5 Bloger yang Penghasilannya Miliaran Bahkan Triliunan dan Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Mereka

Siapa menyangka, bahwa dari aktivitas ngeblog, bisa menghasilkan miliaran, bahkan triliunan. Helo, itu uang yang banyak. Banyak banget, malah!

Dulunya, waktu internet belum semasif sekarang, aktivitas ngeblog masih sebatas curhat di blog, atau sharing catatan pribadi yang ‘cenderung’ nggak penting. Tetapi, nyatanya kedelapan bloger kaya raya ini mampu membuktikan bahwa bila ngeblog dilakukan dengan seharusnya, bisa menghasilkan duit yang banyak.

Bayangkan, ngeblog bisa dilakukan di mana saja, selama ada koneksi internet. Bila dulu hanya bisa dilakukan lewat laptop, sekarang bahkan bisa dilakukan lewat ponsel. Dengan digabung dengan kemampuan menulis yang mumpuni, hujan duit bisa datang.

Baiklah, inilah lima bloger berpenghasilan miliaran bahkan triliunan dan apa yang bisa kita pelajari dari mereka.

1 – Pete Cashmore

Menurut Sunday TImes, Pete Cashmore memiliki kekayaan sebanyak 230 juta dolar AS, atau bila dirupiahkan senilai 3,12 triliun!

Hanya berawal dari sebuah kamar kecil nan berantakan di Skotlandia, Pete Cashmore mulai ngeblog saat ia baru berumur 19 tahun. Tapi, walau umurnya baru segitu, bukan berarti dia ngeblog tentang curhatan pribadi yang galau dan tak bermutu. Pete Cashmore ngeblog dengan tema bisnis, teknologi, gaya hidup, dan dunia hiburan. Nama blognya adalah Mashable. Yap, sekarang, blog tersebut berubah menjadi media rujukan banyak orang, karena memang secara cepat menghadirkan informasi yang dibutuhkan dalam dunia teknologi, gaya hidup, dan juga bisnis serta hiburan.

Dan kerennya, sekarang sebagai pendiri dan CEO dari Mashable, Pete Cashmore juga rutin menulis kolom teknologi dan media sosial di CNN.

Apa yang kita bisa pelajari dari Pete Cashmore? Menyajikan tema yang jelas, dan konten yang konsisten dalam blog. Membuat blog yang bermutu dengan trafik dan komunitas yang baik butuh waktu. Tidak asal jadi dalam hitungan hari. Bisa berbulan bahkan bertahun. Konsistensi diperlukan di sini. Tetapi, selama menulis dan berada dalam dunia media adalah passion-mu, saya kira kamu tak perlu mengkhawatirkannya. People with passion can change the world, bukan?

2 – TImothy Sykes

Penghasilannya per bulan bisa sebesar US$180 ribu, dan itu didapat hanya dengan mengelola blognya TimothySykes.com. Walaun UI dan UX dari blognya biasa saja menurutku, tetapi dengan memiliki penghasilan sebesar itu, tentu saja sangat menggiurkan dan kita perlu tahu, apa yang dilakukannya dengan blog tersebut.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

6 Cara Membangun Kebiasaan Kreatif dan Inovatif

Menjadi pribadi yang kreatif tentu saja bukan bakat, ia adalah kebiasaan. Sebagaimana kebiasaan lainnya, ia bisa dilatih. Ia bisa dibiasakan, agar terbiasa. Terbiasa apa? Tentu saja terbiasa kreatif. Saat kreativitas dibiasakan, ia akan berkembang. Dan saat ia berkembang, kita akan terus menghasilkan inovasi.

Jadi, alurnya memang membiasakan diri untuk kreatif terlebih dahulu, baru akan tercipta hal-hal inovatif. Berikut ini beberapa hal yang bisa kita lakukan agar terbiasa dengan kreativitas dan melahirkan inovasi.

1 – Membiasakan Otak dan Tindakan

Masalah utama mengapa kita kita sulit banget berpikir kreatif adalah faktor kebiasaan berpikir dan juga bertindak. Kreatif itu hasil dari pola pikir yang berbeda dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Artinya, perbedaan mendasar dari orang kreatif dan nonkreatif hanya satu: orang yang kreatif sering melatih otakanya; sering membiasakan otaknya untuk berpikir kreatif; agar bisa mendapatkan jawaban yang berbeda dengan jawaban yang sudah ada, sedangkan nonkreatif tidak melakukannya.

2 – Melawan Kultur

Di sebuah perusahaan besar, sering kali kreativitas tidak bekerja dengan baik, karena kultur sistematis yang ada. Kultur sistematis ini memang menghambat kreativitas. Bahkan, para petinggi perusahaan pun tahu hal itu. Oleh itulah, mengapa perusahaan sering kali mengadakan acara outing atau outbound, atau hal-hal lainnya yang dianggap bisa menghadirkan kreativitas bagi karyawannya. Tetapi, setelah acara itu selesai, nyatanya keadaan juga tidak berubah.

Mengapa?

Karena memang kultur sistematis itu. Cara kerja, alur kerja, suasana, dan segala hal yang ada memang tidak ramah dengan kreativitas. Bila jasa atau produk yang ditawarkan dari perusahaan tersebut menuntut daya kreativitas yang tinggi, tentu saja kultur perusahaan harus diubah agar ramah dengan kreativitas.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!