Bila Antusiasme Penulis dan Pembaca Bertemu

Joker. Kulit putih pucat, rambut hijau berminyak dengan tubuh kerempeng. Karakter ini diganjar sebagai juara tertinggi dari 100 Greatest Villains of All Time oleh Wizard. Pria aneh dengan cengiran lebar. Beraksi gila dalam perampokan bank, pembunuhan berantai-rantai secara gelap, hingga pembunuhan massal. Dan coba tebak, ia melakukan semua itu karena ia pikir, “Ini menyenangkan!”

Penjahat kelas kakap lain macam Lex Luthor paling-paling hanya ingin menghancurkan musuh bebuyutannya saja. Tapi Joker, ia tak puas dengan itu. Ia bermain-main dulu dengan orang-orang terdekat musuh utamanya. Ia bermain-main dengan mereka dalam ruang kejahatan yang sangat pekat nan rumit. Keluarga komisaris Gordon, Todd, Barbara, semua kena ulah anehnya.

Setiap kemunculannya dalam komik, Joker selalu menghadirkan semangat di benak pembaca. Kesintingan, kerumitan, keanehan, ketidakkontrolannya, berbanding terbalik dengan Batman yang keras namun terkalkulasi.

Joker memegang rekor penjahat dengan otak paling brilian dalam kesintingan kejahatan, dan korban terbanyak dalam aksi brutalnya. Dan yang paling menakutkan dari itu semua adalah, ia tidak mencari keuntungan berupa kekayaan dari aksi-aksinya itu. Bginya itu adalah aksi dari penjahat kelas teri. Ia menganggap semua kejahatannya adalah lelucon. Ia kira semua itu adalah hal yang menyenangkan dan lucu!

Kegairahan. Gelora semangat. Minat besar terhadap sesuatu, biasa tersebut dengan antusiasme. Bagaimana bila antusiasme penulis bertemu dengan antusiasme pembaca?

 

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Penulis, Propaganda, dan Massa

Hitler. Secara lihai menghadirkan propaganda secara lengkap dan detail untuk memengaruhi. Ia menggagaskan adanya keharusan sebuah simbol bagi perjuangan partai Nazi. Fungsinya sebagai perwakilan simbol perjuangan, kebangkitan semangat, kepercayaan diri, dan penggalangan kekuatan massa secara massal.

Dalam Mein Kampf-nya pun dinyatakan seperti itu, bahwa tidak akan diperoleh banyak pengikut melalui sekadar penjelasan dan instruksi, akan tetapi ada dua hal pokok yang dapat menggerakkan massa: kesetiaan emosional dan histeria.

Jadilah perangkat-perangkat propaganda diluncurkan. Logo swastika akhirnya dipilih karena legendanya dan keberadaanya yang familiar selama ribuan tahun. Logo itu selalu mewakili ‘kebesaran’ dalam peradaban kuno. Tapi Hitler memodifikasinya, swastika ia balik ke arah kanan.

Untuk warna dalam bendera pun ia tak main-main. Merah adalah sosialisme, putih nasionalistis, dan hitam pada logo swastika adalah kemenangan dan kemurnian. “Keserasian warna paling brilian yang pernah ada,” pujinya pada pemilihan warna itu.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menjajal Live Writing

Ambil penamu. Siapkan juga buku catatan. Keluarlah melihat sekitar.

Rasakan ide-ide berhamburan mengalir lewat tangan, kemudian melumuri penamu dengan kerlip-kerlip kekata yang cantik untuk digoreskan di halaman putih buku catatanmu.

Apa kegunaannya?

(1) Menyegarkan lagi daya pandang imajinasi. Memberikan suntikan baru dan memberikan suplemen penguat yang akan mempertajam kekuatan bahan imajinasi.

(2) Menghadirkan momen istimewa. Tentu saja. Melihat-lihat objek sekitar kemudian langsung menuliskannya rasanya pasti fantastis.

(3) Melatih kecepatan. Saat kita langsung terjun untuk observasi, konsentrasi dan memori akan dituntut penuh untuk menghadirkan kecepatan dalam merangkai kata.

(4) Referensi imajinasi dan daya visual dalam otak akan semakin tajam dan kaya. Suatu saat, ia akan terpanggil dengan mudahnya bila kita memerlukannya untuk menulis suatu karya yang berhubungan dengannya tanpa perlu terjun lagi ke momen tersebut.

(5) Menunjukkan kalau kita bisa menulis kapan saja. Hanya berbekal pena dan buku, kita bebas berkarya tanpa tekanan dari siapapun, tanpa peduli untuk dikritisi siapapun. Latihan mental seperti ini akan menjadikan menulis sebagai suatu kegembiraan dan hal yang menyenangkan. Kerennya lagi, hanya berbekal seperti itu, kita sudah bisa menulis hal-hal menakjubkan.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Menulis yang Membebaskan

Nama pria ini John Mulligan. Umurnya sudah empat puluh sembilan tahun. Dia adalah seorang tentara Amerika yang bertugas pada masa perang Vietnam. Setelah pulang dari perang itu, Mulligan merasakan guncangan hebat dalam jiwanya. Ini tentu maklum saja, bagi penyuka sejarah, siapapun pasti tahu, medan Vietnam memang serasa neraka bagi serdadu Amerika.

Di jantung kota San Fransisco, Mulligan menjalani hari-harinya. Tapi sayang, tidak jelas arah hidupnya. Ia menjalani waktu demi waktu dengan luntang-lantung. Bayangan hari-hari semasa yang ia alami di Vietnam terus menghantuinya. Jiwanya terkoyak hebat. Pikirannya kacau. Hatinya tercabik-cabik. Ia memang selamat tanpa luka jasadi yang berarti di medan perang itu, tapi psikisnya remuk. Keluarga, sahabat, tetangga, orang-orang terkasih, tak lagi ia perhatikan. Ia acuhkan kesemuanya itu. Ia mengalami guncangan superhebat dalam kepribadiannya.

Koyakan kegelisahan hidup telah menjadi kawannya sekarang. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Arti hidup tak lagi jelas dalam pandangannya.

Hingga sebuah sejarah hebat dimulai. Ia ikut workshop menulis. Setelah itu, ia lalu banyak menuangkan segala beban ke dalam tulisan ternyata sangat efektif untuk menyembuhkan segala luka-luka psikologis yang sudah sedemikian parah menganga dalam dirinya. “Saya dulu seperti kerang kosong yang berjalan-jalan di jalanan. Menulis telah membuat saya merasa punya jiwa,” kata Mulligan penuh haru. Maka lahirlah kemudian, novel apik itu dari tangannya: Shopping Cart Soldiers.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Lenovo Yoga 700-11ISK Cocok untuk Penulis Sekaligus Desainer Grafis Seperti Saya

Bagi sosok dengan kapasitas mobile yang banyak seperti saya, saya selalu bertanya-tanya, laptop apa yang bisa memenuhi kriteria saya: harganya tak begitu mahal, namun bisa diajak untuk mobile enak, multimedia asik, dan untuk melakukan desain grafis juga tetap mendukung. Dan tentu saja, ringan, karena harus dibawa ke mana-mana sehingga tidak memberatkan tas, dan tentu saja harus irit, biar nggak selalu nge-charge.

Bayangkan, laptop apa yang seperti itu? Mungkin banyak kriteria yang masuk, tapi dengan harga yang nggak bikin kantong jebol, apa coba?

Saya menemukan Lenovo Yoga 700-11ISK. Dengan layar 11.6 inci dan benaman prosesor Intel Core m7 6Y75, yang merupakan varian prosesor irit daya yang dikeluarkan oleh Intel karena memiliki TDP kecil, yakni hanya sekitar 4.5 W! Prosesor dual core berbasis Sklake ini memiliki clock sebesar 1.2 GHz, termasuk standar, tapi itu sudah cukup. RAM DDR3 segede 4GB jadi andalan untuk multitasking, dan pekerjaan desain grafis saya terselesaikan dengan sempurna karena dukungan Intel HD Graphics 515 pada Lenovo Yoga 700-11ISK ini.  Beratnya pun hanya 1.1 kg! Dan tebalnya hanya 16 mm. Tak hanya itu, Lenovo Yoga 700-11ISK memiliki layar yang bisa diputar hingga 360 derajat!

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!