6 Cara Menaklukkan Karyawan Generasi Milenial (Setiap Bos Harus Baca!)

generasi Y

Dalam How Millenials Want to Work and Live, Gallup melaporkan bahwa ada enam rekomendasi yang bisa dilakukan untuk menaklukkan Generasi Milenial atau biasa disebut dengan Generasi Y–sebuah generasi yang lahir antara wal tahun 1980-hingga 2000–di perusahaan atau organisasi kita.

Satu, generasi milenial bekerja bukan hanya untuk gaji, mereka bekerja untuk tujuan yang lebih besar. Bagi generasi milenial, bekerja harus memiliki makna. Mereka ingin bekerja pada organisasi yang memiliki misi dan tujuan yang cocok dengan nilai mereka. Bagi mereka, kompetensi penting dan harus adil, tetapi hal itu tidak menjadi faktor pendorong. Penekanan pada generasi ini bergesari dari sekadar paycheck menjadi purpose.

Dua, generasi milenial tidak mengejar kepuasan kerja, tetapi mereka mengejar pengembangan diri. Ternyata, sebagian besar milenial tidak peduli pada fasilitas kesenangan, sebagaimana yang ditawarkan oleh perusahaan startup seperti makanan gratis, mesik kopi yang mewah, fasilitas olah raga yang keren, dan fasilitas lain. Yang mereka butuhkan justru satu: akses pengembangan diri yang luas.

Tiga, genrasi milenial tidak menginginkan BOS, mereka menginginkan COACH. Ini adalah dua kata yang berbeda. Yang pertama cenderung hanya menyuruh dan komunikasi satu arah yang menyebalkan. Sedangkan yang kedua, adalah pelatih yang bisa membantu mereka memeahami dan mengembangkan keahlian mereka.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Tiga Hal yang Perlu Saya Sampaikan kepada Penulis Pemula

tips menulis pemula

Untuk menjadi penulis, tidak kemudian saya lahir langsung menjadi penulis. Saya berlatih sangat banyak. Sangat sering. Dan saya berlatih di sepanjang hidup saya. Saya berlatih menulis sejak saya menjadi Ketua Departemen Publikasi di OSIS SMA. Programnya tentu saja yang terkait dengan dunia penulisan. Ada mading, majalah, hingga buletin sekolah. Sejak saat itu, saya keranjingan menulis. Selepas SMA, saya pun ikut membidani lahirnya beberapa buletin di kampus. Dan sejak masa kuliah itulah, saya sudah membuat naskah buku. Selepas kuliah, saya mengajukan beberapa naskah tersebut ke beberapa penerbit. Dan sukses tertolak. Tak menyerah, saya pun kemudian terus memperbaiki naskah nonfiksi saya tersebut. Selepas kuliah, karena saya kuliah di jurusan pendidikan, saya mengajar selama setengah tahun. Merasa tidak memiliki passion dalam institusi pendidikan, saya memilih resign.

Saat itu, ada lowongan di sebuah penerbit, dan saya memberanikan diri melamar pekerjaan menjadi editor, padahal saya sama sekali tak memiliki latar belakang pendidikan di bidang sastra. Semua hanya berbekal: saya merasa bisa menulis, saya suka membaca, dan saya sudah menghabiskan banyak sekali buku untuk dibaca. Jadi, saya kira, passion saya dalam dunia penulisan-penerbitan sudahlah terlalu menggila.

Tak dinyana, saya diterima.

Sejak saat itu, saya makin girang, karena merasa menemukan industri yang cocok dengan passion. Sejak itu pula, sudah tak terbendung karya saya, baik untuk membantu penulis baru meraih best-seller, hingga saya sendiri pun hingga catatan ini diturunkan, sudah menulis lebih dari 23 buku, mengisi banyak workshop, seminar, juga training tentang penulisan-penerbitan.

Lalu, apa hal terbaik yang bisa saya bilang kepada para penulis pemula?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!