8 Manfaat Memberi Maaf

memberi maaf

Tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tak pernah disakiti, bahkan sebaik apapun orangnya. Iya, jadi orang baik pun, malah justru sering disakiti. Iya, kan? Tetapi, orang-orang baik memang selalu melakukan satu hal: memberi maaf. Dadanya lapang banget. Energi kemaafannya luas banget. Bayangkan, Amelia Ahmad Yani, yang menyaksikan sendiri ayahnya, Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani, terbunuh pada peristiwa 30 September 1965. Sempat mengalami trauma memang, tetapi dengan tulus, akhirnya Amelia memaafkan semua orang yang terlibat dalam peristiwa tragis tersebut. Atau, Nelson Mandela, yang memaafkan semua musuh-musuh politik yang telah membuatnya dipenjara selama 18 tahun! Dan itupun tanpa dakwaan yang jelas. Bahkan, setelah ia menjabat presiden, tidak serta merta menggunakan kekuasaannya untuk menangkap musuh-musuh politiknya.

Nah, walau memberi maaf tidak bisa dilakukan oleh semua orang, namun kita bisa menilik lebih dahulu apa manfaat dari memberikan maaf, agar memaafkan mudah untuk kita lakukan ke depannya.

Satu, tekanan darah dan detak jantung yang tadinya tidak normal karena menyimpan kemarahan menjadi normal kembali.

Dua, tidur pun menjadi lebih nyenyak karena perasaan menjadi lebih lega.

Tiga, tingkat kekentalan darah berkurang, sehingga baik untuk sistem peredaran darah.

Empat, sistem kekebalan tubuh meningkat karena otak tidak beraktivitas terlalu berat seperti dialami oleh orang yang marah dan stres.

Lima, tekanan darah yang tadinya meningkat tidak normal saat menyimpan kemarahan, semakin stabil.

Enam, raut wajah menjadi lebih bahagia karena otot alis mata yang tadinya tegang telah mengendur.

Tujuh, hidup lebih lama dibandingkan orang yang tidak memaafkan, sebagaimana dirilis oleh The Journal of Behavioral Medicine.

Delapan, stres berkurang karena otot-otot yang tadinya tegang mulai mengendur.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Goweser Pemula Harus Tahu 5 Hal Penting Ini

tips bersepeda

Menjadi goweser bagi beberapa orang memang hal yang mengasyikkan. Saya sendiri menikmatinya. Apalagi, selepas subuhan, sembari menikmati udara segar pagi dan senyuman matahari pagi yang baru saja terbit.

Akan tetapi, banyak para goweser pemula yang tidak tahu tentang 5 hal penting ini, padahal ini sangat dasar dan perlu untuk diketahui sebelum memutuskan menjadi goweser andal. Yap, andal, tanpa jepit. Karena kalau pakai jepit, itu berarti sandal.

Oke, garing.

Satu, jangan lupa untuk mengatur ketinggian sadel pada saat mengayuh sepeda, agar posisi lutut sedikit tertekuk pada saat kaki kita berada pada posisi pedal.

Dua, jangan mengerem dengan seluruh jari saat panik, karena akan membuat kita rentan jatuh. Harusnya, hanya menempatkan dua jari saja, yakni jari tengah dan jari telunjuk pada tuas rem.

Tiga, gunakan rem depan dan rem belakang secara bersamaan. Tentu saja, kalau hanya menggunakan rem depan, kita akan terjungkal. Hanya mengandalkan rem belakang juga tidak baik, karena akan berpengaruh pada keseimbangan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Untuk Para Pebisnis, Inilah 3 Hal Menarik yang Bisa Kita Pelajari dari Cara Berpikir Jack Ma

Sebagai sosok fenomenal tahun ini, Jack Ma kemudian menjadi perbincangan di mana-mana. Wawancara dengannya menjadi buruan media. Para entrepreneur berebutan belajar darinya. Dan dari semua itu, saya tertarik dengan tiga hal dari Jack Ma. Yaitu cara berpikirnya bagaimana dia bisa sebesar dan sedahsyat seperti sekarang.

Satu, cara berpikirnya tentang pekerjaan

Ketika ditanya, “Apa pekerjaanmu?” Jack Ma secara unik menjawabnya dengan, “My job is to help more people have jobs.” Gendeng! Jawaban seperti itu baru bisa keluar dari orang-orang yang berpikir besar. Atau, dalam kesempatan lain, Jack Ma menjawabnya dengan, “My job is making money, helping other people make money. I am spending money, trying to make sure more peple get rich, because you cannot spend a lot of money, right? So my job is spending money and helping others.”

Atau, dalam kesempatan lain, Jack Ma menjawab dengan lebih greget namun intinya sama, “Help young people. Help small guys. Because small guys will be big. Young people will have the seeds you bury in their minds, and when they grow up, the will change the world.”

Dua, cara bepikirnya tentang apa yang membedakannya dengan orang kebanyakan

Menyadari diferensiasi diri sangat penting, karena itulah kekuatan yang bisa menjadikan kita bersinar di tengah jagat talenta lain di muka bumi ini. “You should learn from your competitor, but never copy. Copy and you die!” kata Jack Ma tentang ini. Nah, bagaimana Jack Ma bisa sukses di dunia startup, padahal dia juga tak memiliki kemampuan mumpuni dalam dunia teknologi. Jawabannya sungguh mengejutkan, “I’m not a tech guy. I’m looking at the technology with the eyes of my customers, normal people’s eyes.”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

Ternyata, penelitian modern bahkan memutuskan satu perkara penting: layaknya barang, kebahagiaan bisa kita dapatkan dengan uang.

Pada tahun 2016, Universitas Cambridge mengadakan penelitian untuk mencari relevansi antara kebahagiaan dan uang. Dan hasilnya memang mengejutkan: uang ternyata dapat dikorelasikan dengan kebahagiaan. Akan tetapi, dengan satu syarat, sebagaimana hasil penelitian itu mereka tuangkan dalam artikel bertajuk Spending for Smiles: Money Can Buy Happiness After All, bahwa membelanjakan uang sesuai dengan kepribadiannya akan mendapatkan kebahagiaan lebih.

Contoh paling konkret dan mudah kita pahami adalah, seseorang yang memiliki kencenderungan introvert misalnya, akan lebih memiliki kebahagiaan manakala menggunakan uangnya untuk membeli barang yang sesuai dengan kepribadiannya, misalkan untuk membeli buku.

Hal ini senada dengan apa yang dilangsir oleh Erita Narhetali, seorang dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, bahwa kepemilikan yang akan mendorong seseorang untuk memiliki emosi positif. Emosi tersebut kemudian mengekspresikan keterbukaan, keinginan untuk mempelajari lebih banyak sudut pandang, lebih berinteraksi dengan orang lain, dan menikmati proses memberbaiki berbagai hal agar menjadi lebih baik.

Intinya, uang kemudian menjadi alat untuk membeli hal-hal yang mengundang emosi positif sehingga kita kemudian merasa bahagia. Emosi positif yang dimaksud oleh Erita Narhetali adalah rasa senang, kebahagiaan, cinta, serta harga diri.

Kalau dipikir-pikir, benar juga, sih. Saat kita memiliki uang, kita dapat melakukan apa saja hal-hal yang kita suka, yang membutuhkan ketersediaan uang. Sebaliknya, saat kita tak memiliki uang, hati cenderung gelisah, gusar, mudah panik, dan itu menarik emosi negatif untuk hadir. Misalkan, mudah marah, mudah tersinggung, dan lain sebagainya.

Iya, kan?

Nah, akan lebih bahagia lagi, kalau uang dijadikan alat untuk membeli pengalaman. Karena tingkat kebahagiaan akan berbeda, manakala uang kemudian digunakan untuk membeli pengalaman, daripada untuk membeli barang.

Beli laptop Xiaomi terbaru, kebahagiaan paling banter dua minggu. Saat masih baru, disentuh-sentuh dan disayang-sayang dengan riang. Saat dua minggu berlalu, perasaan sih masih bahagia, tapi ya biasa aja.

Beda, kalau punya duit yang setara untuk beli Laptop tersebut kita gunakan untuk backpacker-an ke Singapura. Tiga bulan kemudian, saat kita melihat koleksi foto-fotonya, perasaan bahagia kita akan membuncah lagi, bahkan cenderung ingin mengulangi pengalaman seru itu.

Nah, kebahagiaan itu akan lebih langgeng lagi, kalau kita berani untuk membeli kebahagiaan level abadi. Apa itu? Menyedekahkannya kepada yang membutuhkan. Atau dalam bahasa umumnya, menggunakannya bukan untuk konsumsi pribadi, namun untuk orang lain.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!