Royalti atau Jual Putus Saja Naskahnya?

royalti jual putus

Royalti atau jual putus? – Biasanya, penerbit akan memberikan besaran royalti 8-10%. Artinya, kalau buku kamu nantinya dijual seharga Rp60.000, berarti kamu mendapatkan Rp6.000 dari setiap buku yang terjual. Bila buku dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan semuanya ludes terjual, maka royalti yang kamu dapat nantinya adalah sebanyak Rp18.000.000. Memang angka yang lumayan, bisa untuk membeli laptop dan motor matic terbaru.

Sebenarnya, sebuah buku baru bisa dikatakan best seller, bila dalam setahun paling tidak sudah terjual sebanyak 30.000 eksemplar, dan rasanya royalti dengan penjualan sebanyak itu dalam setahun pun akan semakin “nendang”. Dengan besaran royalti Rp6.000 per buku, kamu akan mendapatkan royalti sebesar Rp180.000.000. Lumayan untuk membeli mobil baru.

Royalti biasanya dibayar dalam setahun sebanyak dua kali, yakni bulan Februari dan Juni secara bertahap. Sebuah buku akan menjadi best seller bila ada upaya bersama antara penerbit dan penulis, serta beberapa dukungan lain seperti komunitas terkait, dan serbuan media dalam mempromosikannya.

Nah, sedangkan maksud dari jual putus adalah penerbit membeli naskahmu dan dibayar dalam sekali waktu. Misalkan nih, naskahmu dibeli sebanyak Rp3.500.000, dengan perjanjian masa terbit lima tahun. Dengan begitu, kamu hanya berhak nominal sebanyak Rp3.500.000 itu saja. Jika kemudian bukumu menjadi laris dan terjual sebanyak 10.000 eksemplar, ya kamu harus gigit jari, karena keuntungan semuanya masuk ke penerbit.

Akan tetapi, ketika buku itu kemudian tidak laku, uang Rp3.500.000 itu sudah cukup untuk membuatmu senang, karena untuk buku yang tidak laku, kamu tidak akan mendapatkan royalti sebanyak itu. Lagi pula, portofolio karyamu pun sudah bertambah, dan kamu bisa fokus untuk menulis naskah selanjutnya yang berpotensi best-seller.

Normalnya, penerbit akan mengeksploitasi karyamu dalam masa 3 hingga 5 tahun, dan bila sudah terlewat masa itu, penerbit akan memperbarui surat perjanjian. Namun, terkadang surat perjanjian itu tidak diteruskan bersebab beberapa hal.

  • Bukumu tidak laku. Buktinya adalah banyak sisa-sisa stok yang penerbit harus memberlakukan sale stock alias dijual murah.
  • Penerbit sudah gulung tikar alias tidak bisa lagi melanjutkan bisnisnya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Solusi Saat Stres karena Writer’s Block

writer's block

Hati gundah, kepala pusing, merasa karya nggak kelar-kelar, dan tangan yang bingung mau mengetik apa. Itu tandanya kamu terkena writer’s block. Pada kondisi seperti itulah, seorang penulis baik penulis pemula maupun yang sudah profesional, akan mengalami gangguan yang mendekati kondisi stres.

Saya terkadang terkena masalah ini, disebabkan dalam berkarya kekurangan referensi, sehingga saya kebingungan mengembangkan konten ke arah yang lebih jauh. Walau terkadang, sebagaimana pengalaman, saya juga pernah stres karena justru terlalu banyak referensi.

Terlalu banyak referensi kok bisa stres?

Bisa. Hal ini disebabkan saya khawatir untuk terlalu menjejali pembaca dengan banyak data, ramai teori, dan sebaliknya justru minimnya pencerahan dan teknik yang langsung bisa diaplikasikan.

Hal itu tentu menyebalkan.

Nah, biasanya apa yang saya lakukan ketika terkena writer’s block?

Satu hal yang pasti, ketika writer’s block menyerang, hal tersebut wajar saja, bahkan bisa menyerang siapa saja yang bekerja di industri kreatif. Solusi terbaik agar kita bisa memecah kebuntuan tersebut menurut saya adalah dengan meninggalkan sejenak proses penulisan tersebut, dan mengalihkannya kepada kegiatan yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan menulis.

Pertama, dengan menonton film, bermain game, futsal, bermain rubik, atau melakukan perjalanan. Hal-hal seperti itu akan terasa bermanfaat karena memberimu energi dan kesegaran baru.

Kedua, mungkin kamu kurang tidur akibat bergadang terlalu lama dalam mengerjakan naskah. Efeknya tentu membuat kepalamu terasa sangat penat dan berat. Tidurlah. Orang sukses adalah orang yang tidurnya nyenyak. Bukan orang yang punya banyak harta, namun tidurnya tak nyenyak karena banyak utang di sana-sini. Yoris Sebastian, pakar dunia kreatif di Indonesia bahkan pernah mewejangi bahwa kasur yang empuk dan nyaman untuk tidur adalah investasi terbaik bagi seorang pekerja kreatif. Hal ini tentu menyiratkan bahwa tidur adalah investasi yang kita perlukan agar energi baru kreativitas terus tumbuh untuk melahirkan karya terbaik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!