Panduan Self-Editing

swasuting

Istilah self-editing ditujukan bagi para penulis agar mau melakukan swasunting bagi naskahnya yang akan dikirimkan ke penerbit atau media massa.

Self-editing perlu dilakukan, karena semakin minim kesalahan, semakin baik dan meningkatkan kredibilitas sang penulis.

Itulah mengapa self-editing perlu dilakukan.

Lalu, bagaimana cara melakukan self-editing, atau apa saja yang perlu dilakukan dalam rangka self-editing?

  1. Tidak ada salah tik. Yah, toleransinya satu-dua, lah. Kalau terlalu banyak, kan menyebalkan juga.
  2. Sesuaikan dengan kaidah penulisan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia) yang benar. Apakah ditulis dengan huruf besar, apakah harus dispasi ataukah tidak, dan lain sebagainya. Kata-katanya juga harus diperhatikan, apakah analisis atau analisa, kokoh atau kukuh, antri atau antre. Cek selalu KBBI, ya. Ada versi daringnya, kok.
  3. Cek arti dari kata yang kita maksudkan. Misalkan kasus yang paling sering adalah menggunakan kata “bergeming”. Bergeming itu artinya diam. Tidak bergeming, berarti tidak diam. Nah, cek lagi kata-kata yang kita gunakan, apakah sudah sesuai maksud atau belum. Cek KBBI lagi. Jangan membuat malu diri karena kita salah memilih kata, padahal inginnya sok keren.
  4. Periksa lagi, apakah masih ada kata yang disingkat, seperti “yg”, “knp”, dan lain sebagainya. Mungkin saking terbiasanya menulis chat, maka menjadi seperti itu.
  5. Apakah ada kata yang terlalu sering diulang, misalnya “saya”, “kita”, dan kata-kata yang lain. Kalimat seperti ini: saya tidak tahu saya harus ke mana setelah acara ini selesai. Bisa diubah menjadi: saya tidak tahu harus ke mana setelah acara ini selesai. Nah, tahu perbedaannya, kan?
  6. Perhatikan tanda baca. Jangan menggabungkan tanda seru dan tanda tanya. Adakah titik yang berlebihan? Adakah tanda koma yang terlalu sering digunakan. Cek lagi.
  7. Jangan sampai hambur kata. Bila bisa menggunakan delapan kata saja, mengapa harus dua puluh kata dalam satu kalimat. Jadikan padat, efektif, dan bermakna.
  8. Cek lagi hubungan antarparagraf, kata penghubung antarkalimat, dan sudahkah maksud tertuangkan dalam tulisan? Bila belum, rangkai lagi hingga maksud tersampaikan namun naskah tetap enak dibaca.

Ada pula yang bertanya seperti ini: kalau memang kita sudah melakukan self-editing, apa gunanya editor di penerbitan?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

4 Pilar Menjadi Penulis Profesional

Menjadi Penulis Profesional

Dibayar mahal hanya dengan menulis? Enak amat!

Kenyataannya memang begitu. Dan kedengarannya memang menarik. Memang menggiurkan menjadi penulis profesional.

Namun, sebelum kamu kepincut dengan profesi penulis profesional ini, ketahui dulu, apa yang membuat seorang penulis profesional tetap lestari dengan profesinya dan bisa meraup kesuksesan.

Pilar Pertama: Perbaiki Kualitas

Saat karya kita baik, ada saja jalan yang terbentang bagaimana karya kita tersebut kemudian berhasil terbit, dan bahkan mendapatkan bonus menjadi best-seller.

Bahkan, sering kali tak memandang umur penulisnya.

Ini tentu mengejutkan.

Zlata Filipovice, misalnya. Gadis belia ini menulis catatan harian sepanjang 1991-1993, kala perang Bosnis. Catatan harian tersebut kemudian dibukukan dengan judul Zlata’s Diary, dan kemudian meraih best-seller. Kabar dari negeri sendiri, seperti Rachmania Arunita, menulis Eiffel I’m in Love yang kemudian difilmkan itu, saat masih SMA.

Artinya, saat kita mendapatkan pekerjaan dari klien, entah menulis biografi, menulis annual report, ataupun proyek penulisan yang lain, lakukan dengan maksimal. Perbaiki kualitasnya. Saat kita berhasil dengan proyek berkualitas, proyek yang lain akan datang dengan sendirinya.

Maka, yang harus kita perhatikan untuk menjadi penulis profesional adalah kualitas karya, bukan yang lain. Yang lain cenderung akan mengikut.

Pilar Kedua, Manajemen Waktu

Terdengar klise memang. Akan tetapi, kemampuan kita memanejemen waktu adalah kunci dari seberapa profesional kita menjadi penulis.

Pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang membutuhkan kedisiplinan tinggi. Apalagi sebagai penulis profesional. Musuh terbesar bukanlah macetnya jalanan, atau gangguan lain yang bersifat eksternal. Namun, tantangan terbesar dari seorang penulis profesional adalah diri sendiri. Dan tantangan itu adalah kegagapan mengatur waktu.

Tiap penulis profesional dituntut memiliki keahlian mematahkan deadline dan menjinakkan tenggat waktu.

Dalam sehari, kita sama-sama teranugerahi 24 jam. Semakin baik kita mampu mengelola waktu, akan semakin baik pula hasil pekerjaan kita.

Mari kita telaah kembali.

Dalam sehari, dalam waktu apa saja kita sering membuang-buang waktu.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!