Mengapa Banyak Orang, Termasuk Kamu, Membenci Pekerjaannya?

Selamat datang di hari Senin lagi. Selamat berjumpa dengan macet lagi. Selamat bersua dengan kubikel, setumpuk map, sederet teman kantor yang menyebalkan dan penjilat, dan daftar deadline yang harus segera dirampungkan hari ini.

Selamat datang di ‘pekerjaan’. Sebuah kata manis yang sebenarnya dimaniskan dari sebuah istilah lain: modern-day slavery.

Kamu bekerja keras. Sangat keras. Tetapi apresiasi yang kamu dapatkan adalah, “Kerjamu sangat bagus!” dengan nada menyemangati, namun penuh dengan balutan formalitas saja. Saat cara kerjamu ‘terlalu bagus’, ada banyak karyawan lain pada saat yang sama sedang menunggu saat-saat lengahmu kemudian menyerangmu dari belakang.

Being an employee is like modern slavery.

Berangkat bekerja pagi buta. Bertarung dengan ratusan pengendara lain yang memiliki ketergesaan yang sama. Setiap pagi selalu didera dua hal: ketergesaan, keterpaksaan.

Pulang petang menjelang. Bertarung lagi dengan ratusan pengendara lain yang memiliki ketergesaan yang sama. Ingin segera sampai rumah. Ingin segera terlepas dari beban pekerjaan seharian. Setiap petang selalu didera dua hal secara bersamaan: kelelahan dan kemuakan. Ingin semua ini segera berakhir.

Namun kemudian malam menjelang. Tertidur. Dan esoknya, belumlah sempat mengubah nasib hidup, sudah berjumpa lagi dengan rutinitas yang sama lagi.

Dan semua berlangsung sudah lebih dari lima tahun.

Lelah. Penat. Macet. Muak. Bosan.

Dan rumahmu masih mengontrak. Motormu masih matic. Belum sempat backpacker-an ke luar negeri. Belum sempat menjelajah nusantara. Belum sempat membuat karya keren penginspirasi banyak orang. Belum sempat membuat sesuatu yang bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Kamu merasa hidupmu hampa. Tak berguna.

Dan di saat yang sama, bosmu sudah membeli Pajero terbaru. Status Facebook-nya teranyar mengabarkan dia sedang berada di Jepang. Instagram terbarunya memerlihatkan dia sedang berpose riang di antara bonsai-bonsai cantik.

Kamu merasa bosmu sangat perlu dimusnahkan dari muka bumi ini.

Temanku adalah seorang creative maker. Dia membuat bantal leher. Sederhana. Namun total. Hampir sulit membuat janji ketemu sekadar hangout. Dia kelihatan sibuk, sekaligus produktif. Terpenting, dia baik-baik saja dengan hidupnya. Dia tidak membenci pekerjaannya. Rutinitasnya adalah ‘menghadirkan sesuatu yang keren’ dari tangannya.

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!