3 Inspirasi Utama untuk Mewujudkan Impian ala Muhammad Al-Fatih, Pahlawan Islam Penakluk Konstantinopel

Muhammad Al-Fatih Wallpaper

Muhammad Al-Fatih adalah pengejawantahan hadits Rasulullah mengenai bisyarah—atau lidah Indonesia kita bisa menyebutnya dengan ’kabar gembira’—yang disampaikan oleh Rasulullah bahwa negara adidaya seperti Romawi bisa ditaklukkan keganasan dan kepongahannya oleh pemimpin muda yang alim, tetapi bervisi tinggi.
”Ketika kami duduk-duduk di sekeliling Rasulullah untuk menulis,” begitu awal bunyi haditsnya sebagaimana kisah Abdullah bin Amru bin Ash yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ”lalu Rasulullah ditanya tentang kota manakah yang akan dibebaskan terlebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma, maka Rasulullah menjawab, ’Kota Heraklius terlebih dahulu.’ Yakni, Konstantinopel.”

Al-Fatih yang bermakna Sang Penakluk adalah gelar yang disematkan kepada Sultan Muhammad II atas keberhasilannya memimpin pasukan Utsmaniyah membebaskan Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, di bekas koloni Yunani Byzantium.

Anak muda ini, yang mungkin bila diukur dengan anak muda zaman sekarang masih sibuk dengan masa alay-nya, mempersiapkan diri menjadi catatan penting sejarah emas Islam dan pembuktian konkret bahwa anak muda selalu bisa menjadi bagian dari arah sejarah.

Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 mengejutkan seluruh Eropa. Muhammad Al-Fatih mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium, kelanjutan Kekaisaran Romawi Kuno yang berhaluan Kristen pada abad pertengahan. Di atasnya, ia mendirikan kekaisaran muslim, Turki Utsmani, yang baru bangkit dari Asia.

Konstantinopel adalah kota permata yang menyilaukan siapa saja. Keindahannya. Kemajuannya. Budayanya. Dan paling menggemaskan para pengelana tentu letak strategisnya. Terhampar apik di daratan yang bak segitiga tanduk dengan sebelah baratnya Selat Bosphorus, pemisah Benua Eropa dan Asia. Utaranya adalah Golden Horn, pelabuhan cantik. Konstantinopel otomatis menjadi kota pelabuhan paling cantik jua sibuk. Gelar dunia yang diberikan padanya adalah The Gates of the East and West.

Inilah sebuah kota yang setiap mata memandang akan tercengang. Setiap telinga yang mendengar akan terdecak dan setiap raga ingin mengunjunginya. Bagi para penguasa, Konstantinopel bermakna keinginan kuat untuk menguasainya. Ini adalah kota yang diinginkan oleh semua orang. Keindahannya. Kemegahannya. Dan paling mencengangkan adalah kekuatan militernya dan bentengnya yang memiliki rekor tak mudah ditembus oleh para penyerang.

Konstantinopel terlindung tembok benteng yang kukuh menjulang dengan sempurna sebagai pertahanan kota. Seluruh bagian Konstantinopel berbatasan dengan laut, kecuali bagian baratnya. Karena lebih rawan serangan di sebelah barat, dibangunlah sistem pertahanan mahalapis. Benteng dua lapis berpadu dua tingkatan dengan tambahan parit lebar nan dalam di bagian depannya. Sematan The City with Perfect Defense pun jatuh pada kota ini karena pertahanan yang ’hampir mustahil dijebol’ oleh pasukan mana pun di dunia ini.

Mimpi membebaskan kota ini adalah mimpi panjang selama 825 tahun yang kemudian berhasil diwujudkan oleh seorang pemuda berusia 21 tahun yang mendapatkan langsung gelar agung dari Rasulullah, ”Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya.” (HR Ahmad)

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!

Berbaik Sangka Kepada-Nya Hingga ke Surga

Seorang Badui datang kepada Rasulullah seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang menghisab semua makhluk di akhirat nanti?”

“Allah,” jawab Rasul.

“Sendiri?”

“Yah, sendiri.” Si Badui tersenyum. Lalu berkata, “Ya Allah, segala puji bagimu ….”

Melihat tingkah polah si Badui, Rasul kemudian bertanya, “Mengapa kamu tersenyum?”

“Duhai Rasulullah, ketika Dzat yang Mahamulia itu sanggup, maka Dia memaafkan, dan ketika ia menghisab, dia berlemah lembut.”

“Mmmm …. Badui ini telah memahami…,” gumam Nabi.

Senantiasa berbaik sangka dengan segala yang terhadirkan dalam hidup, berbaik sangka dengan segala ketentuan-Nya, akan menemani di hari-hari yang sudah terpatri iman dalam diri. Di sanalah kemudian, mengalir energi optimisme yang merangkuli langkah-langkah yang terayunkan.

Ada seorang wanita Anshar yang dianugerahi sepuluh orang putra. Hebatnya, kesemuanya adalah singa-singa di medan perang. Kesepuluhnya direlakan oleh sang ibu untuk selalu bersama Nabi dalam berbagai kesempatan jihad.

Suatu kali, pada suatu peperangan, tujuh putranya syahid bersama. Pada peperangan berikutnya, dua putranya yang lain menyusul. Hingga tinggallah satu saja, yaitu yang paling kecil. Suatu waktu, ibunya menangis di dekat kepala anak yang paling kecil yang sedang terbaring sakit. Ibunya nampak lebih sedih ketika melihat yang kecil ini hendak meninggal dibandingkan kesedihannya ketika ditinggal sembilan putranya yang telah lebih dulu menjemput syahidnya.

Si kecil keheranan penuh tanya, “Ibu, mengapa ibu tidak menangisi kepergian kakak-kakaku. Padahal, mereka jauh lebih baik dariku sementara aku justru malah pernah menyakitimu duhai ibu ….”

“Justru karena itulah aku menangis,” jawab sang bunda. “Ibu, jikalau neraka ada di tanganmu, apakah ibu akan melemparkanku di dalamnya?”

“Tentulah tidak anakku ….”

“Ibu, sesungguhnya Rabbku lebih menyayangiku daripada ibu, maka tidaklah mungkin ia akan melemparkanku ke neraka ….”

Setelah Nabi mendengar tentang kisah dialog ibu dan anak itu, Beliau berkata, “Sesungguhnya putramu telah diampuni karena baik sangkanya kepada Rabbnya.”

Read more

Jangan Lupa Share, Ya!