Menjaga Nyala Nyawa Peradaban

“Jika seseorang memerhatikan biografi dan sejarah perjalanan para ulama,” tutur Ali bin Muhammad Al-Imran dalam Al-Musyawwiq ilal Qira’ah wa Thalabil ‘Ilm, “tentulah dia akan mengetahui betapa besar usaha yang mereka korbankan, baik dari sisi waktu yang panjang, usaha mereka yang mati-matian, hingga kesabaran yang indah di dalam menulis kitab-kitab besar dan kitab kompilasi agung.”

Masih sebagaimana yang diterakan dalam kitab tersebut, ternyata selain sibuk menulis karya sendiri, para ulama juga sibuk untuk menyalin kitab lain agar menjadi koleksi khusus baginya. Misalnya adalah Al-Hafizh Al-Mizzi menyalin dua kitab tebal Tuhfatul Asyraf dan Tahdzibul Kamal dengan tangannya sendiri. Hebatnya, bahkan ia melakukannya lebih dari sekali.

Ismail bin Zaid, sang pemburu hadits, menulis semalam suntuk untuk 70 lembar catatan yang rinci. Abdul Wahhab Al-Anmathi mengumpulkan keterangan-keterangan lalu mentakhrijnya—yang barangkali tidak ada satu pun riwayat kecuali telah beliau dapatkan manuskripnya. Di samping itu, beliau juga menyalin buku-buku besar, seperti Ath-Thabaqat Ibnu Sa’d dan Tarikh Al-Khatib. Abdul Qadir Ar-Ruhawi menulis banyak kitab dengan tangannya sendiri. Beliau pernah tinggal di madrasah milik Ibnu Al-Hanbali, Damaskus, beberapa waktu, hingga mampu menyalin Tarikh Ibn Asakir. Ahmad bin Abduddaim Al-Maqdisi menulis kitab-kitab besar yang tak diketahui beberapa jumlahnya.

Jika sedang tak ada pekerjaan, beliau menulis sembilan kitab atau lebih. Dan jika ada pekerjaan, hanya mampu menulis lima kitab saja. Kerennya lagi, beliau pernah menulis Al-Khiraqi dalam semalam, sedang Tarikhusy Syam karya Ibnu Asyakir dua kali, dan Al-Mughni karya Syaikh Muwafiquddin beberapa kali.

Menurut keterangannya sendiri, telah 2.000 jilid kitab ia tulis dengan tangannya sendiri. Selama 50 tahun lebih beliau telah menekuni tulis-menulis ini. Jika musim panas tiba, dan untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap dingin, Abu Abdillah Al-Humaidi Al-Andalusi berendam di ember yang telah diisi air sembari tetap menyalin sebuah kitab.

Duhai, kitab-kitab tersebut, tebalnya saja berjilid-jilid. Membacanya saja membutuhkan waktu teramat lama, apalagi menuliskannya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menghadirkan Cahaya Cordoba di Pojok Nusantara

Penaka panen raya di tengah kelaparan yang membusung lambung, bagi kaum Yahudi dan Kristen di Andalusia, kehadiran Thariq bin Ziyad dan pasukannya sudah dinanti-nanti. Polah Raja Gothic sudah memuakkan kehidupan mereka. Maka, sepenggal waktu kemudian, saat Thariq bin Ziyad dan 12.000 pasukannya yang masyhur dengan strategi bakar kapal demi melangitkan spirit pasukannya itu, berhasil melantakkan kepongahan kezaliman yang sudah meraja.

Sebagai ibukota Andalusia, Cordoba kemudian dijadikan pusat pemerintahan kekhalifahan Islam di bumi Eropa. Andalusia kemudian berangsur menjadi negeri berlimpah cahaya keilmuan, hingga kemudian pada 711 M menjadi saksi cikal bakal sebuah pusat peradaban bernama Universitas Cordoba. Sinergi manis antara pemerintahan yang adil, dengan rakyat yang memiliki keragaman berhasil diguyubkan dan mengejawantah menjadi tali yang kuat untuk kemudian bersama membangun Cordoba lebih anggun lagi.

Pada 786 M, khalifah Abdurrahman I meresmikan masjid terindah nan megah bernama Masjid Jami Cordoba. Seribu tiang besar jua kecil dipancangkan, dengan penerangan 113 buah yang tersebar cermat, agar setiap sudutnya tak hadir gulita dan memudah para abid melaksana aktivitas wajib maupun sunnahnya. Bagaimana tidak, satu penerang tertampung 1000 lampu, dan penerang paling kecil termuat 12 lampu. Paduan warna cantik merah, putih, biru, hijau dengan tambahan hitam indah celak, menghiasi lorong panjang berbentuk lengkungan, masih ditambah ukiran dan hiasan lain yang elok bertebaran. Semuanya tersuguhkan dengan cermat, indah, dan nyaman sebagai tempat beribadah sekaligus pusat keilmuan.

Di situ, jamaah mendapatkan pelayanan yang memanjakan pandangan dan memuaskan akal. Gelaran ilmu seolah banjir bandang. Deras, riuh. Bedanya, hanya pada ketertataannya. Imbasnya, pola hidup kemasyarakatan pun berubah. Tercatat toko-toko untuk mendukung keperluan masyarakat yang hilir-mudik berburu ilmu sebanyak 80.455. Pemandian umum sebagai sarana bebersih tersedia 900 bilik, dan masjid-masjid lain selain Masjid Jami Cordoba sendiri, terhitung 3.837, sehingga membuat Andalusia menjadi kian terasa nuansa barakahnya.

Sepenggal waktu kemudian, yakni pada 912 M, Masjid Cordoba kemudian diubah oleh Abdurrahman III, yakni Abdurrahman An-Nashir, menjadi Universitas Cordoba, demi kemajuan peradaban Islam itu sendiri. Berbagai bidang studi mulai ditata lebih rapi dan diajarkan dengan penuh hikmat, seperti akidah, bahasa, Al-Qur’an, juga beragam bidang khusus seperti geografi, matematika, fisika, kimia, sejarah, kedokteran, hukum, jua astronomi.

Abdurrahman III, sebagai pemimpin yang juga gemar akan ilmu, secara rutin dan khusus memanggil lulusan Al-Azhar dari Mesir dan Al-Qarawiyyin dari Baghdad, untuk berbagi ilmu di Universitas Cordoba. Abdurrahman III paham benar, bahwa ilmu adalah hal utama bila ingin mengangkat martabat negerinya. Bila keilmuan dikemas benar, kondisi ekonomi, politik, militer, sosial, akan menderajat naik.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

5 Teknik Menulis Judul yang Menyedot Perhatian

Sebagai bagian penting dari sebuah artikel, judul menjadi pencuri perhatian paling besar. Ada beberapa orang yang mengeksekusinya dengan cara yang berbeda. Ada yang membuat judulnya terlebih dahulu, baru membuat isi. Ada yang yang membuat isinya terlebih dahulu, judulnya belakangan. Saya pun melakukan kedua-duanya. Bahkan, saya sering hanya membuat judul, tanpa pernah mengeksekusinya menjadi sebuah artikel. Oke, kalau yang itu jangan ditiru yang Inspener. Saya memang agak kelebihan ide. Terkadang malah butuh orang-orang yang mau menampung ide saya dan mau berlapang hati dan waktu untuk mengeksekusinya menjadi artikel atau buku.

Baiklah, sudah curhatnya.

Selama lebih dari delapan tahun saya menjadi editor dan telah membidani lahirnya puluhan buku best seller, hukum itu masih saja berlaku: membuat judul buku bukan perkara yang mudah. Sering kali saya terpercik judulnya terlebih dahulu, baru saya buat konsep bukunya secara keseluruhan, kemudian baru saya cari penulis yang cocok untuk mengeksekusinya. Yah, saya memang terlalu sering bersedekah ide buku, untuk kemudian dieksekusi penulisannya oleh penulis lain, padahal sebenarnya saya juga bisa menulisnya sendiri. Akan tetapi, ada kenikmatan sendiri ketika membantu para penulis—terlebih lagi para penulis yang baru membuat buku pertamanya—untuk kemudian menjadi rekan diskusi dan membantunya membuat buku yang keren.

Beberapa buku best seller yang lahir dari rahim ide saya, yang judulnya terlahir lebih dahulu daripada isinya beberapa di antaranya adalah: 101 Young CEO, Emperpreneur: From Emperan to Empire, Sejenak Hening, 101 Strategi Sukses Berbisnis Kuliner, Spritual Creativepreneur, dan masih banyak lagi. Bisa dicek di Gramedia. Ada nama saya sebagai editor, dan silakan dicek juga berapa kali buku-buku itu sudah cetak ulang.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!