Menjadi Muslimah Inspiratif

muslimah inspiratif

Setiap pria dan wanita memiliki derajat hak dan tanggung jawab yang sama di sisi Allah Ta’ala. Namun, jangan berpikir bahwa persamaan ini juga menuntut tugas yang sama. Karena kedua-duanya mempunyai orbit edar yang berbeda. Tetapi, keberbedaan itu saling melengkapi tentunya.

Ingat bahwa, engkau adalah perempuan, dan dia adalah laki-laki. Yang masing-masing mempunyai bentuk, karakter, dan garis jalan yang berbeda.

Salah seorang sahabiyah yang bernama Qailah Al-Anmariyah adalah seorang pedagang yang harus pergi ke pasar. Dalam riwayat, ia pernah bertanya pada Rasululah.

“Ya Rasulullah, saya ini seorang pedagang. Apabila saya mau menjual barang, saya tinggikan harganya di atas yang diinginkan, dan apabila saya membeli saya tawar ia di bawah yang ingin saya bayar.

Maka, Rasulullah kemudian menjawab, “Ya, Qailah! Janganlah kau berbuat begitu. kalau mau beli, tawarlah yang wajar sesuai yang kau inginkan. Diberikan atau ditolak.”

Jadi, intinya sederhana, sebagaimana penuturan indah dari Ustadz Umar Tilmisani, bahwa Islam tidak melarang seorang wanita menjadi dokter, guru sekolah, tokoh masyarakat, perawat, peneliti dalam berbagal bidang ilmu, penulis, penjahit serta profesi lain sepanjang itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya.

Kehormatan wanita Barat terletak pada satu kata: kecantikan. Kehormatan akan mereka dapat bilamana berparas jelita, berbadan langsing, dan juga seksi.

Maka jika sudah begitu, segala macam rupa kemanjaan hidup akan didapatkannya. Majalah, televisi, dan semua media pun menggelar award untuk menghargai cantik dan jelita versi mereka itu. Namun, setelah masa menua hadir, rambut memutih, paras yang mengeriput, bodi yang tak lagi cihui, maka temarjinalkanlah sisi-sisi hidupnya.

Tak ada lagi kemanjaan. Tak ada lagi kehormatan. Maka, janganlah heran, begitu banyak iklan berbagai macam produk yang menawarkan cara melangsingkan tubuh. Memutihkan dan menghilangkan noda wajah, meluruskan rambut, dan mewangikan tubuh.

Nilai kemanusiaan diukur dari jasadi.

Masa-masa tuanya kemudian seringkali dirasakan berakhir di panti jompo. Tak ada belaian cinta dan kasih dari anak-anaknya. Tak ada rasa iba dan pembaktian dari sang pendendang jiwa.

Mengapa pula bisa begitu?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!