5 Hal yang Harus Kamu Lakukan untuk Menghadapi Pelanggan yang Komplain

Tugas pelanggan itu memang begitu. Bila puas, mereka akan mengabarkan dan merekomendasikan. Namun, bila tak puas dan merasa kecewa, mereka akan segera mengabarkan itu kepada bisnis kamu.

Anggap saja, pelanggan yang kecewa dan komplain adalah konsultan gratis, sehingga kamu tahu, di sisi mana bisnismu yang harus diperbaiki. Karena, berkat kritik dan komplain pelanggan, kita akan tahu produk dan jenis layanan seperti apa yang harus kamu kembangkan.

Jadi, tak perlu khawatir lagi, bila pelanggan datang dan merasa kecewa dengan produk atau layananmu. Heri Suchaeri dalam Total Customer, menyajikan cara tatktis untuk menghadapi pelanggan yang kecewa sebagai berikut.

1. Mendengar dan menyimak dengan baik.

Keahlian mendengar sangat diperlukan pada saat menghadapi pelanggan. Dengarkan permasalahan pelanggan secara aktif sehingga Anda dapat menangkap maksud dan keinginan pelanggan. Jangan sekali-kali memotong pembicaraan pelanggan, karena mereka akan tambah marah. Tetaplah mendengar dan menyimak dengan sungguh-sungguh.

Pelanggan tidak akan marah berjam-jam, jadi tunggulah sampai pelanggan tersebut menyampaikan semua permasalahannya kepada Anda. Posisikan Anda sebagai pelanggan yang sedang kecewa.

Anda akan memahami perasaan pelanggan. Berikan umpan balik dengan lisan atau bahasa tubuh. Kata-kata ”Ya, baik, oh, hmm” atau kata apa pun yang intinya menunjukan Anda aktif menyimak dan mendengarkan. Tunjukkan pula bahasa tubuh yang menguatkan seperti tanda anggukan kepala tanda setuju dan gunakan banyak kontak mata.

2. Tenang dan sabar

Bersikaplah sabar dan tenang. Buatlah diri Anda senyaman mungkin. Jangan tergesa-gesa memberikan JAWABAN. Tunggulah sampai pelanggan menyampaikan semua masalahnya.

Ambil napas dan aturlah perlahan-lahan. Sampaikan pendapat dan jawaban Anda setelah benar-benar pelanggan Anda menyampaikan keluhannya.

Ulangi perkataan dan pernyataan pelanggan tentang keluhannya guna memastikan bahwa Anda benar-benar mendengar dan menyimak.

Jika Anda tenang dan sabar, Anda akan bisa berpikir jernih dan tahu apa yang harus dilakukan.

3. Fokus terhadap masalah

Fokuslah terhadap masalah yang disampaikan pelanggan. Jangan berfokus pada orangnya ataupun cara penyampaiannya. Fokus berarti Anda berkosentrasi hanya pada keluhan pelanggan. Jangan pecahkan kosentrasi ke hal lain, karena ini akan mengacaukan pikiran Anda.

4. Minta maaf, berikan solusi dengan cepat dan tepat

Keinginan pelanggan adalah memperoleh tindak lanjut dengan segera. Ia tidak mau Anda menanggapi keluhannya besok. Ia ingin solusi saat itu juga. Jika Anda sudah mengerti akar permasalahannya, sampaikan terlebih dahulu permohonan maaf yang tulus. Setelah itu, bergeraklah dengan cepat dan tepat dalam memberikan solusi.

Jangan terlihat bermalas-malasan dan lambat. Buktikan bahwa Anda bersungguh-sungguh membantu pelanggan Anda untuk mencari solusi.

5. Bila ada kesulitan, carilah bantuan

Tidak seorang pun tahu tentang segalanya. Oleh karena itu, jika tidak tahu atau menemui kesulitan mencari pemecahan, jangan putus asa. Jangan pernah mengatakan tidak tahu, cari segera jawaban.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

12 Karakter Wajib Creativepreneur

Mengarungi hidup sebagai seorang creativepreneur adalah anugerah, sekaligus sebuah tantangan. Anugerah, karena tak semua orang bisa menjadi creativepreneur. Pengusaha kreatif yang menghadirkan produk atau jasa kreatif untuk menyelesaikan permasalahan orang-orang. Dan tantangan, karena sebagaimana dalam dunia usaha pada umumnya, selalu saja ada hal-hal yang menakjubkan, yah, mengagetkan, yang ada di hadapan untuk harus terus diselesaikan.

Nah, untuk kamu yang ingin maupun yang sudah terjun menjadi creativepreneur, kedua belas karakter ini harus ada dan tertanam dalam diri kamu.

1 – Adaptability

Kemampuan untuk menghadapi situasi baru dan menemukan solusi kreatif dari permasalahan-permasalahan yang ada. Misalkan dengan isu kenaikan BBM, perubahan customer behavior, dan aspek-aspek lainnya yang perlu disikapi dengan cepat.

Setiap pengusaha kreatif harus selalu beradaptasi pada situasi baru dan menemukan solusi kreatif atas permasalahan-permasalahan tersebut.

2 – Competitiveness

Kesediaan untuk terus bersaing dan menguji diri sendiri terhadap yang lain. Dalam dunia usaha, akan selalu ada dan juga tumbuh pesaing-pesaing baru. Hal ini wajar dan pasti akan dialami oleh semua pengusaha. Makanya, sikap untuk terus mau berkompetisi, melakukan yang terbaik, dan menghadirkan kekuatan terbaik harus menjadi karakter.

3 – Confidence

Sikap penuh keyakinan bahwa kamu bisa melalukan apa yang telah kamu terapkan dengan konsisten. Tetapi, sikap percaya diri jangan berlebihan, namun harus ditingkatkan. Kepercayaan diri harus ada, agar kamu bisa membangun networking dengan lebih baik. Apalagi, misalkan ketika pas presentasi. Tentu sangat aneh bila kamu tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup akan produk atau jasamu sendiri. Jika kamu tidak cukup percaya dengan produk atau jasamu, mengapa orang lain harus percaya, bukan?

4 – Discipline

Kemampuan untuk tetap fokus dan taat pada jadwal dan rencana serta deadline. Disiplin pada setiap target harian. Target bulanan. Juga target tahunan. Semua harus dilakukan dengan determinasi dan disiplin yang kuat. Tentu, membangun bisnis tidak dilakukan dan dikembangkan dalam satu atau dua hari saja. Maka, tanpa disiplin yang cukup, bisnismu tak akan ke mana-mana.

5 – Passion

Gairah untuk terus bekerja keras dalam mencapai tujuan. Passion akan memacu semangatmu dalam berkarya dan bekerja serta tak mudah bosan. Passion akan membuatmu bertahan, di saat teman-temanmu seangkatan sudah mulai menyerah pada bisnisnya. Passion akan membuatmu mampu melihat visi lebih jauh dan juga lebih jernih.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

6 Tips Bagi Kamu yang Ingin Mendirikan Usaha Berdasarkan Passion Tapi Masih Bingung Harus Mulai Dari Mana

Banyak orang bertanya-tanya, apakah memilih usaha berdasar passion bisa diwujudkan? Karena, passion identik dengan hobi, dan hobi adalah kegiatan yang sudah pasti mengeluarkan uang. Bahkan, banyak orang yang memercayai bahwa menyalurkan hobi adalah kegiatan yang menghambur-hamburkan uang.

Namun, satu hal yang harus kita tahu, bahwa Mark Zuckerberg membesarkan Facebook juga karena passion-nya di bidang teknologi. Begitu juga Steve Jobs dan Bill Gates. Bahkan, Dian Pelangi, membesarkan usaha busana muslimahnya juga karena passion-nya di bidang tata busana muslimah. Hal yang sama bisa kita temui pada Ria Miranda mau pun Jenahara.

Akhir-akhir ini, kita bahkan sudah menemui makin banyak pengusaha muda yang memulai usahanya berdasarkan minatnya, gairah terbesarnya, passion-nya, dan bukan yang lain.

Jika kamu membuka usaha berdasar passion kamu, efeknya kamu akan lebih sering untuk bekerja lebih keras daripada orang lain, mengenal dan lebih mencintai usaha yang dipilih dan lebih mudah untuk memecahkan banyak kendala dalam perjalanan bisnismu, menikmati keseimbangan hidup antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta selalu bergairah melakukan pekerjaan secara konsisten, dan akan lebih banyak membangun momentum yang akan mendatangkan keuntungan dan hal-hal baik.

Kelihatannya menarik, bukan?

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Langkah Demi Langkah Membuat Business Plan untuk Perkembangan Bisnis Kreatifmu

Business plan, atau dikenal sebagai perencanaan usaha, memang sebaiknya dibuat sebelum membuat usaha. Namun, hal ini juga bisa dilakukan dalam rangka mengembangkan usaha. Dan ternyata, masih banyak yang bingung bagaimana membuat business plan yang bisa diandalkan dan sesuai dengan harapan investor.

1- Ide atau Konsep Usaha

Hal pertama yang kudu menjadi perhatian kamu adalah ide atau konsep usaha. Jelaskan secara terperinci, mulai dari skala usahanya, jenis usahanya, hingga gambaran cara berjualannya.

Skala usaha, misalkan adalah apakah usaha kamu usaha mikro, dengan kebutuhan modal di bawah Rp50 juta, di luar pemakaian aset pribadi. Usaha kecil, dengan kebutuhan modalnya di atas Rp50 juta dan di bawah Rp200 juta di luar aset usaha. Usaha menengah, denan kebutuhan modalnya di atas Rp200 juta dan di bawah Rp500 juta di luar aset. Usaha besar, dengan kebutuhan modal di atas Rp500 juta. Level usaha terakhir ini memang tertinggi dan bentuknya bermacam-macam, termasuk industri besar dan perusahaan-perusahaan berskala nasional maupun internasional.

Setelah itu, tentukan ide usaha, yang dapat kamu lanjutkan dengan merencanakan nama merek dagang, tentukan juga produk yang akan dijual atau jasa yang ditawarkan.

2 – Kebutuhan Usaha

Setiap jenis usaha tentu saja memiliki kebutuhan yang berbeda. Akan tetapi, kebutuhan usaha dapat direncanakan secara umum, dan itu adalah lokasi usaha, peralatan, fasilitas, perizinan, serta bahan baku.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Bagaimana Cara Mengidentifikasi Segmentasi Pasar dan Memenangkannya?

Penentuan segmen pasar yang tepat akan berpengaruh baik pada respons produk yang akan kamu jual. Tetapi, bagaimana cara mengidentifikasi segmentasi pasar?

Philip Kotler, dalam Marketing Insights From A to Z, memaparkan caranya ke dalam tiga tahap.

1 – Segmentasi pasar menurut kelompok demografis. Target marketnya digolongkan menurut usia/umur. Contoh, target marketnya wanita usia 35-50 tahun.

2 – Segmentasi pasar ke dalam kelompok-kelompok kebutuhan. Contoh, target marketnya adalah wanita bekerja yang menginginkan kemudan dan dapat menghemat waktu dalam berbelanja.

3 – Segmen pasar berdasarkan kelompok-kelompok perilaku. Target marketnya didasarkan pada perilaku atau gaya hidup. Contoh, target marketnya adalah wanita yang bergaya hidup konsumtif (boros) dalam berbelanja pakaian pesta.

Mengapa menentukan segmen pasar penting bagi usaha kamu. Penentuan segmen pasar ini penting karena berguna untuk memperjelas pelanggan mana yang akan kamu layani nanti.

Bayangkan saja, bila kamu tidak mengetahui siapa pelanggan yang akan dilayani, maka kamu akan menawarkan produk dan jasa kamu kepada siapa saja tanpa arah yang jelas.

Ibaratnya, kamu berada di medan tempur, dan kamu tidak tahu siapa target kamu. Bisa-bisa kamu salah panah, salah tembak, salah tusukin pedang.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!