Mengapa Setiap Startup Founder Harus Membaca Building a Meaningful Startup Karya Brilliant Yotenega?

Dalam sebuah grup WhatsApp bertajuk Startup Founder besutan Mas Moffy, ada yang nyeletuk yang intinya begini: “Bila ingin membangun startup, jangan kebanyakan membaca berita pendanaan yang gilaan-gilaan di Tech In Asia ataupun Daily Social, Itu hanya akan membuatmu terlalu fokus pada hip, dan lupa pada tujuan awalmu: mengapa harus membangun startup tersebut.”

Dan nahasnya, apa yang dikatakannnya memang benar. Kita lupa bahwa dalam hidup, ada juga satu kaidah sederhana yang memang telah berhasil dalam bidang apapun: pursue your passion, money will follow. Saat kita menghidupkan lentera jiwa, kita akan menikmati proses untuk memperbaiki skill, meluaskan kemampuan, dan memupuk visi hidup agar terus tumbuh di setiap harinya. Dan pada titik-titik tertentu, uang, popularitas, akan datang dengan sendirinya, seperti tak terbendung. Dan itu adalah ‘bayaran’ yang wajar dan bahkan sangat wajar, atas usaha bertahun-tahun yang terus kita kembangkan dan usahakan.

Sepertinya, kaidah sederhana itu juga berlaku bagi startup. Bila memang memiliki value yang cukup baik, uang yang entah dari pelanggan ataupun dari investor akan berdatangan dengan sendirinya. Yang harus dilakukan justru membangun fondasinya sekuat mungkin. Dan fondasi itu adalah: mengapa harus membangun startup tersebut. Saat pertanyaan terdasar itu terjawab dengan hebat, rinci, dan menggelorakan passion dari founder-nya, semua kerikil yang menjingkat perjalanan, saya kira akan tetap ditahan-tahan, karena tahu ada hal hebat  di depan yang siap untuk ditaklukkan.

Sebagai seorang creative junkie yang berada dalam lingkup penulisan dan penerbitan yang kental, membaca adalah aktivitas paling rutin yang saya lakukan selain menulis. Tentu saja, apalah artinya menulis, tanpa diiringi aktivitas membaca yang lebih sering. Semakin rakus kita membaca, akan semakin banyak asupan baik yang mengalir dalam diri. Dan saya kemudian menyimpulkan bahwa karya dari founder NulisBuku.com berjudul Building a Meaningful Startup adalah sebuah persembahan spesial sekaligus tercerdas bagi seluruh pegiat bisnis digital di tanah air.

Mengapa?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

The Secret of Taqwa

Rasa takut merupakan cambuk Allah untuk meluruskan orang-orang yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Bentuk takut kepada Allah adalah takut terhadap siksaan-Nya serta takut terhadap kewibawaan, keagungan, serta kemuliaan-Nya.

“Tidaklah rasa takut itu berpisah dari hati,” kata Abu Salman, “kecuali hati itu pasti akan binasa.”

Rasa takut kepada Allah tidak akan tercipta kecuali dengan mengenal Allah Yang Mahatinggi dan sifat-sifat-Nya. Sebagaimana dikata Fudhail bin Iyadh, “Rasa takut seorang hamba kepada Allah Ta’ala tergantung sejauh mana ia mengenal Allah. Sedangkan, kezuhudannya terhadap dunia tergantung sejauh mana ia merindukan surga.”

Takut kepada-Nya adalah ibadah termulia, yang takkan pernah diraih oleh hamba-Nya kecuali dengan kejujuran untuk bersegera menyambut seruan-Nya, dan meminggirkan hawa nafsunya. Seorang hamba yang takut kepada-Nya melakukan itu semua tentulah sebagai rasa pengagungan kepada-Nya.

Bukanlah yang menangis dan mengusap air matanya itu yang takut kepada-Nya. Akan tetapi, orang yang takut adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan akan disiksa karenanya.

Dalam hidup, mayoritas kita lebih banyak berharap daripada takut. Kita mengingat rahmat Allah, tapi lupa akan siksa-Nya. Kita berkhayal tentang surga-Nya, tapi pura-pura lupa akan neraka-Nya. Padahal, yang seharusnya dilakukan adalah kebalikan dari itu. Bila kita hendak menguji kebenaran rasa takut diri kepada Allah, lihatlah bagaimana diri berbuat saat dihadapkan dengan hal-hal yang diharamkan oleh Allah kala sedang sendirian.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!