingkungan ini bisa dikurangi efeknya.

Lahirlah ide tentang Tas Belanja Pintar. Ide ini kemudian diberi nama dengan Vertesac, yang diambil dari bahasa Prancis yang berarti tas hijau. Ide ini diikutkan dalam ajang Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2013 yang prakarsai Bayer Group dan bekerja sama dengan United Nations Environment Program (UNEP). Ajang ini bertujuan untuk menyuarakan beragam proyek yang memiliki ide memperbaiki kondisi lingkungan.

Hebatnya, dalam ajang tersebut, Atika adalah salah satu dari 11 finalis yang memiliki gagasan sederhana, namun paling tepat sekaligus feasible untuk diaplikasikan dalam dunia nyata sehari-hari. Vertesac besutan Atika memiliki sistem Radio Frequency Identification (RFID) yang dapat melacak kemana saja tas belanja pintar ini dijinjing oleh pemiliknya, dan dapat dipantau dengan aplikasi yang disematkan di smartphone. Harapannya, dengan teknologi ini, dapat membuat orang-orang yang suka belanja dalam lebih perhatian untuk mengelola sampah, terutama sampah plastik tentu saja, karena sifatnya yang sangat sulit terurai oleh alam.

Melalui Vertesac, Atika akhirnya dinobatkan sebagai Duta Lingkungan Muda Bayer dalam ajang BYEE 2013 di Jakarta, dan Vertesac sendiri diganjar sebagai Best Project.

2 – M. Zulfikar Avicenna & M. Baiata Faris, Juara di World Creativity Festival, Korea Berkat Cairan Pembasmi Rayap

Muhammad Zulfikar Avicenna dan Muhammmad Baiata Farisi, yang pada tahun 2015 masih terdaftar sebagai murid kelas VB SD Semesta Bilingual Boarding School, Semarang, Jawa Tengah, akhirnya membuat cairan pembasmi rayap Terminator (Termite Exterminator) dan hebatnya, berkat penemuannya tersebut berhasil meraih medali perak dalam lomba World Creativity Festival 2015 yang berlangsung pada 17-18 Oktober di Daejeon, Korea Selatan!

Cairan tersebut tidak dibuat dari bahan kimia berformula rumit. Hanya dari buah bintaro atau pongpong fruit (carbera manghas). Buah beracun itu mudah ditemui di Kota Semarang dan bagi masyarkat sekitar, biasanya memang dipakai sebagai racun tikus.

Penyebab penemuan tersebut sederhana saja. Avicenna, risih karena rak buku di perpustakaan sekolahnya dirusak rayap. Ia kemudian mengajak teman sekelasnya, Farisi untuk mencari solusi agar rayap tersebut tidak lagi mengganggu dan berbuat onar di rak buku perpustakaan sekolah.

Dengan bantuan internet, Avicenna dan Farisi beserta guru pembimbingnya, Umarudin, akhirnya menyimpulkan bahwa buah bintaro bisa digunakan sebagai bahan utama formula anti rayap. Cara membuatnya pun bahkan sangat sederhana: buah bintaro dipotong kecil-kecil, lalu diblender hingga halus dan berbentuk cair. Cairan sebanyak 100 gram dicampur air sulingan seberat 300 gram.

Setelah itu, campuran air dan hasil blenderan buah bintaro diaduk lalu disaring. Selanjutnya cairan yang sudah jadi itu didiamkan selama dua hari untuk ekstraksi sebelum digunakan. Usai proses ekstraksi, cairan itu bisa langsung digunakan untuk membunuh rayap yang bersarang di sejumlah tempat dengan caranya menyemprotkannya sebanyak tiga kali dan rayap pun mati.

Karena dinilai menarik, akhirnya penemuan itu ikut dilombakan di World Creativity Festival 2015 di Daejeon, Korea Selatan. Siapa sangka, penemuan sederhana itu menggondol medali perak!

Saat mereka presentasi, buah bintaro yang sudah diubah menjadi cairan disemprotkan ke tempat rayap berkumpul. Hanya hitungan detik, rayap mati. Tentu saja para juri terkesima.

3 – Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila, Penemu Stik Detektor Boraks

Masih ingat dengan kasus daging bakso dicampur boraks yang meresahkan masyarakat? Yah, boraks memang seharusnya tidak disalahgunakan seperti itu, karena dapat membahayakan kesehatan, bahkan bisa mengancam kelangsungan hidup. Tetapi, bagaimana cara mendeteksi bahan kimia berbahaya tersebut? Tak bisa, karena memang tak ada alat yang bisa mendeteksi campuran boraks pada makanan tertentu.

Selama ini, deteksi boraks pada makanan terbilang tidak praktis dan efektif, karena harus tes dan uji laboratorium. Lamanya? Bisa memakan waktu berminggu-minggu! Tapi Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila, siswi asal SMA Negeri 3 Semarang ternyata mampu menciptakan alat sederhana untuk mendeteksi boraks! Dan hebatnya, dengan alat tersebut, dia berhasil menyabet emas dalam International Exhibition for Young Inventors (IEYI) yang berlangsung di Jakarta pada 30 Oktober–1 November 2014.

Dayu dan Luthfia membuat perangkat sederhana untuk mendeteksi bahan kimia berbahaya boraks dengan mudah, praktis dan cepat yang diberi nama stick of borax detector atau Sibodec. Lewat perangkat yang hanya seperti tusuk gigi itu, mereka berupaya menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi masyarakat, yaitu kesulitan memilih makanan bebas bahan kimia berbahaya seperti boraks.

Dibantu guru pembimbing, Agus Priyatno, mereka melakukan penelitian sejak kelas X dan tahun 2013 lalu berhasil menemukan racikan bahan herbal yang bisa diaplikasikan ke tusuk gigi biasa. Cara kerjanya pun cukup efektif, tinggal menusukkannya ke daging dan tunggu 5 detik. “Kalau berubah merah, berarti mengandung Boraks. Tidak hanya daging, bisa juga mi, caranya digulung dulu jadi bola lalu ditusuk. Kalau krupuk, dihancurkan dan dicampur air kemudian oleskan di tusuk gigi,” kata Wening.

Sebuah ide brilian! Mereka bahkan merencanakan menjual Sibodec dengan kemasan kotak kecil berisi 35 sachet dengan harga Rp 35 ribu. Harga tersebut tentu sangat murah, mengingat satu sachet berisi dua tusuk gigi dan bisa digunakan beberapa kali.

4 – Dewi Ratih Ayu Daning, Ampas Teh yang Meraih Juara Alltech Young Scientist Award 2010

Siapa juga manusia di dunia ini yang peduli dengan ampas teh? Tetapi, tenryata, Dewi Ratih Ayu Daning, dari Fakultas Peternakan UGM, membuat ampas teh menjadi barang berguna. Ampas teh ternyata dapat mengurangi gas metana, polutan yang menyumbang 30 persen rusaknya lapisan ozon. Gas yang menyebabkan pemanasan global itu terkandung dalam kotoran sapi, kambing, dan kerbau.

Berkat penelitian mengenai pemanfaatan limbah teh hitam sebagai agen defaunasi terhadap reduksi gas metan pada fermentasi rumen dalam mendukung peternakan ramah lingkungan, Daning berhasil menjadi juara dalam Alltech Young Scientist 2010 yang diselenggarakan oleh Alltech di Amerika Serikat.

“Dalam penelitian ini saya mencoba mengembangkan pemanfaatan limbah teh hitam dari Gambung Jawa Barat di pusat penelitian teh dan kina yang digunakan untuk menurunkan produksi gas metan hasil fermentasi ternak sapi perah atau sapi potong. Hasilnya adalah bisa meningkatkan produksi ternak,” katanya.

Limbah teh hitam tersebut digunakan sebagai campuran dari makanan sapi, yakni rumput raja dan dedak halus. Selain dapat meningkatkan produktivitas ternak, makanan sapi tersebut juga menjadi ramah terhadap lingkungan. Daning mengemas ampas teh sebagai campuran pakan ternak. Menggunakan proses fermentasi, mahasiswi Jurusan Nutrisi dan Makanan UGM, ini menguji formulanya di Laboratorium Biokimia Nutrisi untuk menekan kadar metana yang diproduksi ternak.

Daning tak menyangka penelitian skala laboratoriumnya itu mendapat apresiasi dari Alltech, perusahaan bidang nutrisi hewan ternak yang bermarkas di Lexington, Kentucky, Amerika Serikat. Dia terpilih sebagai The 1st Place Undergraduate Country Winner for Indonesia dengan menyisihkan 80 kandidat. Selanjutnya pada bulan Februari lalu ia bersaing di tingkat Asia Pasifik sukses menyabet The 1st Place Undergraduate Regional Winner for Asia Pasific mengalahkan 1.000 kandidat se-Asia Pasifik. Berkat keberhasilan tersebut, Daning melaju di tingkat dunia.

Pada kompetisi Alltech Young Scientist Award, yang digelar bersamaan dengan Alltech’s 26th International Animal Health and Nutrition Symposium pada 16-19 Mei 2010 di Kentucky, Daning meraih gelar juara kedua. Daning bersaing dengan 4 peserta yang mewakili Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Dalam kompetisi itu, Lee-Anne Huber dari University of Guelph, Kanada, yang mewakili Amerika Utara, meraih gelar juara pertama.

5 – Erriezha Arriefqi Hidaya, Meraih Grand Prize World Creativity Festival

Buto Ijo bertemu dengan robot masa depan? Sebuah konsep original dan menarik, bukan? Dan tentunya, menarik juga konsep itu untuk anak-anak. Dan siapa sangka, imajinasi liar itu, juga lahir dari rahim kreativitas anak-anak. Erriezha Arriefqi Hidayat (12), namanya, siswa SDN 2 Sido Kumpul, Gresik, Jawa Timur. Dia berhasil meraih penghargaan grand prize pada ajang World Creativity Festival (WCF) yang diselenggarakan pada 17-18 Oktober 2015 di Daejeon, Korea!

Cerita fiksi imajinasinya itu dipentaskan dalam sebuah pertunjukan wayang orang selama 8 menit, dan mengisahkan persahabatan antara Buto Ijo dengan sebuah robot masa depan yang datang dari tahun 3030.

Cerita bermula ketika Buto Ijo yang berjalan menyusuri hutan mencari Arjuna. Dalam pengembaraannya, Buto Ijo menemukan sebuah gua. Di sana ia justru bertemu dengan sebuah robot canggih dari masa depan, bukannya si Arjuna. Si robot tidak menyangka kalau itu Buto Ijo, karena Buto Ijonya badannya kecil, tidak raksasa. Singkat cerita, akhirnya Buto Ijo dan robot justru menjalin persahabatan.

Dalam cerita itu, Erriezha menyelipkan bagian di mana sang robot justru memperkenalkan banyak hal terkait teknologi kamera terbaru kepada Buto Ijo. “Bahkan robotnya mengajarkan buto ijo bagaimana caranya selfie pakai kamera. Nah itu dia unsur sainsnya saya masukkan,” kata Erriezha yang bercita-cita menjadi insinyur di pesawat Airbus ini.

Karya Erriezha yang ber¬peran sebagai penulis cerita sekaligus dalang dari kisah Buto Ijo ini dianggap unik, karena berhasil meracik unsur sains dengan seni serta budaya, sehingga juri pun tak ragu-ragu mengganjar Wayang Orang Show karya siswa kelas 6 SD ini dengan penghargaan grand prize, sebagai penghargaan tertinggi dalam WCF 2015.

Fachmy Casofa
3 EBOOK GRATIS!
Dapatkan 3 e-book gratis spesial dari saya, khusus untuk kamu yang siap dan mau saja. Daftar lewat form ini. Penawaran terbatas!
Jangan Lupa Share, Ya!

Leave a Comment